Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Penantian Sabrina


__ADS_3

'Ah, ternyata benar, dia adalah pemilik MegaCore Tech, sungguh beruntung aku bisa bertemu dengannya di sini.' gumam komandan itu dalam hati saat melihat Rey yang sedang duduk di ruang tunggu.


"Tuan Rey, maaf membuat anda menunggu lama." kata komandan itu sopan.


"Tidak apa apa, kedatanganku ke sini hanya untuk menanyakan kasus temanku." jawab Rey santai.


"Hah? Teman anda ada di sini? Siapa namanya, tuan?" tanya komandan itu.


"Namanya Vonta." jawab Rey tenang.


"A-apa! Jadi Vonta itu teman anda?" tanya komandan itu kaget.


"Ya." jawab Rey mengangguk.


"Baiklah tuan, tunggu sebentar." jawab komandan itu sopan.


Komandan itu memerintahkan kepada seorang petugas untuk membawa Vonta ke ruang tunggu.


"Tuan Rey, kasus teman anda cukup berat, dia di laporkan oleh keluarga Diaz dengan tuduhan pelecehan seksual terhadap putri keluarga mereka." kata komandan itu sopan.


"Apa anda sudah menyelidikinya?" tanya Rey tenang.


"Kami masih dalam proses penyelidikan, tuan." jawab komandan itu sopan.


"Dalam proses? Lalu kenapa kalian menangkapnya jika masih dalam proses? Apa anda mempunyai bukti sampai kalian menangkap temanku?" kata Rey santai.


"Maaf tuan, sebenarnya kami belum mempunyai bukti, hanya saja keluarga Diaz sangat kuat dan memiliki kedudukan di pemerintahan ini, jika kami tidak melaksanakan perintah atasan kami, maka kami yang akan kena hukuman, bahkan bisa jadi kami yang kehilangan pekerjaan kami." jawab komandan itu jujur sambil menunduk.


Komandan itu tahu bahwa Rey adalah pengusaha terkaya di kota XTown ini, meskipun tidak banyak orang yang tahu, Rey bahkan bisa membeli hukum dengan uangnya kalau dia mau, tapi dalam kondisi seperti ini, komandan itu merasa serba salah, apabila itu bukan perintah dari atasannya, dia juga tidak mau menangkap seseorang tanpa bukti yang jelas.


"Berapa yang anda inginkan?" tanya Rey tanpa basa basi.


"Maaf tuan Rey, masalah ini bukan aku yang memegang keputusan." jawab komandan itu bingung.


"Bisakah anda membantuku untuk berunding dengan atasanmu? Aku akan sangat berterima kasih kalau anda mau membantu kami." kata Rey sambil menyerahkan segepok uang di atas meja.


'Ah, sial!' gumam komandan itu dalam hati saat melihat segepok uang yang Rey letakkan di atas meja.


"Maaf tuan Rey, aku tidak bisa menerimanya, aku akan berunding dengan atasanku, tapi tolong beri saya waktu satu hari." kata komandan itu sopan.


"Bos!?" seru Vonta saat masuk ke ruang tunggu dengan borgol di kedua tangannya.


"Hei, Von!" seru Lee memeluk Vonta yang baru saja masuk ke ruang itu.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rey.


"Aku baik baik saja, bos." jawab Vonta sambil duduk di samping Lee.


"Tenanglah, aku tahu kalau kau tidak bersalah, dan aku berjanji kalau besok kau akan segera bebas." kata Rey santai.


"Terima kasih bos, aku tidak apa apa, tapi yang aku khawatirkan bagaimana keadaan Cameron saat ini." kata Vonta sambil menunduk.


"Tenang saja, Cameron tidak apa apa, aku sudah dari rumahnya tadi, hanya saja masalahnya ada pada ibunya." jawab Rey menepuk pundak Vonta.


"Tuan Rey, aku akan membantu anda untuk berunding dengan atasanku." kata komandan itu sopan.


"Okelah, terima kasih, aku titipkan temanku untuk malam ini kepada anda dan tolong katakan kepada atasan anda, jika setuju maka hubungi aku segera." kata Rey menyerahkan kartu namanya yang berwarna hitam berhias emas.


"Baik tuan Rey, aku akan segera menghubungi anda." jawab komandan itu senang mendapat kartu nama yang langka itu.


"Vonta, sebaiknya kau menginap di sini hari ini, aku akan datang besok untuk membawamu pulang." kata Rey menepuk pundak Vonta.


"Oke, aku pamit dulu, katakan saja berapa yang kalian minta, tidak usah sungkan." lanjut Rey kepada komandan itu sambil berdiri untuk segera paergi.


"Baik tuan Rey, mari aku antar anda ke depan." jawab komandan itu sopan.


"Oke." kata Rey mengangguk.


Rey keluar dari ruang tunggu itu tanpa membawa segepok uang yang dia letakkan di meja.


"Hati hati di jalan tuan Rey." kata komandan itu hormat.


Rey menginjak pedal gasnya dengan santai dan segera menjauh dari kantor polisi itu.

__ADS_1


"Bos, apa keluarga Diaz ini begitu kuat?" tanya Lee menatap Rey yang sedang menyetir.


"Sepertinya begitu." jawab Rey santai.


Sementara itu, komandan polisi memerintahkan kepada petugas untuk membuka borgol Vonta dan membawanya kembali ke dalam sel.


"Komandan, apa tuan Rey yang barusan itu pemilik MegaCore Tech yang anda katakan?" tanya petugas itu penasaran.


"Benar." jawab komandan mengangguk.


"Dia masih sangat muda, sepertinya dia masih berumur di bawah tiga puluhan." kata petugas kagum.


"Ya, sebelumnya aku juga tidak menyangka kalau dia masih muda, tapi setelah aku melihatnya saat acara pembukaan di Estillo Island, aku juga baru percaya."


"Jadi, Estillo Island juga miliknya, komandan?" tanya petugas kaget.


"Ya, itu cuma salah satunya, bahkan dia itu pemilik tunggal XTown Commercial Street." jawab komandan itu kagum dengan Rey.


"Apa! Pemilik tunggal XCS!" seru petugas itu kaget.


Beberapa saat kemudian, Rey sampai di mansion dan menuju ke garasi untuk memarkirkan mobilnya.


"Sayang! Kamu lama sekali!" seru Sabrina yang menunggu Rey di sofa di belakang mansion dekat dengan bangunan garasi.


'Sialan! Kapan aku bisa seperti ini, dengan gadis yang selalu setia menunggu kedatanganku.' gumam Lee dalam hati saat melihat Sabrina yang menunggu Rey pulang.


"Eh? Kenapa kau di sini?" tanya Rey berjalan menuju Sabrina.


"Aku menunggumu." jawab Sabrina merangkul lengan Rey.


"Kemana yang lain?" tanya Rey melihat sekeliling.


"Mereka sedang nonton drama pria cantik." jawab Sabrina lembut.


"Hei, Lee ada apa denganmu? Apa kamu ingin buang air besar?" lanjut Sabrina bertanya saat melihat Lee yang gelisah.


"Hah! Aku tidak apa apa, kenapa memangnya." jawab Lee gelagapan.


"Apa Hitomi dan Lita sudah pulang?" tanya Rey.


"Tuan Rey, ini minumannya." seru bibi datang dan menaruh beberapa gelas di atas meja.


"Wah, terima kasih, bi." kata Rey senang karena bibi tanggap tanpa Rey harus meminta.


Bibi mengangguk dan berbalik untuk masuk ke dalam mansion.


"Ayo Lee, kamu pasti haus." kata Sabrina.


Lee mengambil gelas minumannya dan menghabiskan isinya dengan sangat cepat.


"Bos, terima kasih, sebaiknya aku pulang dulu." kata Lee.


Lee merasa tidak enak jika harus berlama lama tinggal di sini dengan pemandangan yang seperti itu.


"Oke, terima kasih, Lee." jawab Rey santai.


Rey mengambil ponselnya dan segera mengirim sejumlah uang kepada Lee tanpa sepengetahuannya. Lee pulang setelah berpamitan kepada Rey.


"Ayo masuk." kata Rey kepada Sabrina.


Sabrina mengangguk patuh. Rey ke lantai tiga menuju ke kamarnya. Sabrina mengikuti Rey dengan senang sambil menggandeng tangannya.


"Apa kau merindukanku?" tanya Rey mengelus rambut Sabrina dengan lembut.


Sabrina mengangguk dengan wajah yang merona merah. Rey mengangkat dagu Sabrina dan mencium bibirnya. Dengan senang hati, Sabrina menyambut ciuman Rey dengan lembut.


Mereka saling membalas ciuman di belakang pintu kamar Rey. Rey menggendong Sabrina menuju ke atas ranjangnya dan Sabrina terlentang pasrah.


Rey melanjutkan kembali dengan ciuman ke arah bibir Sabrina dengan lembut. Dengan kedua tangan yang mulai nakal, Rey meremas kedua gunung Sabrina dengan gemas.


Sementara Sabrina merangkul pundak Rey seolah tidak membiarkan dia pergi dengan ciuman bibir yang lembut, Sabrina merasakan nikmatnya sentuhan tangan Rey di area gunungnya.


Sabrina menghentikan ciumannya dan membuka kancing kemeja Rey, Sabrina bangkit dan membuka kaos putih yang di pakainya dengan cepat.

__ADS_1


Rey merangkul pinggang Sabrina dan kembali mencium bibirnya dengan lembut. Sementara itu Sabrina memeluk bahu Rey dengan erat.


Mereka berdua saling membalas ciumannya dengan ganas. Ciuman Rey perlahan turun dari bibir dan berlanjut ke arah kedua gunung Sabrina.


Sabrina melenguh saat Rey mengecup salah satu gunung dengan lembut. Perlahan tangan Rey beranjak ke arah celana Sabrina dan mulai membuka kancingnya.


Sabrina membantu Rey untuk membuka celananya hingga akhirnya celana jeans yang di pakainya bisa terlepas.


Kini Sabrina hanya memakai onderdil dalamnya saja. Rey perlahan menciumi seluruh tubuh Sabrina dari atas hingga bawah.


Sabrina merasakan nikmat saat Rey menyentuh daerah sensitifnya. Rey menjulurkan lidahnya dengan lembut ke arah sarang yang masih tertutup kain itu.


Sabrina merasakan nikmat yang semakin menggila. Perlahan dia membantu untuk membukakan penutup sarangnya agar Rey bisa leluasa bermain di pintu sarang itu.


Sentuhan demi sentuhan yang di lakukan oleh Rey membuat sarang itu semakin basah. Kini di hadapan Rey sudah ada sarang yang berwarna serupa seperti kelereng di puncak gunungnya dan sudah terlihat sangat basah.


Karena Sabrina selalu menjaga kebersihan tubuhnya dengan baik, membuat area itu memiliki wangi yang semerbak yang membuat Rey semakin bersemangat.


Rey mulai menciumi sarang itu. Baru saja bibir Rey menyentuh sedikit dari bagian itu, reaksi tubuh Sabrina semakin menggila. Mungkin karena brewok Rey yang sangar itu, mungkin.


Sabrina menaik naikkan tubuhnya sendiri sambil memejamkan mata untuk merasakan lebih lagi dari sensasi yang di buat oleh Rey.


Melihat hal itu, jelas tidak membuat Rey berhenti. Justru dia memakan bagian itu lebih ganas dan kali ini dia lebih banyak memainkan lidahnya di sana.


Kedua tangan Sabrina kini berada pada gunungnya dan meremas remasnya sendiri. Bahkan beberapa kali Rey mellihat Sabrina memelintir sendiri kelereng di puncak gunungnya yang sudah mengeras.


Bibir Sabrina di gigitnya sendiri hingga membuat suara nafas yang terengah engah dan semakin berat. Sabrina segera meminta Rey memasuki dirinya sambil ternengah engah.


Sabrina sampai memohon agar Rey segera memasukinya. Rey berlutut di depan sarang Sabrina yang sudah siap untuk menerima ekor naganya.


Sabrina sengaja membuka kakinya lebar lebar agar Rey bisa memasukkan ekor naganya lebih dalam. Rey memainkan ekor naga di pintu sarang Sabrina.


Rey memasukkan secara perlahan dan dia bisa merasakan sarang Sabrina yang sudah sangat basah. Dia pun akhirnya mengarahkan ekor naga ke pintu sarangnya.


Rey mendorong pelan pelan karena ingin dia ingin merasakan sensasi dari wanita yang di cintainya. Ketika ekor itu perlahan masuk, Sabrina melenguh semakin keras.


Akhirnya Rey berhasil memasukkan semua ekor naga ke dalam sarang Sabrina. Sabrina merasakan ekor besar itu memenuhi sarangnya. Wajahnya merona merah dengan nafas terengah engah.


Rey memulai permainannya, dia menggerakan ekor naga di dalam tubuh Sabrina dengan perlahan. Dengan awal yang perlahan hingga akhirnya Rey menaikkan temponya dengan cepat membuat Sabrina mendesah dengan suara yang sangat merdu.


Kini tubuh Rey turun dan memeluk tubuh Sabrina, sementara pinggulnya tidak berhenti bergerak. Dia merasakan dada Sabrina yang memantul di tubuhnya.


Sabrina membalas dengan mencium bibir Rey dengan ganas. Hal itu membuat Rey bergerak semakin cepat dan membuat Sabrina semakin menggila.


Ketika ekor naga berada dalam sarangnya, Rey bisa merasakan sensasi yang tidak pernah dia dapatkan dari para wanitanya yang selama ini biasa dia nikmati.


Pijatan pijatan yang di rasakan ekor naga sangat luar biasa hingga membuat Rey merasa nikmat. Melihat reaksi Sabrina yang sangat menikmati pompaannya, Rey berniat untuk memperlambat permainannya.


Kini dia menarik ekor naga lepas dari sarangnya, Rey mundur dan turun dari ranjang. Rey menarik tangan Sabrina.


Sabrina yang merasa masih haus akan nikmat dari Rey, mengikuti saja apa yang diperintahkan dengan senang hati.


Sabrina mengikuti Rey turun dari ranjang dan berdiri di depannya. Rey mencium bibir Sabrina dan kemudian memutar tubuhnya hingga membelakangi Rey.


Perlahan Rey mendorong agar tubuh Sabrina turun dan sekarang posisi tubuh Sabrina berada di ranjang sedangkan kakinya masih tegak lurus ke lantai.


Sabrina paham apa yang Rey minta dan dia semakn menaikkan pinggulnya agar Rey bisa lebih mudah masuk. Rey tersenyum melihat pemandangan indah yang ada di depannya itu.


Tanpa menunda nunda lagi, sambil berdiri Rey mulai memasukkan ekor naga ke dalam sarangnya. Rey merasa di posisi ini ekor naga di jepit lebih kuat lagi oleh sarang yang masih kencang.


Rey semakin mempercepat gerakan pinggulnya dan kedua tangannya memegan pinggul Sabrina yang ramping.


Dengan begitu, Rey bisa mendorong pinggulnya dan menarik tubuh Sabrina agar ekor naga bisa masuk lebih dalam lagi.


Suasana kamar semakin panas membara karena Rey dan Sabrina yang sedang bertarung dengan penuh nikmat.


Kini Sabrina menegakkan badannya sampai dia benar benar berdiri memunggungi Rey. Tangan Sabrina naik ke atas sampai memegangi pipi Rey.


Melihat kesempatan bagus, Rey memainkan gunung Sabrina dari belakang dan mulai ******* ***** dengan gemas.


Dengan posisi seperti itu, Sabrina merasa bahwa dirinya sudah sampai batas untuk menahan ledakannya. Sabrina akhirnya meledak dasyat dan ambruk di ranjang seperti kehilangan tulang.


Rey menggeleng pelan melihat Sabrina yang tidak mampu meladeninya lagi. Rey menggendong Sabrina dan membawanya untuk mandi bersama.

__ADS_1


Rey memandikan dan membersihkan tubuh wanitanya itu dengan telaten. Sabrina tersenyum melihat perlakuan Rey yang sangat lembut itu.


__ADS_2