Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 90: Surprise - 1


__ADS_3

Claudia : Mengapa rindu ini menjadi menggebu gebu dan selalu ingin bersamamu? Sampai aku merasakan hanya matamu saja dapat meraba seluruh jiwa dan ragaku. Apa ini sebuah kesalahan?


Egnor : Aku tidak mengerti bagaimana mengartikan kata rindu untukmu. Di tengah waktu yang terus bergulir di lingkaran pikiranku masih terselip namamu untuk selalu ku sebut.


...


Egnor sudah menyuruh Gabriel untuk kembali ke kantor. Dia rasa hari ini cukup untuk menyelidiki dan apa yang harus ia perbuat. Semua sudah ia serahkan pada Frank. Sepertinya dia harus memanjakan istrinya karna besok merupakan ulang tahun Claudia. Dia hanya ingin membuat sesuatu yang spesial untuk istrinya itu.


Karna rasa rindu yang juga sudah melingkupinya mengingat Minggu depan dia harus ke Nederland, dia juga ingin terus bersama Claudia. Sejak menikah rasanya tak sanggup untuk berlama lamaan berpisah. Kemarin saja ketika bertengkar tidak sampai tiga hari mereka kembali bersama. Egnor nerasa harus memanfaatkan waktu yang ada untuk di sisi istrinya.


Egnor memasuki apartemennya dan menemukan Claudia dengan dress terusan tanpa lengan duduk di sofa sambil menyulam. Egnor tersenyum dan sepertinya Claudia tidak mendengar dirinya masuk.


"Honey! Kau harus lebih berjaga jaga! Mengapa tidak mendengar diriku datang?" Kata Egnor melepas jas nya dan menaruhnya di sisi kursi meja makan.


Claudia terkejut mengetahui suaminya pulang. Dia langsung menghentikan kegiatannya dan meletakannya di samping ia duduk. Claudia menghampiri suaminya. Dia mendekati dan langsung memeluknya. Egnor pun menyambutnya.


"Hemm, aku tahu, kau pasti pulang!" Claudia mendekap Egnor dengan sangat erat sambil mengendusi aroma tubuh suaminya. Egnor juga mendekapnya sambil mencium puncak kepala Claudia.


"Di mana aunty Anne?" Tanya Egnor seketika.


"Dia sedang berbelanja. Dia melarangku untuk ikut karna kakiku agak sedikit bengkak kak." Jawab Claudia dengan nada yang cukup manja.


"Oh iya? Coba kulihat?" Egnor menarik dirinya dan sedikit membungkuk melihat apa yang terjadi pada istrinya.


"Tidak terlalu bengkak." Gumam Egnor yang menyadari kaki istrinya masih terlihat slim dan bahkan kecil.


"Tapi agak pegal." Balas Claudia merengutkan bibirnya agar lebih dimanja suaminya.


"Heemm, duduklah!" Kata Egnor menggiring istrinya untuk kembali duduk di sofa. Dia lalu berjongkok di depannya dan meraih kaki Claudia.


"Mau apa kak? Tidak usah, aku tidak mau dipijat." Claudia terkejut suaminya melakukan ini.


"Aku tidak suka dibantah!" balas Egnor memijat pelan kaki istrinya.


"Hemm, baiklah!" Ucap Claudia tersenyum. Sebenarnya dia senang kalau suaminya pulang ke rumah karna ada yang hendak ia tunjukan juga.


Egnor pun memijat kaki Claudia dengan dangat lembut sampai Claudia terbuai. Dia jadi ingin mencium suaminya itu. Tak berapa lama Claudia meraih wajah Egnor.


"Kaakkk .." panggil Claudia mesra. Egnor mendongakan kepalanya menatap istrinya.


"Sudah mendingan kak, sekarang sepertinya bibirku yang harus dipijat." Kata Claudia menggigit bibir bawahnya menggoda.


"Cih!" Egnor berdecih sambil menyeringai. Dia pun beranjak dan menghampiri wajah istrinya. Mereka pun berciuman. Egnor sedikit mengangkat istrinya untuk duduk di pangkuannya. Mereka kembali berciuman sampai terdengar decak saliva mereka. Namun ketika tangan Egnor mulai menggerayangi paha istrinya, aunty nya datang dengan membuka pintu apartemen. Claudia sekejap berdiri di depan Egnor dan ..


"Aahh.." Claudia memegang perutnya karna terlalu terburu buru. Anne bingung apa yang terjadi sementara Egnor langsung juga memegang Claudia agar tidak terjatuh.


"Kau ini Clau! Pelan pelan saja!" Decak Egnor agak sebal dengan kecerobohan istrinya yang terus menerus. Egnor memapah Claudia duduk di sampingnya.


"Iya kak, sudah tidak apa apa." Kata Claudia kini menyandarkan dirinya di sisi lengan Egnor.


"Selamat siang aunty!" Sapa Egnor pada Anne.


"Kau sudah pulang nak?" tanya Anne tersenyum mengetahui maksud menantunya.


"Dia yang meminta." Egnor sedikit melirik ke arah Claudia.


"Ah iya sejak tadi dia menanyakan mu, kakinya agak bengkak Egnor." tamba Anne menuju ke dapur.


"Ya, sudah kupijat aunty!"


Anne tersenyum mendengar nya dan menjadi mengingat seseorang.


"Aku jadi mengingat mom mu, Egnor. Waktu dia hamil dirimu dia selalu menghubungi dad mu agar cepat pulang dari kerjanya. Hem Clau, kau percis sekali dengan kakak iparku. ibu mertuamu." kata Anne memberitahu.


"Yang benar aunty?" Claudia tampak antusias.


"Benar, tapi waktu hamil Viena dia biasa saja malah tidak mau bersama ayah mertuamu, haha kehamilan ini sangat unik jadi kau harus memaklumi Egnor. Walau aku tidak menikah tetapi aku merasakan menjadi seorang wanita itu tidak mudah." ujar Anne memberi nasihat agar Egnor tidak merasa salah paham pada istrinya yang ingin bermanja manja.


"Ya aunty, sebisa mungkin aku akan memberikan yang terbaik untuk Claudia." balas Egnor menoleh ke arah istrinya.


"Begitulah seharusnya. Baiklah aku masak dulu. Ganti pakaianmu Egnor tidak baik membawa hawa luar ketika istrimu sedang mengandung." ujar Anne lagi.


"Iya aunty." Kata Egnor beranjak dari duduknya juga bersama Claudia. Mereka menuju ke kemar sementara Anne menyiapkan makanan.


Ketika di kamar, Claudia menuju ke lemari dan menunjukan sesuatu pada Egnor. Dia menunjukan sebuah jas berwarna biru Dongker dan pada bagian sisi kerahnya terdapat nama lengkap Egnor yang ditulis kecil tegak bersambung dengan tinta hitam agar tidak terlalu terlihat.

__ADS_1


"Kapan kau membelinya honey? Ini cocok sekali denganku!" Kata Egnor cukup antusias mendapatkan hadiah dari istrinya. Dia lalu mencobanya dan sangat fit dengan tubuhnya. Tidak terlalu formal dan juga tidak terlalu casual.


"Aku memesannya dan pagi tadi baru saja tiba setelah kau berangkat bekerja. Sebenarnya aku tidak sabar untuk menunjukan ini sayang." jawab Claudia memberitahu tujuan dirinya menyuruh suaminya pulang. Egnor mengangguk angguk.


"Mengapa ukiran namanya berwarna hitam?" selidik Egnor yang membaca nama lengkapnya.


"Agar hanya aku yang melihat, jadi dengan kata lain kau hanya milikku, my only one!" desis Claudia.


Egnor tersenyum. Dia lalu menghampiri istrinya dan mengecup keningnya.


"Thankyou, honey! You're the best my only one!" Ucap Egnor lagi di depan wajah Claudia. Dan Egnor seperti merasakan kesedihan pada wajah istrinya.


"Ada apa? Ada apa dengan mu sayang?" Egnor menangkap wajah Claudia dengan telapak tangannya.


"Aku pasti sangat merindukanmu ketika kau pergi nanti kak." Jawab Claudia menundukan wajahnya. Egnor tersenyum namun sebenarnya dirinya juga seperti itu. Tapi tetap Claudia yang sepertinya akan kesepian.


"Hanya satu Minggu, honey! Aku akan selalu memberimu kabar. Kita juga bisa terus mengirim pesan. Kau jangan khawatir." Egnor meyakinkan.


Claudia sedikit melirik suaminya.


"Kau yakin kita akan terus mengirim pesan?" selidik Claudia mengingat pasti akan sibuk suaminya di sana.


"Yakin. Aku akan terus mengabarimu dan saat malam kita video call, oke?" Egnor meyakinkan untuk menghilangkan kesedihan pada wajah istrinya.


"Baiklah. Hanya satu Minggu, tidak lebih kan?"


Egnor mengangguk tersenyum. Claudia lagi lagi memeluk suaminya.


"Aku akan menyuruh Grace dan Frank untuk tinggal di sini selama aku pergi. Kau tidak akan sendiri. Aunty Anne juga akan rutin kesini." Kata Egnor mengelus punggung istrinya dengan sangat lembut. Claudia mengangguk dan makin mendekap suaminya.


...


Keesokan hari nya Claudia menahan diri untuk tidak menghubungi suaminya. Hari ini dia berulang tahun. Dia juga tidak mau memberitahu suaminya. Ya, dia hanya berharap dewa cinta menyadarkan suaminya kalau hari ini dia telah berusia 29 tahun. Claudia meminta Anne membantunya memasak. Tadinya Anne menolak namun Claudia memberitahu pada Anne kalau hari ini dia berulang tahun.


"Oh Lord Claudia? Selamat ulang tahun. Aku benar benar tidak tahu. Semoga panjang umur dan sehat bersama bayimu, anakku." Ucap Anne memeluk Claudia. Claudia mengangguk tersenyum


"Tapi ku mohon aunty, jangan katakan pada kak Egnor. Aku tidak apa apa dia tidak mengingatnya, tapi aku ingin kita merayakannya." pinta Claudia menarik dirinya.


"Tanpa suamimu mengetahui semua ini?" Anne memastikan .


"Oh baiklah, tapi semoga ketika makan malam ini selesai, kau memberitahu pada suamimu." Anne tetap menyarankan.


"Emm, baiklah." Jawab Claudia berdalih agar aunty nya menyetujui apa yang ia inginkan.


Claudia dan Anne pun memasak dan semua mengapa jadi masakan kesukaan suaminya. Claudia juga menghubungi Lisa, Richard, Frank, Grace untuk ikut makan bersama dan Claudia hanya beralasan hanya ingin makan malam bersama.


Sekitar pukul 6 sore, Claudia agak panik karna suaminya belum kembali. Biasanya pukul 5 sore dia sudah kembali. Semua makanan telah tersaji. Anne tertidur di sofa karna agak lelah, maklum usianya telah lanjut. Claudia terus melihat jam dinding. Dia menunggu di kursi meja makan.


10 menit 15 menit 30 menit sekarang sudah pukul 18.30. Claudia benar benar sudah menahan dirinya untuk tidak menghubungi suaminya dan herannya Egnor juga tidak menghubunginya. Claudia sudah tidak tahan, dia harus menghubungi suaminya. Namun, ketika dia berjalan ke kamarnya hendak mengambil ponselnya seseorang mengetuk pintu apartemennya. Claudia menghentikan langkahnya. Dia memicingkan matanya.


"Ini pasti bukan si Tuan Egnor, dia selalu langsung masuk. Hem... Tidak boleh menerima orang yang tidak dikenal. Aku akan mengintip terlebih dulu." Gumam nya menuju ke pintu. Dia mengintip dari lubang kecil pada pintunya. Seorang kurir makanan dengan membawa kotak kue kecil. Claudia merasa tidak mencurigakan. Dia malah masih berpikir mungkin ada yang mengetahui ulang tahunnya dan mengirimnya sebuah kue. Claudia tersenyum iseng dan akhirnya membuka pintunya.


"Selamat malam Nyonya Claudia Jovanca, ini ada kiriman kue." Kata sang kurir memberikan kotak kue tersebut.


"Dari siapa?" tanya Claudia menerima kotak kue tersebut.


"Tidak tahu Nyonya. Ada kartu ucapan di sini. Permisi Nyonya, Tuhan memberkati." Ucap si kurir lagi dan pergi.


"Aneh, tidak biasanya seorang kurir memberiku berkat. Haha anggap saja dia memberikanku kado ulang tahun." Gumam Claudia dan membaca kartu ucapan di atas kotak kue tersebut.


-Long life and keep healthy ♥️-


"Long life? Siapa yang mengirimnya? Dia pasti tahu ulang tahunku." Claudia terus bergumam dan dia masih berada di daun pintu . Tak lama kemudian..


"Claudia?" Panggil seorang wanita. Claudia menoleh. Ternyata Grace. Grace juga membawa sebuah bunga mawar berwarna peach.


"Grace? Mengapa kau sendiri?" tanya Claudia terheran.


"Kau akan tahu nanti, ini untukmu. Dan baca kartu ucapannya." Kata Grace memberikan bunga mawar tersebut


"Uuww, ada apa kau memberikanku bunga mawar? Dan bunga mawar kesukaanku, peach." tanya Claudia dengan degupan jantungnya. Dia merasa curiga sebenarnya sudah ada yang mengetahuinya.


"Baca saja kartu ucapannya dan jangan banyak protes. Aku masuk dulu. Aku haus." Tutur Grace dan dia masuk ke dalam sementara Claudia masih di sana dan membaca kartu ucapannya.


-Keep Beauty and Happiness ♥️-

__ADS_1


"Grace, mengapa kau menulis ini hah?" Teriak Claudia lagi dan tak lama Frank datang juga melakukan hal sama dengan Grace. Begitu juga dengan Lisa dan Richard yang datang secara bergantian dan membawa sebuah bunga mawar peach. Claudia benar benar curiga dan tidak dan tidak ada satupun yang menjawab pertanyaannya, di mana suaminya.


Frank : -Be Patient and Be Strong ♥️-


Lisa : -Keep Calm and Loving ♥️-


Richard : -Always Rejoicing and Graceful ♥️-


Begitulah isi pesan pesan ini. Sebenarnya membuat Claudia menyadari mungkin di antara mereka ada yang mengetahui ulang tahunnya. Claudia berpikir pasti Richard namun dia tetap mencari suaminya. Di mana dia?


Claudia akhirnya hendak memasuki apartemennya karna Grace dan lainnya telah bercakap cakap dengan Anne yang sudah bangun. Namun lagi lagi Claudia menghentikan langkahnya dan jantungnya berdebar. Seorang wanita bernyanyi lagu selamat ulang tahun dengan bahasa Inggris. Dia sangat tahu suara ini. Claudia hampir saja tidak mau menoleh. Dia takut ini semua hanya mimpi. Namun Grace menghampiri Claudia dan membalikan tubuhnya untuk melihat wanita tersebut.


Ya, di sana Viena bernyanyi Happy Birthday sambil membawa sepiring chicken noodle dengan lilin kecil tertancap di tengahnya. Viena yang di dampingi Dion datang khusus hari ini atas perintah Egnor.


"Vi Vi Viena?" Panggil Claudia terbata. Dia memegang dadanya sungguh sungguh masih tidak percaya.


"Kak Claudia? Happy birthday. Wish u all the best and hurry up, make a wish! Kau mengidam chicken noodle ku? Ini aku bawakan dengan lilin ulang tahunmu!" Kata Viena sudah berada di hadapan kakak iparnya.


"Ya kak, ayo berdoa dan tiup lilinnya." Tambah Dion.


"Oh Lord! Dari mana kalian tahu ulang tahunku? Dan di mana suamiku? Mengapa tidak ada yang menjawab sih?" Claudia masih memikirkan suaminya.


"Kau akan tahu kak, sekarang make a wish dulu." Kata Viena. Akhirnya Claudia berdoa sebelum meniup lilin.


'Hanya ingin kesehatan dan perlindungan juga kesejahteraan untuk keluarga kecilku. Agar anak anak ku sehat dan suamiku selalu jauh dari bahaya di mana pun dia berada. Aku tidak ingin berpisah darinya. Hanya dia seorang yang mencintaiku tulus sejak awal sampai sekarang. Terimakasih Tuhan. Amin!' begitulah doa sederhana Claudia dan dia meniup lilinnya.


Lalu puncak dari semua kejutan ini muncul lah lagi seseorang yang keluar dari lift dengan membawa beberapa balon. Dia Gabriel dan hal ini membuat Claudia makin tak karuan. Semua yang datang adalah sesuatu kesukaan nya. Kali ini dia tahu siapa yang ternyata mengingat ulang tahunnya. Belum lama ini ketika dia di Oriental bersama Egnor, dia mengatakan ingin pergi ke suatu tempat yang terdapat balon warna warni dan bisa menikmati permen kapas yang berukuran besar . Mungkin inilah keinginan unik ibu hamil.


Claudia pun sudah meneteskan air matanya lagi dan lagi. Viena memegang pundak Claudia dan merangkulnya setelah memberikan chicken noodle pada Grace. Dion pun berdiri di samping istrinya.


"Nyonya Claudia, selamat ulang tahun. Ini pesanan balon balon mu, nyonya." Kata Gabriel tersenyum. Claudia hanya mengangguk haru.


"Lalu, lalu, lalu dimana bos mu hah?" tanya Claudia sesenggukan.


"Itu!" Gabriel berbalik dan menunjuk Egnor di sana berdiri menunggu Gabriel memberitahunya.


Egnor di sana sudah berjalan mendekati istrinya yang menutup mulutnya. Egnor menyunggingkan senyum terindah kesukaan istrinya sambil membawa sebuah permen kapas berukuran besar dan sebuah buket mawar peach berukuran kecil.


...


...


...


...


...


may gosh! dia pasti ganteng sumpeh deh 😝😝


.


next part 17


Egnor bakalan bilang apa ya ke istrinya?


ya selamat ulang tahun lah vii


iya entah ada kalimat lain kan, kan pengacara yang tidak terprediksi 😂😂


staytune lah ya dan Jan baper b aja 😁😁


.


rekomendasi novel baper lainnya karya aku wkwkwk .. DEJA VU: JASMIE & CHEST .. yang belom mampir, mampir gaes .. ketika mereka pernah bertemu dalam permainan cinta yang tidak mereka sadari lalu bertemu lagi di waktu yang berbeda dan terus merasakan kenangan indah tapi juga pahit .. this like Deja Vu by @viiyovii 💕


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤

__ADS_1


__ADS_2