
Rey bergegas menuju alamat rumah Cameron yang di berikan oleh Lee. Sementara itu, polisi sudah tiba di rumah Cameron dan menangkap Vonta.
Vonta pasrah mengikuti kedua polisi itu dengan borgol di kedua tangannya. Sedangkan ayah Vonta menyesal karena tidak bisa melakukan apa apa saat anaknya sedang dalam masalah.
Ibu Cameron sangat senang saat kedua polisi itu membawa Vonta untuk di tahan dengan tuduhan pelecehan seksual.
Ayah Vonta berat hati melihat anaknya di tangkap polisi dan di bawa ke penjara, hal ini membuat hatinya marah tapi ayah Vonta tidak bisa melawan keluarga Diaz.
Setelah Vonta pergi dengan kedua polisi itu, ayahnya berbalik dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Cameron menangis saat melihat Vonta di bawa oleh kedua polisi itu. Beberapa saat kemudian, Rey tiba di rumah Cameron tapi sudah terlambat karena Vonta sudah berada di kantor polisi dan ayahnya juga sudah kembali pulang.
"Lee, apa benar ini rumahnya?" tanya Rey meluhat ke rumah tiga lantai itu.
"Sepertinya begitu." jawab Lee melihat sekeliling.
"Oke, ayo kita turun." kata Rey turun dari mobilnya.
"Rey!" seru Cameron senang saat melihat Rey yang baru turun dari mobil.
Cameron segera berlari keluar dari kamarnya menuju ke lantai satu. Sementara ibunya yang sedang duduk di ruang paviliun kaget saat melihat putrinya berlari ke arah pintu.
"Mau kemana kamu!" teriak ibu Cameron marah.
Tapi Cameron tidak menghiraukannya dan langsung membuka pintu rumahnya. Rey yang sedang berjalam menuju pintu rumah Cameron sedikit kaget saat pintu rumah itu terbuka dengan keras hingga membuat Cameron terjatuh di depan pintu rumahnya.
"Hah? Cameron? Apa kamu tidak apa apa?" tanya Rey berjalan cepat menuju Cameron.
"Tuan, tolong aku!" seru Cameron menangis.
"Hah? Ada apa Cam?" tanya Rey membantu Cameron berdiri.
"Tuan, to-tolong, Vonta di bawa ke kantor polisi." kata Cameron menangis.
"Apa?! Sialan! Vonta di tangkap polisi!" seru Rey.
"Apa yang kau lakukan!" teriak ibu Cameron bergegas ke arah anaknya dengan cepat.
"Tuan, cepat, tolong sebelum ibuku memenjarakannya." seru Cameron panik saat ibunya berteriak dan akan mendekat.
"Apa yang telah Vonta lakukan?" tanya Rey tanpa menghiraukan perkataan ibu Cameron.
"Siapa kau!" teriak ibu Cameron geram.
"Maaf nyonya, aku temannya Cameron." jawab Rey santai.
"Ada perlu apa kau ke sini?!" tanya ibu Cameron menarik tangan putrinya masuk ke dalam rumah.
"Maaf nyonya, aku sengaja datang ke sini karena Cameron katanya sakit, jadi aku datang untuk menjenguknya." jawab Rey berbohong.
"Cameron tidak sakit! Sebaiknya kalian pergi dari sini dan terima kasih karena sudah ke sini." seru ibu Cameron sambil menutup pintu rumahnya dengan keras.
BRAK!
"Sialan! Berani sekali dia seperti itu." seru Lee menatap pintu rumah itu dengan geram.
__ADS_1
Rey mengerutkan kening heran dengan apa yang telah di lakukan ibu Cameron.
"Bos, berani sekali dia bersikap kasar kepadamu!" seru Lee.
"Bu, apa ibu tahu siapa tuan Rey? Ibu berani sekali bersikap seperti itu kepadanya!" seru Cameron menangis.
"Hah! Siapa dia aku tidak perduli! Keluarga kita bahkan lebih kuat di kota XTown ini, apalagi hanya menghadapi pria acak acakan seperti dia!" teriak ibu Cameron keras sambil menarik tangan putrinya dan membawanya ke dalam kamar.
"Bos, sebaiknya kita ke kantor polisi saja." kata Lee geram.
"Tunggu sebentar, aku harus meminta penjelasan dulu dari ibu Cameron." jawab Rey tenang.
Rey mengetuk pintu rumah Cameron dengan santai.
"Bos, ibunya sangat galak, sebaiknya kita ke kantor polisi saja agar tahu lebih jelasnya." kata Lee menyarankan.
"Sialan! Siapa lagi yang datang!" seru ibu Cameron geram saat mendengar pintu di ketuk.
Ibu Cameron berjalan ke arah pintu rumahnya dan membukakan pintunya.
"Kau lagi!" seru ibu Cameron saat melihat Rey.
"Ada apa lagi! Bukankah aku sudah menyuruhmu pergi!" teriak ibu Cameron dengan keras.
"Maaf nyonya, aku hanya mau bertanya, kenapa temanku di penjarakan? Lalu apa yang telah dia perbuat?" tanya Rey santai.
"Itu bukan urusanmu! Sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum aku memanggil polisi lain untuk menangkap kalian!" seru ibu Cameron jijik.
"Maaf nyonya, masalah ini sekarang akan menjadi urusanku juga." jawab Rey santai.
"Baik! Aku akan memanggil polisi lagi untuk membawa kalian!" seru ibu Cameron mengeluarkan ponselnya.
Tapi saat ibu Cameron mengeluarkan ponselnya, Rey segera merebut ponsel itu dengan cepat sampai wanita itu tidak melihat pergerakan Rey yang sangat cepat.
"Hah? Di mana ponselku?" gumam ibu Cameron melihat isi tas yang di bawanya.
"Nyonya, tidak perlu melakukan ini, aku hanya bertanya saja kepada anda dan aku ingin tahu penjelasan anda tentang apa yang telah anda laporkan kepada polisi." kata Rey santai.
"Penjelasan?! Apa kau tuli! Pergi dari sini dan jangan ikut campur!" teriak ibu Cameron keras.
"Sialan! Hei! Bosku bertanya dengan sopan kepadamu! Kenapa kau menjawabnya dengan nada kasar seperti itu! seru Lee sambil menunjuk jarinya ke arah ibu Cameron.
"Hei bocah! Jaga bicaramu! Apa kau mau masuk penjara juga!" ancam ibu Cameron marah saat jari telunjuk Lee tepat di depan wajahnya.
"Diamlah Lee." kata Rey menepuk pundak Lee.
"Baik bos." jawab Lee sedikit kesal dan mundur satu langkah.
"Nyonya, temanku benar, aku datang dan bertanya dengan sopan kepada anda, bukankah seharusnya anda menjawab kami dengan baik juga." kata Rey santai.
"Hah! Jadi maksudmu aku tidak baik! Lalu bagaimana dengan kalian yang sudah aku suruh pergi tapi kalian masih di sini! Apa itu yang di sebut baik!" seru ibu Cameron menatap jijik Rey.
"Pergilah! Aku tidak mau berdebat dengan gembel seperti kalian!" seru ibu Cameron menutup kembali pintu rumahnya dengan keras.
BRAK!
__ADS_1
"Hehehe, okelah kalau begitu, mari kita bermain main." kata Rey pelan sambil berbalik dan pergi.
Lee mengikuti Rey dari belakang. Sementara itu, Cameron hanya bisa melihat Rey dan Lee dari lantai tiga sambil menangis.
Rey bergegas menuju ke kantor polisi di mana Vonta di tahan. Saat Rey menginjak pedal gasnya dengan keras, ibu Cameron yang melihatnya dari balik jendela itu kaget.
"Apa mungkin dia dari keluarga kaya?!" gumam ibu Cameron melihat di balik tirai jendela rumahnya.
"Bagaimana kalau dia lebih kaya dari keluarga kami?! Aah! Sebaiknya aku tanyakan saja kepada Cameron." gumam ibu Cameron dengan perasaan yang sedikit takut.
Rey melajukan Lamborghini nya dengan kencangg menuju ke arah kantor polisi. Para pengendara yang lain menepi ke pinggir jalan saat melihat sebuah supercar melesat dari kaca spion untuk memberikan jalan kepada Rey.
Dengan cepat Rey menginjak pedal gasnya sampai mencapai kecepatan 200 km/jam di jalan yang cukup ramai.
Tapi para pengendara lain dengan cepat memberi jalan kepadanya karena takut tertabrak pengemudi gila itu. Rey sampai di kantor polisi tanpa di hadang oleh polisi jaga yang ada di depan gerbang.
Saat Rey melaju masuk ke kantor polisi para polisi jaga itu tidak memeriksa terlebih dahulu karena melihat bahwa yang masuk itu adalah mobil supercar.
Rey turun dari mobilnya di ikuti oleh Lee.
"Selamat sore, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu petugas menyambut dengan hormat.
"Aku mencari temanku yang bernama Vonta, dia baru saja masuk beberapa menit yang lalu." jawab Rey santai.
"Sebentar, saya akan lihat dulu." kata petugas itu membuka sebuah buku catatan.
"Ah, ada, silahkan tunggu sebentar, aku harus mengkonfirmasikan terlebih dahulu. nama anda?" kata petugas itu sopan.
"Rey Demonforge."
Petugas itu mengangguk dan berbalik pergi memasuki sebuah ruangan.
"Lapor komandan." kata petugas itu memberi hormat.
"Ada apa?" tanya komandannya.
"Ada seseorang yang mencari tahanan yang bernama Vonta." jawab petugas.
"Hah? Siapa?" tanya komandan mengerutkan kening.
"Namanya Rey... Demonforge, komandan." jawab petugas itu.
"Demonforge? Apa yang kau maksud itu tuan Rey Demonforge pemilik perusahaan MegaCore Tech?" tanya komandan semangat.
"Saya tidak tahu komandan, saya tidak menanyakannya." jawab petugas.
"Baik, aku akan menemuinya." kata Komandan itu mengangguk.
"Baik, komandan." kata petugas itu.
Petugas itu kembali menemui Rey.
"Tuan Rey, mohon tunggu sebentar, komandan kami akan segera datang." kata petugas itu sopan.
"Hm, oke." jawab Rey mengangguk tenang.
__ADS_1