Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Laporan


__ADS_3

"Benarkah?" tanya Rey.


"Ya, aku melihat penawarannya tadi siang." jawab Xena.


***


Sementara itu, Baron sedang bersiap siap untuk menuju ke pelelangan setelah pulang dari pusat perbelanjaan bersama ketiga wanitanya.


"Sayang ada yang ingin kami katakan tentang informasi mengenai penasehatmu." kata salah satu wanita Baron sambil memasangkan dasi di kemejanya.


"Apa kalian sudah mendapat bukti?" tanya Baron semangat.


"Ya, kami sudah merekamnya di ponsel kami saat dia membicarakan semuanya kepada kami, bahkan dia memerintahkan kepada kami untuk meracunimu." kata wanita Baron yang lain sambil menyerahkan ponselnya untuk memutar rekaman pembicaraan mereka.


"Tolong putarkan untukku." kata Baron kepada salah satu wanita yang duduk di sofa kamarnya.


"Baik, sayang."


Baron mendengarkan seluruh rekaman pembicaraan penasehatnya.


"Sialan! Sudah aku duga sejak awal." kata Baron sambil mengepalkan tangannya dengan keras.


"Kerja kalian sangat bagus, aku akan memberikan hadiah segera setelah semua ini selesai." lanjut Baron.


"Baiklah! Mari kita bermain!" kata Baron dingin.


"Lalu apa rencanamu, sayang? Bukti sudah berada di tangan kita." kata salah satu wanita yang duduk di sofa.


"Biar kita bicarakan nanti, aku punya rencana yang cukup bagus. Sekarang fokus kepada orang bernama Rey ini." kata Baron senang.


Tadi sore Baron mengundang Affa untuk ikut hadir ke acara lelang, dia sudah membicarakan tentang rencananya untuk mengungkap identitas Rey.


Affa mengerti dan menyetujui untuk membantu Baron mengungkap identitas Rey.


Dengan begitu, Affa bersiap siap untuk menuju ke tempat yang sudah di janjikan oleh Baron.


Baron berencana untuk menculik salah satu wanita Rey agar identitasnya terbongkar, maka dari itu Baron memperkerjakan Affa untuk menjadi tangan kanannya sebagai pengeksekusi penculikan itu.


"Baiklah, ayo kita berangkat." kata Baron.


Para wanita Baron mengikuti langkah kakinya untuk menuju ke tempat pelelangan.


***


Di sisi lain, Lee sejak tadi sore pergi dari mansion Rey setelah berpamitan kepada Xena dan Vonta.


Tapi, Lee tidak pulang ke rumahnya, melainkan dia pergi ke salah satu bar yang terletak di ujung jalan tak jauh dari mansion Rey.


'Sialan, apa wajahku terlalu jelek untuk mendapatkan seorang gadis.' gumam Lee sambil melihat dirinya di depan cermin toilet bar itu.


"Eh? Bukankah sekarang aku punya uang?" kata Lee semangat saat mengingat dirinya yang sudah mempunyai uang yang cukup untuk memikat seorang gadis.

__ADS_1


'Baiklah! Aku akan memamerkannya di depan para gadis!' gumam Lee semangat.


Lee kembali ke meja bar dan memesan vodka.


"Silahkan bos." kata bartender sambil meletakkan segelas vodka di depan Lee.


"Terima kasih, bung." jawab Lee mengambil gelas itu dengan santai.


Lee berbalik dari kursinya dan melihat ke arah DJ yang sedang asik memainkan musiknya.


Dengan banyaknya orang yang sedang berjoget di depan DJ itu, Lee memilih beberapa gadis cantik untuk di ajak berkenalan.


Tapi Lee tidak menemukan gadis yang cocok, hingga akhirnya dia kembali berbalik ke arah meja bartender itu.


'Sialan! Kenapa aku tidak bisa menemukan gadis yang cocok.' gumam Lee sambil mengerutkan keningnya.


Lee menenggak minuman keras itu dengan sekali tarikan nafas dan menaruh gelas itu di atas meja dengan keras.


Bartender melihat ke arah Lee dan segera mengisi kembali gelas itu dengan vodka baru.


"Bos, sepertinya kamu sedang dalam suasana hati yang buruk." kata bartender sambil menyerahkan vodka kepada Lee.


"Hah? Apa wajahku terlihat seperti itu." kata Lee.


"Ya, sepertinya begitu." kata bartender itu sopan.


"Bos, apa kamu belum punya pasangan?" tanya bartender itu.


"Wah, kebetulan sekali bos, dua hari yang lalu, aku bertemu dengan seorang gadis dan sepertinya masalahmu sama persis seperti masalahnya." kata bartender itu.


"Benarkah? Siapa dia?" tanya Lee penasaran.


"Namanya Marina Shafir dan dia memberiku nomor kontaknya, karena dia bilang kalau ada yang mempunyai masalah yang sama dengannya, maka aku di minta memberikan nomor kontaknya kepada orang itu. Dan sepertinya kau menjadi orang yang cocok." kata bartender itu.


"Wah, kebetulan sekali. Berikan padaku nomor ponselnya." kata Lee semangat.


"Hei hei, tunggu dulu bos, lalu apa untungnya bagiku jika aku memberikan nomor ponselnya kepadamu." kata bartender itu senang.


"Katakan padaku berapa yang kau inginkan?" tanya Lee yang telah mengerti apa yang bartender itu inginkan.


"Hahaha, kau benar benar hebat, tahu dengan apa yang aku maksud, bagaimana dengan 100 dollar." kata bartender itu sambil menggosok kedua telapak tangannya dengan senang.


"Baiklah, aku berikan 200 dollar dan segera berikan nomornya padaku." kata Lee sambil melemparkan dua lembar uang 100 dollar ke arah bartender itu.


"Baik! Terima kasih, dan ini nomornya." kata bartender itu semangat.


Lee mangambil nomor ponsel Marina dan segera keluar dari bar itu dengan senang.


Setelah keluar dari bar, Lee menelpon Marina dengan penuh harap.


Tapi ponsel Marina sedang tidak aktif, hanya mesin penjawab yang menyambut telpon dari Lee.

__ADS_1


'Sialan! Kenapa tidak aktif.' gumam Lee sambil kembali menekan nomor ponsel Marina, tapi jawabannya tetap sama.


"Baiklah, mungkin ponselnya sedang kehabisan daya, sebaiknya besok pagi saja aku menelponnya kembali." kata Lee sedikit kecewa.


***


"Xena, aku harus kembali pulang, jika besok ada waktu luang, aku akan mengunjungimu." kata Rey sambil mengelus rambut Xena.


"Baiklah sayang." jawab Xena.


Xena mengantar Rey ke depan rumahnya dengan berat hati.


"Istirahatlah dan jangan terlalu lelah." kata Rey sambil mencium kening Xena.


"Baiklah." Xena mengangguk patuh.


"Hati hati di jalan sayang." kata Xena sambil melambaikan tangannya ke arah mobil yang di kendarai oleh Rey yang semakin menjauh dari rumahnya.


Xena berbalik dan masuk ke dalam rumahnya.


***


Sementara itu, Lita di dalam kamarnya sedang melakukan live streaming di instagram. Tanpa mengungkit apa identitasnya yang sekarang, dia menyapa para followernya.


"Halo semua, bagaimana kabarnya? Lama tidak live di sini dan aku merindukan kalian." kata Lita melambaikan tangannya.


[Hei nona Marriot, kemana saja? Bagaimana kabarmu?]


"Hei, terima kasih banyak sudah mau mampir ke live room ku, selama ini aku sedang ada kesibukan sehingga beberapa waktu ini jarang memiliki waktu untuk pesta kuliner live lagi." kata Lita membalas sapaan followernya.


[Hei, permaisuri makanan kembali!]


[Ya! Dia kembali! Bagaimana kabarmu nona Marriot? Kami merindukanmu!]


Banyak followernya berdatangan untuk menyapa Lita yang muncul kembali.


Berhubung beberapa bulan terakhir Lita sudah mulai bekerja, jadi dia sudah sangat lama tidak melakukan live streaming.


Dan hari ini, saat Lita melakukan live lagi, dia terkejut saat melihat follower nya bertambah bahkan hampir 700 ribu orang yang baru bergabung di live nya hari ini, jika di total dengan follower lama, itu sudah mencapai 2,6 juta orang.


Itu sungguh mengagumkan untuk sebuah live streaming pemula sebagai gadis biasa yang bukan dari kalangan orang terkenal.


Rey tiba di mansionnya dan memarkirkan mobilnya seperti biasa.


tiba tiba One dan Two menghadap Rey dan segera memberikan informasi tentang semua yang telah terjadi hari ini.


"Apa! Jadi orang misterius itu Baron Hanagi." kata Rey terkejut tapi kemudian tersenyum penuh arti setelah di berikan sebuah foto oleh One.


"Apa dia sudah mengetahui tentang aku, one?"


"Tidak, dia hanya tahu nama anda saja, tuan."

__ADS_1


__ADS_2