Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Tidak Pernah Puas


__ADS_3

Di ruang konferensi Marquis Hot Spring Hotel. Para eksekutif senior gelisah, udara seakan sangat sulit di hirup.


Bertram sebagai manajer umum sangat gugup. Dia baru saja memarahi bosnya sendiri, dan memerasnya sesuka hati. Dia pasti akan di hukum berat. Selama bertahun tahun, dia mengoperasikan hotel ini secara ilegal dan menggelapkan banyak dana.


Rey memandang semua orang dengan tatapan menghina, dia menatap semua orang dengan tajam. Banyak orang yang menundukkan kepalanya. Rey berkata dengan santai.


"Bertram, kau sangat berkuasa di sini kan? Kau bisa memeras orang sesuka hati bukan?"


Rey melihat lihat pembukuan dan buku rekening hotel. Rey tadi sempat memanggil Hitomi untuk datang. Hitomi ikut memeriksa buku rekening. Dia mengutip semua akun palsu dan akun yang tidak seimbang.


Rey berkata sambil mencibir.


"Kau menghabiskan 84 juta untuk tisu toilet dalam sebulan. Bukankah kau sangat pintar? Tisu apa harganya 84 juta? Apakah tisu itu terbuat dari emas?"


Cibiran Rey membuat semua orang terdiam karena malu.


"Nah! Yang ini juga sangat hebat! Menemani makan klien sampai habis 64 juta! Kau ini makan apa? Apa kau membangun dapurnya dulu atau menyewa 100 koki?"


Rey membanting buku buku itu di atas meja dan menggebraknya dengan geram. Ada begitu banyak masalah dalam manajemen hotel ini. Rey tampak marah. Wajah semua orang menjadi pucat. Rey melirik Hitomi dan berkata.


"Hitomi, periksa aliran dana dan semua rekening secara menyeluruh."


"Baiklah."


Hitomi mengangguk. Melihat cara pembukuan yang terlalu buruk, siapapun akan tertawa saat melihatnya. Rey menatap semua orang dan berkata dengan dingin.


"Aku harap siapapun yang melencengkan dana dapat mengakui kesalahan. Kalian harus mengganti kerugiannya. Dengan begitu mungkin aku bisa sedikit memafkaan. Jika tidak! Hukuman berat akan menanti jika aku mengetahuinya."


Rey berdiri dan menoleh kepada Yuri dan Hitomi.


"Yuri, Hitomi, ayo pergi."


Hitomi mengangguk dan berdiri menatap Rey yang sudah keluar duluan bersama Yuri. Semua orang menjadi pucat. Mereka takut akan konsekuensi yang mungkin terjadi. Sebelum keluar, Hitomi menatap mereka semua dan berkata.


"Jangan berpikir kalian akan lolos dari hukuman. Aku bisa cepat menemukan sesuatu yang melenceng. Mudah bagiku untuk melacak kembali dari semua sumber. FairLaw Corp di bawah kepemimpinan tuan Rey. Jika kalian tidak mengakui kesalahan kalian. Bersiaplah untuk tuntutan hukum yang akan datang."


Hitomi pergi meninggalkan ruang konferensi bersama dengan suara gema sepatu hak tingginya yang makin lama makin menghilang. Keheningan menyelimuti ruangan itu. Semua orang putus asa. Mereka ketakutan. Mereka tidak berani menyembunyikan sesuatu dari Rey lagi.


Tidak ada yang berbicara sepatah kata pun untuk beberapa saat. Seorang wakil manajer umum tiba tiba marah besar. Dia menunjuk Bertram dan berteriak.


"Ini semua gara gara kau! Jika bukan karenamu, bagaimana kita bisa melakukan hal seperti ini! AKu mengatakan bahwa kita harus menyewa seseorang profesional untuk memalsukan akun! Tapi kau bilang itu tidak perlu dan tidak ada yang akan memeriksa pembukuan! Kau menjebak kami! Apa yang akan kita lakukan sekarang!"


Wakil manajer umum menggila. Bertram ganti meneriakinya.


"Bagaimana aku bisa tahu kalau pemilik hotel tiba tiba berubah! Aku tidah tahu bos baru akan memeriksa hotel secepat ini dan memeriksa pembukuan langsung!"


"Aku tidak perduli! Ini semua salahmu!"

__ADS_1


Wakil manajer berteriak. Ada keributan di ruang konferensi. Mereka melalaikan tanggung jawab mereka.


Rey, Yuri dan Hitomi mendengar teriakan di ruang konferensi. Sungguh konyol. Saat ini, orang orang itu masih melupakan tanggung jawab mereka dan bertengkar sambil menyalahkan satu sama lain.


Rey menatap Hitomi yang berjalan mendekat.


"Siap siap merekrut karyawan baru. Manajemen hotel ini perlu di ganti. Semuanya."


Hitomi terpaku mendengar ucapan Rey. Tampak jelas aura dominasi dari Rey. Hitomi menyadari bahwa sangat mengerikan jika Rey sendiri yang turun menangani semua bisnisnya. Dia terlalu kejam. Sebuah kesalahan yang di lakukan seorang manajer hotel bisa menyebabkan seluruh karyawan di pecat.


Tapi Hitomi memakluminya, lagipula masalah manajemen internal di Marquis Hot Spring Hotel memang terlalu serius. Jadi Rey harus menghilangkan semua pengaruh buruk di hotel ini. Kemudian mengganti semua karyawan adalah hal yang mudah. Tapi Rey tidak memecat mereka sekaligus, pembenahan harus di lakukan secara bertahap.


Memecat semua karyawan hanya akan menyebabkan berhentinya seluruh kinerja hotel dan akan membutuhkan penyesuaian yang lebih lama.


"Sayang, aku ingin merekomendasikan seseorang jika kamu ingin merekrut eksekutif senior baru."


"Tidak masalah."


Hitomi mengangguk dan memperlihatkan tab nya kepada Rey. Hitomi merekomendasikan seorang wanita muda yang lulus kuliah dua tahun yang lalu. Wanita ini bernama Jaqueline Cantrell dan dia lulusan ekonomi di unversitas bergengsi. Dia sempat menjadi wakil presiden di sebuah perusahaan. Tapi baru baru ini dia meninggalkan pekerjaannya. Rey bertanya dengan santai.


"Bagaimana kau mengenalnya?"


"Yah, dia adik kelasku saat sekolah dulu. Dia takut ancaman pelecehan di kantornya yang lama dan berhenti."


Rey mengangguk. Pelecehan memang tidak dipungkiri di beberapa perusahaan besar. Bahkan hal seperti ini sudah seperti aturan yang tidak tertulis.


"Tapi, sayang---,,,"


"Aku percaya padamu Hitomi."


Hitomi tersenyum dan berpamitan pada Rey dan Yuri untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Rey memilih untuk tetap di hotel ini. Rey memilih kamar hotel yang cocok. Hotel ini memang hampir tutup, tapi sebagian fasilitas masih beroperasi. Fasilitas pelayanan dasar masih tersedia.


Hotel untuk pengunjung adalah vila kecil yang terpisah. Ada kolam air panas di setiap halaman belakangnya. Airnya langsung di alirkan dari sumber air panas utama. Rey dan Yuri masuk ke salah satu vila mini itu. Rey tersenyum dan berkata.


"Haruskah kita berendam bersama?"


Yuri tersipu saat mendengarnya. Dia mengangguk. Mereka memasuki kolam air panas itu. Tubuh mereka langsung rileks saat ini. Air panas alami terasa sangat nyaman. Rey mengusap bahunya. Pundak dan lehernya terasa sedikit tidak nyaman. Mungkin karena dia terlalu sering minum. Yuri menoleh dan berkata kepada Rey.


"Sayang, aku akan memijatmu."


Rey tersenyum dan berbisik kepada Yuri.


"Kamu mau pijat yang mana?"


Yuri langsung malu. Walau sudah terlalu sering tidur bersama. Entah mengapa Yuri tetap saja malu saat Rey menggodanya. Yuri juga tahu bahwa Rey hanya bercanda dengan lelucon joroknya itu.


"Apaan sih! Apa yang kamu pikirkan!"

__ADS_1


Rey hanya tertawa. Rey sangat suka dengan kepolosan dan tingkah Yuri yang jarang berpikir dahulu. Sebenarnya kalau Rey bisa memilih. Mungkin Yuri lebih cocok untuk menjadi adiknya. Yuri kini berada di belakang Rey. Yuri membelai punggung Rey yang di penuhi tato naga itu dengan lembut dan kagum.


Rey terkejut ketika ada dua bola yang tak sengaja menyentuh punggungnya. Sisi mesum Rey bangkit dan dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke belakang agar bola itu menempel sepenuhnya. Yuri tersipu lagi, dia sekarang berpikir untuk balas mengerjai Rey dan berbisik di telinga Rey dari belakang.


"Sayang, aku tidak mau."


Rey sedikit kesal. Dia tidak bisa melakukan apapun. Rey berdehem menenangkan diri dan mengganti topik.


"Mari kita main tebak tebakan saja, oke?"


"Oke!"


Yuri mengangguk dengan mata berkedip kegirangan. Rey berpikir sejenak dan bertanya.


"Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?"


"Ayam." jawab Yuri.


"Kok bisa?"


"Bukankah kamu tadi menyebut ayam dulu baru telur? Kalau kamu bertanya mana yang diciptakan duluan, aku juga tidak tahu, sayang."


"Eh? Benar juga." kata Rey sedikit terkejut dengan logika Yuri.


"Lagi sayang lagi." seru Yuri bersemangat.


"Mmmm, bulan apa yang di benci para pria?"


"Datang bulan!"


Yuri dengan cepat menjawab. Rey merasa terkejut dengan kecepatan reaksi Yuri. Benar benar cepat tanpa berpikir. Rey memikirkan sesuatu dan menyeringai. Dia berpura pura bertanya dengan serius.


"Jika burung merpati adalah lambang perdamaian. Burung apa yang melambangkan surga dunia?"


Yuri mengerutkan kening. Ketika memikirkan jawabannya, wajahnya merah padam karena malu. Dia terpaku dan wajahnya sangat merah.


"DASAR MESUM!"


Rey tertawa kegirangan di dalam kolam sambil menepuk nepuk permukaan air. Yuri mendengus dan membalik tubuh Rey menghadap dirinya. Dia meremas ekor naga Rey dengan gemas. Sedangkan Rey hampir menangis karena kesakitan.


"Yuri, yuri, sakit tahu! Apa kau sudah tidak mau mencapai puncak kenikmatan lagi seumur hidupmu!"


Yuri melepaskan genggaman tangannya dan mendengus.


"Tidak perlu khawatir, tidak mudah membuatku mencapai puncak dengan milikmu itu." kata Yuri cemberut karena kesal di goda Rey.


Rey melongo dengan ucapan Yuri. Apa Yuri lupa selama ini dia di buat terkapar tak berdaya setiap bercinta dengan Rey. Rey menatap Yuri dengan tatapan kosong.

__ADS_1


__ADS_2