Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 77: Hurt


__ADS_3


Pada akhirnya sesuatu yang dianggap kokoh berdiri kuat dapat rapuh bahkan hancur berkeping keping karna ribuan cinta yang memabukkan. Egnor berusaha mengembalikan lagi cinta dan maaf dari istrinya sementara Claudia hanya ingin mengetahui seberapa dalamnya cinta suaminya padanya. Bagaimana semua kesesakan ini akan berakhir?


...


Egnor kembali ke kantor nya satu jam setelah jam makan siang. Dia tidak bisa kembali dulu mengambil ponselnya karna rapat ini merupakan kedatangan pemerintahan pusat kepada pengacara nya untuk menanggulangi masalah masalah pemerintahan yang mungkin akan terjadi. Egnor memasuki kantornya dan terdiam sesaat ketika berada di dalam. Dia seperti merasa ada seseorang yang datang sebelum dirinya datang.


"Ada apa Tuan? Mengapa kau diam di tengah jalan seperti ini?!" Tanya Grace yang harus ikut rapat dengannya. Dia melewati tuannya dan menuju ke meja kerjanya.


"Kau tidak merasa ada yang datang sebelum kita kembali?" Gumam Egnor memasukan kedua tangan di saku celananya. Dia sedikit mengendusi aroma tubuh yang sangat ia kenal.


"Ah, tidak Tuan. Eh, tapi sepertinya ada yang mengirimimu bekal makan tuh di atas mejamu. Apa mungkin Claudia kemari atau menyuruh kurir makanan?" Saut Grace berdiri dan sudah menyusun berkas berkas di atas meja nya. Dia melirik sedikit ke meja Tuannya.


"Seharusnya dia mengatakan padaku atau menungguku, di mana dia?! Dia tidak mengindahkan perkataanku untuk tetap di rumah? Berani sekali dia!" Decak Egnor menuju ke meja kerjanya. Dia mengernyitkan dahinya dan merasa hatinya tidak enak ketika melihat ponselnya berada di atas meja dan di samping bungkusan bekal makanan itu.


"Grace, apa aku melupakan ponselku?" Tanya Egnor yang nampaknya tidak sadar kalau ponselnya tertinggal.


"Ponselmu ponselmu Tuan, mengapa kau menanyakannya padaku? Sejak Claudia hami, pikiranmu menjadi terbagi bagi secara kasat mata. Coba kau ingat ingat Tuan!" Tanggap Grace tidak mengalihkan dari pekerjaannya.


Egnor tak bicara lagi. Dia lalu meraih ponselnya dan membuka nya. Terpampang lah di sana riwayat sebuah panggilan dan rasanya dia harus kembali menghubungi. Dia menghubungi dokter Presley sambil tangan satunya membuka kemasan bekal tersebut.


"Ya Tuan Egnor, apa ada lagi yang kurang jelas dan perlu saya sampaikan?" Dokter Presley mengangkat panggilan Egnor di seberang sana.


"Apa?" Egnor memastikan.


"Tuan, ada apa kembali menghubungiku?" Kata Dokter Presley lagi juga memastikan Egnor.


"Kapan kita saling berbicara? Mengapa kau menghubungiku? Bagaimana keadaan bibi mertuaku?" Tanya Egnor bertubi tubi. Dia sudah merasa ada yang aneh sejak masuk ke ruangannya ini. Dia merasa istrinya telah datang.


"Tadi aku sudah memberitahumu Tuan. Nyonya Siren Gie telah meninggal." Kata Dokter Presley lagi akhirnya kembali memberitahu.


Wajah Egnor yang tadinya hendak mencoba tenang sudah tidak bisa lagi. Dahinya lebih lebih mengernyit dan rahang rahang wajahnya menegang. Matanya membelalak dan pegangan akan ponselnya menjadi sangat kencang.


"Katakan lagi!"


"Maafkan aku Tuan, tadi aku sudah menghubungimu dan kau hanya menjawab mengerti setelah aku mengatakannya berulang ulang. Kukira kau sudah mengatakan pada istri anda? Nyonya Siren sudah tidak bisa diselamatkan. Saya benar benar minta maaf, saya bisa menjelaskan riwayat fatal yang telah terjadi pada beliau sebelum mendapatkan semua perawatan ini Tuan. Saya bisa mempertanggung jawabkan nya." Dokter Presley menjelaskan .


"Tidak perlu, kau sudah melakukan bagianmu. Urus saja keperluannya, aku akan segera memberitahu istriku." kata Egnor mematikan panggilan dan meletakan asal ponselnya. Grace melirik dan sudah merasa ada hawa yang tak enak.


Entah mengapa dia merasa ada seseorang yang datang lalu dengan beraninya mengangkat panggilan ponselnya.


"Grace, tanya resepsionis siapa yang datang ke ruangan ku siang ini dan siapa yang mengantar bekal makanan ini?!" Perintah Egnor dengan nada menegang. Nada bicaranya mencekam dan membuat Grace harus langsung melaksanakannya.


Sementara Egnor kembali mengambil ponselnya dan menghubungi istrinya. lagi lagi dia merasa agak jauh dengan Claudia. Benar dugaannya, Claudia tidak merespon panggilannya, bukan merespon namun tidak bisa dihubungi. Ponsel Claudia di non aktifkan.


"Tuan, ternyata tadi Claudia kesini bersama Tuan Richard." Grace memberitahu setelah sudah menanyakannya pada Lena, resepsionis mereka.


"Richard?!" Perasaan Egnor makin makin membuncah kesal, bingung dan tak karuan. dia melirik tajam Grace dan dengan seketika otaknya berputar ingin cepat bertemu dengan Claudia.


"Suruh Frank menghubungi Richard cepat cepat!" Perintah Grace lagi. Namun tak lama Frank datang bersama Lisa.


"Oh Frank, kau panjang umur, coba kau hubungi Tuan Richard, di mana dia." pekik Grace melihat suaminya datang.


"Ada apa ini? Mungkin aku bisa menghubunginya." sela Lisa merasa kepanikan mulai menaungi ruangan ini.


"YASUDAH CEPAT SIAPA SAJA HUBUNGI RICHARD!!" Perintah Egnor berteriak. Dia sudah sangat khawatir dengan istrinya.


"Frank, kau tanya satpam apartemen apakah Claudia di apartemen atau tidak cepat lakukan!!!" Perintah Egnor lagi. Egnor ingin cepat melakukan tindakan, tidak ada waktu jika harus kembali ke apartemen. Entah mengapa dia merasa Claudia menuju ke Oriental tanpanya.


"Ponsel Richard off, Egnor. Aku sudah menghubunginya berkali kali." Kata Lisa yang kini masih tetap menghubungi Richard.


"Tuan, satpam bilang Claudia tidak di apartemen, dia pergi membawa bungkus makanan sekitar dua tiga jam yang lalu." kata Frank juga yang juga cepat menjalankan perintah tuannya.


"Dia pasti ke sini Tuan." tambah Grace.


"Ah siaaall!! Lacak nomornya ada di mana dia Grace cepat cepat!!! Ahh mengapa aku begitu lalai begini hah?!" Egnor mengusap wajahnya kasar dan menolak pinggangnya frustasi.


Tak berapa lama muncul notifikasi dalam ponselnya.


*Status pembelian tiket ke Oriental BERHASIL atas nama Ny. Claudia Jovanca dewasa 1 orang*


prang!


Egnor melempar ponselnya ke dinding sampai pecah dan mati.


"Aaarrgghhh!! Frank cepat siapkan pesawat jet ku SEKARANG!!" perintah Egnor kemudian menatap tajam Frank.

__ADS_1


"Egnor, kau tenang lah sebenarnya ini ada apa?!" Lisa mencoba menenangkan dan menanyakan apa yang terjadi.


"Tuan, karna kita belum menaruh chip di ponsel baru Claudia, jadi aku tidak bisa melacak secara detil keberadaannya jika ponselnya di non aktifkan. Tapi, status ponselnya sepertinya dia menggunakan status penerbangan pesawat Tuan." sela Grace memberitahu apa yang sudah ia kerjakan.


"Yasudah cepat sekarang aku butuh penerbangan ke Oriental SEKARANG FRANK SEKARANG!!!" Gertak Egnor makin menjadi jadi dan semua yang di sana dibuat panik termasuk Gabriel yang baru saja datang bergabung. Dia agak ngeri dengan Egnor yang sedang meletup letup seperti ini.


Frank sudah keluar menuju ke ruangannya hendak menyiapkan pesawat yang dibutuhkan Egnor. Tidak cukup waktu satu jam menyiapkannya. Frank juga perlu menghubungi Joe karna pesawat pribadi mereka di taruh tidak di gedung yang sama.


"Tenang Tuan, lebih baik kau makan dulu bekal dari Claudia." Grace mencoba menenangkan dan sudah ada di depan meja sofa . dia cemas dengan tuannya yang seperti ini.


"Bagaimana bisa aku memakannya jika dia pergi kesana sendiri!! Dia sedang mengandung Grace, kau buta atau apa hah?!" decak Egnor makin melebarkan matanya.


"Tidak bersama Tuan Richard?" Grace malah menanyakan hal yang menurutnya bisa menenangkan karna setidaknya Claudia tidak sendiri.


"Aku tidak tahu!" Decak Egnor dan merenggangkan dasinya. Dia sudah membuka jas nya. Keadaan menjadi sangat panas. Dia menyandarkan dirinya di sofa dan memijat tulang hidungnya.


"Sabarlah Egnor, kita bisa menunggu kabar dari Claudia dan aku akan terus menghubungi Richard." kata Lisa berusaha membantu dan entah mengapa, Lisa jadi memikirkan Richard. tidak biasanya Richard mematikan ponselnya atau jika tahu dirinya yang menghubungi, Richard pasti menghubunginya kembali dengan cepat.


Egnor tak menjawab. Dia sudah memejamkan matanya membayang kan hal hal yang tidak tidak. Bukan dengan Richard, dia memikirkan istri dan anaknya itu. Mereka sudah sepakat akan pergi Minggu depan. Claudia mungkin sudah mengetahui apa yang sudah ia lakukan. Entah bagaimana lagi dia harus menjelaskan pada istrinya.


Mereka semua yang di ruangan itu menjadi menegang melihat Egnor yang sepertinya terpuruk. Seperti burung kehilangan sayapnya dan juga kaki kakinya. Dia tidak bisa terbang karna semua yang ada dalam tubuhnya menghilang.


Tak berapa lama kemudian Frank datang dan memberi tahu pesawatnya sudah tiba. Ketika Egnor beranjak, Frank mendapat pesan dari Richard. Sepertinya Richard juga mengirimnya untuk Egnor namun ponsel Egnor sudah tak berbentuk.


TUAN RICARDO GABRIANE


Frank, katakan pada tuanmu:


Maafkan aku menemani Claudia ke Oriental, dia memaksakan dirinya hendak pergi saat itu juga. Dia hendak pergi sendiri namun keadaannya tidak memungkinkan dia sendirian ke sana. Jadi aku menemaninya. Sebaiknya kau juga cepat menyusul kemari. Dia tampak diam dan tidak mau berbicara. Kita baru saja tiba di Oriental. Aku juga bersama Kevin. Aku akan mengabari mu lagi. Kami hendak ke rumah sakit pusat kota Oriental.


"Aku tahu apa yang harus kulakukan sebelum mantan suaminya itu memerintahku seenaknya!! Grace, bawa bekal makan dari Claudia!" Decak Egnor menuju ke ruang peristirahatan nya hendak mengambil Coat nya lalu menuju ke landasan balkon lapangan lantai paling atas. biar bagaimana pun dia harus memakan masakan istrinya. dia sudah berjanji.


"Grace, kita harus ikut, emosinya sedang tidak bisa dikendalikan, aku takut dia salah paham pada Tuan Richard." kata Frank memberi tahu pada istrinya.


"Aku juga Frank. Aku punya paspor dan aku juga harus menemui Richard." pinta Lisa.


"Kami punya landasan pribadi yang sudah di legal kan Nona Lisa. Ikut saja. Garbriel kau tetap di sini kabari jika ada info lain."


"Ya Tuan. Semoga semua nya baik baik saja."


Frank, Grace dan Lisa pun menyusul Egnor menuju ke balkon atas. Frank dan Grace harus selalu bersama tuan dan nyonya nya itu. Claudia sedang hamil mungkin emosinya akan meluap luap tak menentu. Juga tuannya yang pasti terbawa perasaan karna besar cintanya pada istrinya itu.


...



"Kau yakin tidak mau menghubungi suamimu? Dia pasti sangat khawatir Clau." Richard memastikan .


Claudia menggeleng. Dia tetap dalam diam nya padahal ya, dia memikirkan suaminya namun mengapa sampai hati suaminya seperti ini padanya. Mengapa tidak mengatakan sejak awal kalau Egnor sudah mengetahui semua kehidupannya. Seakan akan dirinya dipermainkan. Claudia sudah mencoba berpikir positif namun mengapa sulit sekali. Terlalu sakit merasakan kebohongan yang diberikan suaminya. Suaminya yang menurutnya tidak pernah melakukan kesalahan. Pantas saja dia tidak bisa mengetahui kabar bibirnya akhir akhir ini Karna Egnor yang menutupinya.


Setetes air mata jatuh di tangan Claudia. Richard melihatnya. Dia merasakan kesedihan dan kekecewaan mantan istrinya itu. Tapi dia tidak bisa berbuat apapun selalin memberi info pada Egnor atau Frank.


"Em, Clau, kau ingin makan sesuatu. Kandunganmu tetap harus ada nutrisi dan asupan yang masuk." tanya Richard. biar bagaimana pun Richard sedang bersama wanita hamil.


Claudia menggeleng.


"Em Clau, kurasa Egnor hanya ingin melindungimu. Dia hanya ingin kau baik baik saja dan tidak memikirkan hal hal yang buruk mengenai Nyonya Siren. Em, jika sebelum kau hamil, manurutku Egnor hanya ingin menjaga privasi mu . Dia hanya ingin menghargaimu sampai kau yang mengatakannya sendiri. Aku bahkan tidak tahu jika bibinya sakit. Egnor sangat sigap melakukan ini semua. Tidak seharusnya kau .."


Belum saja Richard melanjutkan lagi pernyataannya, Claudia sudah menatapnya tajam agar dirinya berhenti bicara. Dan akhirnya Richard terdiam.


"Aku hanya tidak ingin kalian salah paham." Gumam Richard lalu kembali menatap jalan. Entah mengapa Richard merasa tatapan Claudia sama seperti Egnor yang mencekam dan agak mengerikan.


Claudia kembali pada posisinya. Dia memegang perutnya yang sesekali bergejolak, apalagi ketika dirinya mengingat suaminya.


'****maafkan aku kak, aku pergi tanpa ijinmu tapi mengapa kau tidak ijin padaku untuk membiayai semua perawatan bibi ku. Kau pikir aku apa? Aku malah senang kau yang membiayainya namun mengapa sampai saat ini kau diam? Kau menganggapku apa? Bahkan sekarang akhirnya kau menutupi kabar terbaru bibiku. Hem, aku tidak mengerti aku harus bagaimana. Hanya dia satu satunya kerabatku selain pamanku yang mendekam di penjara****.' Claudia berkata kata dalam hatinya. Dia sedih tapi dia juga tetap merindukan suaminya itu.


Sekitar lima belas menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit ibu kota Oriental. Mereka segera mencari dokter Presley. Mereka pun dia antar ke ruangan dokter Presley. Di sana dokter Presley menjelaskan mengenai riwayat Nyonya Siren yang sangat mengalami komplikasi. Semua sejak awal sudah dibiayai oleh Jonathan yang mendapat perintah dari Egnor. Claudia mencoba mengingat kejadian ini memang sejak dirinya pindah ke Honolulu dan menjadi asisten pribadi Egnor. Sudah selama ini suaminya itu menutupi. Mengapa hatinya menjadi pedih. Rasa cintanya sekarang menjadi ambigu. Dia butuh penjelasan suaminya tetapi hatinya menjadi miris ketika mengingat lagi apa yang baru baru ini suaminya lakukan.


"Aku ingin bertemu dengan bibi ku." Pinta Claudia.


"Dia sudah kami bersihkan dan persiapkan untuk pemakaman besok. Dia sudah berada di rumah duka khusus karna Tuan Egnor menginginkan yang terbaik. Biar perawat yang mengantarnya." Dokter Presley memberitahu.


Perawat pun mengantar Richard , Claudia dan Kevin ke rumah duka khusus yang hanya satu ruangan putih tidak terlalu besar dan kecil. Sebelum masuk, Claudia agak bergidik, tangannya menjadi dingin karna dia akan melihat jenasah. Namun dia harus melihatnya. Ini jenasah wanita yang telah merawatnya ketika dirinya membutuhkan kasih sayang orang tua. Ini jenasah wanita yang menemaninya bahkan yang menyuruhnya bekerja bersama Egnor. Richard yang merasakan kondisi Claudia terpaksa merangkulnya.


"Clau, kau pasti bisa. Ini terakhir kalinya kau melihatnya. Ayo, aku akan menemanimu." Richard berusaha menjadi teman yang baik, tidak lebih karna Richard merasa hanya Egnor yang dibutuhkan Claudia namun nampaknya Claudia butuh waktu dan hanya dia yang kini dapat menemaninya.


Claudia mengangguk pelan. Pertama Tama dia mengelus perutnya .

__ADS_1


'****anakku, berikan aku kekuatan . Sebenarnya aku membutuhkan dad kalian, tetapi mengapa dad kalian bahkan tidak mengijinkan diriku melihat granny kalian sebelum pergi ke surga****?' bisik Claudia dalam hati. Dia akhirnya menekan tuas pintu itu dengan pelan dan membuka ruangan khusus itu.


Claudia akhirnya menyaksikan bibinya setelah selama ini. Sudah hampir satu tahun mereka tidak bertemu . Karna rasa rindu yang terlalu besar, Claudia melupakan ketakutannya akan jenasah. Entah mengapa, Claudia merasa bibinya hanya tertidur. Dia sampai mendekatkan wajahnya dan mengecup kening bibinya itu.


"Bi, aku sudah datang. Maafkan aku tidak menengok mu. Sebenarnya ini adalah salahku. Aku yang tidak berani mengungkapkan semuanya. Sekarang kau sudah sembuh dan kau juga sudah tenang, Bi karna diriku telah menikah dengan orang yang menutupi keberadaanmu untuk yang terakhi kalinya. Aku mengerti, mungkin dia mencemaskan cucu cucumu tanpa memikirkan kedekatan kita bi. Semoga aku bisa dengan cepat mengerti dirinya dan menerima apapun alasannya. Bi, terimakasih atas semua yang kau berikan padaku. Aku sungguh berhutang Budi padamu. Aku akan mengatakan pada suamimu, pamanku yang tidak berguna itu. Aku minta maaf atas nanya bi. Beristirahatlah dengan tenang dan sampaikan salam rinduku untuk mom and dad ku. Tuhan sudah menghapus seluruh dosa dan penyakitmu bi." Begitulah kata kata Claudia dalam untaian air matanya yang mengalir dengan sendirinya.


Dia lalu berpikir suatu hal. Dia butuh ketenangan. Dia butuh sendiri. Dia lalu berdiri dari kursi di samping peti jenasah bibinya. Dia keluar melewati Richard. Dia merasa Richard pasti akan mempertemukannya dengan Egnor. Dia butuh penenangan diri agar bisa menerima alasan suaminya dan bisa menerima Egnor sepenuhnya tanpa amarah dan umpatan. Dia tidak mau melawan suaminya biar bagaimana pun dan dia tak sanggup menyaksikan wajah menyedihkan suaminya. Dia tidak ingin dulu.


"Sekarang, kau ingin kemana Clau?" Tanya Richard yang menahan kepergian Claudia. Richard belum tahu rencana singkatnya ini.


"Aku ingin ke toilet." Jawab Claudia. Richard mempercayainya dan kali ini saat yang tepat dirinya mengabari Egnor dan Frank lagi.


Namun sudah beberapa menit kemudian, Claudia tak kunjung kembali. Richard menyuruh Kevin untuk mencarinya di sekitar rumah sakit atau melihatnya di toilet. Kevin menanyakan beberapa wanita yang memasuki toilet dan tidak ada yang melihat. Richard juga menanyakan pusat informasi dan mengecek cctv namun tidak ada Claudia di sekitaran rumah sakit.


Sampai waktu terus berlalu, Richard pun sulit menghubungi Claudia. Tidak ada jawaban bahkan panggilannya beberapa kali di alihkan. Dan tak berapa lama, tibalah Egnor bersama Frank, Grace dan Lisa. Richard agak terkejut melihat Lisa juga ikut.


"Dimana Claudia?" Tanya Egnor to the point. Dia ingin memeluknya dan meminta maaf. Tidak ada amarah karna sejujurnya dia merindukan istri dengan perut nya yang mulai membesar.


"Dia menghilang. Dia mengatakan hendak ke toilet tapi tidak kembali kembali." Jawab Richard sedikit menyesal karna tidak bisa menjaga Claudia dengan baik.


"Bagaimana kau menjaganya hah?! Kau memang tidak pantas menjadi suaminya! Aku kecewa kalau ternyata kau pernah menjadi suaminya! Dia tidak membutuhkan pria tidak peka sepertimu!" Egnor dengan segala emosinya yang sudah meletup letup meraih kerah jas Richard.


"Egnor, kau apa apaan sih! Masih bagus Richard menemaninya sampai sini! Yang tidak peka itu dirimu! Kau membohongi istrimu .jelas jelas Nyonya Siren adalah bibinya, mengapa kau menyembunyikannya?!" Decak Lisa melepaskan kasar tangan Egnor dari jas Richard.


"Diam! Kau tidak usah ikut campur! Kau urus saja kekasihmu yang tidak berguna itu!" Decak Egnor menunjuk nunjuk Lisa dan berbalik. Dia menolak pinggangnya dan tangan satunya memijat pelipisnya frustasi.


"Hubungi dia Grace, hubungi dan lacak keberadaannya, dia sedang mengandung! CEPAT!" Perintah Egnor akhirnya. Mereka masih berada di lobby rumah sakit.


Tak berapa lama, Claudia memberi pesan pada Richard.


CLAUDIA


Jangan mencariku dan memberitahu suamiku! Aku butuh waktu untuk menerima semua ini. Aku akan kembali sendiri ke Honolulu jika sudah siap . Ingat, JANGAN MENCARIKU!


Richard memberikannya pada Frank dan Frank menunjukannya pada Egnor. Egnor semakin kalut. Apakah kesalahannya sangat besar?! Egnor melemah. Dia menyandarkan dirinya di dinding dan menutup wajahnya. Dia menyesal. Dia mengakui, dia menyesal.


Frank, Grace, Lisa, Richard dan juga Kevin merasakan kesedihan dan rasa penyesalan seorang Egnor. Mereka mengetahui betapa besar rasa cintanya hati sang pengacara itu pada istrinya sampai melakukan semua ini.


"Frank, Carikan aku sebuah mobil, aku sendiri yang akan mencarinya. Karna ini kesalahanku!" Kata Egnor tetap dalam hawa dinginnya namun sedikit melemah.


"Kau mengetahui di mana harus mencarinya Tuan? Biarkan aku menemanimu." Ujar Frank mulai mencemaskan tuannya.


"Tidak perlu, sebenarnya beberapa tahun lalu aku pernah mencarinya . Cepat Carikan mobilnya aku menunggu di lobby luar!" Kata Egnor dan menuju ke lobby luar dan meninggalkan semuanya.


Entah mengapa kata kata Egnor malah membuat orang orang yang mengenalnya semakin terbawa perasaan menyaksikan sebuah kisah cinta yang mengharu biru ini. Tidak tahu seberapa besar cinta Egnor pada Claudia. Frank segera menjalankan perintah tuannya sementara yang lainnya menatap Grace menanti jawaban dari kata kata Egnor. Karna Grace orang terlama kepercayaan Egnor.


"Ya memang beberapa tahun lalu Tuan Egnor sering ke Oriental, katanya merasa cinta sejatinya ada di sini walau tidak pernah bertemu. Oleh sebab itu dia juga membangun kantor pengacara di sana. Siapa yang tahu kalau ternyata dia membangun tepat di dekat kedai roti milik Claudia. Ini semua takdir dan memang jodoh tidak akan lari kemana." Kata Grace memberitahu kesetiaan seorang tuannya. Egnor Jovanca.


...


...


...


...


...


Hem, kemana kan dirimu mimi? Ayo pulanglah datang kepelukan babang eg ku 😔😔


.


Next part 4 ges


Di mana Claudia mengasingkan dirinya?


Apa Egnor bisa segera menemukannya ??


Jan lama lama vii, nyesel + mual nii


Lalu apa kabar diriku 😭😭


.


Pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2