
Mereka lalu menuju ke ruang kantor. Ternyata lift khusus agak lama karna Frank menyambut klien klien mereka yang merupakan petinggi petinggi perusahaan bergengsi di Honolulu. Hari ini para petinggi perusahaan itu ingin merekrut pengacara pengacara yang dimiliki oleh Egnor.
Egnor dan Claudia memasuki ruang kantor dan menemukan Grace menyandarkan dirinya di kursi putarnya.
"Grace? Kau sudah masuk?" Tanya Claudia sedikit terkejut pasalnya kemarin Grace mengatakan kalau seluruh tubuhnya lemah tak berdaya.
Grace langsung menegakan dirinya sampai berdiri karna terkejut dengan kehadiran kedua atasannya. Claudia sekarang merupakan Nyonya Jovanca. Grace harus mengetahui posisinya.
"Se, selamat pagi Tuan dan Nyonya Jovanca!" Grace membungkukkan tubuhnya dan memberi salam. Seketika dia memegang pelipisnya karna mendapat sedikit serangan dalam dirinya di pelipisnya.
"Pagi Grace! Kau sudah membaik?" Kata Egnor menuju ke meja kerjanya.
"Iya Tuan." Jawab Grace singkat. Claudia merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu.
"Ada apa dengan mu Grace?" Selidik Claudia.
Grace hanya menggeleng dan kembali duduk mengerjakan pekerjaannya. Claudia tidak mau memaksanya. Dia pun menuju ke pantry untuk menyiapkan kopi hitam suaminya.
"Jam berapa rapat perekrutan di mulai, Grace?" Tanya Egnor yang melihat pesan dari Frank kalau dirinya harus datang memberikan kata pembuka untuk menyambut para petinggi perusahaan itu.
"Sekitar lima belas menit lagi tuan." Jawab Grace pelan.
"Clau, aku harus bertemu dengan petinggi perusahaan itu. Kau mau ikut atau tetap menjaga kantor di sini?" Tanya Egnor seraya meminta ijin pada istrinya. Dia tidak mau terjadi kesalah pahaman lagi.
"Kau di gedung ini kan?" Claudia memastikan.
"Ya, aku hanya memberi salam pada mereka, mungkin Frank yang akan mengikuti rapat."
"Baiklah aku di sini saja."
Egnor pun meninggalkan ruang kantor nya dan menuju ke ruangan para berkumpulnya para petinggi perusahaan itu. Sementara Claudia masih menyelidiki kondisi Grace. Dia merasa ada yang tida beres dari Grace. Ya, Claudia memang tidak mengetahui hal banyak mengenai Grace. Dia hanya tahu, Grace sudah bertunangan dengan Frank tanpa mengetahui tetekk bengeknya. Namun, memang ada yang mengganjal, mengapa sampai saat ini mereka belum menikah, bahkan dirinya yang lebih dulu menikah.
"Hey girl! Kau bertengkar dengan Frank?" Tanya Claudia mencolek bahu Grace. Grace menarik napas panjang dan menggeleng.
"Grace, kau curang! Kau mengetahui segala sesuatu tentang ku tapi aku tidak boleh mengetahui keadaanmu, kau ini menganggap ku apa?" Claudia membungkukkan tubuhnya menatap lekat lekat sahabatnya.
"Tidak ada apa apa Clau! Aku ingin ketenangan. Bisakah kau diam di meja kerjamu, kepalaku sakit!" Grace menatap Claudia sayu dan tak bersemangat. Dia menopang pelipisnya dengan tangannya di atas meja.
Claudia merasa sangat sangat aneh. Dia berinisiatif memegang dahi sahabatnya itu dan ..
"Ah! Ini panas sekali! Kenapa kau masuk? Kau sudah tidak waras! Sebentar kau diam di sini!" Claudia menarik tangannya dan melambai lambaikan ya karna tidak enak memegang kondisi suhu tubuh Grace.
Dia lalu menuju pantry dan mengambil air hangat serta handuk kecil. Claudia lalu menarik tangan Grace paksa menuju ke kamar peristirahatan Egnor.
"Aku tidak mau Clau! Itu kamar kalian, aku tidak bisa masuk ke sana!" Decak Grace Manahan pergerakan Claudia.
"Persetan dengan atasan bawahan, kau harus beristirahat!!" Balas Claudia terus menarik tangan Grace.
"Tidak! Baik, aku di sofa saja tolong mengertilah posisiku Clau!" Grace menghempaskan tangan Claudia dan menuju ke sofa. Claudia menghela napas dan menuruti sahabatnya itu. Dia lalu mengambil kompresan itu dan merawat singkat Grace.
cast Frank Leonard : Huang Zitao
cast Grace Anastasia : Yang Mi
___________________________________
Tak lama telepon kantor mereka berdering. Claudia segera mengangkatnya.
"Grace?" Pekik seorang pria di sebrang sana yang sepertinya Frank.
"Claudia." Jawab Claudia.
"Ah nyonya, di mana Grace?" Tanya Frank cukup panik. Pria itu ingin memastikan kondisi wanitanya.
"Kau ini Frank! Kekasihmu demam mengapa kau menyuruhnya masuk?" Decak Claudia kesal.
"Dia ingin ikut. Dia tidak mau sendiri di apartemen! Aku pun harus mengurus para petinggi perusahaan ini!" Jawab Frank.
"Mengapa kau tidak mengatakan pada suamiku?!" Claudia terus berburu penjelasan.
"Ini tugasku nyonya!" Jawab Frank penuh pertanggung jawaban.
"Yasudah ! Biarkan aku membawanya ke rumah sakit. Bagaimana?"
__ADS_1
Belum saja mendengar Frank menyaut, Grace berteriak memegang perutnya.
"Aaarrrrgghhhh perutku Clau!" Grace kesakitan.
Claudia menoleh.
"Ada apa nyonya?" Selidik Frank panik sementara nampaknya para petinggi sudah hampir semuanya datang.
"Kau urus saja pekerjaanmu, aku akan membawa tunanganmu ke rumah sakit!"
"Ada apa dengannya? Aku akan kesana!" Frank berusaha memaksa dan tidak apa jika mendapatkan peringatan Egnor.
"Tidak usah! Kau bersama suamiku saja nanti bertemu di rumah sakit, tidak apa apa tenang lah!" Claudia berusaha menenangkan Frank dan membantunya.
"Terimakasih nyonya!" Frank menyerah dan menutup panggilan. dia harus profesional dan segera menyelesaikan pekerjaannya, setelah itu dia akan mengurus Grace.
Panggilan terputus dan Claudia segera menghampiri Grace. Dia memegang perut Grace. Terasa keras dan agak bergetar.
"Ayo kita ke rumah sakit Grace!" Claudia mencoba memapah Grace keluar gedung dan menuju ke basement parkir. Sekuat tenaga Claudia menggandeng lengan Grace. Grace tampak lemah namun dia menguatkan dirinya menuju ke mobil.
"Kau harus kuat Grace!"
Grace mengangguk.
Akhirnya dengan memakan waktu yang cukup panjang, Claudia sampai ke rumah sakit pusat kota Honolulu. Dia memanggil tip gawat darurat untuk membawakan tempat tidur berjalan karna Grace tak sanggup menampakan kakinya, apalagi berjalan. Sementara ponsel Claudia terus berdering. Egnor yang menghubunginya. Claudia belum sempat menjawab dan terus mengurusi Grace sampai Claudia lah yang harus menunggu sahabatnya itu di luar.
Claudia pun menghubungi suaminya namun tak ada jawaban. Mungkin acara nya bersama petinggi perusahaan sudah mulai. Claudia memakluminya dan terus menunggu kondisi Grace.
Tak berapa lama seorang perawat keluar hendak berbicara pada Claudia.
"Kerabat Nyonya Grace?" Tanya sang perawat mencari kenalan Grace.
"Ya saya!" Claudia beranjak dari duduknya.
"Di mana suaminya?" Tanya sang perawat.
"Sedang ada urusan jadi saya yang
mengurusnya. Saya temannya." Saut Claudia.
"Baiklah. Mohon maaf kondisi kandungan Nyonya Grace sangat tidak baik. Dia harus dirawat dan membutuhkan penanganan atau dia akan mengalami keguguran." Jawab sang perawat .
"Ya Nyonya, silahkan!" Kata sang perawat mempersilahkan Claudia dan dia memasuki ruangan itu untuk melihat sahabatnya.
Grace tampak menangis sambil menutupi matanya. Tangisnya sangat pilu dan menyesali sesuatu.
"Grace?" Selidik Claudia.
"Clau, aku tidak yakin Frank akan menikahiku!" Kata Grace akhirnya memberitahukan tentang dirinya.
"Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Setiap hari ibunya datang dan menyuruhku berpisah dengannya, lalu bagaimana dengan anak ini? Apa tidak sebaiknya di gugurkan saja?!" Kata Grace sesenggukan dan sudah tidak ada lagi tempatnya mengadu selain Claudia teman terdekatnya saat ini.
"Gila! Kau gila Grace! Kau tenang saja, kak Egnor yang akan mengurus semuanya! Sekarang kau tenanglah, kau membutuhkan perawatan!" Saut Claudia berusaha menenangkan Grace.
"Permisi Nyonya, ini laporan dari apa yang dikonsumsi oleh Nyonya Grace. Nyonya Grace menegak soda dalam jumlah banyak sehingga karbonasi yang ada tidak diterima oleh tubuh dan si janin. Mohon maaf Nyonya, teman anda sepertinya sedang mencoba menghancurkan janinnya atau ada orang yang sengaja memberikan soda dalam jumlah banyak." Tiba tiba seorang suster memberitahukan hasil observasinya tadi. Karna dari mesin USG yang sudah diperiksa oleh dokter kandungan terdapat gejala gejala janin akan hancur namun bisa terselamatkan.
Grace pun menangis mendengar pernyataan benar yang dikatakan sang perawat. Memang dia yang melakukannya. Dia sudah bingung apa yang terjadi dengan dirinya.
"Kau benar benar keterlaluan Grace! Aku akan mengadukan semuanya pada Frank!" Decak Claudia tidak menerima dengan semua ini.
Grace hanya menangis di sana.
"Baiklah suster, tolong kau jaga dia dan semua perawatannya, aku akan mengurus administrasi nya." Kata Claudia lagi meminta tolong pada suster yang menanganinya.
Claudia pun keluar dari ruangan tersebut dan menuju ruang administrasi untuk membayar semua perawatan. Dia juga harus kembali ke kantor untuk memberitahu kondisi Frank dan dia perlu menegaskan sesuatu pada bawahan Egnor itu.
...
Claudia menjalankan mobilnya kembali ke kantor pengacara suaminya. Dia belum bisa menghubungi suaminya untuk mengatakan kalau dirinya sedang kembali. Claudia akan menjelaskan setelah tiba di kantor nanti.
Setelah memarkirkan mobilnya di basement, dia segera menuju ke ruang kerjanya. Suaminya pasti sudah selesai. Namun, ketika sampai di lobby utama, dimana dia harus melintasi lobby itu untuk bisa menaiki lift khusus, ponselnya berbunyi. Dia merasa harus mengangkatnya karna dia mengira suaminya, ternyata pihak dari rumah sakit. Ya, Claudia segera mengangkatnya.
"Selamat siang Nona Claudia, maafkan saya karna baru menghubungi anda." Kata sang suster Oriental di sebrang sana.
"Tidak apa apa sus, jadi bagaimana? Bisa kah saya bicara pada bibi ku?" Tanya Claudia yang sudah memastikan kalau lobby tampak sepi. Sepertinya semua orang sedang makan siang.
__ADS_1
"Silahkan nona. Saya sudah mendekatkan ponselnya pada telinga bibi anda." Saut si perawat menekan tombol loud speaker dan mendekatkan ponsel di telinga Siren.
"Bibi Siren? Kau mendengarku? Aku tidak peduli kau mendengarku atau tidak, tapi aku akan mengatakan hal ini padamu. Mengertilah, sekarang aku sudah menjadi istri seorang pengacara yang sudah kau idamkan. Aku akan menikah dengannya dengan semua kelayakan yang akan kudapatkan. Maka tunggulah sebentar aku akan membawanya padamu. Kau harus kuat dan bertahan, demi diriku! Kau tidak usah memikirkan suamimu karna dia sudah dalam keadaan aman dan tidak akan berulah lagi. Tunggu aku bibi dan kau juga akan sehat! Aku yakin! Sudah suster!" Kata Claudia menarik napasnya. Dia mencoba untuk tidak menangis karna dia sedang berada dalam tempat umum. Masih ada satpam dan resepsionis di sana. Dan tampaknya cara ini berhasil karna sang suster menangkap sebuah respon dari Siren.
"Nona, selamat nona, Nyonya Siren menggerakkan tangannya. Aku akan memeriksanya dan segera mengabarimu lagi." Kata sang suster memberitahukan kemajuan Siren.
"Benarkah? Baiklah aku tunggu sus!" Suara Claudia terdengar lega dan seperti keluar dari satu masalah.
Namun, belum saja Claudia menjauhkan ponselnya dari telinganya, seseorang meraih paksa ponselnya dan membantingnya. Claudia terkejut bukan main dan menoleh ke belakang.
Pak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Claudia ketika dia hendak memastikan siapa yang menyerangnya. Claudia masih memegang pipinya dan hendak membalasnya dengan mendongakkan kepalanya tapi seketika terhenti.
"Kau wanita tidak tahu diri! Kau tidak tahu malu! Pantas saja Richard membela belakan dirinya tinggal di tempat ayahnya, ternyata ingin menemuimu! Dia ingin kembali bersamamu?! Tidak akan kubiarkan Claudia Stephanie Gie! Cuih, menyebut namamu saja aku jijik!"
Claudia terkejut dengan semua kata kata yang keluar dari wanita ini. Suaranya menggelegar sehingga beberapa yang melintasi lobby itu melihatnya.
"Nyo, nyo, nyonya besar!" Claudia memastikan dengan terbata.
"Jangan memanggilku! Aku tidak sudi mendengar suaramu memanggilku!" Bantah wanita yang dikatakan nyonya besar itu .
"Tunggu, bisakah kita bicara baik baik. Ada apa dengan semua ini?" Claudia berusaha bersikap baik dan tetap sopan.
"Diam!" Wanita itu menunjuk Claudia dengan bengis.
"Aku pikir kau wanita yang sangat baik hati! Aku pikir kau bisa memberikan sejuta cinta untuk anak laki laki Ku satu satunya! Aku pikir kau wanita sempurna yang tidak mementingkan harta! Namun semua pemikiran ku padamu SALAH BESAR! Sekarang kau bahkan dengan gayamu seperti ini menggunakan ponsel mahal dan kau siapa di kantor pengacara ini? KAU SEORANG ISTRI YANG BELUM DI PUBLIKASI OLEH EGNOR, kau menjadi istrinya setelah mencampakkan anakku! Karna apa? Karna Richard kurang memberikanmu materi, IYA?!" Bentak wanita itu yang sepertinya merupakan ibu kandung dari Richard.
Mengapa ada kejadian seperti ini? Apa Claudia bermimpi? Dia datang ke kantor melihat sahabatnya sakit, dia tidak mementingkan jabatannya, dia mengurus temannya, pergi ke rumah sakit, namun ketika dia melakukan semua kebaikan itu dan kembali ke sini, dia mendapatkan makian tidak berfaedah ini.
Hatinya hancur. Perasaannya seperti tersayat sebilah samurai yang dilakukan secara berulang. Semua mata melihat padanya. Cibiran sudah keluar menggema di telinganya. Ada apa dengan semua ini? Mengapa nyonya besar ini datang dan memaki maki nya? Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan mantan mertuanya ini.
"Kenapa kau diam? Kau sungguh tidak tahu malu hey wanita! Kau jahat! Karna kau, kini Richard menghukum dirinya untuk tidak mau mencintai wanita lain! Dan kau tahu tidak, kalau surat perceraiannya belum sama sekali diajukan pada pengadilan tapi nyatanya kau ini sungguh haus akan belaian sehingga kau menyodorkan dirimu pada pemilik gedung pengacara ini, aku sungguh muak sebenarnya mengatakan ini padamu. Kalau saja aku tidak mengantar suamiku, aku tidak akan kesal seperti ini. Ketika melihat mu memasuki gedung ini dengan gayamu yang murahan ini darahku benar benar mendidih! Aku ingin membuka kedok mu di depan Egnor, agar dia menyesal, siapa wanita yang dinikahinya ini. Menggunakan segala cara untuk mendapat uang! Setelah dapat pergi mencari kelebihan di tempat lain." Wanita itu terus memberi umpatan pada Claudia tanpa henti. Sampai rasanya Claudia pengang mendengarnya.
"CUKUUPP!!!!" Claudia berteriak. Dia juga ikut mendidih. Semua yang dikatakan Nyonya besar ini salah. Dia tidak sanggup lagi! Dia tidak bisa memarahi wanita tua ini Karna posisinya sudah buruk dan akan menambah keburukan jika dia berlaku tidak sopan.
Bukannya dia menuju ke ruang kerjanya, dia berbalik arah hendak meninggalkan gedung ini.
"Tunggu!" Nyonya itu masih menahan Claudia. Claudia sudah dalam lelehan tangisnya. Dia benar benar malu. Bagaimana bisa dia menjelaskan ini kepada khalayak yang tidak akan mempercayainya dan bagaimana nasib suaminya nanti apalagi nasib pernikahan mereka.
"Kau harus membayar semuanya Clau! Kalau anakku tidak mendapat jodohnya, kau juga tidak boleh BAHAGIA!!" Decak nyonya besar itu melepas sambil mendorong tangan Claudia sehingga dia tersungkur di lantai itu.
"Kak Egnor, kau di mana?" gumam Claudia dalam hati. pada akhirnya dia hanya ingin bahagia bersama orang yang ia cintai yaitu Egnor meskipun tanpa materi sekalipun.
...
...
...
...
...
Nyonya, sawan? Apa kena virus jombi jadi membabi buta gini?! Kezell bet eke 😡😡
.
Gaes gaes jangan lupa ikut give away di part 51 hehe ..ikut memeriahkan aja pencinta Egnor Claudia Loverss 😍😍
.
Eh next part 53 ya
Apakah Egnor akan termakan omongan orang lain mengenai masa lalu kelam Claudia?
Seharusnya Egnor tetap mencintai Claudia ya 😁😁
Stay tune gaes dan siap siap mengharu biru kalau ku selipkan Grace dan Frank ya 😊😊
.
Pada akhirnya jangan lupa LIKE dan KOMEN serta kasih RATE dan VOTE di depan profil novel
.
__ADS_1
Thank you for read and i love you 😍😍