Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 68: Twins


__ADS_3

Status dan jabatan biasanya sangat dipertaruhkan dalam kehidupan bersosialisasi. Semakin tinggi jabatanmu maka akan semakin banyak nilai yang orang lain raih darimu. Mereka berbondong bondong lebih ingin melihat kemegahan mereka ketimbang mereka yang jabatannya biasa biasa saja atau bahkan tidak memiliki jabatan. Tidak memiliki pekerjaan bahkan tidak memiliki usaha.


Begitu juga dengan status. Semakin lengkap informasi keluarga yang anda miliki, makan semakin baik keluarga tersebut. Apalagi jika memiliki keturunan berdarah biru katanya. Keturunan raja, bangsawan, anak dari pemilik perusahaan a, b sampai z. Status status seperti ini yang akan diperhatikan ketimbang bagaimana sikap dan prilakunya. Bagaimana hatinya, baik atau tidak. Semua emosi yang dimiliki orang tersebut tidak ada artinya jika dibandingkan status. Biarpun mereka jahat atau serakah, namun karna status hal tersebut malah dikatakan kerja keras yang sangat hebat. Haha, terkadang semua ini sungguh seperti lelucon. Lalu apa lagi artinya harga diri?


Claudia merasa ini semua seperti jalan hidupnya. Dia menyaksikan semua ini dialami oleh sahabatnya Grace. Betapa dirinya tidak bersyukur memiliki suami dari keluarga baik baik. Dari keluarga sederhana. Oleh sebab itu, Claudia tidak dapat mencintai Richard sedikitpun karna suaminya lebih memikirkan segalanya. Jabatan, status dan juga perasaan. Claudia turut sedih melihat kenyataan yang harus ditanggung sahabatnya. Ibunya Frank bersih keras tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Grace karna Grace hanyalah seorang anak yatim piatu. Dia tidak mentolerir jika Egnor juga mau menjadi keluarganya.


Di sana. Elizabeth masih memegang pisaunya mengancam Frank dan Grace. Namun dia cukup terkejut karna Grace mengeluarkan banyak darah. Frank segera menghampiri Grace.


"Biarkan dia Frank! Kau lebih memilih wanita itu daripada ibumu?! Kalau kau lebih memilih dia, Aku akan mati sekarang juga!" Ancam Elizabeth menunjuk nunjuk Frank dengan pisaunya.


"Mati saja kau, aku sudah tidak peduli, kau keterlaluan mam! Aku kecewa padamu!" Decak Frank dan segera menggendong Grace. Grace memegang perutnya dan merintih kesakitan.


"Frank, perutku sakit Frank!" Grace merintih mencengkram perutnya dengan darah yang juga sudah mengotori lengan Frank.


"Sabar sayang kita ke rumah sakit sekarang!" Kata Frank mengecup kening Grace. Frank pun segera menuju ke mobilnya dan tidak mempedulikan ibunya.


Elizabeth tidak menyangka dengan perkataan anak kandungnya sendiri menyuruh dirinya mengakhiri hidup. Pria itu lebih memilih kekasihnya karna selama ini Grace yang selalu ada untuk Frank.


"Grace..." Panggil Claudia hendak menghampiri namun Egnor menahan tangannya.


"Kau diam saja di sini! Joe, amankan Nyonya Elizabeth. Setelah resepsi aku akan mengurusnya!" Perintah Egnor sigap. Dia harus bertindak tegas sekarang! Tidak usah menunggu persetujuan Frank karna sudah melukai salah satu orang penting dalam kehidupannya. Grace sudah seperti adik baginya.


"Baik Tuan!" Joe dengan cepat menghampiri Elizabeth yang tersungkur dan sudah melepaskan pisaunya . Joe membawa Elizabeth ke salah satu kamar resort Prime dan memberikan satu bodyguard milik Bertho untuk menjaganya. Elizabeth tampak diam saja dan menuruti apa yang dikatakan Egnor dan Joe. Dia sedang menyusun rencana agar tidak berurusan dengan atasan anaknya itu. Sejatinya dia hendak menyelakai Grace dan kini berhasil namun dia dalam penjagaan. Dia harus memikirkan cara terbebas dari semua ini.


Sementara Claudia dan Egnor berjalan kembali ke resepsi mereka. Claudia menautkan tangannya berdoa terbaik untuk sahabatnya. Egnor merangkul istrinya itu dan menyadari kegusaran hatinya.


"Kak, aku ingin melihat Grace." Pinta Claudia mendongakan kepalanya.


"Ya, tapi kita harus menyelesaikan resepsi ini Clau. Mereka pasti mencari kita." Jawab Egnor pelan dan mengecup pelipis Claudia.


Claudia mengangguk setuju.


"Tenang saja, Grace sudah bersama Frank pasti baik baik saja." Bisik Egnor lagi.


"Sebenarnya ada apa dengan ibunya Frank, kak?" Claudia bertanya singkat. Waktu itu ia belum sempat membahas ini dengan Grace.


"Ya, karna Grace anak yatim piatu sedangkan keluarga Frank termasuk keluarga terpandang di Honolulu ini ketika ayahnya masih hidup. Namun, ibunya masih merasa dirinya terpandang karna pengaruh ayah tiri Frank." jawab Egnor singkat dan segala intrik dalam kelurga Frank, Egnor yang mengurusnya. oleh sebab itu, Frank sangat memuja dan mengabdi pada Egnor.


"Kasihan sekali." Gumam Claudia menundukan kepalanya. Dia jadi mengingat status nya ketika ayah dan ibunya meninggal karena kecelakaan pesawat. Hanya sebentar dia merasakan cinta Egnor yang akhirnya terbengkalai. Dia harus menghormati paman dan bibinya yang merawatnya. Kini pamannya harus menjalani proses hukum sedangkan bibinya masih melawan maut. Sedangkan dia di sini dengan semua keterbatasannya, akhirnya dapat bertemu dan kembali bersama Egnor yang mau menerimanya dengan setulus hati. Sebuah perjuangan yang tak terkira. Lalu Grace, temannya sedang merasakan apa yang pernah ia alami. Claudia akan membuat Egnor membantu mereka. Grace dan Frank harus segera menikah dan menjauhi ibunya atau memberikan pengertian lagi.


"Claudia, semua orang ingin berfoto, tersenyumlah." Bisik Egnor menyadarkan Claudia yang masih memikirkan Grace. Mereka sudah berada di pelaminan dan hendak mengambil gambar kenang kenangan.


"Setelah ini, kita langsung ke rumah sakit ya kak?" pinta Claudia dengan melebarkan matanya.


"Iya kau tenang saja. Sekarang fokus, jangan sampai membuat orang cemas!" kata Egnor mengingatkan.


Claudia mengangguk. Mereka lalu melanjutkan acara nya sampai sekitar sore hari.


Para kerabat sudah pulang dan keluarga Egnor menempati kamar yang mana seluruh Resort Prime ini sudah disewa olehnya.


"Kak Clau, ini susu hangat untukmu. Kau jangan terlalu banyak berpikir karna tidak bagus untuk perkembangan janinmu!" Viena mendatangi kamar pengantin dan memberikan susu hangat.


"Aku tidak mau susu Viena. Aku ingin menemui sahabatku." Claudia masih memikirkan Grace.


"Ya, kak Egnor sedang mengantar kepala pemerintah ke depan sebentar. Setelah itu dia akan mengajakmu menemui Nona Grace. Susu ini perintah kakak ku, kak!" Viena memaksa karna memperhatikan Claudia yang sepertinya tidak menyentuh makanan


"Kau serius?" Claudia mendongakan kepalanya dan menaikan alisnya.


"Dia kan ayah anak ini, masa dia tidak memperhatikanmu?!" gumam Viena tersenyum kecil.


"Kenapa dia tidak mengatakan padaku?"


"Dia tidak sempat katanya."


"Kau jangan menipuku ya Viena?" Kata Claudia mengambil gelas susunya dan meminumnya. Tak berapa lama, Egnor datang dan melihat istrinya meminum satu gelas susu. Dia pun tersenyum dan mengelus puncak kepala Claudia sementara Viena sudah pergi dari kamar mereka.


"Terimakasih susunya kak, tapi sebaiknya kau langsung menyuruhku!" kata Claudia yang cukup senang dengan perhatian Egnor yang sangat banyak untuknya.


"Menyuruhmu?" Egnor sedikit mengerutkan dahinya.


"Iya, kata Viena kau yang menyuruhku meminum susu. kau bisa bisa nya berpikir sampai sedetil ini, kau memang pengacara yang spektakuler!" Claudia terkekeh tapi tidak melanjutkan meminumnya lagi karna agak sedikit mual.


Egnor berpikir. Viena pasti yang berinisiatif karna sejak tadi Claudia memang tidak menyentuh makanan apapun.


"Oh iya, minumlah, tadi Viena hendak kemari jadi aku menyuruhnya. Bagaimana? Lezat?" akhirnya Egnor setuju karna pasti istrinya berpikir kalau Egnor yang benar melakukannya.


"Ya lumayan, tapi agak enek kak. Aku agak mual." Claudia mengelus perutnya.


"Anak ku pasti sangat lincah dan bersemangat Clau!" Kata Egnor yang berjongkok di bawah Claudia. Dia memegang perut Claudia dan mengusapnya.


"Aku ingin dia sepertimu kak! Pintar, tampan, berwibawa dan penuh kehangatan." saut Claudia mengelus puncak kepala suaminya.


"Kau ingin anak laki laki?" Egnor mendongakan kepalanya. Claudia mengangguk tersenyum.


"Hem, aku takut dia akan menyeramkan sepertiku. Lebih baik perempuan, dia akan kuat dan sabar sepertimu." kata Egnor yang sebenarnya dia senang anak laki laki. lebih bisa diandalkan dan dapat melindungi.


"Apapun itu kak, akhirnya aku bisa memiliki anak darimu. Terimakasih kak!" Claudia makin meremass lembut rambut tebal Egnor yang sangat ia sukai.

__ADS_1


"Kita harus memeriksakannya Clau! Pantas saja selama ini kau tidak enak badan dan suhu tubuhmu hangat." kata Egnor sambil mengecupi perut Claudia.


"Ya, kita pasangan baru kak, hal ini wajar."


"Kau benar! Yasudah, sekarang ganti bajumu dan kita akan melihat Grace." kata Egnor beranjak dan sudah berdiri.r


"Apa sudah ada kabar dari Frank?" tanya Claudia kembali cemas dengan Grace.


"Ya, sepertinya ada sesuatu yang bermasalah sayang." jawab Egnor setengah menoleh .


"Baiklah aku akan bersiap." Kata Claudia yang lagi terlalu terburu buru sehingga menginjak kembali gaunnya. Dia tersandung dan menabrak punggung bidang Egnor.


"Hati hati sayang! Tidak usah terlalu terburu buru. Kita akan tetap ke rumah sakit. Pelan pelan ya?" Egnor berbalik dan memperingati istrinya.


"Maaf, aku tidak sabar ingin mengetahui kabar Grace, kak!" Claudia mengusap dahinya karna agak sakit terbentur dengan punggung kekar itu. ya, Claudia mengakui kelebihan suaminya yang memiliki tubuh sangat atletis dan cukup tinggi.


"Tenanglah! Lebih baik aku yang membantumu." Kini Egnor mebimbing Claudia.


"Tidak usah!"


"Kenapa?"


"Nanti kau meminta yang lain"


"Kau sudah menjadi istri ku yang sah sekali Clau!" Pekik Egnor mendekatkan wajahnya pada wajah Claudia. Claudia masih tersipu memandang wajah tampan suaminya. Dia seperti kembali ke masa silam ketika mereka berkenalan . Egnor merupakan cinta pertama Claudia begitu juga sebaliknya. Mereka pun berciuman lalu bersiap ke rumah sakit.


...


Claudia masih terdiam di mobil. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada Grace karna sejak tadi hatinya terus bergejolak dan sedikit sesak. Claudia sudah merapal doa sejak tadi agar semuanya baik baik saja. Egnor lalu memegang tangan Claudia yang terasa agak dingin. Mereka masih di basement parkir rumah sakit.


"Clau, kau baik baik saja?" selidik Egnor mencari cari wajah istrinya.


"Aku takut terjadi sesuatu pada Grace kak" Claudia menatap Egnor seperti hendak menangis.


"Kita akan tahu setelah turun dari mobil dan menemuinya sayang." Kata Egnor melepas sabuk pengaman Claudia. Dia lalu keluar dari mobil begitu juga dengan Claudia. Egnor memberikan lengannya agar Claudia menggandengnya.


Mereka pun menyusuri koridor rumah sakit menuju ke ruang gawat darurat. Grace masih dalam tindakan dan ketika Egnor juga Claudia sampai di depan ruang gawat darurat, sang dokter juga keluar.


"Maafkan aku Tuan Frank, anak anda tidak bisa kami selamatkan, sementara istri anda tak sadarkan diri dan kritis." sang dokter memberitahu dengan iba dan ikut bersedih .


Claudia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia shock dengan apa yang telah ia dengar dari dokter. Grace keguguran. Claudia sedikit bergetar dan Egnor langsung merangkulnya.


"Tenanglah sayang .." Egnor mengelus lengan istrinya.


Frank sudah menunduk pasrah mendengar penuturan sang dokter.


"Darah yang dikeluarkan istri anda terlalu banyak dan terlambat membawa ke rumah sakit sedikit saja, mungkin istri anda juga sudah tiada. Janin yang istri anda kandung juga mengalami masalah yang dapat menyebabkan keguguran dini Tuan. " tambah sang dokter.


"Silahkan Tuan . Sebentar lagi kami akan membawanya ke ruang ICU karna istri anda membutuhkan banyak oksigen dan perawatan intensif. Dinding rahimnya mengalami komplikasi, Tuan. jangan sampai terjadi infeksi sehingga istri anda tidak bisa mengandung lagi." tambah sang dokter memberitahukan langkah yang tepat bagi Grace.


"Lakukan yang terbaik dokter!" Kata Frank dan memasuki ruangan. Dia ingin bertemu wanitanya.


Sementara Egnor dan Claudia yang belum disadari kehadirannya oleh Frank menunggu di luar. Claudia masih terkejut. Dia lalu memegang perutnya. Dia merasakan ada yang Grace rasakan. Seketika kepalanya juga mendapat serangan kecilnya dan dadanya sesak. Claudia menundukan kepalanya duduk di kursi penunggu itu.


"Sayang, kau baik baik saja? Ini semua sudah takdir sayang." Kata Egnor yang terus memastikan kondisi istrinya.


"Kalau orang tua itu mencintai Grace tidak akan seperti ini kak! Kak, kau harus tegas terhadap orang itu! Nanti dia akan seperti itu lagi! Atau kalau kau tidak mau bertindak, aku yang menuntutnya! Dia yang telah membunuh cucunya kak, darah dagingnya! Frank pasti sangat merasa bersalah." Kata Claudia menggebu gebu. Dia sudah tersulut emosi juga sejak dia bertengkar dengan Elizabeth di depan apartemen lama Frank dan Grace.


"Iya sayang, kau tenang lah, tidak baik untuk kandungan kita?" Saut Egnor memegang perut Claudia. Entah mengapa Claudia salah menangkap dan berpikir yang lain.


"Kita kau bilang? Aku yang mengandung anak ini, begitu juga dengan Grace!" Dengus Claudia. Egnor merasa Claudia sudah terbawa emosi.


"Claudia, tenangkan emosimu. Aku mengatakan kita karna ini anak ku. Aku yang membuatmu hamil kan?" Egnor mencoba mengoreksi nya secara langsung dengan memegang wajah Claudia. Seketika itu juga Claudia tersadar karna muncul hawa dingin ketika tangan suaminya menyentuh pipinya.


"Oh iya, maaf kak, aku ikut bersedih dengan keadaan Grace. Pokoknya kau harus melakukan sesuatu pada orang tua itu, aku tidak peduli!" Kata Claudia lagi tegas.


"Iya sayang. Jadi, apa yang dirasakan perutmu? Mengapa kau terus memegangnya?" Tanya Egnor yang memang tak sedikitkan pun mengabaikan kondisi kehamilan Claudia.


"Agak terasa sakit dan kepalaku pusing kak."


"Sebaiknya kita pulang atau masih mau menunggu Frank sebentar? Kau bisa bertahan sebentar?"


"Ya kak, aku bisa, aku juga mau melihat Grace."


Tak berapa lama, Frank pun keluar dari ruangan karna Grace harus dipindahkan ke ruang ICU.


"Frank.." panggil Egnor berdiri diikuti Claudia. Egnor pun meraih tangan Claudia karna wajahnya ikut memucat.


"Tuan. Semua salah ku. Grace keguguran dan dia kritis tak sadarkan diri Tuan. Dia sedang menerima tranfusi darah karna dia sempat kekurangan darah yang cukup banyak!" Kata Frank mengusap wajahnya kasar.


"Frank, aku minta maaf . Aku harus tegas. Aku harus menuntut ibumu. Aku harus memberi peringatan pada nya karna dia pasti akan terus menganggu Grace dan hubunganmu!" Kata Claudia dengan sangat tegas.


"Lakukan saja nyonya. Aku sudah tidak peduli. Grace terlalu berharga untukku. Maafkan aku menyia nyiakan wanita yang kau percayakan padaku Tuan Egnor." Kata Frank menundukan kepalanya. Dia menyeka air matanya yang hendak keluar.


Egnor malah memeluk rekan kerja kepercayaan nya itu. Frank butuh dukungan.


"Tenanglah sir, aku akan selalu ada di belakang kalian!" Kata Egnor menarik diri dan menepuk nepuk pundak Frank.

__ADS_1


"Lakukan yang terbaik untuk keadilan Grace, Tuan, aku meminta bantuanmu." Frank menatap Egnor serius. Sudah saatnya dia bertindak.


"Tentu!" Egnor tersenyum tipis.


Claudia mengelus punggung suaminya juga memegang perutnya. Dia senang melihat banyak bantuan untuk sahabatnya. Frank juga terlihat begitu mencintai Grace. Tercermin dari rasa bersalah dan menyesalnya.


Claudia pun menemui Grace sebentar di ruang ICU. Dia membisikan kata kata yang membuat sahabatnya itu segera siuman. Claudia juga berdoa di sana agar semua permasalahan temannya berjalan lancar. Dengan keadaan seperti ini Claudia jadi mengingat bibinya. Dia harus segera mengatakan pada Egnor apa yang terjadi. Claudia hendak keluar dari ruang ICU, tetapi perutnya kembali bergejolak seperti mual. Dia menahannya dengan menarik napas pelan dan menemui suaminya.


Claudia dan Egnor pun pulang ke apartemennya. Claudia langsung menuju ke toilet terdekat dari pintu keluar. Dia memuntahkan apa yang sudah ia konsumsi pagi sampai malam ini. Egnor tentu saja mengikutinya karna agak cemas.


"Sayang, kau tidak apa? Kenapa kau menahannya?" Kata Egnor mencoba menenangkan.


Claudia hanya menggeleng geleng dan meraih tangan suaminya. Egnor memapah Claudia menuju ke meja makan. Namun, belum sampai mereka sampai ke meja makan, Claudia sudah lunglai dan tak sadarkan diri.


Egnor membaringkan Claudia ke tempat tidur mereka dan memanggil dokter untuk memeriksanya.


"Sebaiknya, anda segera memeriksakan istri anda ke dokter kandungan, Tuan, karna saya merasa istri anda mengandung Dua janin." Dokter memberitahu kondisi Claudia yang ia rasakan dari stetoskop nya.


"Dua?" Kedua mata Egnor agak melebar, namun di dalam pikirannya, dia sudah melakukannya dengan benar.


"Ya, melihat dari gejala gejala yang muncul dari dalam tubuh Nyonya Claudiaa. Gejala gejala kehamilan yang cukup berlebihan karna sampai tak sadarkan diri. Sudah berapa kali Nyonya mengalami seperti ini?" Ujar dokter memastikan pada Egnor.


"Aku baru saja mengetahui kehamilannya sekarang, tapi beberapa Minggu lalu dia juga pernah tak sadarkan diri." Egnor mencoba mengingat dengan kejadian Claudia tak sadarkan diri di apartemen Frank dan Grace.


"Mungkin sudah terjadi pembuahan Tuan. Segeralah periksakan istri anda ke rumah sakit." Sang dokter kembali mengingatkan.


"Baiklah, terimakasih."


Betapa sekali lagi Egnor merasakan kebahagiaan yang luar biasa karna mungkin saja dia akan memiliki dua bayi sekaligus. Dia membaringkan dirinya di samping istrinya setelah mengantar sang dokter. Egnor tidur di samping Claudia sambil memeluknya. Sesekali mengelus perut istrinya dan mengecup pelipis istrinya.


Dan benar saja apa yang menjadi kecurigaan dokter kenalan Egnor kemarin. Ketika alat pendeteksi janin itu ditempelkan pada perut Claudia yang memang sudah agak membuncit menyatakan kalau terdapat dua kantong janin.


"Selamat Tuan Jovanca, anda akan memiliki bayi kembar. Usia kandungan Nyonya Claudia sudah menginjak 15 minggu. Kantong janin sudah terlihat tapi untuk kelaminnya kita harus menunggu beberapa Minggu lagi." Kata sang dokter yang sangat yakin dengan kehamilan kembar Claudia.


Kedua mata Egnor berbinar binar menatap Claudia yang sudah menitikan air matanya. Dia sangat terharu dengan semua kejadian ini. Egnor menyeka air mata Claudia dan membantunya turun untuk kembali berbicara pada sang dokter. Egnor tak henti hentinya terus memegang tangan istrinya.


"Dokter, apa kandungan istriku baik baik saja?" Tanya Egnor memastikan agar jika ada kesalahan sedikitpun, dia akan melakukan apapun untuk anak dan istrinya.


"Ya, mereka dalam keadaan sehat. Jangan terlalu banyak melakukan pergerakan karna sewaktu waktu akan fatal karna anda mengandung dua janin, Nyonya. Makan makanan yang bergizi dan perbanyak minum air putih dan Susu akan memperkuat tulang dan tubuh anda serta anak anda." Pesan sang dokter sambil menulis resep.


"Baik dokter. Terimakasih. Aku akan menuriti semua arahanmu." Ujar Claudia tersenyum.


"Dan Tuan Jovanca, saya hanya ingin memberitahu, kalau wanita dengan kehamilan kembar akan memiliki emosi yang sulit dikendalikan di saat saat tertentu. Aku harap, anda bisa membantunya dan membuatnya selalu dalam keadaan perasaan Normal. Tidak terlalu senang dan yang sangat penting, tidak terlalu bersedih atau sangat marah. Anda sangat berperan penting Tuan." Tambah dokter lagi memberikan pesan terbaik.


"Dengar kak! Jangan membuatku kesal!" Claudia menggoda Egnor dengan mencubit pipinya.


"Tenang saja dok, saya akan menjaga semua yang terbaik untuk istri saya." Jawab Egnor pada sang dokter.


Dokter juga merasakan kemesraan dari pasangan itu. Egnor tersenyum puas dengan semua ini. Dia sudah menjadi pria, suami dan ayah paling bahagia di muka bumi ini. Egnor semakin mencintai Claudia dan tidak mau melepaskan barang sebentar saja.


Kini, Claudia bahkan bukan lagi seorang wanita yang sendiri namun memiliki banyak cinta dari suaminya yang dulu merupakan tetangga dan kakak kelasnya. Berjuang mempertahankan perasaannya yang ia kira sendiri ternyata pria nya juga menunggu bahkan pernah mencarinya.


Claudia mensyukuri semua ini. Walau banyak hal yang ia korbankan, ia percaya, cinta sejati hanya perlu meyakini dan dipertahankan. Awalnya Claudia berat menerima sikap Egnor yang acuh tak acuh padanya. Namun, ternyata dari semua ketakutannya, dia sendiri yang dapat merubah Egnor menjadi hangat untuknya.


Ya, tidak percuma kalau di hati Claudia hanya Egnor yang dia inginkan dan begitu juga dengan hati Egnor yang hanya menginginkan Claudia menjadi teman hidupnya. One and only.


Mempertahankan apa yang menjadi keinginan hati kecil kita tidak salah, namun buatlah senuanya berjalan sesuai arah kehidupan yang kita jalani. Jangan memaksa karna semuanya akan menjadi percuma dan tidak ada artinya.


TAMAT ..


...


...


...


...


...


Jangan khawatir gaes ini bagia pertama doang. Semoga bisa mengambil pesan dari cerita cerita yang Uda Vii suguhkan. Semoga bisa mengambil nilai nilai dari setiap tingkah, perilaku dan perbuatan. Kalau rasanya ada yang ga pas dihati, vii minta maaf dan jangan diikutin ya .. jadi, terimakasih sudah menjadi saksi perjalanan cinta Egnor dan Claudia.


.


.


Bakalan ada yang lebih mengusik hati di Satu-satunya yang Kuinginkan AFTER MARRIAGE & TWO WILL STORY ..


.


Next kita bahas Frank dan Grace dulu yaa paling banyak 3 chapter paling dikit 1 wkwkwk ..


.


Oke pada akhirnya jangan lupa kasih LIKE dan KOMEN nya, saran dan kritik kalian juga untuk kenyamanan kalian dalam membaca karna kalian yang menikmati apa yang Uda Vii ketik hehe .. jangan lupa juga kasih RATE bintang lima yaa hehe 🌟🌟🌟🌟🌟 dan boleh juga kasih VOTE .. Mana tau masuk 20 besar buahhaaha 😁😁


.

__ADS_1


Pada akhirnya happy reading, thanks for read and i love youu 💕💕


God Bless You all ..


__ADS_2