
Pada akhirnya semua akan kembali ke tanah. Apa yang kita kumpulkan di dunia nyatanya tidak bisa di bawa ke alam lain dan terbawa dalam petipun akan menjadi satu dengan tanah. Harta dunia tidak akan memuaskan sampai ke dunia akhirat. Namun bagaimana dengan dendam, tamak, merasa paling hebat dan melakukan semuanya dengan kelicikan, tipu muslihat? Hal ini yang malah diperhitungkan di atas sana kau akan merasakan kesejukan atau kegersangan. Masih tak habis pikir bagaimana semua ini terjadi? Semuanya terjadi begitu saja. Para penjahat berlarian dan membentuk satu kesatuan hanya untuk menyerang seorang Egnor. Egnor yang sedari awal hanya mengandalkan pikiran, kini malah memancing mereka semua keluar dari sangkarnya. Satu per satu Egnor bertanggung jawab atas semua ini. Lalu, apa tanggapan kerabat Egnor termasuk Frank dan Grace atas kejadian yang melibatkan Willy dan Claudia?
...
Suasana ruang pengadilan semakin riuh. Leola tentu saja terus meronta dan berteriak untuk melepaskan dirinya. Sementara Abed terdiam ketika petugas memegangnya. Semua mata jelas tertuju pada mereka. Egnor sudah menghampiri petugas dan meminta anaknya yang tidak lain adalah Willy. Egnor pun menyerahkan pada Lisa. Dia lalu menghampiri Frank masih masih bersama Grace. Frank pun memberikan hasil rekaman yang waktu itu ketika pertama kali mereka datang ke apartemen Leola dua haru silam. Egnor melihatnya dan sangat terkejut karena Leola merupakan anggota sindikat perdagangan senjata ilegal dan beberapa obat obat terlarang dalam artian seperti ramuan ciptaan terlarang yang tidak boleh diperjual belikan. Egnor memang sudah curiga ketika melihat apartemen yang sepi penghuni dan bangunannya agak tua.
Egnor lalu menatap Leola juga Abed di sana. Dia menghampiri mereka sekalian memberikan bukti rekam tersebut pada Benedict.
"Siapa namamu?" Tanya Egnor memegang dagu Abed.
"Abed, dia Abed suamiku, kau mau apa?" Teriak Leola yang menjawab pertanyaan Egnor untuk suaminya.
"Siapa namamu?" Egnor kembali bertanya dan menyuruhnya menatap kedua mata Egnor.
Abed menatapnya tetapi sangat sayu dan tidak bergairah menjalani hidup.
"Nyonya Leola, aku bisa sekarang juga menyuruh orang pengadilan memenggal kepala suamimu dan memeriksa apa yang sudah ia konsumsi! Dengan kata lain kalian bisa mendapatkan hukuman mati!" Gumam Egnor menatap sinis Leola.
Leola terdiam.
"Suamimu mengkonsumsi sesuatu kan? Siapa suamimu sebenarnya?" Tanya Egnor lagi ingin mendengar langsung dari Leola atau Abed.
"Tidak, kami, kami hanya bawahan," bantah Leola masih berkelit.
"Aku hanya ingin mengetahui dalangnya. Cepat katakan!" Teriak Egnor tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Kalian akan membebaskan kami?" saut Leola masih memikirkan bagaimana dirinya bisa terbebas.
"Cih, bebas membebaskan apa kau bisa bebas dari lingkaran kejahatan yang sudah kau lakukan? Sekali kau masuk atau bahkan mencoba sedikit saja, kau akan terperosok jauh lebih dalam lagi, wanita!" decak Egnor tidak terpengaruh dengan tawaran yang ada.
"Tuan Egnor, kami hanya bawahan, kami hanya alat," saut Leola mengakui dengan menundukan kepalanya.
"Kau yang mengakui, jadi siapa dalang yang sebenarnya sudah terlintas di otakku?!" tanya Egnor lagi membentak.
"Ya, kau pun sudah tahu kan?" gumam Leola pasrah.
"DEVOON!!" teriak Egnor kemudian.
"Siap tuan?!" saut Devon menegakan tubuhnya.
"Cari di semua tempat pria dan wanita itu. Minta foto keduanya dari Frank. Aku mau kau membawa mereka hidup hidup di hadapanku!!" perintah Egnor kemudian.
"Ron dan Elizabeth tinggal tidak jauh dari apartemen kami tuan. Ada sebuah rumah yang memiliki ruangan bawah tanah. Mereka ada di sana membuat semua racikan dan kami yang membantunya," tambah Leola lagi karena sudah tidak ada gunanya dia membangkang. Mungkin ini sudah akhir hidupnya.
"Good answer Nyonya Leola !! Ya, kau bisa selamat sekarang! Benedict, tetapkan mereka hukuman penjara seumur hidup di Penjara Pembuangan Indie. Sekali melakukan kesalahan langsung saja penggal kepala mereka. Sebenarnya aku malas mengurusi hal hal kecil ini sangat membuang waktu!" decak Egnor berbalik.
"Ya, kau tenang saja, semua akan terungkap perlahan!" Gumam Benedict dengan tenang. Dalam hati juga ada perasaan tenang karena bisa memenangkan kasus Willy.
"Ya termasuk urusan kita! Kau masih dalam pengawasanku Benedict?" tambah Egnor.
Benedict hanya menampilkan wajah pasrah tapi juga mengikuti apa yang akan diperbuat Egnor karena dengan beraninya mengajukan ide gila membelah bayi menjadi dua.
"Devon, kau sudah dengar ibu tua itu kan? Ringkus mereka semua hati hati dan serahkan padaku!" Perintah Egnor lagi pada Devon dan dia kembali menghampiri Frank. Frank terus menundukan kepalanya dan menutupnya.
"Frank? Be strong! Sebentar lagi kau akan melihat dan pertanyakan semuanya! Ayo pulang! Jangan cengeng seperti ini! Apa pantas kau tangisi orang yang menyakitimu TERUS MENERUS!" bentak Egnor menguatkan anak buah kepercayaannya.
"Dia menyakiti Willy, tuan. Aku yakin hanya karena sebuah dendam," tutur Frank dengan nada menyesal.
__ADS_1
"Tenanglah, semua akan ada pembalasannya. Grace, bawa suamimu pulang. Hari ini sudah cukup!" kata Egnor.
Grace mengangguk dan merangkul suaminya. Grace tau bagaimana rasa kecewa kembali melingkupi suaminya. Sudah lama sekali mereka berdua mencoba memakulumi semua. Ingin rasanya melupakan dengan masa lalu yang begitu pahit dan mencoba mengulang lagi. Sampai ada niatan Grace dan Frank mengunjungi wanita yang mereka anggap seorang wanita suci yang harus dirawat. Mereka hendak menjemput Elizabeth dan menuntun kembali ke jalan yang sesungguhnya tapi ketika semua itu hanya sebuah rencana yang sepertinya sulit untuk dibuat lagi di waktu yang akan datang.
Sementara Egnor menghampiri istri dan anak anaknya. Egnor merasakan peluh dan lelah dari istrinya. Dia mengusap pelipis Claudia memandang Willy.
"Sudah selesai, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi," ucap Egnor dengan wajah yang serius.
Claudia menggeleng dan tidak mau menyalahkan siapa siapa. Egnor pun meraih Wilson dari Claudia karena Claudia ingin mendekap Willy. Lisa pun memberikan Willy pada Claudia.
"Kita pulang, bersihkan Willy, dan Lisa? Panggil Dokter anak untuk kembali memeriksa anakku apakah ada sesuatu yang salah," pinta Egnor pada Lisa.
Lisa mengangguk setuju. Mereka semua pun kembali ke tempat tinggal mereka masing masing. Johanes dan Anne pun kembali ke rumah terlebih dulu. Karena suntikan waktu itu, Anne lebih banyak diam karena Lisa memprediksi obat yang disuntikan pada Anne adalah obat yang mematikan sel saraf untuk berpikir dan bisa kembali dalam beberapa bulan. Hal ini juga yang membuat Egnor harus melihat wajah Ron dengan mata kepalanya sendiri. Semua keluarganya menjadi korban.
Sekembalinya ke apartemen, Egnor duduk di sofa menarik napas dan beristirahat sejenak sementara Claudia mengurus anak mereka dengan bantuan Lisa dan Lina. Lisa sudah mengutus seorang suster yang akan membantu Claudia setiap hari waktu siang ke sore. Namun, Egnor tetap meminta orang darinya yang menjaga Claudia dan anak anak mengingat Anne yang masih kurang sehat. Setelah semuanya selesai dan dokter anak juga memastikan kesehatan Willy, mereka semua pulang dari apartemen Egnor. Claudia pun mencari cari keberadaan suaminya yang belum masuk ke kamar.
Claudia tersenyum melihat suaminya di sofa menyandarkan tubuhnya terasa lelah. Claudia menghampirinya. Dia mengelus dahi Egnor yang sesaat seperti tetesan embun melingkupi tubuh pria itu. Egnor pun memegang punggung tangan Claudia dan masih memejamkan mata. Satu tangan Claudia yang lain membuka kancing kemeja Egnor perlahan demi perlahan.
"Kau butuh berendam sayang," bisik Claudia. Egnor meraih pergelangan tangan Claudia dan masuk dalam pelukannya.
"Aku membutuhkanmu," kata Egnor menatap Claudia, mengabsennya dari ujung keningnya , mata, hidung, dan seluruh wajah yang membuatnya selalu tenang.
"Terimakasih kak," ucap Claudia juga memegang wajah suaminya.
"Egnor, Clau," ujar Egnor menatap Claudia penuh kemesraan.
"Ya, terimakasih Egnorku! Kau memang penyelamat, bukan hanya penyelamat keluarga tetapi semua! Kau yang terbaik," ucap Claudia lagi membelai mesra pipi Egnor.
"Jadi apa yang bisa kudapatkan darimu Clau? Hari ini sepertinya penat tapi mungkin dengan sentuhan dan pelayananmu semuanya akan terobati, honey!" saut Egnor mulai mengecupi dagu dan pipi Claudia.
"Hem, kau masih saja berpikiran itu. Kau tidak memikirkan tuntutan mu atas Gabriane tua itu?" Claudia berdecih.
"Kak, di sini lagi?"
Egnor mengangguk sudah merebahkan Claudia di atas sofa panjang itu dan melepas kemejanya.
"Setelah ini kau harus berendam agar tidak terlalu lelah sayang," kata Claudia mengingatkan.
Egnor mengangguk dan kini menerjang Claudia. Mencium bibir istrinya itu dengan lembut dan menaikan satu tangan Claudia di atas kepalanya. Satu tangan Egnor tentu sudah meraih sebelah buah dada Claudia yang begitu menantang untuk dimainkan sejenak.
"Apa kau kekurangan ASI lagi Clau?" masih sempat sempatnya Egnor bertanya.
Claudia menggeleng tersenyum tapi Egnor tidak puas dengan jawaban itu. Dia pun membuka kancing kemeja pakaian Claudia karena semenjak menyusui Claudia harus mengenakan pakaian dengan bukaan depan.
"Kak, aku serius! sekali kau menghisappnya maka akan keluar di seluruh mulutmu!" kata Claudia memperingati.
"Ehm, begitu ya? aku jadi ingin merasakannya, tapi baiklah kau bebas kali ini, Aku hanya ingin memijatnya!" Gumamnya kini mengecupi leher Claudia perlahan sampai Claudia melenguh tak karuan dan meremass lembut rambut suaminya itu.
Egnor hanya memijat kedua gundukan kenyal itu dan mengendusinya. Dia bahkan tidak membukanya. Dia tahu semua itu sudah ada yang lebih berhak dan dia akan mendukung istrinya untuk memberikan sesuatu yang sehat untuk anak anaknya.
Tangan Egnor pun beralih menyibak rok dress Claudia dan menarik apa yang tertinggal di dalam sana. Claudia sudah pasrah dengan apa yang suaminya inginkan. Ini juga merupakan cara seorang istri membuat sang suami lebih tenang dalam menjalani hari harinya. Egnor memang selalu meminta pada Claudia jika kepenatan sedang melanda dan akan sirna ketika sudah melakukannya sehingga dia bisa berpikir jernih dalam menentukan setiap keputusan.
Tak butuh waktu lama untuk Egnor membuka setengah celananya dan melakukannya di sofa panjang itu.
"Aahh kak.." lenguhan pertama telah terdengar dari mulut Claudia dan dia makin mendongakan kepalanya.
"Egnor, Clau!" Pinta Egnor makin menghujam Claudia dan mengecup kembali leher istrinya.
__ADS_1
"Ya, Egnor, ah pelan pelan Egnor!" desah Claudia terus menyebutkan nama suaminya.
Egnor tidak bisa menahan dan tidak mempedulikan istrinya yang sebenarnya sangat menikmati permainan. Hentakan demi hentakan diterima Claudia sambil mengeluarkan suara suara parau yang membuat Egnor makin bersemangat. Tak ayal mereka sambil berciuman dengan rakus dan bergairah. ******* demi ******* terjadi menghiasi pergulatan panas mereka.
Egnor terus melakukan tugasnya dengan sangat bergairah ditambah pemandangan Caludia yang menurutnya makin berisi tetapi sangat sintal. Apalagi buah dada ranum yang walau tertutup tetap masuk dalam bayangan Egnor. Dan, sampai terdengar sebuah suara bel pintu apartemennya.
"Oh shit! Who is the f*cking visit?! oh damn!!" Decak Egnor tapi terus menelusuri liang senggama Claudia tanpa mengurangi ritme pergerakan tubuhnya di atas Claudia.
"Argh, ada yang datang Egnor, Ahh," saut Claudia terus mengikuti pergerakan Egnor.
"Biarkan saja!"
"Wil Wil akan terbangun!"
"Sebentar lagi Clau," Egnor terus menghentakan tubuhnya karena waktunya sudah tiba.
Ting tong!
"Kak Egnor!"
"Aaaargh, aaah, gggrrrr!!!" Egnor mengerang bersamaan dengan keluarnya lelehan cinta itu membasahi sisi sisi kewanitaan Claudia.
"Cepat masuk ke kamar biar aku yang temui!" Perintah Egnor sambil mengenakan celana dan pakaiannya.
"Kau tetap harus berendam!"
"Iya Clau!"
Claudia pun segera masuk ke dalam kamar dengan membawa celana dalamnya sementara Egnor melihat siapa yang berani beraninya menganggu kegiatan kesukaannya.
...
...
...
...
...
😎😎😎😎😎
.
next ya dibawah 😝😁
tetep masuk part 131
siapakah yang datang rese baaat?
😂😂
.
Jangan lupa tetep kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
__ADS_1
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤