Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Mata Mata


__ADS_3

Rey masih bersantai bersama ketiga gadisnya. Sedangkan Lee menuju ke rumah Vonta untuk mencarinya.


"Sayang, apa kamu lapar? Ayo kita makan." tanya Fafa memeluk lengan Rey.


"Oke." jawab Rey mengangguk.


Rey menuju ke ruang makan bersama ketiga gadisnya.


***


Di sebuah tempat,


Seseorang pengusaha kaya yang misterius sangat marah ketika  mengetahui bahwa Allen telah gagal.


"Brengsek! Dia sekuat itu rupanya, bahkan dia mampu mengalahkan Allen dengan mudah." seru orang itu geram.


"Tuan, bolehkah aku memberi saran?" tanya penasehatnya.


"Katakan saja!" seru orang itu.


"Jika di lihat dari sisi kekuatan, kemungkinan dia memiliki anak buah yang lebih kuat, maka dari itu jika kita menyerangnya dengan kekerasan mungkin kita akan kalah, aku menyarankan agar tuan bermain cantik dan aman tanpa harus menggunakan kekerasan, contohnya, tuan bisa memulainya dari saham." kata penasehatnya santai.


"Maksudmu?" tanya pria itu.


"Begini tuan, kita harus melihat pergerakan salah satu perusahaannya yang paling besar, kemungkinan perusahaan itu akan selalu membeli beberapa saham lagi, jika kita tahu perusahaan mana yang akan mereka beli, maka kita bisa mencegahnya dengan cara membeli saham targetnya terlebih dahulu." kata penasehatnya tenang.


"Hmm, aku mengerti." jawab orang itu mengangguk setuju.


"Baiklah, aku percayakan padamu untuk menyelidiki perusahaan itu." lanjut orang itu.


"Baik tuan, saya akan segera mengirim orang untuk menjadi mata mata kita di setiap perusahaan Rey." jawab penasehat itu.


Penasehat itu berbalik dan pergi untuk menyiapkan semua kebutuhan pengusaha misterius itu.


[Halo bos, ada yang bisa saya bantu.]


"Aku mempunyai tugas untukmu." kata penasehat itu tersenyum.


[Baik bos, lalu tugas seperti apa yang anda inginkan itu?]


"Tugasnya sangat mudah, hanya melamar pekerjaan di perusahaan MegaCore Tech, jika kamu di terima bekerja di sana, aku akan memberikan dua kali lipat upah bulananmu." kata penasehat itu.


[Hah? Hanya itu saja tuan?]


"Tentu saja tidak hanya itu, aku mau kamu di sana untuk menjadi mata mata." jawab penasehat itu santai.


[Begitu ya, itu tetap saja mudah, serahkan saja pada saya.]


"Baiklah, kabari aku jika sudah bergabung dengan perusahaan itu." kata penasehat itu santai.


***


Secara kebetulan, Hitomi dan Lita yang sedang makan siang tak jauh dari kantornya mendengar percakapan orang uang ada di meja belakang mereka.


Hitomi dan Lita bertukar pandang saat percakapan mereka di telepon terdengar dengan jelas karena memang volume telpon orang itu memang keras.

__ADS_1


Hitomi mengangguk ke arah Lita untuk mengatur beberapa strategi agar mereka terjebak pada permainan mereka sendiri dan akan mengungkap siapa dalang di balik semuanya.


Mereka berdua kembali ke kantor dan memanggil para staf untuk melakukan rapat.


***


Di tempat lain,


Lee baru saja sampai di rumah Vonta dan masuk ke halaman rumah itu.


"Hm, sepi sekali." gumam Lee saat melihat rumah Vonta.


"Apa dia tidak di rumah?" lanjut Lee sambil berjalan ke arah pintu rumah Vonta.


Setelah beberapa kali Lee mengetuk pintu rumah itu, seorang asisten rumah tangga keluar dan membukakan pintu rumah.


"Maaf nona, apa Vonta ada di rumah?" tanya Lee.


"Maaf, anda siapa ya?"


"Aku teman kerjanya, karena Vonta tidak datang, maka dari itu aku pergi ke sini untuk bertemu dengannya." jawab Lee santai.


"Maaf tuan, tapi tuan muda sedang keluar bersama tuan besar."


"Bolehkah aku tahu mereka pergi ke mana?" tanya Lee.


"Maaf tuan, saya juga tidak tahu, atau tuan bisa titip pesan kepada saya agar nanti saat tuan muda pulang, saya bisa memberitahunya."


"Ah, tidak usah repot repot, biar nanti aku kembali ke sini lagi jika mereka sudah pulang." jawab Lee santai.


"Sama sama tuan."


Lee berbalik dan pergi untuk kembali ke mansion Rey dan mengabari tentang hal ini.


***


Di mansion Rey,


"Sayang, makan yang banyak." kata Sabrina sambil memberikan sepotong daging lobster ke piring Rey.


"Terima kasih." jawab Rey.


"Tuan Rey, ada tuan muda Larks di sini." kata Bibi yang baru saja masuk ke ruang makan.


"Suruh masuk saja, bi." jawab Rey santai.


"Baik tuan." jawab Bibi sopan dan berbalik pergi.


Tak lama kemudian Teddy masuk diantarkan oleh Bibi.


"Selamat siang, Rey." kata Teddy membungkuk sopan.


"Hei, Ted, masuklah, apa kau mau makan?" kata Rey santai.


"Terima kasih, Rey. Tapi aku hanya kebetulan lewat dan mampir. Sekalian aku mau memberi tahu bahwa aku sudah menyiapkan semuanya dan kemungkinan besar besok lusa, aku akan berangkat ke kota JTown untuk mulai mengerjakan proyek kita." kata Teddy semangat.

__ADS_1


"Baguslah, kabari aku kalau kau sudah mulai menjalankan proyeknya." kata Rey.


"Baik Rey, kalau begitu aku pamit pulang dulu." kata Teddy sopan.


"Loh? Beneran tidak ikut makan?" tanya Rey


"Terima kasih, ada beberapa hal yang harus segera aku selesaikan." kata Teddy.


"Baiklah, hati hati, jangan lupa kabari aku."


Teddy mengangguk senang dan berpamitan kepada Rey.


"Sayang, proyek apa yang dia kerjakan memangnya?" tanya Fafa lembut.


"Ah, itu hanya proyek kecil untuk membangun sebuah perumahan elit di kota kelahiranku." jawab Rey


"Berapa banyak uang yang kau investasikan padanya?" tanya Yuri.


"Hanya sedikit." jawab Rey santai.


"Yang aku tanyakan bukan banyak atau sedikit, tapi nominalnya." kata Yuri cemberut.


"Hanya beberapa milyar saja." jawab Rey santai.


"Beberapa milyar kamu bilang hanya sedikit!" seru Yuri menyipitkan matanya.


"Apa aku pernah mengatur jumlah pengeluaranmu?" tanya Rey santai.


Kata kata Rey yang santai itu mampu membungkam mulut Yuri. Karena sudah dari awal Rey memperingatkan kepada para wanitanya untuk tidak mengatur kebebasannya, 'Hidupku, aturanku, tidak suka silahkan pergi.' Begitu kira kira prinsip hidup Rey. Sebenarnya Yuri hanya tidak mau Rey menghambur hamburkan uangnya saja, tapi harapannya itu tidak pas karena dia saja kalau belanja tidak ingat dunia.


"Bos!" seru Lee sedikit berlari ke arah Rey setelah kembali dari rumah Vonta.


"Bagaimana Lee? Apa kau mendapatkan kabar tentangnya?" tanya Rey menatap Lee yang tiba tiba muncul di ruang makan.


"Vonta tidak ada di rumahnya, asisten rumah tangganya bilang kalau dia pergi bersama ayahnya." jawab Lee.


"Hm?" kata Rey mengerutkan kening saat mendengar bahwa Vonta pergi bersama ayahnya.


"Coba kau telepon Cameron, apa dia tahu Vonta pergi kemana." kata Rey.


"Oke bos, aku akan menelponnya." jawab Lee sambil membuka ponselnya.


"Sayang, ada apa dengan Vonta?" tanya Fafa.


"Entahlah, ponselnya tidak aktif dan dia juga tidak masuk kerja." jawab Rey santai.


"Hei, bukankah Cameron satu kampus dengan kita, hanya beda jurusan saja." kata Sabrina.


"Aah iya! Aku baru ingat, kenapa tidak minta tolong Lee untuk mencarinya kesana." kata Fafa santai.


"Kalau Cameron tidak masuk kuliah, maka ada kemungkinan, Vonta sedang berada dalam masalah." kata Rey menyimpulkan.


"Kalau begitu, bagaimana kalau setelah makan kita cari Cameron di kampus?" tanya Yuri sambil mengunyah sepotong ikan kembung.


"Hm, aku setuju, kasihan kalau Lee mencarinya sendirian." kata Sabrina.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku juga ikut mencarinya setelah ini." jawab Rey sambil memasukkan sepotong lobster ke mulutnya.


__ADS_2