Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 138: Promise - 1


__ADS_3

Tetap menikmati syukur karena masih ada dukungan yang selalu mengucapkan terimakasih walaupun pada akhirnya harus merasa sakit untuk mengakhiri semuanya. Berlari ke tempat yang nyaman hanya mencari sebuah perlindungan serta kehangatan untuk menemukan arah yang dicari. Egnor tetap bangga akan tugasnya kali ini karena banyak mereka yang berharap padanya. Apalagi dukungan serta bantuan dari istrinya. Sebuah titik terang menaungi Honolulu. Apakah dapat berlanjut lama dan menumpas segala kejahatan yang ada? Atau akan tetap ada sesuatu yang harus dibayar dan dikorbankan?


...


Claudia masih menunduk takut mendengar suara tembakan yang masih terngiang di telinganya. Pria yang menyelamatkannya tentu semakin memeluk wanita itu. Dia mencoba mendongakan kepalanya agar tersadar dari kengeriannya.


"Clau, Clau, Honey, hey, i'm here," tutur pria yang ternyata adalah suaminya. Egnor menangkup pipi Claudia dengan satu tangannya karena tangan yang lain memegang pistol yang tak pantas di lihat istrinya.


Claudia mencoba membuka matanya. Dia pikir seseorang itu aparat yang masih menguasai dirinya tapi setelah dekapan ini berubah menjadi kehangatan yang siaga dia tetap diam.


"Kak, benarkah ini kau? Aaaahhhh..." Pekik Claudia kini memeluk suaminya dengan sangat erat.


"Aku pikir aku tidak akan bertemu lagi denganmu kak!" Kata Claudia lagi sudah menangis.


"Tenanglah, aku di sini, tidak ada yang bisa mendapatkanmu! Tetap di sini dan diamlah sejenak!" Saut Egnor merangkul Claudia dengan sangat protektif.


Sementara Emma sudah berada di belakang kepala polisi Devon sementara Moses, Frank dan Gabriel mengamankan semua aparat.


"Moses, Gabe, dan sebagian anak buah mu Bertho yang masih terjaga, bawa lima aparat ini ke ruang bawah tanah gedung! Biarkan mereka mati di sana tanpa makan dan minum! Dan segera makamkan aparat yang kau tembak, Bertho!" Perintah Egnor dan Moses serta Gabriel menjalankannya. Frank harus melihat istri dan anak anaknya terlabih dulu.


"Devon, keadaannya sangat genting! Aku minta maaf harus melanggar hak hidup para aparat itu!" Ucap Egnor pada Devon.


"Tenang saja tuan Egnor. Aku mengerti. Aku ada dipihakmu! Aku tidak peduli Dawney keparta itu mencopot jabatanku. Aku sangat mencemaskan si tua Benedict dan Gerrardo. Jaksa Cedric mengatakan kalau mereka sepertinya bukan ijin cuti atau berlibur karena sangat mendadak dan tidak ada kabar sedikitpun!" Keluh Devon menanggapi permintaan maaf Egnor.


"Aku akan menyuruh Kyle menyelidiki dan jangan ada yang mengetahuinya!" Kata Egnor lagi memutuskan.


"Semoga dia tetap terjaga,"


"Baiklah Devon, lebih baik kau antar Emma ke rumah sakit menemui Lisa. Biarkan dia beristirahat agar besok dia bisa kembali menjaga istriku!" Perintah Egnor kemudian.


"Siap tuan. Tetap berhati hati. Aku akan memerintahkan beberapa polisi menggantikan penjagaan anak buah Bertho, kau naiklah, aku akan mengawasimu terlebih dulu," balas Kepala Polisi Devon.


Egnor mengangguk dan memasukan pistol ke saku celananya terlebih dulu sebelum merangkul Claudia menaiki apartemen.


"Clau, kau baik baik saja?" Tanya Egnor berjalan ke arah lift.


Claudia mengangguk dan juga terus merangkul pinggang suaminya.


"Tenanglah, aku sudah ada di sini, tapi bagaimana hal ini terjadi hah?" Selidik Egnor menoleh ke bawah istrinya.

__ADS_1


"Aku yang salah kak, aku benar benar lalai dan tidak memikirkan resiko yang ada. Aku hanya ingin membantumu," jawab Claudia sedikit takut dan terbata..


Seketika Egnor menghentikan langkahnya sebelum sampai ke lift. Dia mengingat penawaran Dawney yang mungkin sampai di telinga Claudia.


"Apa yang kau lakukan Claud?!" Tanya Egnor tiba tiba dengan nada suara berubah dan menarik dirinya dari pelukan Claudia. Egnor menatap Claudia dengan sangat tajam seakan akan Claudia hendak melakukan kesalahan terdalam.


"Aku, aku, aku mengirim laporan negara ke United Nations dengan cara meretas kode ip negara, maafkan aku, aku aku hanya ingin membantumu, maafkan aku!" Jawab Claudia memeluk Egnor lagi dan menangis. Dia takut kalau suaminya menganggap dirinya teledor dan gegabah tanpa seijinnya. Namun, Egnor malah lega karena buka yang ia maksud.


"Claudia! Ini terakhir kau melakukannya! Jangan lakukan apapun tanpa sepengetahuanku! Aku tidak mau terjadi apa apa lagi padamu. Lihat mataku Clau!" Kata Egnor menarik diri kemudian memegang kedua tangan istrinya dan kini menatapnya dengan teduh dan seksama.


"Clau, pandang aku, aku ingin berkata kepadamu!" Pinta Egnor agak merendahkan dirinya sampai sejajar dengan istrinya.


Claudia menatap suaminya dengan mata yang berkaca kaca. Terlintas kata tampan dan nyaman melihat wajah suaminya. Ingin sekali ia menciumnya agar ketakutan ini segera usai atau kalau saja ada sebuah tombol yang bisa membawanya pergi ke tempat yang berbeda. Kini Claudia mengerti apa yang dikatakan suaminya mengenai liburan ke pulau tak berpenghuni.


"Claudia! Aku mau kau berjanji padaku! Apapun yang terjadi, ancaman atau tantangan apapun, permintaan apapun, keinginan apapun yang melibatkan dirimu, kau harus menolaknya! Atau kalau mereka membawa bawa namaku, jangan pernah percaya karena yakinlah kalau suamimu tidak akan terjadi apa apa. Suamimu akan baik baik saja. Kau mengerti Clau?" Tutur Egnor sedikit menghentakan lengan Claudia.


Claudia mengangguk berusaha mencerna kata kata suaminya dan memahami dengan apa yang terjadi.


"Kak, jika mereka mengincar ku, aku tidak akan membiarkannya, karena aku yakin kau yang selalu dihatiku memberiku kekuatan agar aku tetap bersama denganmu di sampingmu, bukan begitu kak?" Balas Claudia juga ingin menenangkan hati suaminya.


"You are really my wife. You are the best the only one that i want!" Balas Egnor dan langsung meraih bibir Claudia. Dia mencium Claudia dengan sedikit penekanan dan rengkuhan yang mendominasi. Claudia pun meraih belakang kepala Egnor dan mencengkramnya lembut merasakan kecupan dan belaian indera perasa suaminya yang menerobos masuk ke dalam mulutnya.


...


Markas Besar United Nations


"Tuan Besar Morris, ada laporan masuk dari Honolulu," kata asisten Andreas menyerahkan berkas yang sudah ia print out.


"Honolulu? Gonzaga Moralez? Bukankah dia tewas karena kecelakaan kapal pesiar menuju kemari beberapa bulan lalu?" Saut Andreas menerka dan belum tahu akhir dari kecelakaan itu. Seketika informasi di tutup oleh pihak Honolulu.


"Benar tuan!"


"Lalu, bagaimana negaranya? Apakah mereka sudah melakukan pemilihan kepala pemerintahan? Mengapa laporannya belum masuk? Apa ini laporan yang hendak mereka sampaikan? Tidak biasanya terjadi keterlambatan. Apa benar kecurigaan wanita tua itu?" Tanya Andreas lagi yang sebenarnya ingin menindak lanjuti semua kasus aneh yang tidak terselesaikan di Honolulu.


"Sudah kukatakan tuan, dia Brigitta Moralez, istri dari Tuan Gonzaga!" Bisik asistennya. beberapa Minggu lalu, ketika Andreas Morris mengemban misi pembangunan di Indian, dia menemukan sosok wanita tua dengan pakaiannya yang tampak rapi tapi namun duduk di depan toko yang tertutup. Andreas seperti mengenalnya dan bertanya siapa beliau. asistennya lalu mengatakan kalau sepertinya beliau ada hubungannya dengan Gonzaga. wanita itu mengatakan kalau dirinya istri Gonzaga yang hak keadilan bagi nyawa suaminya ditentang. akhirnya Andreas membawa wanita itu kesini karena dia tidak memiliki keluarga lagi.


"Kemarikan laporannya dan bawa wanita itu kemari!" Perintah Andreas menegakan tubuhnya lalu membaca berkas laporan yang sudah asistennya lampirkan pada sebuah map. Sementara asistennya, Paul memanggil Brigitta, wanita yang mengaku istri dari Gonzaga.


"Egnor Jovanca? Aku pernah sekali bertemu dengannya? Benar benar ada yang tidak beres. Tertanda di bawahnya Claudia Jovanca. Apakah ini istri dari Egnor? Ah membingungkan," keluh Andreas lalu meraih ipadnya. Dia mengetik kata Honolulu pada situs pencarian dan terpampang para pemimpin yang baru sementara Andreas belum mendapatkan kabar apa apa mengenai hasilnya.

__ADS_1


"Pantas saja mereka belum mengirimkan data pemilihan kepala pemerintahan yang baru," kata Andreas menerka.


"Apa sekarang kau masih menganggap ku wanita tua yang tidak waras? Aku korban dari keserakahan orang orang yang berkuasa di Honolulu. Aku pergi dari sana sebelum mereka mengasingkanku! Aku tahu di mana orang orang yang seharusnya berkuasa di Honolulu. Mereka ada di Indian. Sebaiknya cepat kau selamatkan mereka untuk membantu Egnor. Egnor, orang kepercayaan suamiku!" decak wanita bernama Brigitta itu memasuki ruangan Andreas.


"Kalau begitu gunakan hak otentiknya, walau dia bukan kepala pemerintah, dia bisa menggunakannya!" saut Andreas memperhatikan Brigitta.


"Aku curiga mereka telah berhasil memiliki surat tersebut karena kudengar Egnor juga tidak bisa melawan mereka," kata Brigitta dengan wajah datar.


Andreas mencoba berpikir. Surat itu sangat penting karena merupakan identitas dari negara itu sendiri. United Nations memang sudah menetapkan surat otentik dan kuasa hukum di setiap negara harus memilikinya karena merupakan hak untuk menjalankan fungsi kuasa dan hukum itu sendiri. Percuma kalau surat itu tak ada sekalipun.


"Paul, minta data hasil akhir penghitungan cepat suara pemilihan kepala pemerintah Honolulu yang sebenarnya dan serinci mungkin. Hanya kepala pemerintah yang sebenarnya yang bisa membuat salinan surat otentik dan kuasa untuk juga bisa menjabat," pinta Andreas pada asistennya.


"Segera tuan,"


"Dan sementara laporkan pada Egnor orang orang yang Nyonya Moralez maksudkan sebagai balasan laporan istrinya lalu kirim agent intelijen ke Honolulu untuk mengumpulkan bukti kejahatan yang dilakukan oknum oknum penguasa negara tersebut!" Kata Andreas lagi. Dia jadi sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Siapa yang tega melakukan ini semua. Belum ada sebelumnya perang selisih seperti ini sampai ada pesan terselubung yang dilakukan secara diam diam.


"Benedict dan Gerrardo, mereka ada di Indian, Andreas! Cepat selamatkan mereka! Dan, aku yakin dalang dari semua ini adalah Richie Gabriane, apa kau mengenalnya?" ujar Brigitta lagi.


"Presiden Direktur Gabriane Property?" saut Andreas memastikan.


"Ya, bukti mengarah kalau dia menyuruh orang menukar ramalan cuaca sehingga tejadi kecelakaan kapal pesiar tersebut yang menyebabkan suami dan anakku tewas!" Kata Brigitta menangis mengingat suami dan anak bungsunya. Sementara anak sulungnya yang perempuan harus ikut bersama suaminya tinggal di Japanis.


"Aku akan mengumpulkan bukti lebih dalam lagi. Kau tenang saja Nyonya Brigitta. Kau akan kembali ke Honolulu. Untuk sementara kau di sini saja. Aku pasti akan membantu Tuan Egnor dan menyelamatkan Tuan Benedict dan Tuan Gerrardo," kata Andreas lagi bertekad.


Brigitta hanya mengangguk dan masih menangis. Dia kembali merindukan suaminya.


...


...


...


...


...


lanjut di bawah ya 😁


tetap minta LIKE dan KOMEN nya yaaa

__ADS_1


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2