Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 99: Unpredictable


__ADS_3

Hati seorang istri yang mencintai suaminya ibarat dua jiwa yang menjadi satu. Jika mereka berpisah karena kematian sekalipun, mereka akan dipertemukan kembali. Entah di sebuah alam yang lain atau dikehidupan berikutnya. Seperti yang tertulis pada sebuah kitab, dimana dua insan yang terjalin dalam sebuah ikatan pernikahan, mereka bukan lagi dua melainkan satu. Layaknya seorang ibu yang memiliki ikatan batin pada anaknya begitu juga seorang istri yang merasakan baik dan buruk suaminya. Claudia masih belum yakin akan kepergian suaminya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Mungkin ini takdir suaminya. Meninggal dengan cara yang mengenaskan. Lalu apa Claudia benar menerima dan rela memakamkan suaminya?


...


Claudia berusaha menahan rasa sakitnya. Ia mencoba melangkahkan kakinya menghampiri Freedy yang memberi kotak berisi jas suaminya itu. Grace dan Viena memapah dirinya. Dengan tangan gemetar dan merasa dingin di ujung ujung jemarinya, Claudia meraih jas tersebut lalu memeluknya dengan sangat erat. Dia kembali menangis dan akhirnya tersungkur lemah. Kakinya lunglai seketika. Dia mengecup dan membenamkan wajahnya di sisi sisi jas tersebut. Claudia mencari nama Egnor di kerah bajunya yang memang ia pesan untuk suaminya.


"Kak Egnor .. kau benar sudah tiada? Kau? Kau benar meninggalkanku?" Claudia mencoba mencurahkan isi hatinya. Viena ikut tersungkur dan menangis di punggung Claudia.


"Tidak kak! Kau sendiri yang mengatakan akan kembali, mengapa seperti ini? Kau bahkan, kau bahkan belum melihat anakmu kak! Aku sudah berjuang kak, aku sudah berusaha untuk tidak bersedih dan berharap kabar baik darimu, tapi mengapa begini? Apa yang harus kulakukan tanpamu kak!!" Claudia menangis tersedu dan terus memandangi jas biru Dongker dengan banyak koyakan itu.


Suasana di lobby kantor pengacara itu mendadak menjadi mengharu biru. Pemilik gendung kantor pengacara ini telah tiada. Semuanya, Dion, Frank, Richard, Freedy, sang satpam dan Kate sekalipun merasakan rasa kehilangan Claudia. Grace pun sudah menangis dan memeluk Claudia dari samping.


Viena menghapus air matanya. Dia harus mencoba tegar demi istri kakaknya dan sepertinya dia harus memastikan terlebih dahulu.


"Aku ingin melihat jasat kakakku!" Pinta Viena mendongakan kepalanya menatap Freedy. Claudia yang mendengarnya juga ingin melakukan apa yang dikatakan Viena.


"Ya ya benar, aku mau melihat suamiku, Viena tolong kau jangan menyebutnya jasat. Kau dan aku belum memastikannya. Tidak ada yang tidak mungkin. Aku minta maaf untuk kali ini aku harus memastikan matang matang terlebih dahulu." Kata Claudia.


"Iya Nyonya, silahkan ikut kami ke rumah duka rumah sakit pusat kota. Tuan Egnor sudah dibersihkan namun wajahnya sudah diperban karna tidak sepatutnya di perlihatkan." Ujar Freedy menyetujui.


Viena dan Grace membantu Claudia berdiri. Richard dengan sigap dan mencemaskan kondisi Claudia langsung berjalan berdampingan dengannya. Claudia terus memeluk jas Egnor. Sementara Viena terlebih dahulu menangis di pelukan Dion. Dia tidak menyangka kakaknya pergi dengan cara seperti ini.


"Tenanglah Viena. Kita belum memastikan. Sebaiknya kita persiapkan diri mengatakan pada dad." Kata Dion.


Viena mengangguk masih dalam tangisnya. Dion kembali mendekapnya erat sebelum ikut ke rumah duka pusat kota melihat kondisi Egnor.


...


Richard merangkul Claudia memasuki rumah duka tersebut. Kate juga berjalan di samping Richard juga Frank dan Grace serta Viena dan Dion. Freedy berjalan di depan Claudia dan Richard. Claudia masih menangis sesekali mengendusi jas suaminya. Aroma nya masih tercium oleh Claudia. Begitulah cinta yang sangat dalam, entah ada atau tidak masih terasa nyata dan rasanya baru kemarin Claudia memberikan jas ini pada suaminya.


Mereka memasuki ruangan khusus yang sangat putih. Di sana sudah ada beberapa orang pemerintah yang menjenguk Egnor. Ada juga Mytha bersama Lisa. Mytha masih sangat bersedih karna dia pikir, dia bisa bertemu Gabriel, kakak semata wayangnya sekarang ketika tuannya sudah ditemukan. Namun, Mytha masih saja tetap menunggu.


Lisa menghampiri Claudia. Dia memeluk Claudia mengelus punggungnya.


"Tenang Clau! Kau masih memiliki anaknya, jaga anak kalian selalu Clau!" Ucap Lisa dan Claudia terus menangis mendengar perkataan sahabatnya, Lisa. Claudia menarik diri. Dia sudah tak sabar melihat rupa suaminya setelah satu bulan lebih sudah berpisah.


Baru saja Lisa hendak mengantar Claudia, Mytha bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Richard. Dia langsung memeluk Richard. Lisa sekilas melihat tapi tidak dapat berbuat apa apa. Richard merasakan aura dingin Lisa beberapa hari ini. Claudia juga melihat keakraban Mytha dan Richard namun perasaannya lebih sedih ketimbang kesalahpahaman sahabatnya sekarang. Lisa pun hendak berjalan membimbing Claudia melihat Egnor namun Richard menahan tangan Lisa sesaat.


"Lisa .." panggil Richard namun tetap memeluk Mytha yang menangis.


"Tenangkan anak itu, sejak tadi pagi menunggu kabar kakaknya tapi tidak ada dan dia terus menangis. Kita bisa bicara kapanpun!" Lisa sedikit menghempaskan tangan Richard dan dia menggiring Claudia menuju jasat Egnor.


Richard menghela napas dan mendekap Mytha. Entah bagaimana dirinya sekarang. Hubungannya dengan Lisa semakin lama semakin renggang sejak kecelakaan ini. Ya dia akui Mytha memang membutuhkan seorang teman karena dia pun juga hanya mempunyai Gabriel. Richard bisa mencari waktu bicara dengan Lisa. Setidaknya dia ingin dekat dengan Lisa seperti dulu lagi.


Lisa telah sampai mengantar Claudia melihat jasad Egnor. Claudia benar benar lemas tak berdaya. Lisa, Viena dan Grace sudah menahannya. Tubuh itu sudah mengenakan kemeja putih dan setelan jas juga dengan dasinya. Postur tubuhnya memang benar benar seperti Egnor. Tinggi, Atletis dan warna kulitnya yang tidak terlalu putih. Viena juga kini meyakini bahwa sepertinya ini memang kakaknya. Viena sudah tak sanggu, dia berbalik dan memeluk suaminya. Viena menangis jengkar. Grace pun begitu. Dia memeluk Claudia dari belakang dan menangis bersama Claudia yang kini hanya berlinangan air mata. Claudia berusaha kuat dan mendekati jasat suaminya itu. Dia mencoba meraba wajah yang sudah terbalut kain perban itu. Tangannya menjalar ke dada Egnor dan akhirnya dia melihat punggung tangannya. Punggung tangan dengan penuh luka goresan. Claudia meraihnya. Tidak peduli suaminya sudah tak bernyawa, dia mengecupinya.


"Begini pengkhianatan yang kau buat kak! Sangat manis tetapi juga menyiksa kak. Melebihi dirimu menyelingkuhi ku kak. Jika itu terjadi, aku tidak masalah karna aku masih melihat wajahmu, melihat tawa dan kebahagiaanmu. Namun kalau sudah begini, bagaimana aku bisa melihat semua ragamu, bagaimana? Semua tidak terprediksi, kau meninggalkanku begitu cepat bahkan kau belum melihat anak kita. Aku sudah berjuang kak, aku mengikuti semua petunjuk mu tapi mengapa kau malah membalasnya dengan air tuba? Kak Egnor. Jika benar ini dirimu, mengapa sekarang juga kau tidak mengajakku. Lihatlah istrimu sebentar kak .." kata Claudia sudah duduk di kursi dekat petu itu. Claudia terus memegang tangan suaminya. Namun tak berapa lama, Claudia merasa ada yang aneh.


Dia kembali meraba tangan suaminya dan tangan satunya lagi.


"Dimana cincin pernikahan suamiku??" Tanya Claudia dengan nada suara yang tegas dan mencekam.


"Kalau dia tidak menggunakan cincin pernikahan kemungkinan ini bukan suamiku! Ya benar, ini bukan suamiku! Dia tidak menggunakan cincin! Frank cepat selidiki semua ini!!!" Claudia bangkit dan menunjuk nunjuk jasat yang ia yakini bukan suaminya.


Viena, Lisa juga Grace berusaha menahan kehisterisan Claudia. Claudia begitu sulit untuk menerimanya. Kondisinya kembali menurun. Dia sudah memegang dahinya.


"FRANK!!! Dimana kau?!!!" Teriak Claudia.


"I i iya Clau! Kau tenanglah!" Frank mendekati Claudia.


"Aku tidak bisa tenang, cepat suruh Tim SAR itu mencari lagi karna ini bukan suamiku! Dia tidak mengenakan cincin pernikahan aku dengan tuanmu!" Perintah Claudia dengan sedikit amarah juga kekecewaan.


"Iya Clau iya aku akan menghubungi ketua tim SAR, kau tenanglah!" Kata Frank merogoh saku celananya untuk meraih ponselnya.


Namun, baru saja Frank menghubungi ketua tim, seorang teman Freedy datang membawa sebuah cincin.

__ADS_1


"Apakah ini cincin yang kau maksud Nyonya Claudia?" Freedy menunjukan sebuah cincin emas bermata Cristal kecil ya percis seperti milik suaminya.


Pandangan Claudia sudah buram. Dia tidak tahan. Ini sangat menyakitkan baginya. Habis sudah waktunya bersama seorang Egnor. Habis sudah kesempatan Claudia menjadi yang sempurna bagi Egnor. Habis sudah penantian panjang hanya karna dirinya tidak bisa menahan suaminya untuk pergi menaiki kapal itu. Claudia memegang perutnya dan akhirnya tak sadarkan diri. Lisa memeriksa nadiny dan terasa sangat kecil. Claudia sangat terpukul.


"Cepat bawa dia ke ruang gawat darurat! Cepaatt!!!" Perintah Lisa dengan sangat tegas.


Frank segera menggendong Claudia yang diikuti Grace, Richard juga Mytha. Sementara Viena dan Dion masih meratapi jasat kakaknya. Viena yang menerima cincin pernikahan Egnor dari Freedy.


"Dimana ini ditemukan? Di tempat ketika menemukan Kakakku atau dimana?" Tanya Viena.


"Tidak nyonya, ketika kami memandikan Tuan Egnor, cincin ini jatuh dari jari Tuan Egnor." Jawab Freedy.


"Oh mom, kak Egnor sudah menjemputmu!" Viena menundukan kepalanya sambil menutup wajahnya dengan satu tangan yang memegang cincin pernikahan kakaknya dengan Claudia. Dion hanya bisa memeluk istrinya itu.


...


Keesokannya Moses datang ke apartemen Frank untuk memberitahukan sesuatu. Frank baru saja hendak menuju ke rumah duka lagi. Dia tidak menunggui tuannya karna Grace membutuhkan istirahat mengingat dirinya juga tengah mengandung. Claudia masih tak sadarkan diri dalam perawatan. Dia terlalu sedih dan terkejut mengetahui semua kenyataan ini.


"Mengapa kau tidak mengatakan ingin bertemu di kantor saja?" Tanya Frank mempersilahkan Moses masuk.


"Ini masalah penting dan sangat rahasia Frank. Sejak kejadian Foster, aku jadi mencurigai setiap orang yang ada di kantor kita. Beberapa kali Freedy juga memberitahuku tentang banyaknya kejanggalan di kantor pemerintahan. Dan Frank, ini juga termasuk dengan kecelakaan kapal pesiar yang ditumpangi Tuan Egnor. Ini merupakan sabotase terselubung yang dilakukan dengan sangat apik. Mereka mengadu domba pihak advokat, pemerintag dengan badan klimatologi. Seorang pegawai ternyata menyimpan semua data dalam sebuah flashdisk. Kemarin dia sempat sakit jadi dia meminta cuti. Ketika mengetahui tuntutan mengenai hal ini, dia memberitahu yang sebenarnya. Dia memiliki data awal yang seharusnya di kirim ke kantor pusat pemerinta dan kantor pelabuhan tetapi seseorang telah menukarnya dan mengganti laporan perkiraan cuaca tersebut di semua komputer. Dengan kata lain Frank, sepertinya ada yang mengincar perkumpulan Advokat, anggota pemerintahan dan pihak pengadilan. Bagaimana menurutmu?" Kata Moses dengan sejelas jelasnya.


Frank mendalami perkataan Moses. Benar sudah dugaannya. Tuannya sedang diincar dengan menggunakan segala cara. Sekarang dia harus menyelidikinya lebih dalam. Dia harus perketat penjagaan terlebih dahulu. Istri dan istri tuannya sedang mengandung. Dia belum tahu penuh siapa dalang dari semua ini. Kalaupun dia mencurigai keluarga Gabriane, tapi saat ini orang tua Richard dikabarkan sedang berada di Nederland. Tetapi mengapa di Nederland? Frank harus bergegas.


"Moses, begini saja! Tuan Egnor baru saja meninggal. Kita bertahan saja terlebih dahulu. Kita pura pura tidak menyadari semua ini. Kita harus terus memajukan perusahaan Tuan Egnor selagi menunggu Nyonya Claudia pulih dari kesedihannya." Frank mulai menuturkan langkah langkah yang harus ia ambil.


"Frank, apa kau yakin itu Tuan Egnor? Mengapa aku jadi memikirkan Joe?" Saut Moses menerka.


"Semua bukti mengarah ke Tuan Egnor. Sudah, sekarang kerahkan semua bodyguard kepercayaan Bertho untuk menjaga kantor pengacara dan rumah Tuan Besar Tuan Jovanca. Biar aku meminta tolong pada Tuan Dion dan asistennya untuk menjaga apartemen ini. Dan sebaiknya kau asingkan Ron ke penjara Indian. Waktu itu Tuan Egnor curiga dia juga ada di dalam dalang ini. Dan, bagaimana dengan Nicolas? Sudah ada kabar?" Selidik Frank lagi.


"Sudah Frank! Aku lupa. Detektif Kyle mengatakan dia sudah kembali ke Japanis dan di bawah kuasa Aaron Pei." Jawab Moses memberitahukan perkembangan terakhir dari Kyle.


"Sial! Lincah sekali si tua bangka itu! Baiklah itu mudah. Nanti aku akan mengurusnya. Sekarang aku harus ke rumah duka. Kau berjaga jaga saja di kantor Moses. Keadaannya sangat kacau!" Frank terus mengingatkan Moses.


"Tidak ada Tuan Egnor semua jadi tidak jelas begini Frank. Aku merindukannya. Dan kau juga menjadi buntu karna pasangan emasmu meninggal dengan cara seperti ini. Hem, aku masih berharap itu bukan Tuan Egnor." Gumam Moses mengusap usap dagunya.


"Tidak peduli Frank! Kalau ada dia aku tenang, aku tidak masalah dia memarahiku seribu kali pun!" Jawab Moses serius.


"Kau jadi terbawa perasaan sekali. Grace sudah curhat apa saja denganmu!" Frank jadi mencurigai kedekatan Moses dan istrinya akhir akhir ini karena Moses sedang meminta bantuan pada Grace.


"Katanya kau selalu memarahinya kalau dia meminta sesuatu." Jawab Moses tersenyum kecut.


"Begini, kalau kau punya istri nanti ketika istrimu hamil dan menginginkan rebusan ubi ungu pukul 1 pagi, kau harus apa?!" Frank memberitahukan kejadian yang sebenarnya dan ini sudah keluar dari topik.


"Grace keterlaluan!" Decak Moses kini membela Frank.


"Moses, aku tidak akan membantumu mendekati Lena jika kau mengadu hal yang tidak tidak pada Frank!" Tiba tiba Grace keluar dari kamarnya dan melewati mereka. Moses tersentak lalu menyusul istri Frank itu. Frank sudah terkekeh menutup pintu apartemen.


"Jangan seperti itu Grace! Selagi Gabe tidak ada, biarkan aku merebut hati Lena!" Rengek Moses memohon.


"Usaha saja sendiri!"


Dan di tengah tengah rajukan Moses, mereka tetap menjalankan tugas mereka masing masing. Duka semakin menyerang hati mereka, mereka akan selalu berjaga jaga.


...


Claudia masih termangu menatap foto pernikahannya dan mengusap wajah suaminya itu. Pantas saja sudah beberapa hari ini dia tidak bisa tidur dan ketika tertidur, dia tidak memimpikan suaminya. Dia malah bermimpi selalu bermain main dengan dua orang anak laki laki. Entah apa maksud dari semua ini.


Hari ini sudah genap 4 hari, Egnor dinyatakan tiada. Jasatnya masih tersimpan di rumah duka. Claudia masih belum bisa memutuskan akan dimakamkan atau dikremasi. Intinya dia belum menerimanya. Setiap hari Claudia datang lagi kesana ditemani Viena dan Lisa melihat jasat suaminya. Terus ia memastikan namun segala bukti dan ia terus memperhatikan tetap sama. Itu memang jasat suaminya. Viena dan Dion akhirnya menyuruh pihak rumah sakit mengawetkan jasat yang di duga Egnor itu agar jangan dulu menimbulkan aroma menyengat. Mereka semua menunggu keputusan Claudia.


Sampai akhirnya Johanes dan Viena menghampirinya.


"Anakku. Lepaskan suamimu. Biarkan kita memakamkannya. Apa kau tidak kasihan jasatnya kedinginan setiap malam? Kalau kau mencintainya pasti kau ingin kedamaian dan ketenangan akhirat bagi Egnor kan? Clau, jangan lupa, aku ayahnya. Seharusnya aku yang lebih kehilangan. Aku sudah kehilangan istriku dan kini anakku. Bagaimana naas nya hati seorang ayah yang ditinggalkan anak darah dagingnya sendiri? Seperti dirimu berjuang untuk anak anakmu kan?" Kata Johanes duduk di samping kiri Claudia.


Claudia menutup wajahnya dan kembali menangis. Dia memang sudah memenjarakan Egnor di dalam hatinya rapat rapat. Dia sungguh tidak rela kalau semua ini sudah berakhir. Dia tahu, dia sangat egois karna rasa cinta, kasih dan sayangnya sudah berubah menjadi sebuah obsesi sehingga ingin selalu bersama suaminya.

__ADS_1


"Kak, are you okey? Sekarang, saatnya kita melanjutkan semua cita cita kak Egnor dengan bangkit dan membuktikan pada kak Egnor kalau kau baik baik saja. Kalau kau bisa menjadi yang ia inginkan. Aku tahu ini sulit kak, sangat tahu, tapi kita tidak berhak menghalangi ketenangan orang yang sudah meninggal." Viena juga duduk di samping kanan Claudia dan merangkulnya.


Claudia masih menangis. Johanes dan Viena mencoba memberi Claudia waktu berpikir. Claudia sangat paham maksud mertua dan adik iparnya. Setelah itu merekapun kembali mendatangi rumah duka.


"Kak, selamat tinggal. Aku sudah merelakanmu! Sampai kapanpun, hati ini hanya untukmu! Sampai kita kembali dipertemukan cause you're the only one that i want!" Ucap Claudia akhirnya dengan tangis tersedu. Dia harus belajar melupakan semua ini, menerima lebih tepatnya.


...


Sekitar pukul 9 pagi, jenasah Egnor telah dipersiapkan untuk diberangkatkan ke taman pemakaman petinggi pemerintahan. Egnor dinobatkan sebagai pejuang keadilan dan hukum nomor satu di Honolulu jadi ada lahan khusus untuk pemakaman Egnor. Claudia memutuskan memakamkan suaminya. Dia hanya masih memiliki tanggungjawab untuk mengurusi suaminya.


"Claudia, sudah siap? Kita akan segera berangkat ke taman pemakaman?" Ajak Richard merangkul Claudia bersahabat. Claudia mengangguk dan memeluk foto suaminya.


Viena dan Grace pun menghampiri Claudia. Mereka hendak berjalan lebih dulu ke basement parkir rumah duka. Peti pun mulai ditutup. Claudia melepaskan pegangan tangan Viena dan kembali ke peti suaminya.


"Tunggu sebentar, sebentar saja. Biarkan aku memeluknya untuk yang terakhir kalinya. Aku mohon." Pinta Claudia pada petugas yang hendak menutup peti jenasah.


Claudia lalu memeluknya dan terus menangis.


"Aku akan melahirkan anak kita, aku akan menjaganya dan memberitahukan mereka kalau mereka memiliki seorang dad yang sangat luar biasa." Bisik Claudia dan dia menarik dirinya. Viena kembali merangkul dan memeluk Claudia.


Peti jenasah pun sudah ditutup dan hendak diangkat. Claudia dan Viena masih memperhatikan peti tersebut.


"TUNGGU!! Jangan dibawa dulu peti jenasah itu!! hosh, hosh, hosh!!"


Bersamaan dengan peti diangkat, sebuah suara malah menggema di ruangan khusus itu. Semua mata tertuju pada suara tersebut yang dilanjutkan dengan napas tersenggalnya. Betapa amat terkejutnya mereka semua, khususnya Claudia dan tidak dapat berkata apa apa mengetahui siapa yang hendak menghentikan pemakaman Egnor Jovanca.


...


...


...


...


...


Omejiiii jiwa melankolis ku meronta ronta!!


Who's thaatttt???!!!


.


Next part 100


Wow Uda episode 100 boooo!!!


Ngapain enaknya yak wakaka


Staytune ini aja dlu lah siapa itu yang Dateng tiba tiba dengan napas tersenggal???


Semoga smoga ya 😝😝


.


rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:


---- LOVE & HURT ----


karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2