Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Puisi Terindah


__ADS_3

Rey berdiri tenang memandang Marquis Hot Spring Hotel. Dia memejamkan mata dan 'kupon restorasi alam' muncul di telapak tangannya.


[Anda ingin menggunakannya tuan? Anda cukup merobeknya saja.]


Mendengar arahan dari system, Rey merobek kupon itu menjadi dua. Sebuah aura kuat dan kekuatan aneh muncul mengelilingi bangunan itu.


[Sumber air panas Marquis Hot Spring Hotel telah di pulihkan.]


Rey hanya tersenyum tipis, dia memandang Yuri dan menggandeng tangannya untuk masuk. Marquis Hot Spring Hotel ini mencakup area seluas 730 meter persegi. Ketika mereka melangkah maasuk, Rey menemukan bahwa hotel ini memakai konsep istana dan memiliki beberapa kastil kecil di dalamnya.


Rey tahu bangunan ini di bangun baru beberapa dekade yang lalu. Tapi hotel ini tampak seperti milik seorang bangsawan di abad pertengahan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Rey melihat kastil yang terbesar, dia menebak bahwa itu adalah bangunan kantor utama hotel ini.


Rey dan Yuri berjalan menuju bangunan itu, samar samar dia mendengar seseorang berbicara.


"Pemandian air panas! Kami datang!"


Sekelompok orang keluar dari bangunan utama itu, seorang pria botak tampak di kelilingi kerumunan itu. Dari lagaknya, dia pasti pemimpin dari kerumunan orang itu. Rey sedikit kaget dan mengawasi mereka dari jauh.


"Siapa mereka? Bukankah hotel ini tidak beroperasi lagi?" gumam Rey dalam hati.


Kerumunan itu berjalan ke belakang, Rey mengikuti mereka karena penasaran. Di belakang, ada delapan mata air di sekitar hotel. Tapi sepertinya tidak ada air muncul di kolam kolam itu. Terlihat sebagian besar area hotel memang di tutup untuk umum.


Kerumunan itu masih berjalan ke belakang, tujuan mereka adalah kolam mata air utama di area itu. Rey masih mengikuti mereka. Sampai mereka tiba di sumber mata air utama.


Tempat itu di kelilingi oleh aliran sungai kecil, air hangat terus keluar dari satu mata air yang terbesar. Kolam itu sudah terisi penuh. Angin sepoi sepoi meniup permukaan kolam pemandian air panas itu.


"Lihatlah! Benar benar keajaiban!"


"Hebat sekali!"


"Tuan Field, apa yang terjadi di sini?"


Banyak orang yang bertanya tanya. Bertram Field, manajer umum Marquis Hot Spring Hotel, berkata dengan sok tahu.


"Baiklah! Ini memang keajaiban! Tuhan memberkati kita! Kita punya sumber air panas lagi!"


Bertram tersenyum walau sebenarnya juga terkejut. Seseorang mulai berkata.


"Tuan Field, bagaimana kalau membuat sebuah puisi?"


"Saya pernah mendengar bahwa anda adalah penyair berbakat. Puisi anda selalu bermakna."


Orang orang mulai menyanjung Bertram yang membuat dirinya sangat bersemangat. Dia menahan rasa senangnya dan menghela nafas.


"Aku tahu puisiku tidak sebagus puisi Shakespeare. Tapi aku masih seorang penyair terkenal di Marquis. Aku hanya membuat puisi pada acara acara besar. Tapi aku akan membuat puisi untuk merayakan hari ini!"


Rey menatap mereka dari kejauhan dan memandang pria botak itu dengan jijik. Seorang penyair terkenal? Siapa orang ini? Rey saja tidak kenal. Benar benar orang tidak tahu malu. Rey memutar bola matanya malas.


Bertram berdehem dan memulai berpuisi.


"Di hari yang sangat indah ini..."

__ADS_1


Rey yang masih berdiri tidak jauh dari sana menjatuhkan rahangnya. Puisi apaan! Itu pidato, bambang! Tapi semua orang bertepuk tangan.


"Fantastis!"


"Puisi itu sangat menyentuh hatiku!


"Luar biasa! Puisi besar yang akan di kenang oleh setiap generasi!"


Rey tercengang dengan cara mereka menjilat Bertram. Sebuah puisi besar? Yang benar saja! Apa mereka bercanda! Bisa bisanya si botak itu mendapat banyak pujian dengan sebuah kalimat tidak penting! Rey menganggap mereka orang aneh. Dia tidak percaya ada kumpulan orang bodoh seperti ini.


Bertram tampak sangat bangga dengan satu kalimat super-nya. Dia tertawa.


"Sudahlah, tidak perlu memuji seperti itu. Tapi memang puisiku bagus kan?"


Mendengar ucapan itu, Rey tidak mampu menahan tawanya lagi, dia tertawa terbahak bahak. Rey tertawa sangat keras hingga membuat kelompok orang tadi menoleh. Semua orang mengerutkan kening dan menatap Rey tajam. Mereka mengangkat alis mereka yang membuat Rey agak canggung.


"Eh? Maaf maaf, tapi ini terlalu lucu. Aku sudah mencoba menahannya, tapi ternyata susah. Hanya saja si botak itu sangat menyedihkan. Eh? Maaf lagi."


Wajah semua orang menjadi menggelap saat mendengarnya. Bertram merasa di permalukan, wajahnya kelam. Dia merasa sangat malu 'puisi indah' nya di tertawakan. Beberapa orang langsung meneriaki Rey.


"Siapa kau!"


"Siapa yang menyuruhmu datang ke sini! Tempat ini bukan tempat umum!"


"Apa yang sedang kau lakukan!"


Mereka berteriak marah kepada Rey. Bertram berjalan ke arah Rey dan menatap dari atas ke bawah.


"Tidak." jawab Rey tenang.


"Kau tidah tahu!" teriak Bertram dengan mata terbuka lebar.


"Aku beritahu sekarang! Hotel kami tidak menerima pengunjung! Kau harus membayar denda 4 juta karena mengganggu tempat ini! lanjut Bertram meninggikan suaranya.


Bertram berteriak pada Rey. Dia masih marah karena di tertawakan. Dia ingin membalas dendam.


"Bayar denda 4 juta?"


Rey menyipitkan matanya dan menatap Bertram. Dia tahu Bertram ingin memerasnya. Menarik.


"Itu benar!"


"Bayar saja dendanya dan pergilah!"


"Apa kau mendengarnya!"


Kerumunan itu mulai berteriak lagi.


"Apa kau yakin meminta denda dariku?" tanya Rey santai sambil tersenyum.


"Apa? Apa! Apa kau tidak mendengarku! Aku manajer umum di sini! Jumlah dendanya tergantung padaku!" teriak Bertram melebarkan matanya.

__ADS_1


"Bertram kan? Kau terlalu nyaman dengan posisimu? Tapi kau salah tentang satu hal. AKu bukan pengunjung hari ini."


Rey berkata dengan tenang. Tapi kata kata ini memicu kerumunan untuk berteriak lagi.


"Aku tidak perduli kau pengunjung atau bukan!"


"Bukan pengunjung? Jadi kau cuma pekerja di sini?"


Kata kata mutiara terlontar dari beberapa orang.


"Siapa namamu! Siapa bosmu!" kata Bertram dengan keras.


"Bisa di bilang begitu sih, dan namaku Rey, Rey Demonforge." cibir Rey santai sambil melihat ke arah Bertram.


Orang orang yang mengikuti Bertram segera berkata.


"Siapa bosmu!"


"Keluar kau atau kami laporkan!"


"Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa bekerja di sini dan menjadi bagian dari kita. Dia tidak memiliki sopan santun."


"Ini tempat terlarang!"


"Dia aib untuk hotel kita. Pecat saja!"


Mereka mulai mengkritik Rey. Tapi wajah Rey penuh dengan ekspresi mengejek. Dia menggelengkan kepalanya.


Pantas saja hotel ini tidak laku sampai dikira tidak beroperasi lagi. Orang orang ini, para eksekutif senior hanya tahu caranya menjilat atasan. Manajer umum berani mengamuk dan melakukan kekasaran terhadap pengunjung. Melihat kepemimpinan seperti itu dan kondisi hotel, jelas tempat ini secara alami di operasikan dengan sangat buruk.


"Sepertinya kualitas karyawan hotel perlu di tingkatkan, sudah waktunya untuk memberi pelajaran pada orang orang payah ini. Hotel ini juga perlu di perbaiki." kata Rey tenang sambil melirik Yuri yang hanya diam di sampingnya.


Mendengar ucapan Rey, semua orang mengerutkan kening.


"Apa maksudmu!"


"Beraninya kau berbicara seperti itu!"


"Kau cuma pegawai disini! Kau tidak bisa menjaga bicaramu hah!"


Rey mendengus dan diam. Dia menatap tajam ke arah Bertram.


Bertram tiba tiba teringat sesuatu. Dia berkeringat dingin.


"Rey Demonforge? Ap-apakah? Apakah anda pemilik baru? Tuan Rey?" tanya Bertram tergagap.


Semua orang langsung diam. Mereka semua sangat heran dan memandang Rey dengan ketakutan. Bahkan ada yang panik.


Tidak punya sopan santun? Aib bagi hotel? Memecatnya? Mereka mengatakan hal hal semacam itu tadi kepada pemilik. Pikiran mereka melayang jauh. Mereka baru saja meletakkan nyawa mereka sebagai bahan taruhan. Mereka dengan gamblang mengutuk bos mereka sendiri.


Rey tersenyum santai dan berkata dengan ejekan, dia menatap orang orang di depannya dengan tajam.

__ADS_1


"Jadi, apa aku baru bisa bicara sekarang?"


__ADS_2