
Pagi harinya, mereka semua berkumpul di restoran hotel untuk sarapan bersama.
DING!
[Selamat tuan anda mendapatkan hadiah dari system. Kekuatan membaca pikiran wanita.]
Rey terdiam, kemudian tersenyum tipis. Dengan begini sekarang Rey tidak perlu bingung mencari dan memahami keinginan para wanitanya, atau mungkin wanita yang lainnya. Tapi kemudian tatapannya berubah dan matanya melirik ke arah Sabrina.
"Sabrina sepertinya kau kurang tidur?" tanya Rey.
"Eh? Tidak kok, aku malah kebanyakan tidur."
"Masa?"
Sebenarnya semalam Sabrina memang kurang tidur, sejak awal Sabrina mendekati Rey adalah misi dari Teddy Larks untuk menjadi mata mata. Tapi karena perlakuan Rey dan yang lainnya, Sabrina mengurungkan niat untuk mengkhianati Rey.
Rey mendengar semua kata hati Sabrina, tapi tidak melakukan apapun. Karena Rey tahu Sabrina tidak akan berani berkhianat, apalagi dia kini sudah takluk di pelukan Rey. Mereka melanjutkan sarapan dengan tenang, Fafa dan Xena berencana untuk berkeliling bersama hari ini. Rey memperhatikan satu persatu wanitanya, dia heran ketika menatap Hitomi yang terlihat cemas.
"Ada apa Hitomi?"
"Ada sedikit masalah dengan perusahaan."
"Masalah? Apa Teddy mengacau lagi?"
"Ya, kemungkinan besar dia orangnya."
"Oke kita bicara di atas saja."
Rey berdiri dan berjalan ke arah tangga, Hitomi mengikutinya. Rey berbalik dan berkata.
"Fafa, kalian bisa jalan jalan dulu, aku harus membicarakan sesuatu dengan Hitomi."
"Baiklah."
"Xena, jangan sampai ibu terlalu lelah, dan kalian semua juga boleh jalan jalan. Kembalilah berkumpul saat makan siang nanti."
"Baik sayang."
Rey mengangguk dan melangkah ke sebuah ruangan pribadi di lantai atas. Mereka kini duduk berhadapan, walau Hitomi tampak cemas dan serius, Rey tetap menanggapi dengan santai.
"Sayang, semalam ketika aku memeriksa beberapa laporan, aku menemukan kejanggalan di laporan dari perusahaan yang kita rebut dari Teddy. Kita kehilangan sepuluh persen saham kita di sana."
__ADS_1
"Berikan aku datanya." kata Rey.
Hitomi segera membuka laptopnya dan memperlihatkan laporan yang dia terima.
"Hmm, sepertinya Teddy menjual beberapa saham kita secara ilegal, jika kita tidak bergerak maka kita nanti akan menjadi pecundang di depannya."
"Bagaimana kita menghadapinya?"
"Jual saham kita semuanya, toh sahamnya juga tidak ada kemajuan."
"Hah? Jual semuanya?"
"Apa kau meragukan aku Hitomi?"
"Ti-tidak sayang, semuanya adalah keputusanmu."
"Jual sahamnya dengan harga sangat murah. Tapi kau harus menjual saham itu kepada musuh perusahaan Teddy."
"Maksudnya?"
"Biarkan mereka bertarung sendiri di ruang yang sama, jadi kita tidak perlu repot repot mengurus Teddy bukan?"
"Ah? Ide yang sangat brilian sayang!"
Perusahaan keluarga itu adalah salah satu saingan dari Teddy Larks. Bahkan mereka sering berperang untuk mendapatkan proyek besar di dalam ataupun di luar kota XTown. Hal ini membuat keluarga itu sangat senang dan tanpa ragu membeli semua saham yang di tawarkan Hitomi.
***
Di lain tempat.
"Brengsek!" teriak Teddy Larks penuh amarah.
"Kenapa keluarga itu memiliki saham kita! Siapa yang menjual saham kita kepada keluarga itu!" lanjut Teddy geram.
Semua bawahan ayah Teddy sedang berlutut di hadapan Teddy dengan cemas.
"Maafkan kami tuan, saham itu sebelumnya milik Demonforge, tapi tadi pagi mereka menjualnya kepada keluarga itu." kata seorang lelaki tua membungkukkan badan.
"Demonforge?" tanya Teddy mengerutkan keningnya.
Teddy tidak tahu bahwa selama ini Rey lah yang memiliki 48% saham milik perusahaannya. Teddy menyadarinya ketika mendengar nama Demonforge dari bawahan ayahnya.
__ADS_1
"Sialan! Jadi selama ini Rey yang memegang 48% saham kita!" seru Teddy geram.
"Iya tuan, kita tidak bisa melakukan apa apa karena mereka menjual saham itu dengan murah dan cepat."
"Perintahkan semua orang untuk mendapatkan saham itu kembali! Jika dalam tiga hari saham itu belum kita pegang, kalian semua akan ku pecat!" seru Teddy geram.
"Ba-baik tuan!" jawab laki laki tua itu membungkukkan badan dengan cemas.
***
Rey dan Hitomi saling bertukar pikiran, dan Rey dengan mudah mampu memahaminya. Begitu juga Hitomi, dia merasa terlalu banyak yang membuatnya terkejut dengan kemampuan Rey dalam berbisnis, dia menyadari bahwa pola pikir Rey lebih maju dari dirinya.
"Aku tidak menyangka kalau dirimu selalu memiliki ide cemerlang, sayang."
"Ya mungkin karena aku sudah sering menghadapi berbagai macam orang."
"Sayang, kamu sudah berjanji pada kami untuk mengajari bermain saham."
"Masa sih? Kok aku lupa ya?"
"Jelas saja kamu lupa, kamu terlalu banyak wanita yang harus kamu kerjakan."
"Hahahahaha"
"Yuk sekarang kita susul yang lain."
"O, jadi kau tidak mau berduaan denganku sekarang ya?"
Wajah Hitomi merah karena malu, sedangkan Rey tertawa terbahak bahak. Hitomi mencium bibir Rey dan menarik tangannya untuk pergi menyusul yang lain. Rey tersenyum dan mengikuti langkah kaki Hitomi.
"Besok malam aku akan mengajari kalian bermain saham. Kalau berlima sepertinya akan seru."
"Benarkah? Aku juga kalau di mansion tidak ada kerjaan jadi sedikit bosan."
"Hitomi, kau itu nona Rey, kalau bosan kenapa tidak berbelanja, uang kita masih banyak, mungkin tidak akan habis."
"Aku pergi sendirian juga tidak mau, harusnya kamu menemaniku." jawab Hitomi cemberut.
Rey hanya tersenyum kecut. Dia pada dasarnya memang malas yang namanya menemani berbelanja. Tau sendiri mereka akan menghabiskan waktu ber jam jam hanya untuk memilih satu baju saja. Apalagi kalau banyak.
Masalah saham juga sebenarnya Rey juga tidak tahu akan mengajari apa, karena dia sendiri bisa melihat masa depan, jelas mudah memprediksi saham yang akan turun dan naik. Alasan mengajari saham sebenarnya agar para wanita nya itu mempunyai banyak waktu untuk bersama nya. Karena pasti ada saatnya Rey benar benar tidak bisa menemani mereka nantinya.
__ADS_1
Hitomi dan Rey tiba di tempat Xena dan yang lainnya sedang asik menikmati wahana hiburan yang ada di pulau Estillo ini. Mereka menikmati saat saat bersama seperti ini dengan bahagia. Banyak sekali wahana permainan di pulau itu, bahkan lebih lengkap dari disneyland di dunia nyata. Tentu saja di antara mereka yang paling semangat di antara mereka adalah Yuri. Sikapnya yang masih polos dan seperti anak kecil inilah yang di sukai Rey.
Tapi Yuri juga sering melakukan hal bodoh dan ceroboh yang membuat Rey merasa harus melindungi wanita ini. Rey memilih pendampingnya karena mereka memiliki sifat yang baik secara mendasar. Padahal kalau dilihat dari umurnya, wanita seperti Fafa, Yuri dan Sabrina lebih cocok menjadi keponakannya Rey. Tapi nyatanya mereka tidak perduli penampilan Rey seperti apa, bagi mereka Rey tetap yang tertampan.