
Di gunung yang jauh,
Allen yang merasa di bohongi oleh gurunya masih berusaha dengan keras untuk membuka pintu gua dengan tinjunya.
Bahkan siang dan malam Allen tanpa henti berjuang, dia juga tidak tidur dan makan selama beberapa hari ini.
Allen tidak pernah berpikir dengan jernih dan sangat keras kepala, dia bukannya bertobat tapi malah menambah kebencian kepada gurunya itu.
Dengan rasa benci di hatinya yang berlebihan, kekuatannya bertambah sedikit demi sedikit menjadi lebih besar.
Sementar itu, pria tua yang adalah gurunya, kembali lagi ke pintu gua.
"Apa kau sudah bangun?" tanya pria tua itu sambil bersandar di pintu gua dengan santai.
"Menurutmu?!" jawab Allen dingin sambil menahan rasa sakit di tangannya yang penuh dengan darah.
"Dengar, aku sudah memberitahumu jika kau ingin keluar maka sebaiknya jangan memaksakan diri untuk menhancurkan pintu gua ini, karena itu akan sia sia." kata pria tua itu.
"Sialan! Omong kosong macam apa yang kau bicarakan! Sebaiknya cepat keluarkan aku dari sini!" seru Allen marah.
"Sudah aku bilang, aku tidak bisa membantumu kali ini, semua tergantung dirimu sendiri." jawab pria tua itu santai.
"Brengsek! Persetan denganmu!" seru Allen sangat marah dan mencoba meninju pintu gua itu kembali.
"Bertapalah dengan tenang, dan renungkanlah semua yang telah terjadi dalam hidupmu. Jika sudah menemukan jawabannya, maka kau akan keluar dari gua ini dengan sangat mudah tanpa harus mengeluarkan tenaga sedikitpun." kata pria tua itu santai.
Pria tua itu pergi menjauh dari pintu gua itu dan menuju ke puncak gunung di atas gua itu.
***
Di JTown,
Teddy dan Xia pergi ke lobi hotel untuk melakukan sarapan pagi bersama sebelum berangkat ke proyek.
Setelah selesai, Teddy kembali ke kamar hotel bersama Xia.
Tidak lama kemudian, sopir yang di utus oleh walikota tiba di hotel untuk menjemput Teddy dan Xia dan mengantar mereka ke kantor proyeknya.
Teddy mengganti pakaiannya di bantu oleh Xia untuk memakai jas hitamnya dengan rapi.
Mereka menuju lobi hotel itu untuk menemui penjemputnya.
"Selamat pagi tuan Larks." kata sopir itu sambil membungkuk hormat.
__ADS_1
"Ya, selamat pagi." jawab Teddy santai.
"Tuan, saya di perintahkan untuk menjemput anda hari ini." kata sopir itu.
"Jadi kau yang menjemput kami? Aku kira kau pegawai hotel." kata Teddy.
"Silahkan tuan, mobilnya sudah siap." kata sopir itu sambil meminta Teddy untuk mengikutinya ke arah pintu hotel.
"Baiklah." jawab Teddy santai.
Teddy mengikuti sopir itu menuju ke pintu depan hotel bersama Xia yang berada di sampingnya sambil membawa sebuah tas yang berisi dokumen dokumen penting.
"Silahkan tuan." kata sopir itu sambil membukakan pintu mobil.
"Terima kasih." Teddy mangangguk dan masuk ke dalam mobil bersama Xia.
***
Di mansion Rey,
Rey dan para wanitanya menuju ke ruang makan untuk sarapan pagi bersama.
"Bi, apa Vonta sudah bangun?" tanya Rey kepada bibi yang sedang menyiapkan hidangan untuk sarapan pagi.
"Ya." Rey mengangguk.
"Baik tuan, saya akan membangunkannya." kata bibi kemudian berbalik dan pergi.
Bibi menuju ke kamar untuk tamu yang berada di lantai satu.
"Sayang, sepertinya hari ini kami tidak ke kantor." kata Hitomi.
"Tidak masalah. Jika kalian tidak pergi ke kantor sebaiknya kalian pergi bersenang senang agar kalian tidak merasa bosan." kata Rey.
"Iya sayang, biar nanti aku dan Lita pergi ke mall dan kami berniat melihat rumah Lita yang sedang di renovasi, kemarin sore kami mendapatkan kabar bahwa kami harus meninjau kebutuhan rumah itu hari ini." kata Hitomi.
"Baiklah, kalau begitu, bolehkah aku minta tolong?" tanya Rey.
"Tentu. Apa yang kamu inginkan, sayang?" tanya Lita.
"Tuan, teman anda bilang agar anda sarapan terlebih dahulu." kata Bibi.
"Baik bi, terima kasih." jawab Rey.
__ADS_1
Bibi mengangguk dan berbalik pergi.
"Aku ingin sebelum kalian pergi ke XCS, tolong kunjungi The Green Group terlebih dahulu dan katakan kepada atasan mereka kalau kalian wakilku." kata Rey.
"Tentu sayang, kami akan ke sana terlebih dahulu." jawab Lita.
"Sayang, apakah The Green Group itu milikmu juga?" tanya Hitomi sambil menyipitkan matanya dengan tatapan curiga.
"Ya, beberapa hari yang lalu mereka menjual perusahaan itu kepadaku dan aku lupa untuk membicarakan ini kepada kalian." kata Rey berbohong.
"Begitu ya, kenapa kamu bisa lupa, bukankah itu hal yang sangat penting, sayang." kata Hitomi.
"Entahlah, beberapa hari ini pikiranku tidak terlalu fokus pada perusahaan, mungkin karena aku terlalu santai karena ada kalian berdua yang mengurus semua perusahaanku." kata Rey.
"Hmmmm, pantas saja kamu sampai lupa dengan perusahaan baru yang telah menjadi milikmu sendiri." jawab Hitomi cemberut.
"Ya, maafkan aku Hito, aku selalu menyusahkanmu, aku tahu bebanmu bertambah saat perusahaanku bertambah, sementara hanya ada Lita yang membantumu saat ini. Seandainya ibu Xena sudah sembuh seperti sedia kala, maka Xena akan membantu kalian untuk meringankan beban kalian nanti." kata Rey sambil menggenggam tangan Hitomi.
"Tidak apa apa sayang, aku tidak merasa terbebani, aku tahu jika kamu melakukan ini untuk kebaikan kami juga di masa depan." jawab Hitomi.
"Ya, terima kasih sudah mengerti." kata Rey sambil mencium kening Hitomi.
"Maaf kak, kami belum bisa membantumu sekarang, jika kami sudah lulus kuliah, maka kami akan membantumu dengan senang hati." kata Fafa.
"Ya, aku juga." tambah Yuri polos.
"Mungkin jika kakak membutuhkan bantuan, kami bisa membantu saat kami pulang dari kuliah." kata Sabrina.
"Terima kasih, tapi itu semua tidak perlu, aku hanya ingin kalian fokus dengan kuliah agar kalian lulus dengan baik di kampus, mengenai pekerjaan ini, aku dan Lita masih bisa mengerjakannya bahkan masih ada Xena yang membantu kami." kata Hitomi.
"Terima kasih, kak. Kami akan berusaha untuk menjadi yang terbaik." seru Fafa.
"Baiklah, Hito aku akan mengantar mereka kuliaah terlebih dahulu, jika ada sesuatu segera hubungi aku, jangan menunda." kata Rey sambil beranjak dari duduknya setelah selesai sarapan.
"Daaah, kakak." seru Yuri berdiri dan mengikuti Rey.
Fafa dan Sabrina mengangguk dan segera menggandeng tangan Rey.
"Baiklah, hati hati di jalan." kata Hitomi.
"Semangat ya!" seru Lita.
"Tentu!" jawab Fafa.
__ADS_1
Rey segera mengantar ketiga gadisnya ke kampus dengan santai.