
Di kediaman keluarga Hanagi, Baron baru saja bangun tidur dan segera bangkit dari tempat tidur untuk mandi.
Sedangkan ketiga wanitanya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka di kantornya.
"Kenapa kalian tidak memberikan racun itu?" tanya penasehat yang baru datang ke kantor sekretarisnya.
"Maaf tuan, semalam kami tidak mendapatkan kesempatan, dan kami terlalu banyak minum sampai kami mabuk." jawab Jackie santai.
"Alasan saja kalian! Apa kalian mau di pecat!" seru penasehat itu sambil menunjuk ketiga sekretarisnya.
'Sialan! Dasar tua bangka! Tunggu saja tanggal mainnya, kau akan menyesal!' gumam Lauren sambil menundukkan kepala.
Baron baru keluar dari kamar mandi di rumahnya.
"Sial! Ternyata sudah siang." kata Baron saat keluar dari kamar mandi.
Baron segera mengenakan pakaiannya untuk pergi ke kantornya.
***
Rey berada di parkiran kampus bersama ketiga gadisnya ketika menjemput mereka untuk pulang.
"Bos!" seru Vonta menghampiri setelah menemukan Rey di sana.
"Loh? Kemana Lee?" tanya Vonta mengerutkan keningnya.
"Lah? Kenapa tanya aku?" jawab Rey santai.
"Bukannya dia mencarimu tadi, bos? Atau jangan jangan dia masih di sana?" kata Vonta heran.
"Hah? Di sana di mana maksudmu?" tanya Rey penasaran.
"Dia sedang mengincar seorang gadis, bos." kata Vonta sambil tertawa.
"Gadis?" tanya Rey.
"Ya, tadi dia bertemu dengan seorang gadis yang menurutnya cukup cantik, tapi menurutku sepertinya dia terlalu pemarah dan dingin." jawab Vonta.
"Sebentar bos, biar aku lihat dulu, jangan jangan beneran dia masih di sana." kata Vonta berlari ke arah gerbang kampus itu.
"Goblog bener! Ternyata benar dia masih di sini!" gumam Vonta menggelengkan kepala.
Sementara Lee yang sedang asik memperhatikan Fallon yang baru melakukan kegiatannya, tidak menyadari kalau Vonta berada di belakangnya.
"BAAAA!" teriak Vonta di belakang Lee yang sedang senyam senyum sendiri melihat Fallon yang sedang berjalan ke depan.
"Bangsat!" teriak Lee kaget saat Vonta muncul tiba tiba.
"Kenapa sih kau ini? Apa kau mau membunuhku!" seru Lee kesal saat di ganggu oleh Vonta.
"Hahaha, lupakan gadis itu, biar aku beritahu padamu, jika kau ingin mendekatinya maka kau harus menjadi prajurit militer terlebih dahulu." kata Vonta sambil menertawakan Lee.
"Yang benar saja, memangnya dia siapa!" seru Lee masih kesal dengan Vonta.
"Apa kau tahu? Ayah dan Ibunya itu perwira. Bahkan hampir semua keluarganya masuk akademi militer." jawab Vonta menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Hah? Darimana kau tahu kalau dia dari keluarga militer?" tanya Lee kaget saat Vonta mengetahui banyak tentang Fallon.
"Namanya Fallon, dia anak dari teman ayahku." jawab Vonta santai.
"Benarkah?" tanya Lee kaget.
"Ya, sudah lupakan saja. Ayo ikut aku, bos sudah mau pulang." kata Vonta berbalik dan pergi.
"Aish, baiklah." jawab Lee sedikit kecewa saat mengetahui Fallon dari keluarga militer.
Lee mengikuti Vonta ke arah parkiran kampus itu.
"Bos, sepertinya ada yang sedang patah hati." kata Vonta yang baru saja muncul.
"Hah? Siapa?" tanya Fafa.
Vonta menunjuk ke arah Lee yang mengikuti Vonta dari belakang dengan sedikit tidak bersemangat.
"Lee?" tanya Fafa.
Vonta mengangguk sambil tersenyum.
"Memangnya kapan dia punya pacar?" tanya Sabrina menggaruk kepalanya.
"Jangan dengarkan dia!" seru Lee yang baru saja datang ke arah mereka.
"Halo bos." kata Lee dengan nada yang sedikit lemas.
"Hm? Ada apa denganmu?" tanya Rey saat melihat wajah Lee yang tidak enak di pandang itu.
"Tidak ada apa apa, bos. Jangan dengarkan dia." jawab Lee menunjuk ke arah Vonta.
"Sudah, lupakan saja." kata Rey masuk ke dalam mobilnya.
Mereka pergi meninggalkan kampus. Rey bersama ketiga gadisnya. Sedangkan Vonta dan Lee mengikuti mereka dari belakang.
Ketika memasuki gerbang mansion, Rey tersenyum ketika melihat ada mobil yang terparkir di ujung mansionnya. Mereka menuju garasi mansion itu. Ketika Rey turun dari mobil, dia langsung melambai memanggil Vonta.
"Von, kemarilah. Sepertinya ada pengintai." kata Rey pelan.
"Apakah ada tugas untukku, bos?" tanya Vonta.
"Ya, ada satu tugas untuk kalian." kata Rey santai.
"Tugas apa itu, bos?" tanya Lee semangat.
"Apa tadi kalian lihat mobil BMW di ujung jalan?" tanya Rey.
"Ya, aku melihatnya, memang ada apa dengan mobil itu?" tanya Vonta penasaran.
"Dia memata matai mansion dari semalam, terserah mau kalian apakan." kata Rey santai.
"Serahkan padaku." kata Lee semangat.
Vonta bergegas menuju ke arah mobil BMW itu secara perlahan bersama Lee.
__ADS_1
"Loh? Kenapa tidak ada orang di dalam mobil." kata Vonta sambil melihat sekeliling mobil itu dengan teliti.
"Von, lihat itu." kata Lee menunjuk ke arah kursi depan mobil itu.
"Ada apa?" tanya Vonta penasaran.
Vonta mengikuti arah telunjuk Lee dan melihat ke dalam mobil itu dari kaca jendela.
"Ponsel?" kata Vonta melihat ponsel tergeletak di dalam mobil.
Vonta mencari akal agar bisa mengambil ponsel itu. Sementara Lee menendang ban mobil itu dengan keras.
"Apa yang kau lakukan?" kata Vonta.
"Sepertinya pemilik mobil ini lupa alarmnya tidak aktif. Coba buka pintunya, Von." kata Lee santai.
"Eh? Benar! Pintunya tidak terkunci." kata Vonta senang.
Vonta mengambil ponsel itu dan mengantonginya.
"Lee, bongkar semua roda mobilnya." kata Vonta santai.
"Oke!" seru Lee semangat.
Lee mengambil dongkrak di bagasi mobil itu.
Dengan cepat dia melepas semua roda mobil itu dan menggunakan balok sebagai penahan agar mobilnya tidak terlihat bahwa rodanya hilang.
Keempat roda yang di lepas Lee di sembunyikan di rerumputan di sebelah mansion Rey.
Setelah selesai, Vonta dan Lee bersembunyi di balik pepohonan yang tidak jauh dari mobil BMW itu.
Sementara itu, Affa yang baru saja kembali dari makan siang bersama Jacqueline menuju ke arah mobilnya yang masih terparkir di ujung jalan dekat mansion Rey.
Mereka makan siang di kedai pinggir jalan raya yang berada agak jauh dari mansion Rey dengan berjalan kaki.
"Sayang, ternyata makan di kedai pinggir jalan itu enak juga, tempatnya juga nyaman." kata Jacqueline sambil menggandeng tangan Affa dengan erat.
"Ya, aku pikir juga begitu, bahkan saat aku masuk ke dalam kedai itu terasa bahwa kedai itu bukan kedai biasa, dengan interior layaknya seperti di restoran restoran ternama dengan desain yang minimalis dan terlihat enak di pandang." jawab Affa santai sambil berjalan menuju ke arah mobilnya.
Affa masuk ke dalam mobil bersama Jacqueline tanpa menyadari bahwa keempat roda mobil itu sudah tidak ada dan hanya di gantikan balok kayu untuk menahannya.
Mereka berdua mengobrol dengan santai tanpa ada perasaan yang tidak beres dengan mobilnya.
"Kenapa semakin sepi saja di sini." kata Affa saat melihat ke gerbang mansion Rey yang sangat sepi.
"Ya, ini terlihat seperti rumah hantu." kata Jacqueline.
"Sayang, bagaimana kalau kita pulang saja." kata Jacqueline.
"Aku sedang melaksanakan tugas, jadi aku tidak bisa meninggalkan tempat ini sebelum mendapatkan sesuatu untuk di laporkan kepada tuan Hanagi." jawab Affa santai.
"Hah? Kenapa kamu tidak menelponya dan bilang jika kamu tidak menemukan apa apa di sini." kata Jacqueline.
"Benar juga." jawab Affa senang.
__ADS_1
Affa mencari ponselnya di saku celananya, tapi dia tidak menemukan ponselnya.
"Hah? Kemana ponselku." kata Affa mencari cari ponselnya di saku celana.