
Sementara itu, Teddy dan Xia kembali ke kantornya setelah pekerja yang terkena reruntuhan tanah itu selamat dan sudah di bawa ke rumah sakit.
"Sial! Xia tolong panggilkan pelaksana lapangan untuk segera datang." kata Teddy masih shock dengan kejadian itu.
"Baik sayang." jawab Xia.
Xia memanggil pelaksana lapangan untuk menghadap kepada Teddy.
Pelaksana lapangan segera menuju ke ruang kantor Teddy.
"Selamat sore, tuan Larks." kata pelaksana lapangan itu.
Teddy mengangguk.
"Aku memanggilmu ke sini karena seharusnya kejadian seperti tadi di karenakan satu kelalaian mu dalam bekerja." kata Teddy sambil berdiri di depan jendela kantornya.
"Maafkan saya tuan Larks, ini semua benar benar kelalaian saya dalam bekerja, dan saya mengakuinya karena saya kurang disiplin untuk memberikan arahan kepada para mandor itu. Sekali lagi maafkan saya, setelah kejadian ini, saya berjanji tidak akan ada kejadian seperti ini lagi." kata pelaksana lapangan sambil membungkuk.
"Baiklah, aku tidak akan memecatmu kali ini, tapi jika ada satu kali lagi kejadian yang serupa, maka selain aku memecatmu, kau bahkan akan masuk penjara karena kelalaianmu." kata Teddy.
"Baik tuan, saya berjanji ini tidak akan terjadi lagi." jawab pelaksana lapangan masih membungkuk.
"Baiklah, kembali bekerja dan segera perbaiki semuanya sesuai prosedur yang sudah di tetapkan." kata Teddy sambil melambaikan tangannya.
"Baik tuan Larks, terima kasih." kata pelaksana lapangan itu.
Pelaksana lapangan itu segera kembali ke lokasi proyek dan mulai menata ulang kegiatan kerjanya.
***
Sementara itu, Baron dan ketiga wanitanya kini bisa bernafas lega setelah penasehat ayahnya di tangkap oleh kepolisian dengan bukti yang sangat jelas yang telah di kumpulkan oleh Baron dan ketiga wanitanya.
Baron dengan semangat kembali ke kantor bersama ketiga wanitanya.
"Syukurlah satu masalah yang cukup lama aku tunggu akhirnya selesai, kini hanya masalah aku dan orang bernama Rey saja yang belum tercapai."
"Sayang ini kopinya." kata Jackie sambil membawakan secangkir kopi ke hadapan Baron.
"Terima kasih, Jackie." kata Baron sambil menatap Jackie.
"Syukurlah sayang, kini masalah terbesar kita sudah di singkirkan, lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Lauren.
"Untuk sekarang sebaiknya kita revisi ulang perusahaan kita, agar perusahaan kita kembali ke masa jayanya dulu." jawab Baron.
"Ya, menurutku itu ide yang bagus dan biarkan aku mengurus semuanya, besok aku akan mengumpulkan para staf kantor untuk mengadakan rapat terbuka." kata Layla.
__ADS_1
"Ya, aku percayakan kepada kalian bertiga." kata Baron sambil meminum kopinya.
"Baik sayang, jangan khawatir, kami bertiga akan mengurus semuanya dari awal dan merevisi perusahaan ini dengan segera." jawab Layla.
Baron mengangguk.
***
"Hito, aku masih merasa tidak percaya dengan semua yang terjadi setelah aku bergabung dengan kalian." kata Lita.
"Hah? Memangnya kenapa?" tanya Hitomi menatap Lita yang sedang mengemudi.
"Ya, terkadang aku merasa jika ini hanya mimpi bagiku." kata Lita sambil mengemudikan mobilnya dengan santai.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Hitomi.
"Bayangkan saja sendiri, apa kamu tidak pernah merasakan kalau semua ini seperti mimipi. Sebelum aku bertemu Rey dan kalian, bahkan aku tidak pernah menyangka akan memiliki rumah semewah itu. Tapi setelah bertemu Rey kembali, kehidupanku berubah drastis dan seakan akan kalau aku seperti pasangan dari pemeran utama di dalam sebuah cerita novel." kata Lita sambil tersenyum.
"Ya, dulu kau juga pernah berpikiran seperti itu, tapi lambat laun aku sudah melupakan hal semacam itu." jawab Hitomi.
"Begitu ya." kata Lita.
Mereka akhirnya tiba di mansion setelah kembali dari XCS untuk memeriksa pembangunan rumah Lita.
Sedangkan Rey dan para gadisnya sedang asik mengobrol di ruang keluarga.
"Selamat sore, sayang." kata Hitomi sambil berjalan ke arah Rey dengan santai.
"Kalian sudah pulang?" tanya Rey sambil melihat Hitomi dan Lita yang baru masuk ke ruangan itu.
Hitomi mengangguk lalu merangkul bahu Rey dengan lembut sambil mencium pipi Rey.
"Lita, bagaimana dengan rumahnya?" tanya Rey.
"Sayang, rumah itu terlalu besar untukku." kata Lita.
"Ah, tidak juga, dan aku sengaja merenovasi rumah itu senyaman mungkin agar kita semua bisa menikmati suasana seperti di tempat wisata. Lalu bagian mana yang belum beres?" tanya Rey.
"Bagian dalam dan luar sudah hampri selesai, sayang, hanya saja para pekerja sedang fokus dengan kubah besar yang telah kamu pesan, hingga membutuhkan satu minggu lagi untuk siap di huni." jawab Lita.
"Oke, apa kalian capek?" tanya Rey.
"Tentu saja kami kelelahan." jawab Hitomi.
"Hehehe, kalau begitu, mandi lah terlebih dahulu sebelum makan malam di siapkan." kata Rey.
__ADS_1
"Baiklah sayang, aku akan mandi dulu." kata Hitomi sambil mencium pipi Rey dengan lembut.
Lita mengikuti Hitomi menuju ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya.
***
Sementara itu, Lee sedang mengintai kediaman keluarga Hanagi dengan santai.
"Sialan! Ini rumah apa kuburan sih? Sepi sekali, bahkan tidak ada penjaga satu orang pun." gumam Lee sambil menyalakan rokoknya.
***
Di sisi lain, Vonta membawa Cameron untuk datang ke rumahnya dan menemui ayahnya yang mungkin sedang mengkhawatirkannya.
"Ayah, aku pulang." seru Vonta saat masuk ke dalam rumahnya.
"Nak, benarkah itu kau?" seru ayah Vonta senang saat mendengar suara Vonta yang datang dari arah belakang.
"Ya, ini aku, ayah." kata Vonta sambil merangkul ayahnya dengan erat.
"Nak, bagaimana kau bisa keluar dari kantot polisi?" tanya ayah Vonta heran bercampur senang.
"Ya ayah, ini semua berkat bantuan dari tuan Rey." kata Vonta.
"Tuan Rey? Siapa itu?" tanya ayah Vonta.
"Tuan Rey yang telah melepaskan aku dari dalam penjara dengan bebas bersyarat." kata Vonta.
"Tunggu, apa tuan Rey yang kau maksud adalah tuan Rey ayng memiliki XTown Commercial Street?" tanya ayah Vonta.
"Ya, benar ayah." jawab Vonta.
"Ternyata tuan Rey sangat baik. Sebaiknya kita harus mengundang tuan Rey untuk makan malam bersama." kata ayah Vonta.
Vonta mengangguk.
"Ayah, aku ke sini bersama Cameron." kata Vonta.
"Hah? Mana dia? Kenapa kau tidak memberitahuku?" kata ayah Vonta sambil melihat sekeliling.
"Halo paman." kata Cameron.
"Nona, maafkan aku, aku tidak sempat menyambutmu tadi." kata ayah Vonta.
"Tidak apa apa paman." jawab Cameron.
__ADS_1
Cameron segera di persilahkan duduk di soafa yang sudah di sediakan oleh ayah Vonta.