
Satu episode menjelang tamat ..
Maafkan penulis ini yang tetap pada alur yang penulis tetapkan ..
Maafkan banyak komentar kalau penulis pemula ini bisa mengaduk aduk perasaan kalian ..
Walau sebenarnya novel ini terselip cerita nyata dan beberapa adegan yang sudah ada di dalam film tapi semuanya adalah pengembangan dari pikiranku yang pada akhirnya tetaplah cerita fiksi romantis jadi bijaklah dalam membaca ..
Mohon maaf jika masih ada typo dan kata kata yang tidak sesuai ..
Nobody's Perfect ! Tapi vii membuat semua sebagai pembelajaran ..
Untuk ucapan terimakasih di next episod ya ..
Yuk kita balik ke ujung dari cerita Egnor dan Claudia ini ...
...
Ketika kata kata yang terucap sudah tidak bisa lagi mengartikan rasa yang ada. Ketika perbuatan sudah menjadi ciri khas dan tidak bisa mengartikan ketulusan yang sejati. Ketika ragamu tidak bisa lagi mengartikan penyesalan yang yang terjadi. Pada akhirnya Egnor menyadari kalau tidak mudah menyerahkan hati yang sudah patah tapi di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kesalahan pasti pernah terjadi, sekalipun manusia itu terlihat sempurna dengan pekerjaan dan harta berlimpah. Lalu, bagaimana Claudia akhirnya memutuskan?
Egnor melintasi lorong rumah sakit sambil membenarkan jas nya bersama Gabriel yang mendampinginya. Pagi tadi, selain Viena yang menghubunginya karena Wil Wil menangis terus menerus, dokter Lim juga menghubungi Egnor kalau Bruce sudah mendapatkan kesadaran dan mulai berkata kata walau terbata. Kalimat terakhir malam kemarin dia ingin bertemu dengan Egnor. Biar bagaimana pun dia harus menyelesaikannya sampai tuntas dan jika Bruce sudah mendapatkan kesehatannya dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan hukuman yang setimpal.
Sementara untuk masalahnya dengan Claudia, Egnor memang sengaja memberi Claudia waktu untuk berpikir memaafkannya. Egnor memiliki keyakinan kalau istrinya akan memaafkannya. Lagipula Cluadia harus mengurus bibinya dulu. Egnor memikirkan untuk kembali ke Japanis dan membawa Wil Wil. Kalau Wil Wil yang bisa membawa istrinya kembali memang cara terakhir, Egnor akan melakukannya dan tidak peduli kalau Claudia hanya mencintai anak anaknya ketimbang dirinya. Egnor hanya ingin terus bersama Claudia. Menikmati hatinya pagi dan malam. Melihatnya saja sudah membuat Egnor tenang.
Sampailah Egnor memasuki kamar perawatan Bruce. Gabriel membukakannya. Di sana seorang suster sedang menyuapi Bruce yang cukup sulit membuka mulutnya . Dia harus melakukan ini jika ingin bertahan hidup. Namun, lagi lagi dia tersedak karena terlalu memaksakan mulutnya terbuka dan tak lama napasnya sesak.
"Ehem," Egnor berdehem dan suster itu berdiri memberi hormat pada Egnor dan Gabriel.
"Tuan Egnor? Tuan Bruce sudah menunggu anda, silahkan. Saya akan memanggil Dokter Lim," kata sang suster langsung meninggalkan ruangan.
Bruce lalu menoleh perlahan ke arah Egnor yang juga berjalan mendekatinya.
"Selamat siang! Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Egnor di depan tempat tidur Bruce. Bruce mengangguk pelan.
"Ma af!" Tak lama Bruce mengatakan kata itu dengan sangat terbata dan berat.
Kini Egnor yang mengangguk. Gabriel menundukan kepalanya karena tidak tega melihat kondisi seorang yang kuat dan sebelumnya tanpa takut tapi kini berkata kata singkat pun teramat sulit. Kondisi Bruce saat ini memang sangat mengenaskan.
"Aku, aku harus mengatakan sesuatu padamu!" Kata Bruce lagi dengan sangat pelan, tersendat dan dia terus meneguk ludahnya agar lebih mudah berkata kata.
"Kau bisa menulisnya kalau kau tidak sanggup berkata kata," saut Egnor memberi saran terbaik.
"Kedua tangannya sudah lumpuh, Tuan Egnor. Obat tersebut menyerang sistem saraf dan otot. Awalnya hanya pada wajah dan lengannya tapi sekarang malah merembet ke dua tangannya. Tangannya sama sekali tidak bisa bergerak, tuan," kata dokter Lim yang tiba tiba sudah datang.
Kedua mata Bruce tampak berkaca kaca. Egnor terdiam dengan wajah datarnya. Dia kembali bertatapan dengan Bruce.
"Baiklah, kau bisa mengatakan dengan pelan, aku akan menunggu," kata Egnor kemudian melanjutkan hal yang hendak Bruce katakan.
__ADS_1
"Tolong urus semua aset ku di Japanis. Aku menyerahkan padamu. Terserah apa yang hendak kau lakukan. Aku tidak mempunyai siapa siapa. Seharusnya aku menghargai Kate yang telah mengandung anakku. Sampaikan maafku padanya. Aku tahu, aku tak pantas meminta maaf padanya. Aku juga meminta maaf padamu, inilah balasan yang kuterima dan sepertinya usia ku tidak akan bertahan lama. Jangan mempertahankan penjahat hina sepertiku. Sejak awal sampai sekarang akhir aku memang akan hina apapun yang kulakukan. Satu lagi Egnor. Aku memiliki pulau yang kubeli secara paksa pada pemerintah. Aku mengancamnya untuk mempunyai hak atas pulau itu. Tolong kembalikan. Buatlah pulau tersebut sebagaimana yang sesungguhnya. Hanya ini yang bisa kukatakan. Setidaknya aku masih bisa melakukan hal yang benar di sisa hidupku. Terimakasih," kata Bruce dengan ritme yang tentu saja sangat pelan, butuh waktu yang lama dan terbata.
Beberapa kali Dokter Lim memberikan air minum pada Bruce untuk menyelesaikan kata kata terpanjang yang Bruce keluarkan selama masa kesadarannya yang tetap menyiksa dirinya.
Egnor masih menatap Bruce yang sedang menormalkan napasnya. Dia tahu apa yang Bruce rasakan saat ini. Egnor pun sudah tahu takdir seperti apa yang akan menjemputnya.
"Gabe! Periksa seluruh kekayaan dan aset keluarga Dalton yang ditunjukan pada Bruce. Cairkan semua dan sumbangkan sebagian ke pemerintah Japanis lalu sebagiannya lagi ke seluruh panti asuhan disabilitas, anak terlantar dan gangguan mental. Lakukan!" Perintah Egnor masih menatap Bruce. Muncul buratan senyum kecil di mulut Bruce. Tak lama dia memejamkan matanya.
"Untuk pulaunya tuan?" tanya Gabriel memastikan. Egnor berpikir dan dia mengingat cerita Claudia mengenai ketulusan Richard memberikan Lisa sebuah pulau.
"Periksa apakah sudah ada di peta? Apapun itu kembalikan dulu pada pemerintah lalu negosiasikan untuk PENGALIHAN PEMILIK ATAS NAMA CLAUDIA STEPHANIE GIE," jawab Egnor menundukan kepalanya membuat keputusan pada hatinya.
Seketika Gabriel terkejut apa yang tuannya katakan. Entah mengapa hatinya bergetar. Dia mendongakan kepalanya. Begitu juga dokter Lim yang menatap Egnor penuh tanda tanya. Bruce masih memejamkan matanya tapi senyumnya seketika hilang.
"Tu, tu, tuan? Apa yang kau katakan? Nyonya Claudia Stephanie Gie? Dia masih istrimu tuan," Gabriel mengingatkan dengan hati yang ikut meringis.
Egnor menggeleng.
"Aku tidak mau berharap. Kalau Claudia sudah tidak bisa memaafkanku, aku tidak memiliki hak, tapi setidaknya aku bisa memberikan sebuah kenangan atau bentuk terindah di sisa masa hidup kita," jawab Egnor agak berserak.
"Tapi tuan,"
"Apa yang sudah kuucapkan lakukan saja!"
"Egnor ... Maaf, aku yakin istrimu masih mencintaimu, aku yakin!" Kata Bruce lagi dan dia terbatuk. Matanya masih terpejam dan dia menarik napas panjang panjang lalu memiringkan kepalanya berserah. Habislah hembusan napasnya.
Egnor menunduk. Dia tahu ajal teman kuliahnya ini sudah dekat dan mengatakan kata cinta. Dokter Lim kembali memeriksa dan memang nadinya sudah lenyap.
Gabriel juga menundukan kepalanya. Mengapa dia harus menjadi saksi adegan mengharu biru ini.
"Urus pemakamannya dokter Lim. Aku akan mengutus Moses untuk membantumu!" Kata Egnor lalu meninggalkan kamar itu. Gabriel pun memberikan hormat pada dokter Lim dan mengikuti tuannya.
Egnor berjalan cukup cepat dengan rasa sesalnya . Dia tahu apa yang hendak Bruce maksudkan. Sejak awal Claudia tidak salah apa apa tapi dia malah mengutuk dan mencaci maki wanita itu. Ini semua kesalahan Bruce dan semua kejahatannya tapi Egnor memperlakukan istrinya sendiri seperti sampah. Egnor mengusap matanya. Dia mengingat dan merindukan Claudia.
"Tuan, ini ponsel ada, ada nomor Japanis yang terus menghubungi anda," kata Gabriel yang menerima ponsel Egnor ketika tiba dari Japanis. Baterai ponselnya habis dan dia langsung menuju ke rumah menemui anak anaknya.
Egnor menggendong Wil Wil bersamaan sama seperti ketika mereka berdua lahir.
"Gabe, cepat urus pulau itu dan aku akan memberikan pulau itu sebagai hadiah anniversary ku dengan Claudia," kata Egnor ketika Gabriel sudah melajukan mobilnya.
"Bukankah anniversary mu masih tahun depan tuan?" saut Gabriel mengingatkan tentang tanggal 29 februari yang masih satu tahun lagi.
"Persetan dengan kabisat itu. Kalau tidak ada tanggal 29 Febuari maka adanya tanggal 1 Maret. Lusa sudah tanggal 1 Maret. Aku mau kau sudah menangani semuanya! Sampai akta kepemilikannya. Lusa aku akan ke Japanis lagi!" perintah Egnor pada akhirnya.
"Siap tuan!"
"Hem, Gabe, lakukan sesuatu untukku. Ini cara ku yang terakhir untuk kebahagian Wil Wil dan cinta pertama juga cinta terakhirku. Agak beresiko tapi aku tetap ingin melakukannya," kata Egnor lagi memijat dagunya.
"Apa tuan?"
__ADS_1
Egnor memberitahu Gabriel apa yang ia rencanakan. Gabriel tersenyum lebar. Dia tahu tuannya tidak akan membiarkan wanita terakhir dalam hidupnya begitu saja. Dia pasti mempunyai seribu cara untuk meluluhkan nyonya Jovanca itu.
Japanis,
Claudia memegang tangan Cleona dan mengelus punggung tangannya. Dia menunggu bibinya itu yang masih bersenandung lagu kesukaannya dan Egnor 'one and only' by Adele.
Sampai akhirnya lagu itu selesai. Wanita paruh baya itu masih berbaring dan menoleh ke arah Claudia.
"Clau ..." panggil Cleona memastikan tidak tertular antara Claudia dan Clauna.
"Dia," Claudia mengoreksi.
"Claudia ... Maaf aku masih seperti melihat Clauna padahal aku tahu kenyataannya. Dia telah menemui kakek dan nenekmu dan suatu saat aku juga akan menyusul," ujar Cleona menatap langit langit kamar.
"Jangan katakan itu dulu. Aku masih mau bersamamu! Aku rindu dekapan saudara kembar mu bibi. Dan apa kau tahu bibi kalau aku memiliki dua anak kembar laki laki," saut Claudia tampak antusias menceritakan anak kembarnya. sejatinya dia merindukan kedua anaknya itu.
Cleona membelalakan matanya. dia kembali menoleh Claudia.
"Aaahh, dua anak kembar laki laki? Dia pasti sangat tampan seperti ayahnya. Lalu, di mana pria terakhirmu itu?" tanya Cleona seketika.
"Terakhir?" Claudia bingung dengan penuturan bibinya.
"Ya, jadi aku harus mengatakan apa? Egnor Victor Jovanca ..." saut Cleona lagi memastikan.
"Kau tahu nama lengkapnya?" Claudia terkesan. Cleona tersenyum dan kembali menatap langit langit.
"Sangat. Aku memujanya ketika aku membacanya di surat kabar. Dia sosok penyelamat yang dinantikan rakyat Japanis. Dia sungguh tangguh tapi apa kau tahu Claudia, aku merasa dia memendam sakit dan ketakutan. Di hatinya yang paling dalam dia rapuh. Dia seperti kehilangan jati diri tapi sebisa mungkin dia menahannya. Pria memang seperti itu. Kelihatannya kuat, egois dan penuh amarah tapi sebenarnya dia sangat membutuhkan cinta. Dia tidak mau menunjukannya apalagi dia melihat orang orang yang membutuhkannya. Claudia, ada sebuah cinta dan obsesi yang dia harapkan darimu. Dia tidak ingin siapapun. Matanya sungguh hanya menginginkan dirimu. Satu-satunya. Aku bukan peramal tapi sepertinya kau pernah meninggalkan sayatan luka yang begitu panjang sampai memenuhi seluruh tubuh serta dalam jiwanya. Jiwanya yang kau hancurkan sampai titik darah penghabisan. Oh nak, mengapa kau melakukannya? Namun sepertinya dia baik baik saja dan dia malah ingin terus melakukannya lagi. Kau tahu, Kau adalah patah hati yang paling ingin ia ulang dalam hidupnya oleh sebab itu dia mau berdiri lagi untuk mendapatkanmu. Sadarlah Claudia. Jangan berikan sayatan apapun lagi padanya. Maafkan setiap kesalahannya karena dia hanya tahu cinta yang bercampur obsesi itu hanya denganmu. Kau! Satu satunya yang ia inginkan! Percayalah, kisah ini benar nyata ketika cinta pertama menjadi cinta terakhir. Aku jadi ingin kembali bernyanyi. You're the only one that i want ... So, ke mana dia? Aku ingin bertemu dengannya ..." tanya Cleona pada akhirnya menoleh ke arah Claudia.
"Sudah pergi. Aku kembali membunuhnya, bi!" Jawab Claudia sudah menangis jengkar di lengan Cleona. Cleona hanya tersenyum tipis sambil mengelus puncak kepala keponakannya.
Cleona tahu, ini penyiksaan dan ujian terberat dalam sebuah hubungan ketika maut saja sulit menyatukan mereka. Hanya kesadaran dan keinginan masing masing.
Cleona kembali bernyanyi satu lagu itu dengan pelan tapi sungguh menyayat hati Claudia.
...
waaahh
apa yang akan dilakukan Egnor?
apa dia akan berhasil?
apa Claudia masih berkeras hati?
yaa yang Uda baca mantan terindah mah tau ini hanya mau kasi tau aja kisah dramatis EgClau ini hehe 😁😁
next part 172 end yaa kalo ga tar malem besok 😁
__ADS_1
jangan lupa tetap minta LIKE dan KOMEN nya yaa 😊
Thanks for read and i love you 💕💕