
Kebahagiaan itu adalah soal rasa dan bagaimana cara mengungkapkannya. Jika kau merasakan hal itu adalah kebahagiaan yang begitu besar, sebaiknya tunjukan dengan benar dan jangan malah memendamnya. Kebanyakan orang mengungkapkan kebahagiaannya dengan melakukan perayaan bersama orang orang terdekat. Tak jarang ada juga orang orang yang mengungkapkannya dengan rasa syukur. Semua dilihat dari alasan yang terjadi dari kebahagiaan tersebut.
Tidak perlu kebahagiaan yang didapatkan dengan bersusah payah, biasanya hal sederhana pun bisa membuat kebahagiaan. Seperti seseorang yang sedang jatuh cinta, cukup melihat wajahnya saja sudah menjadi kebahagiaan orang itu sendiri. Kebahagiaan cukup merasakan dan mengungkapkannya. Dengan tangis dan rasa haru juga merupakan ungkapan kebahagiaan. Lalu bagaimana pasangan suami istri ini mengungkapkan kebahagiaan mereka yang telah lama mereka dambakan.
Mereka hanya ingin bersatu dan tidak ingin terpisahkan lagi. Mereka sudah berdiri di depan altar membuat sebuah perjanjian pernihakan suci di hadapan Tuhan dan juga mempersembahkan kebahagiaan mereka karna telah bersama. Bukan hanya itu, kebahagiaan kembali menaungi mereka ketika alat pemeriksaan kehamilan itu menyatakan sang istri positif. Dia baru saja mengetahuinya ketika dia belum mengadakan pemberkatan. Rasa senang dan haru bercampur menjadi satu. Ingin secepatnya ia mengatakan pada suaminya namun waktu nya belum tepat.
Namun, ketika mereka sudah saling mengucap janji suci mereka, Claudia akhirnya mengatakannya. Dia mengatakan kalau bukan lagi mereka satu satunya yang bisa saling mencintai melainkan sudah masuk anggita baru pada keluarga mereka. Claudia tidak berharap apapun dari kehamilannya ini. Perempuan atau laki laki, satu atau dua, yang dia tahu, dia bahagia, dia sudah hamil dengan suaminya. Suami yang sangat sulit ia dapatkan. Menunggu entah berapa kali matahari terbit dan terbenam. Cinta mereka menjadi satu kembali.
Kini suaminya masih memegang perutnya ketika istrinya mengatakan dirinya hamil. Tak berapa lama, pandangannya menuju pada perut Claudia. Dia merasakannya perlahan. Setiap perubahan yang sudah ia rasakan dari perut mungil istrinya itu.
Egnor kembali melihat Claudia.
"Kau benar hamil sayang?" Bisik Egnor kembali memastikan.
Claudia mengangguk tersenyum. Egnor semakin mengelus perut istrinya dan tangan satunya menarik kepala Claudia untuk kembali di dekatkan padanya. Egnor pun mengecup bibir Claudia yang dibalas lembut oleh istrinya. Egnor pun semakin mel*mat bibir kenyal itu dengan penuh penghayatan sampai tangan satunya akhirnya ikut mememegang wajah Claudia.
Semua menyaksikan semuanya dan Viena juga Lexa terharu karna mereka yang mengetahui lebih awal kehamilan Claudia. Egnor menarik kecupannya.
"Terimakasih Clau. Kau sudah melengkapi kebahagiaanku. Aku sudah menjadi pria paling bahagia di dunia ini." Tutur Egnor pelan dan Claudia sudah menangis mendengar penuturan suaminya. Dia lah yang menjadi sumber kebahagiaannya. Bagi Claudia sekarang tidak penting dengan masa lalunya. Masa lalu nya telah terbayarkan dengan pernikahan suci ini dan Egnor mengadakannya dengan sangat syahdu semua demi istrinya.
Tak henti hentinya Egnor memandang Claudia. Ketika pemberkatan itu masih berjalan. Egnor juga terus memegang tangan Claudia. Sampai akhirnya selesai sudah acara pemberkatan itu. Claudia dan Egnor diharuskan keluar gereja untuk melempar Bunga pernikahan mereka. Egnor melingkarkan tangannya ke pinggang Claudia sampai menyentuh perutnya.
"Kau benar benar hamil Clau?" Bisik Egnor sambil berjalan keluar gereja. Egnor masih sedikit tak percaya dan sebenarnya dia sangat senang. Claudia mengangguk tersenyum dan kembali memandang Egnor. Dia mengelus wajah maskulin Egnor yang tampannya terasa berbeda dari biasanya.
"Kau harus berjalan hati hati dan jangan menggunakan sepatu hak tinggi itu ketika resepsi nanti!" Kata Egnor lagi mulai dengan peraturan pertamanya.
"Kenapa?" Claudia menoleh ke arah suaminya.
"Sangat tidak baik. Akan membuatmu lelah!" Decak Egnor protektif.
"Tapi, ini sepatu pemberianmu kan?" Gumam Claudia yang masih ingin mengenakan sepatu ini.
"Sekarang pun aku bisa membeli sepatu beralas rendah paling baik di Honolulu sehingga kau nyaman mengenakannya di resepsi." Saut Egnor.
"Tidak perlu kak, pakai ini saja." Balas Claudia yang merasa suaminya sangat merepotkan.
"Tidak! Kau diam saja, aku akan menyuruh Frank!" Egnor tetap pada keinginannya.
Claudia tidak bisa membantah Egnor jika sudah menyangkut keadaannya. Egnor hanya memikirkan janin yang sedang berkembang di perut istrinya itu. Egnor agak meminggirkan tubuhnya bersama Claudia ke daun pintu masuk gereja menghampiri Frank. Di sana juga sudah ada Grace di sampingnya.
"Frank!" Bisik Egnor membuat Frank sedikit terkejut.
"Ada apa Tuan?" Bisik Frank lagi.
"Suruh Joe membelikan sepatu alas rendah terbaik untuk Claudia, nomor sepatu 38, sekarang!" Perintah Egnor yang belum keluar dari Gereja.
"Kak, tidak perlu aku bisa mengenakan ini." Claudia masih melarang Egnor.
"Ada apa dengan Claudia Tuan? Apa dia hamil?" Tanya Grace tiba tiba yang sudah menghampiri mereka.
"Mengapa kau tahu?" Egnor menaikan alisnya.
"Kau terus saja memegang perutnya seperti mau jatuh saja!" Grace bergurau terkekeh .
"Sudah cepat kau suruh Joe, Frank!" Kata Egnor lagi memerintahkan bawahannya.
Belum saja Frank mencari Joe, Viena sudah ada di belakang Joe.
"Aku sudah membawanya Tuan Frank." Kata Viena yang sangat tahu apa yang dilakukan kakaknya jika sudah mengetahui kehamilan kakak iparnya.
"Viena? Kau sudah tahu kehamilannya?" Egnor kembali menaikan alisnya karna ternyata dia bukan orang pertama yang mengetahuinya.
"Aku yang menyuruhnya memeriksakan dengan testpack ini, kau lihat ini! Bagaimana bisa kau tidak peka?" Viena menunjukan testpack portable panjang itu.
Egnor meraih testpack tersebut dan memperhatikannya. Dia lalu menatap Claudia yang sejak tadi terus tersenyum. Dia sudah melihat betapa protektif nya suaminya. Dia merasakan aura aura kehangatan akan melingkupi kehamilannya nanti.
"Claudia, you are really pregnant!" Gumam Egnor merengkuh pinggang Claudia menempel bersamanya.
Claudia masih mengangguk dan tersenyum sambil memegang dada suaminya.
"Yes, i'm pregnant, sir, so?" Kata Claudia tersenyum menggoda. Egnor kembali mendekati wajahnya dan mencium bibir Claudia kembali di depan Viena, Frank dan Grace dengan sangat bergairah. Dia merasakan kebahagiaan akan terus bersamanya dan juga keluarga kecilnya nanti.
"Ehem! Kalian bisa melanjutkannya nanti malam, sekarang ganti sepatu ini kak Clau! Kau tidak mau kan mendengar ocehan suamimu ketika di resepsi nanti?!" Decak Viena mengingatkan. Claudia menarik dirinya dan memegang mulutnya. Dia sangat malu. Akhirnya dia berjalan ke arah Viena dan benar saja kekhawatiran Egnor. Baru saja Claudia melangkah juga karna gaunnya yang sangat melebar membuat dirinya sendiri menginjaknya. Dia hendak terjatuh namun dengan sangat sigap Egnor menahan tangannya dan menariknya lagi masuk ke dalam pelukannya.
"Aku sudah mengatakannya! Kau adalah wanita paling ceroboh di muka bumi ini! Diam lah disini! Frank, ambilkan sepatu dari Viena itu!" Kata Egnor menatap tajam Claudia. Grace terkekeh.
"Clau, kau akan kembali terkurung dalam sangkar emas!" Gurau Grace menutup mulutnya. Viena terkikik namun Claudia tetap tersenyum menanggapinya.
Egnor meraih sepatu dari Frank dan dia membungkuk. Dia sendiri yang menukar sepatu hak tinggi itu dengan sepatu alas rendah dari adiknya pada kaki Claudia. Sontak Grace dan Frank, juga Lexa, Leon dan Dion yang masih di dalam gereja sangat terkejut kalau Egnor melakukannya pada wanitanya.
"Oh my Lord! My God! Ini merupakan keajaiban dunia paling langka yang pernah ku lihat. Tuan Egnor, you're the best!" Pekik Grace benar benar kagum dengan atasannya.
Claudia memegang dadanya. Benar sudah apa yang ada dipikirannya kalau Egnor akan berubah pesat berbanding terbalik. Dia sangat perhatian dan melindungi Claudia. Claudia benar benar tersentuh dengan semua ini. Kebahagiaan yang sederhana namun menakjubkan. Tuhan sungguh adil baginya. Tak sedikit pun berkurang rasa cinta pria ini untuknya.
__ADS_1
"Grace, meskipun dalam sangkar emas, asal bersama tuan mu, aku rela!" Gumam Claudia meraih rambut tebal suaminya. Suaminya pun tersenyum dan mendongakan kepalanya. Rasanya benar seperti melihat ibunya dari bawah sini. Dia lalu meraih tangan Claudia dengan satu tangannya sambil berdiri. Dia mengecupi tangan itu sampai tak mau menghentikannya. Dan untuk apa satu tangannya lagi?
"Baiklah drama selesai! Ternyata kau juga bisa bermain peran kak!" Viena meledek.
"Aku dan Claudia yang menjadi pemeran utama hari ini, kau jangan macam macam Viena!" Decak Egnor merangkul Claudia dan kembali menatap nya.
"I know! Kemarilah sepatu kak Claudia yang tinggi itu!" Pinta Viena.
"Biar aku yang pegang!" Kata Egnor yang satu tangannya lagi ternyata memegang sepatu Claudia.
"Baiklah, saatnya keluar gereja Tuan dan Nyonya Jovanca. Kalian harus melempar buket bunganya." Frank mengingatkan. Grace hendak mengembalikan kembali buket bunga yang sempat dititipkan padanya. Namun ketika Grace menyerahkannya pada Claudia.
"Kalau kau ingin untukmu saja Grace! Aku bisa menyuruh Tuan Egnormu untuk mengatakan hal lain, bagaimana Tuan Egnor ku?" Pinta Claudia dan menahan Grace memberikan bunga nya.
"Terserahmu saja sayang!"
"Tidak Clau, aku tidak apa tidak mengikuti pelemparan bunga ini." Sela Grace.
"Tidak! Aku sudah memutuskan. Buket bunga ini untukmu saja dan Frank segera berikan pernikahan untuk sahabat ku ini!" Kata Claudia tersenyum.
Frank mengerti apa maksud Claudia. Dia lalu meraih kembali buket bunga yang diulurkan oleh kekasihnya.
"Grace, terimalah! Kalau ada buket ini maka kita pasti akan menikah, percayalah padaku!" Kata Frank memegang buket itu bersama tangan Grace.
"Segera Frank atau kau kupecat saja, banyak bicara!" Decak Egnor terus menyindir ambil menggiring Claudia keluar Gereja dengan pelan.
Grace dan Frank saling bertatapan. Setelah memastika kerabat tuannya juga keluar dari gereja, Frank memeluk kekasihnya itu. Grace malah menangis sambil memegang buket bunga itu. Frank lalu menarik diri dan meraih wajah Grace.
"Grace, tidak akan penundaan lagi, besok kita akan mencari gaun pengantinmu dan lusa kita akan menikah. Aku akan membeli rumah agar kau tidak terlalu lelah harus menaiki apartemen. Bagaimana?" Tutur Frank lembut dan mesra.
Grace tidak bisa berkata apa apa lagi. Dia hanya bisa mengangguk dengan tetesan air matanya yang terus berurai. Frank lalu mendekatkan wajahnya agar dapat meraih bibir merah calon istrinya itu. Mereka berciuman di depan altar. Frank sudah bertekad. Dia tidak peduli saksi atau apapun, dia hanya membutuhkan Grace untuk tidak pergi meninggalkannya.
Sementara Egnor dan Claudia sudah ada di depan gereja. Mereka bingung karna Egnor malah membawa sepatu putih yang mereka perkirakan adalah milik istrinya karna Claudia terlihat lebih pendek. Ada beberapa yang membicarakannya karna perlakuan tersebut sedikit manis.
"Tuan Egnor memang sebenarnya sangat penuh kasih sayang, mungkin kaki Nyonya Claudia pegal, jadi dia menyuruhnya melepas dan dia yang membawakannya."
"This so sweet!"
"Yes, i want this guy too!"
"Hanya beberapa di dunia ini."
"Aku rela jadi yang kedua Tuan Egnor."
Begitulah beberapa karyawan Egnor dan tentu saja Monica. Kate sampai kesal melihat kekaguman ibunya pada seniornya itu yang terpancar dari kerlingan matanya. Sementara Samantha asik memperhatikan Richard yang berdiri berdampingan bersama Lisa. Samantha belum mengetahui siapa Lisa namun dia cukup senang akhirnya anaknya dekat dengan seorang wanita.
"Jadi benar dulu kau menyukai Egnor?" Tanya Richard pelan pada Lisa yang melipat tangannya di depan dadanya.
"Hanya kagum!" Jawab Lisa singkat.
"Wajar saja jika kau menyukai pria hebat sepertinya." Richard mengangguk angguk.
"Jadi, kau juga mantan suaminya Claudia?" Lisa kembali bertanya.
"Haha, menurutku suami itu orang yang ia cintai dan dapat bergumul di tempat tidur!" Bisik Richard. Lisa langsung menatap tajam dan tak senang Richard.
"Ternyata seorang motivator dapat memikirkan hal mesum juga!" Dengus Lisa.
"Haha, tidak juga! Aku sedang memberi perumpamaan kalau aku tidak ada hubungan dengan Claudia, kau tidak usah cemburu!" Richard sedikit bergurau membuat Lisa semakin menajamkan tatapannya.
"Oh God! Bukan hanya cabul tapi ternyata juga sangat percaya diri. Aku salah menilaimu Tuan Richard." Decak Lisa malas.
"Terserahmu, tapi aku merasakan aura aura kenyamanan mu dekat denganku." Richard terkekeh.
"Tidak lagi sepertinya, terimakasih!" Wajah Lisa telah memerah. Jujur, baru kali ini ada seorang pria yang begitu perhatian dan memujinya seperti ini. Lisa pun berlalu menjauh dari Richard. Sementara Richard hanya tersenyum melihat keanggunan Lisa beserta sikap dinginnya.
Sampai akhirnya, mereka juga sedikit terheran karna tidak bunga pada tangan Claudia melainkan tangannya terus memegang perutnya. Mungkin karna gaun yang agak fit pada bodynya membuatnya agak sesak. Sesekali Egnor merasa aneh namun dia agak menahanya sesaat.
Viena dengan kasar mengambil alih sepatu Claudia dari tangan kakaknya.
"Seharusnya kau memegang perut istrimu dan beritahukan pada semuanya, jangan malah mengurusi sepatu kak!" Dengus Viena.
"Aku hanya ingin terlihat sempurna!" Egnor menaik turunkan alisnya.
"Sejak kapan pengacara mengurusi sepatu! Kak Clau, kau harus menjaga suamimu, dia sudah agak tidak waras karna mu!" Bisik Viena dan segera berlalu.
Tapi benar apa yang dikatakan adiknya. Seharusnya dia memegang perut istrinya. Dia lalu melirik Leon karna tidak melihat Frank. Dia lalu memberi kode agar membuka acara di depan gereja ini. Leon tampak paham dan melakukannya.
"Attention please!" Kata Leon meminta perhatian.
Semua kerumunan yang tergolong banyak itu melihat ke arah Leon.
"Oke thank you! Saya Leon, suami anak angkat Tuan Egnor. Asisten Tuan pemilik hotel Prime!"
__ADS_1
"Leon! Tidak perlu perkenalan! Cepat!" Lexa di belakang sana mengingatkan.
"Oke jadi pada kesempatan kali ini tidak ada pelemparan bunga, tetapi ada sepatah dua patah kata yang akan disampaikan oleh sang mempelai. Silahkan Tuan Jovanca." Leon mengulurkan tangannya agar Egnor dapat berbicara.
"Tidak berlama lama. Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan kalau kami bukan lagi pasangan suami istri saja, tetapi juga pasangan orang tua, karna baru saja aku mengetahui kalau istriku sedang hamil. Sebelumnya kami sudah menikah pada catatan sipil. Terimakasih." Kata Egnor yang setelahnya dia kembali membungkuk dan mengecup perut Claudia. Sontak semua semakin dibuat terhanyut dengan adegan romantis tersebut.
Dan semua pun bersorak bertepuk tangan karna Egnor menyampaikan kabar gembira yang membuat mereka terharu. Beberapa ada yang tahu kisah mereka merasa ikut bahagia. Ada beberapa orang yang bersiul untuk mereka seperti Joe dan Bertho. Bagaimana tuannya sangat menjaga Claudia sepenuh hatinya.
Egnor kembali berdiri dan merangkul Claudia.
Claudia semakin mendekap suaminya yang lagi meletakan tangannya pada perutnya.
"Sebelum ke Resort, ganti pakaian mu yang longgar pada daerah perutnya!" Bisik Egnor seketika membuta Claudia semakin gemas dengan suaminya. Dia saja sampai tidak memikirkan hal sesederhana ini.
...
Acara resepsi pun dimulai. Claudia tidak dibiarkan Egnor berdiri. Mereka hanya berdiri ketika pemotongan kue pengantin dan ketika mereka melalukan wedding toast, Egnor yang meminum bagian Claudia.
"Kak, aku mau!" Pinta Claudia memohon.
"Mana bisa kau meminumnya! Lagipula Kau ini sedang hamil!"
"Sedikit saja!"
"Oke!" Akhirnya Egnor memberinya ijin namun bukannya Egnor memberikan satu gelas pada nya. Egnor malah mendekatkan bibirnya dan menyentuh bibir Claudia.
"Rasakan saja sisa sisa wine di bibirku! Lebih nikmat bukan?" Gumam Egnor masih menempelkan bibirnya pada bibir Claudia.
"Kau curang!" Dengus Claudia dan malah menggigit bibir Egnor.
"Ssshhh!! Kau menjadi semakin liar, honey!" Erang Egnor menarik dirinya dan menggoda istrinya itu.
Dan semua rangkaian acara berjalan. Dengan Lexa dan Leon yang menjadi MC pernikahan tersebut menambah keceriaan dan suka cita pada masing masing pihak. Lexa dan Leon juga menyuruh Viena sebagai adik dari Egnor bernyanyi mengiringi kakaknya dan kakak iparnya berdansa. Egnor hanya memeluk erat Claudia sambil bergerak ke kanan dan ke kiri. Hal ini sudah membuat para kerabat merasa hal yang mesra dan romantis. Claudia juga sudah mengganti dengan gaun putih model tube dress yang melebar pada bagian perut ke bawah.
Namun, ketik berdansa, Claudia merasa ada yang kurang. Dia tidak melihat Grace dan Frank. Ternyata hampir selesai Claudia dan Egnor berdansa, Joe menghampiri Egnor dan berbisik.
"Frank, Grace dan ibunya berkelahi di taman belakang resort, Tuan!" Joe berkata dengan sangat pelan namun Claudia mengetahuinya.
Egnor dan Claudia terdiam dalam gerakan mereka. Egnor lalu menatap lekat lekat Claudia.
"Aku ikut!" Permintaan ini sudah diduga Egnor.
"Kau pasti akan mengatakannya! Tetap pegang tanganku dan jangan gegabah!" Pinta Egnor dan Claudia mengangguk tegas.
Egnor, Claudia dan Joe perlahan meninggalkan resepsi agar tidak ada yang mencurigai mereka. Mereka segera ke taman belakang resort. Namun terlambat. Baru saja Egnor, Claudia dan Joe datang. Mereka menyaksikan.
Sepertinya Elizabeth, ibunya Frank akan bunuh diri tetapi Grace hendak menghentikannya sehingga Elizabeth malah mengarahkan pisau tersebut ke Grace yang membuat Frank reflek mendorong Grace menjauh. Grace bukan menjauh tetapi malah terjatuh dan pinggangnya terkena batu hiasan taman yang ada di sana.
Darah sudah mengalir di kaki Grace sampai menghiasi rumput taman.
...
...
...
...
...
Ngapain lagian lu nyamperin Mak Mak sawan, Grace Grace!!!
Yak tapi aku tetep terkesima dengan sepatu yang kau bawa bang Egnor .. happy wedding sekali lagi 😍😍
.
Next part 68: CERITA TERAKHIR BAGIAN PERTAMA Dann PEMENANG GIVE AWAY aku Uda post tapi karna pake gambar jadi agak la review-nya. Sabar yaa 😁😁
Betewe abis part 68 mo nyeritain Frank dan Grace dulu ya abis itu baru masuk ke Egnor dan Claudia BAGIAN KEDUA AFTER MARRIAGE 😍😍
nanti kodenya AM EGCLAUD yaa 😊😊
Spoiler aja biar staytune terus, abis BAGIAN KEDUA ada BAGIAN KETIGA: TWO WIL STORY, kodenya ONE WIL dan TWO WIL hahaha ada apa dengan two Wil vii dan dia siapa? Haha nantikan coming soon hanya di Satu-satunya yang Kuinginkan 😍😍
.
pada akhirnya jangan lupa kasih LIKE dan KOMEN .. komen apapun vii akan terima, jadi tidak usah menahan nahan diri . sebisa mungkin diriku memaknainya dengan positif ayayaya 😘😘
kasih juga RATE dan VOTE di depan profil novel ya 😍😍
.
akhir kata selamat membaca and i love you somuch 💕💕
__ADS_1