
Sementara itu Hitomi dan Lita masih di perusahaan The Green Group.
Hitomi dan Lita sedang meninjau semua pekerjaan yang sedang berjalan di perusahaan baru mereka.
"Hito, aku lapar." kata Lita.
"Hm? Aku juga, bagaimana kalau kita pergi ke kedai depan kantor ini?" tanya Hitomi sambil menyimpan dokumen perusahaan di atas meja.
Sedangkan Akira, sedang pergi untuk memberitahukan kepada seluruh karyawan bahwa hari ini akan di adakan konferensi pers di depan kantor setelah istirahat makan siang.
"Nyonya Rey, bagaimana dengan datanya?" Tanya Akira saat melihat Hitomi dan Lita keluar dari pintu lift.
"Nanti kita lanjutkan, sekarang kami akan mencari tempat makan terlebih dahulu." kata Hitomi.
"Baiklah nyonya, biar saya antar ke restoran terdekat yang biasa kami kunjungi." kata Akira.
"Tidak usah, kami akan makan di kedai depan saja, sekalian aku berkeliling di sekitar perusahaan ini." jawab Hitomi.
"Begitu yam baiklah nyonya, jika anda membutuhkan bantuan saya, silahkan hubungi saya." kata Akira.
Hitomi mengangguk dan pergi keluar dari area kantor bersama Lita.
***
Di sisi lain, Affa yang dari tadi malam mengintai suasana di mansion Rey dengan sabar tapi tidak menemukan sesuatu yang penting. Affa hanya melihat bahwa ada dua mobil yang keluar dari mansion Rey sejak tadi pagi.
Affa di temani oleh pacarnya dari tadi pagi sehingga dia tidak merasakan bosan saat mengintai suasana di mansion Rey. Tapi itulah keselahannya, dia tidak memperhatikan siapa yang keluar dari mansion itu.
"Sayang, kenapa kita tidak mengikuti mobil mobil yang keluar tadi pagi?" tanya Jacqueline.
"Aku tidak mengikutinya karena aku menunggumu tadi, kalau aku pergi memangnya kau tidak marah? Tapi tidak masalah, yang keluar tadi bukan kedua orang yang tadi malam." kata Affa.
"Hah? Lalu siapa?" tanya Jacqueline penasaran.
"Entahlah, mungkin saudaranya yang lain." jawab Affa sedikit ragu.
"Sudahlah, sayang, perutku sudah mulai lapar, bagaimana kalau kita makan siang di sekitar sini." kata Jacqueline memegang perutnya.
"Baiklah, sebentar, biar aku lihat di internet, apakah ada tempat yang enak untuk makan siang di sini." jawab Affa membuka ponselnya.
***
Setelah selesai makan siang, Rey dan ketiga gadisnya pergi dari restoran baru itu setelah membayar di kasir.
Semua mata pengunjung masih tertuju kepada Rey dengan tatapan iri dan rasa kagum kepadanya, sampai Rey tak terlihat lagi di restoran itu.
Sedangkan Fallon sudah pergi terlebih dahulu sebelum Rey.
Fallon memperhatikan Rey dari kejauhan tanpa di ketahui oleh rombongan Rey kecuali Rey sendiri.
'Ternyata dia penasaran, sayangnya aku tidak peduli.' gumam Rey dalam hati dan menggeleng.
'Sial! Seandainya aku pindah lebih awal, maka seharusnya dia sudah menjadi milikku!' gumam Fallon.
"Hei nona, apa yang sedang kau lakukan di sini?" seru Lee yang baru saja datang bersama Vonta berniat menyusul bos mereka di kampus ketiga gadis itu.
"Bukan urusanmu!" jawab Fallon dingin.
"Nona, aku bertanya baik baik, kenapa jawabanmu ketus begitu." seru Lee kesal saat mendengar jawaban dari Fallon yang dingin.
"Memangnya kenapa kalau jawabanku seperti itu! Kenapa kau keberatan!" seru Fallon.
'Wah, cantik sekali dia kalau sedang marah.' gumam Lee dalam hati sambil menatap Fallon dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Apa yang kamu lihat! Apa kamu sudah bosan punya mata! Sini biar ku congkel kedua matamu yang jelalatan itu." seru Fallon marah saat melihat tatapan mesum Lee.
"Nona, jangan galak begitu, itu tidak baik. Ngomong ngomong, siapa namamu?" tanya Lee mendekati Fallon.
"Sialan! Aku tidak tertarik padamu!" seru Fallon meninggalkan Lee dengan geram.
"Sial, cantik sekali dia. Von, bagaimana menurutmu?" tanya Lee kepada Vonta yang bersandar di gerbang kampus itu dengan santai.
"Menurutku dia sangat cocok denganmu." jawab Vonta santai.
"Benarkah?" seru Lee senang.
"Sudahlah, ayo kita cari bos, sepertinya dia ada di parkiran kampus." kata Vonta.
"Duluan saja, aku masih ada urusan." seru Lee.
"Baiklah kalau begitu, aku duluan." kata Vonta santai.
Vonta berjalan menuju parkiran untuk menemui Rey.
Sementara itu, Lee masih penasaran dengan Fallon dan mengikutinya dari kejauhan.
'Aku belum pernah melihatnya sama sekali di sekitar sini. Cantik sekali dia, aku harus menaklukkannya.' gumam Lee sambil memperhatikan Fallon dari kejauhan.
"Lee, apa menurutmu kau sanggup untuk mendapatkannya?" tanya Vonta yang ternyata dari tadi mengikuti Lee dengan sengaja.
"Eh? Apa yang kau lakukan di sini! Bukankah tadi kau bilang mau mencari bos!" seru Lee terkejut saat mendengar suara Vonta di belakangnya.
"Hahaha, jadi benar dugaanku, ternyata ini yang di bilang masih ada urusan." kata Vonta tertawa.
"Apa maksudmu!" seru Lee.
"Sudah lupakan saja, biar aku laporkan bos kalau anak buahnya sedang jatuh cinta sampai tidak mampu bekerja. Hahahaha." Vonta tertawa kemudian berbalik dan pergi.
"Sialan kau!" seru Lee melemparkan batu kecil ke arah Vonta.
Vonta berlari sambil tertawa saat melihat Lee yang mulai melemparinya dengan batu.
***
Teddy dan Xia selesai makan siang dan mereka berdua kembali ke kantor proyeknya.
"Tuan Larks! Ada sesuatu yang terjadi!" seru salah satu pekerja terengah engah saat melihat Teddy sudah kembali dan pergi melapor.
"Hah? Ada apa?" tanya Teddy kaget.
"Tuan, seseorang yang sedang mengerjakan penggalian di ujung selatan, tertimbun longsoran tanah!" kata pekerja itu panik.
"Apa! Bawa aku kesana!" seru Teddy panik saat mendengar jika ada salah satu pekerja yang kecelakaan di tempat kerja.
"Ayo tuan, ikuti saya!" seru pekerja itu cepat dan berbalik untuk membawa Teddy ke tempat kejadian.
Saat sampai di tempat kejadian, di sana sudah banyak orang yang mencoba menolong pekerja itu dengan menggali tanah yang telah menguburnya di dasar lubang galian itu.
"Sialan! Kenapa kalian tidak menggunakan alat berat untuk menggalinya, jika kalian melakukannya seperti itu maka dia tidak akan tertolong!" teriak Teddy panik saat para pekerja yang sedang berusaha menggali kembali lubang galian itu.
"Baik tuan, maaf tidak terpikirkan oleh kami sebelumnya karena terlalu panik." jawab salah satu pekerja sambil membungkuk hormat.
"Kalau begitu cepatlah!" teriak Teddy panik.
Sementara itu, Xia yang berada di sampingnya merasa ngeri saat melihat lubang galian itu tertutup kembali oleh tanah sedalam 13 meter.
Para pekerja membantu untuk menggali dengan cepat di bantu oleh alat berat agar lebih cepat dalam melakukan evakuasi.
__ADS_1
Sementara itu, Teddy gugup menunggu para pekerja yang sedang menggali tanah itu.
"Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi?" gumam Teddy dalam hati dengan perasaan yang semakin panik.
"Panggilkan aku mandor di sini!" teriak Teddy marah.
"Baik tuan." jawab salah satu pekerja.
Mandor itu segera menghadap kepada Teddy.
"Tuan Larks, saya mandor di area ini, jadi saya yang bertanggung jawab atas kejadian ini." kata mandor itu saat sampai di hadapan Teddy dengan gugup.
Mandor itu menyadarinya saat salah satu pekerja memanggilnya untuk menghadap bos.
"Bagaimana galian tanah ini bisa roboh!" tanya Teddy marah.
"Apa kau melakukan prosedur yang telah kami terapkan?" tanya Teddy menatap dingin mandor itu.
"Tuan, kami sudah melakukan semua prosedur keamanan kerja." kata mandor itu gugup.
"Tidak mungkin! Jika kau melakukan prosedur yang telah kami terapkan maka kejadian seperti ini tidak akan terjadi!" teriak Teddy marah.
"Lihat! DI dalam lubang itu tidak ada penahan untuk keamanan sesuai prosedur yang kami terapkan!" teriak Teddy sambil menunjuk lubang galian itu.
Mandor itu terkejut dan menunduk saat Teddy mengetahui bahwa lubang galian itu tidak memiliki penahan yang kuat.
"Tuan, maafkan saya, ini sebuah kelalaian yang sudah saya buat. Saya sudah meminta para pekerja untuk melakukan prosedur yang sudah di tentukan." kata mandor itu menunduk gugup.
"Tapi ternyata para pekerja ini tidak melakukannya." lanjut mandor itu menyalahkan para pekerja.
"Sialan! Enak sekali kau bicara! Kau pikir kami takut denganmu. Jangan mentang menatang kau mandor di sini! Tuan Larks, dia berbohong!" seru salah satu pekerja saat mendengar penjelasan mandor.
"Dia lah yang memerintahkan kami agar tidak membuat penahan itu, dia bilang untuk mengirit bahan baku!" seru pekerja lain sambil menunjuk mandornya.
"Apa!" seru Teddy marah.
"Xia! Panggil polisi!" seru Teddy.
"Baik, sayang." jawab Xia panik.
Xia ikut takut melihat kemarahan Teddy.
Xia segera memanggil polisi untuk datang ke area proyek ini.
Para pekerja yang mencoba menggali lubang itu, akhirnya bisa menyelamatkan rekan mereka yang telah tertimbun hampir satu jam.
"Tuan Larks! Kami berhasil menyelamatkannya!" seru salah satu pekerja itu senang.
"Syukurlah. Bagaimana keadaannya?" tanya Teddy lega.
Teddy bergegas menuju lokasi penggalian.
"Tuan Larks, dia tidak terluka, hanya saja dia kelelahan karena kehabisan oksigen." kata salah satu pekerja.
"Segera bawa dia ke rumah sakit!" seru Teddy sedikit lega karena pekerjanya tidak mengalami luka serius.
"Baik, tuan." seru pekerja itu.
Mereka membawa rekan mereka ke rumah sakit dengan menggunakan mobil dinas mereka.
"Selamat siang, tuan Larks." kata seorang petugas polis.
"Selamat siang. Petugas, tolong periksa orang ini, dia sudah membuat seseorang kecelakaan karena lalai." seru Teddy menunjuk ke arah mandor yang sedang berlutut di depannya.
__ADS_1
"Baik tuan Larks, kami akan mengurusnya." jawab petugas polisi itu sopan.
Mandor itu di bawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan mengenai kecelakaan yang terjadi hari ini.