
"Sayang, apakah nanti malam kita jadi ke rumah Xena?" tanya Hitomi.
"Jadi."
"Baiklah kalau begitu, aku akan menyiapkan keperluan untuk makan malam di sana." seru Hitomi sambil membuka ponselnya.
Hitomi segera memesan beberapa sayuran dan lobster segar, dan tidak lupa Hitomi memesan beberapa buah buahan dan wine sebagai minuman penutup makan malamnya. Setelah memesan beberapa keperluan untuk makan malam, Hitomi segera memberikan alamat rumah Xena kepada kurir pengiriman yang di sediakan di aplikasi itu.
"Sayang, sebenarnya aku merasa aneh dengan yang kita lakukan malam itu." kata Hitomi.
"Hah?! Apa yang kalian lakukan!" tanya Yuri sambil menyipitkan matanya ke arah Rey.
"Eh? Emang kami ngapain?" kata Rey mengerutkan keningnya.
"Hmmmmmmm" Fafa menyipitkan matanya dan menatap Rey penuh curiga.
"Ah? Sepertinya kalian salah sangka, kami mencoba trading saham malam itu dan mendapat banyak uang, ya uang yang dikirim ke kalian itu!" seru Hitomi semangat.
"Benarkah itu sayang?" tanya Fafa
"Iya lah. Entar kalau udah saatnya, kalian berempat aku ajak sekalian trading bareng. Biar kita bisa dapat uang lebih banyak lagi." kata Rey cuek.
"Lalu berapa uang yang kamu dapatkan sayang?" tanya Yuri polos.
"Totalnya sekitar 360 trilyun, kalau tidak salah." jawab Hitomi semangat.
"APA!"
Fafa dan Yuri tersentak kaget, saat mendengar penghasilan Rey dengan bermain trading saham.
"Apa kau tidak berlebihan kak?!" seru Yuri yang masih belum sadarkan diri dari keterkejutannya.
Bahkan Fafa seakan mau pingsan saat mendengar apa yang di katakan Hitomi kepadanya.
"Sayang, ajari aku!" seru Yuri dengan semangat sambil melompat ke pelukan Rey.
"Oke oke, besok kalau luang aku ajari. Kalian juga harus punya aplikasinya di laptop kalian." kata Rey sambil mengelus rambut Yuri yang sedang duduk di pangkuannya.
Fafa dengan semangat segera mendorong Yuri dari pangkuan Rey dan segera menggantikannya dengan manja.
"Sayang! Ternyata masih banyak hal yang sangat misterius yang harus aku temukan dalam dirimu!" kata Fafa manja.
"Kenapa kau mendorongku!" seru Yuri sambil cemberut kesal.
Hitomi hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah kedua wanita polos itu sambil tersenyum. Rey menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Oke stop! Aku mau mandi, dan sebaiknya kalian juga mandi, kita harus ke rumah Xena kan?" kata Rey sambil memindahkan Fafa dari pangkuannya.
Rey segera membuka pakaiannya dan berlari ke arah kolam renang dengan semangat. Ketiga wanita itu segera mengikuti Rey sambil tertawa geli, dan melompat ke kolam renang. Bahkan Yuri yang masih memakai pakaian lengkap melompat ke kolam renang. Rey tertawa senang melihat para wanitanya itu. Mereka berenang bersama dengan hati senang tanpa merasakan beban hidupnya dengan bebas.
Para wanita itu mendekati Rey, dengan tingkah jahilnya Rey, dia menjauh dan bergegas ke seberang kolam renang. Para wanita itu mengejarnya dengan gemas.
"Hei Yuri! Apa kau tidak berat renang dengan pakaian lengkap?" tanya Fafa tertawa.
Yuri segera melepas pakaiannya, dia hanya memakai ********** saja seperti yang lain. Mereka berenang dengan senang sambil melakukan beberapa kejahilan satu sama lain dan tertawa bersama.
"Anak muda jaman sekarang memang sangat lucu." kata Bibi sambil menggelengkan kepalanya ketika melihat mereka berempat sedang bercanda.
__ADS_1
Rey dan para wanitanya tidak menyadari jika di pinggir kolam renang, bibi sedang memperhatikan mereka. Bibi segera berbalik dan pergi dengan wajah tersenyum. Sangat senang melihat tuannya yang seperti anak sendiri itu bahagia. Selang beberapa saat ponsel Rey berdering. Rey segera naik dari dalam kolam renang dan munuju kursi untuk mengambil ponselnya.
[Ada apa Leon?]
[Halo tuan. Mobil nona Yuri sudah beres, saya sudah kirim tagihannya.]
[Oke oke sip! Aku akan transfer sekarang.]
Tanpa menutup telpon, Rey mengirim uang ke rekening Leon sebesar 2 milyar, sedangkan tagihan untuk mobil Yuri hanya 300 juta saja.
[Sudah aku transfer.]
[Baik tuan, saya akan bawa mobilnya ke mansion.... Eh? Tuan? Sepertinya uangnya kabanyakan. Tagihannya hanya 300 juta tuan.]
[Tidak apa apa, sisanya untuk kebutuhanmu!]
[Terima kasih tuan, tapi tetap saja ini terlalu banyak.]
[Udah ambil aja, bisa buat pegangan beberapa hari ke depan kan?]
[Ah terima kasih tuan. Saya akan bawa mobilnya ke mansion.]
[Dan satu lagi Leon, kau jangan panggil aku tuan lagi.]
[APA!! Saya salah apa tuan? Kenapa saya di pecat?]
[Eh? Kau ini! Panggil saja aku kakak, kau sudah seperti keluarga bagi kami.]
[Ah baik tuan.. Eh? Kakak bos.]
Rey tertawa mendengar kata kata Leon dan menutup telponnya. Leon dengan semangat memanggil taksi untuk mengambil mobil Yuri.
***
"Nona Xena, ada kiriman dari nona Hitomi." katanya sambil membawa banyak kantong plastik hitam di tangannya.
"Hah? Kiriman?"
Xena melihat satu persatu kantung plastik hitam itu.
"Ini lobster segar dan sayuran, mungkin Hitomi sengaja memngirimnya untuk makan malam nanti." kata Xena kepada ibunya.
"Baiklah, bawa ke dapur dan mulai siapkan makan malamnya oke?" lanjut Xena kepada asisten rumah tangga itu.
"Baik nona."
Asisten itu segera berbalik dan pergi sambil membawa semua kantong hitam itu.
"Nak, kenapa malah Hitomi yang berbelanja? Bukankah seharusnya kita yang belanja." tanya ibu Xena.
"Entahlah, sebentar aku coba telpon Hitomi."
Xena segera menghubungi Hitomi.
[Hey, Hitomi.]
[Hey, ada apa Xena?]
__ADS_1
[Kenapa malah jadi kamu yang belanja?]
[Oh itu,, itu makanan kesukaan Rey. jadi aku memesannya.]
[Kenapa tidak memberitahuku saja.]
[Rey menyuruhku untuk mengirimnya biar kamu gak repot repot keluar rumah.]
[Kalau begitu terima kasih banyak Hitomi!]
Xena mengakhiri teleponnya.
"Kenapa dia sangat perhatian. Aku bahkan belum pernah melakukan apapun untuknya." kata Xena dalam hati merasa tersentuh karena perhatian Rey kepadanya.
***
Di mansion, Rey dan para wanitanya menuju ke kamarnya masing masing untuk mengganti pakaian mereka.
"Untung saja aku punya banyak baju di sini. Masa iya aku pinjam Yuri." kata Fafa dalam hati.
Rey kembali ke halaman belakang mansionnya dan bersantai di kursi kayu sambil menunggu para wanitanya.
"Tuan, Leon sudah kembali." kata bibi hormat.
"Ah oke bi, di mana dia?"
"Dia di depan sedang membersihkan mobil yang baru saja di bawa kemari."
"Oke, terima kasih bi." jawab Rey langsung menuju ke depan mansion.
"Ah, kakak bos, coba di periksa dulu mobilnya." kata Leon sambil mengelap mobil itu dengan hati hati.
"Tidak perlu, aku percaya padamu Leon."
Leon hanya mengangguk dan tersenyum.
"Sayang! Cepat sekali mobilku selesai." seru Yuri berjalan ke arah mobilnya dengan senang.
"Kok aku? Kalo bukan Leon, mobil ini mungkin belum beres."
Yuri berkeliling di sekitar mobilnya dengan semangat, sambil melihat lihat bagian depan mobilnya. Bahkan bekas tabrakannya pun tidak ada di sana.
"Leooon! Terima kasih banyak!"seru Yuri menepuk nepuk punggung Leon hingga dia tersedak.
"Ini sudah tanggung jawab saya nona."
Yuri menyerahkan amplop coklat ke tangan Leon dengan hati hati.
"Ini untukmu Leon!"
"Tidak perlu nona, saya tidak bisa."
"Sudahlah terima saja!" kata Rey di belakang Yuri.
"Ah...baik kakak bos... Kalau begitu, saya pamit pulang dulu."
"Oke, sampaikan salamku pada ibumu."
__ADS_1
Leon berbalik pergi lalu masuk ke mobil miliknya dan pergi dari mansion. Pada akhirnya mereka pun siap untuk berangkat ke rumah Xena. Mereka menuju ke mobil masing masing. Tentu saja Yuri yang paling semangat karena mobilnya sudah kembali, bahkan seperti baru lagi. Koenigsegg Rey memimpin iring iringan mobil mewah itu keluar dari gerbang mansion.
Area jalan raya sekitar mansion Rey sudah terbiasa melihat rombongan mobil mewah itu. Rey memimpin jalannya menuju ke arah pusat kota. Sepanjang jalan mereka di sambut dengan gemerlapnya lampu kota yang sangat indah. Di tengah pusat kota itu terdapat air mancur terbesar di benua kuning. Air mancur itu di lengkapi dengan sensor gerak yang canggih dan 300 lampu sorot dengan berbagai warna, terlihat sangat indah ketika air mancur itu bergerak dari beraturan menjadi abstrak. Banyak turis asing yang sengaja mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel mereka.