Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 133: Stay or Finish


__ADS_3

Pernahkah berada di posisi ingin menjadi manusia biasa di tengah kondisi yang tidak biasa? Egnor pikir akan hidup bahagia jika sudah memiliki segalanya, tapi ternyata apa yang ia miliki tidak disukai orang lain. Bagaimana kelanjutannya?


...


Dia Ron. Ron sudah mendatangi apartemen Frank dan tertangkap oleh anak buah Bertho. Ron meminta diantar menemui Egnor dan Frank jadi anak buah Bertho menghubungi Bertho dan mereka menuju ke rumah sakit.


Egnor menatap Ron dengan datar. Frank pun terkejut kalau ayah tirinya malah mendatanginya. Ron terus berjalan dengan di dampingi Bertho. Ketika sudah dekat, Ron langsung berlutut di hadapan Egnor dan Frank. Claudia sudah memegang lengan Egnor agar suaminya bisa menahan emosi karena mereka sedang berada di rumah sakit.


"Maafkan aku!" Kata Ron kemudian. Frank masih terdiam. Apa ini merupakan siasat mengelabui, pikirnya.


"Maafkan aku, Frank, Tuan Egnor, aku menyesal. Aku kemari hanya memohon untuk tidak menghukum mati istriku. Frank, entah kau percaya atau tidak kalau aku sungguh mencintai ibumu. Hanya dia yang bisa mengerti ku sejak awal aku bertemu dengannya. Maafkan aku telah membunuh ayahmu demi menginginkan ibumu, maafkan aku. Maafkan aku untuk semua ciptaan obat obat terlarang, maafkan aku karena tidak bisa melarang Elizabeth untuk tidak menculik anakmu kemarin tuan Egnor. Aku minta maaf. Semua ini kesalahanku bukan Elizabeth. Tolong biar aku saja yang dihukum mati dan biarlah Elizabeth menghabiskan masa hidupnya di penjara, aku mohon," kata Ron lagi dengan semua penyesalannya. Dan kini dia bersujud di hadapan Egnor dan Frank. Frank berusaha tenang dan hanya mendengar apa yang dikatakan ayah tirinya itu.


"Kau mau bersaksi siapa yang menyuruhmu?" Tanya Egnor kemudian. Tidak ada gunanya mempermasalahkan kesalahannya. Semua sudah terjadi. Egnor hanya membutuhkan bukti untuk menyudahi ini semua.


Ron kembali mendongakan kepalanya menatap Egnor.


"Ya aku bersedia tuan asalkan Elizabeth tidak dihukum mati, aku akan mengatakan siapa dalang dari semua kekacauan ini," kata Ron dengan sungguh sungguh.


"Baiklah, bawa dia ke pengadilan. Serahkan dia pada Benedict. Aku akan menyusul!" Perintah Egnor pada Bertho.


"Siap tuan!"


"Terimakasih Tuan Egnor dan Frank, selamat atas kelahiran anakmu," ucap Ron menatap lirih Egnor


"Ya sama sama," hanya itu yang diucapkan Frank.


Bertho kembali membawa Ron ke pengadilan. Frank menundukan kepalanya. Dia bingung apa yang harus ia lakukan. Moses dan Gabriel menepuk pundak sahabatnya itu.


"Katakan ucapan selamat itu pada Grace, Frank. Dia berkata tulus," ujar Egnor.


Frank mengangguk dan kembali ke dalam bersama Gabriel sementara Moses dan Claudia masih bersama Egnor.


"Clau, kau masuklah, aku harus ke pengadilan," kata Egnor pada istrinya.


"Hati-hati kak, Tuan Ron akan membantumu,"


Egnor mengangguk dan mengacup kening Claudia. Claudia pun masuk ke dalam sementara Egnor pergi ke kantor pemerintah bersama Moses.


Sesampai di sana Egnor menemui jaksa penuntut yang seharusnya mengurus kasus ini.


"Cepat jelaskan maksud kasus ini ditolak!" pinta Egnor.


"Tuan Egnor, saya hanya menjalankan pemerintah. Dari pihak pemerintah tidak diperkenankan membahas kasus yang sudah lalu," kata sang jaksa.


"Bagaimana kasus yang sudah lalu?! Ini sudah kuajukan sebelum pemilihan kepala pemerintah!" decak Egnor tidak terima.


"Sekarang sudah ada kepala pemerintah baru jadi semua sistem berubah tuan! Program kali ini menyatakan tidak akan membahas kasus yang sudah lama. Apalagi bukti yang anda berikan sangat tidak lengkap!" kata si jaksa lagi.


"Kau jangan mempermainkan ku! Frank sudah melampirkan semuanya!" tutur Egnor tegas.


"Kenyataannya tidak ada tuan! Lagi pula begini, kasus pembunuhan Pendeta Rudolf sudah ditemukan pembunuhnya, kasus kecelakaan kapal pesiar kau saja masih hidup dan kami pihak pemerintah sudah memberikan kompensasi untuk mereka yang tewas. Lalu apa lagi yang perlu dipermasalahkan?" balas si jaksa dengan nada menantang.


Brak!


Egnor menggebrak meja lalu meraih kerah kemaja sang jaksa.


"Siapa yang menyuruhmu mengatakan ini?" tanya Egnor penuh emosi.

__ADS_1


"Pihak pemerintah tuan," kata si jaksa terbata.


"Aku tidak mau tahu, besok kalian harus bisa memanggil Richie ke pengadilan! Aku yang bertanggung jawab atas semua buktinya! Kau mengerti tidak! Katakan, aku Egnor yang mengajukan!!" tantang Egnor.


"Ba ba baik tuan, aku akan mengajukannya lagi,"


Egnor menghempaskan tubuh jaksa itu dan pergi dari sana. Keesokan harinya, Egnor kembali mendatangi pengadilan untuk sidang yang akhirnya disetujui. Egnor merasa aneh karena suasana sidang cukup asing. Egnor datang bersama Frank dan Gabriel.


Tak lama Richie pun datang bersama pengacaranya dan tentu saja Richard juga ikut. Richia tampak tenang dan yang membuat Egnor sedikit curiga yaitu tidak ada Benedict. Benedict tidak menjadi hakim kali ini. Frank yang juga merasa bertanya pada jaksa kenalannya.


"Hakim Benedict tiba tiba ijin cuti, aku tidak tahu dia di mana," kata jaksa kenalan Frank.


"Kau yakin tidak tahu?"


Jaksa kenalannya menggeleng dan memancarkan wajah cemas. Frank pun memberitahu Egnor. Egnor benar benar merasa aneh.


Sidang akhirnya dimulai. Egnor sudah mulia kesal ketika jaksa penuntut selalu menerima perkataan Richie yang terus berkelit. Sementara mereka meminta bukti pada Egnor. Frank mengatakan sudah menyerahkan pada pihak pengadilan. Seorang jaksa yang kemarin menemui Egnor mengatakan kalau bukti yang Frank lampirkan tidak sengaja hilang karena kemarin ikut mengurusi pemilihan kepala pemerintah. Kebetulan August ikut bersama Bertho dan memberikan salinannya dari hasil rekaman Kate waktu itu.


"Hasil rekaman ini tidak relevan karena Nona Kate di bawah pengaruh obat obatan. Apa anda yang memberikan obat obatan ini Tuan Egnor?" tanya jaksa penuntut.


"Percuma berbicara bukti seperti ini pada kalian. Hal bodoh apa yang ingin kalian terapkan sehingga kalian yang malah menunduhku?! Jangan malah membahasa yang lain. Lupakan tentang semua bukti itu. Aku punya saksi bicara yang akan sadar menceritakan semuanya. Kalian juga tahu kasus sebelum yang kuhadapi kan?!" Saut Egnor yang sepertinya dirinya sedang dipermainkan.


Egnor lalu menyuruh Bertho memanggil Roh juga Elizabeth yang dalam penjagaan polisi. Tampak Richie begitu tenang seperti semuanya dia yang mengatur. Ron di bawa ke bangku saksi dan ia duduk di sana hendak memberikan pengakuan. Namun, baru saja dia duduk, sesuatu malah terjadi padanya.


Dor! Dor! Dor!


Tiba tiba seseorang menembakan peluru tepat di tengah tengah dada Ron.


"RRROOONNN!!!" teriak Elizabeth. Sementara semua kericuhan di pengadilan itu terjadi. Egnor dan Frank tetap dalam diam menyaksikan kejadian aneh ini.


"Tenang tenang! Kepala Polisi Devon, selidiki siapa yang melakukan penembakan!" Perintah sang hakim. Para polisi pun segera mencari dari mana arah tembakan tersebut. Elizabeth pun menghempaskan polisi wanita yang menjaganya lalu menghampiri suaminya yang sudah terkulai lemas.


"Karena kondisi yang tidak memungkinkan, terpaksa sidang ini di tunda!" kata sang hakim.


"Atas dasar apa kau menunda persidangan ini? Ron masih bisa bicara!" Kata Egnor dengan sangat tajam.


"Richie, Richie Gabriane yang menyuruhku untuk melakukan semua kejahatan yang ia rencanakan. Dia, dia dalang dari semuanya ..." Kata Ron terbata dan menghembuskan napas terakhirnya.


"Ron, Ron bangun Ron!" Kata Elizabeth dan tak lama dia menoleh ke hadapan Richie. Dia berdiri dan berjalan.


"Kau, kau Richie yang memperbudak kami, kau yang merupakan otak dari semua ini, aku akan membunuhmu!!!" Teriak Elizabeth histeris dan berjalan ke arah Richie, tapi baru saja melangkah,


Dor! Dor!


Dua tembakan mengenai Elizabeth tepat di samping Frank berdiri. Frank dengan sigap menahan ibunya yang hendak terjatuh.


"Mom," panggil Frank dengan lembut.


"Frank, inilah akhir hidupku! Richie, semua karena Richie! Tegakan keadilan, jangan tinggalkan Egnor, aku mencintaimu, maafkan aku!" kata Elizabeth mengakhiri hidupnya.


Suasana pengadilan sangat tidak baik. Banyak darah di mana mana. Hakim benar benar menunda jalaninnya sidang. Egnor terdesak. Dia tidak bisa melakukan apa apa dan memaksakan kehendak. Richie kembali bebas dengan alasan tidak ada bukti yang terlalu kuat. Pihak pengadilan membutuhkan bukti nyata seperti reka adegan atau pengakuan dari pelaku itu sendiri. Sebuah alasan yang sangat tidak masuk akal. Pengadilan mengusulkan Egnor kembali mengajukan tuntutan dengan bukti yang kongkret.


Richie sudah pergi dari ruang pengadilan sementara Richard menunggui Egnor yang masih terdiam di sana.


"Egnor, tenanglah, aku dan Kevin akan mencoba merekam apapun yang ayahku lakukan, sekarang lebih baik kita mengurus pemakaman Ron dan Elizabeth," kata Richard mencoba menenangkan Egnor.


"Ayahmu tidak bisa kumaafkan. Mungkin belum sekarang, tapi suatu saat aku pasti akan membalas semua yang ia lakukan!!" decak Egnor dengan tatapan nanar.

__ADS_1


"Aku mengerti Egnor. Tetap jalankan yang kita bisa dan juga berjaga jaga dengan Bruce. Apa kau masih ingat dia? Beberapa kali aku mendengar ayahku mengatakan nama itu, aku hanya takut itu Bruce yang kita maksud," kata Richard lagi memperingati.


Egnor mengangguk. Peringatan akan kepala mafia tersadis itu sudah sampai terus di telinganya.


Masalah Egnor ternyata bukan sampai di situ saja. Keesokan harinya seorang jaksa diutus oleh pengadilan untuk mengatakan sebuah pesan pada Egnor. Jaksa tersebut mengatakan kalau kasus Richie Gabriane sudah dihentikan. Alasannya antara lain adalah :


- Pembunuh Tuan Rudolf bukan Richie yang melakukan melainkan pegawai dari perusahaan Richie.


- Tidak ada pembuktian kalau Richie yang menukar hasil laporan perkiraan cuaca pada kecelakaan kapal pesiar.


- Tidak ada pembuktian konkrit Richie menyuruh Ron dan Elizabeth melakukan penyerangan pada apartemen Egnor.


- Richie sudah membayar uang jaminan


- karena adanya korban pada sidang terakhir jadi tidak boleh lagi membahas tentang tuntutan itu.


Pesan ini dikatakan langsung oleh Kepala Pemerintah yang baru.


"Tuan Egnor, anda bisa meneruskan kasus ini atau langsung menangkap Tuan Richie jik anda menggunakan surat otentik yang asli. Kepala pemerintah juga menunggu anda menyerahkan surat otentik dan surat kuasa dari kepala pemerintah terdahulu," kata sang jaksa memberitahu.


"Bagaimana bisa aku menggunakan kuasa dari surat otentik jika Richie yang menyuruh Ron mencuri surat otentik milikku?!" decak Egnor menyindir.


"Karena kelalaian anda, mungkin akan dibuatkan yang baru tapi kita tetap membutuhkan surat otentik yang asli. Silahkan anda menemui kepala pemerintah untuk mendiskusikan hal ini. Sekian yang perlu saya sampaikan, permisi!" kata sang jaksa mengakhiri.


Egnor menarik napas. Dia menautkan tangannya dan menyandarkan dahinya. Gabriel, Moses dan Lina menatap sedih tuannya. Egnor malah berpikir ingin lari dari semua ini.


'Mom, apa yang harus aku lakukan? Berhenti atau terus berjalan?' tutur Egnor dalam hatinya meminta petunjuk ada ibunya.


...


...


...


...


...


Egnoorrr sini pelukan, aku tamatin aja ya, kasian sekali dirimu 😭😭😭😭


.


silahkan komentarnya .. semoga mengerti apa yang diriku buat .. sebisa mungkin akan vii buat mudah alurnya 😇😇


.


next part 134


apakah Egnor akan berakhir?


entahlah ..


.


Jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2