Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 25: Motivator


__ADS_3

Grace memasuki ruang kantor nya setelah bertemu dengan Frank. Dia memicingkan matanya melihat Tuannya bersenandung lagu yang sedang ia dengarkan pada earphone nya. Sementara Claudia sedang menyiapkan agenda Egnor hari ini sambil juga memasang lagu. Lagu yang sama yang di dengarkan Egnor. Grace agak bingung. Tak biasanya dia melihat pemandangan seperti ini. Grace pun menghampiri Claudia.


"Ada apa dengan bos mu? Kenapa dia mendengarkan lagu seperti itu?" Tanya Grace di sisi meja Claudia.


"Tak tahu.." saut Claudia asal.


"Kalian bertengkar lagi?" Selidik Grace.


"Tidak! Bos mu kan memang selalu tak jelas!" Jawab Claudia agak mengeras karna ia menyangka Egnor masih mendengarkan lagu ternyata pria dewasa itu sudah melepaskan earphone nya. Egnor langsung menatap Claudia tajam. Grace terkekeh.


"Tidak ikut ikutan!!" Grace langsung melangkah ke meja kerjanya.


"Ada apa Tuan Egnor?" Tanya Claudia mengalihkan kekesalan tuannya itu.


"Cepat kau pesankan tiket buat lusa kita ke Legacy!" Perintah Egnor membuat Claudia mengingat sesuatu. Kejadian tadi pagi. Ketika dirinya disembunyikan di kamar. Lalu bagaimana dirinya di mata keluarganya Egnor. Nampaknya, Claudia sudah membersihkan diri ketika Anne menyuruh Egnor mengajaknya.


"Kita? Sepertinya aku tidak usah ikut Tuan, aku di sini saja!" Saut Claudia bersedih dan menundukan kepalanya. Egnor mengernyitkan dahinya. Egnor berpikir Claudia masih memikirkan kejadian tadi pagi.


"Oh, baiklah aku juga tidak akan datang, drama selesai! Grace aku akan ke kedutaan Legacy." Akhirnya itu yang dikatakan Egnor. Egnor mengambil notebook dan ponselnya saja lalu beranjak dari duduknya.


Claudia kembali tersentak. Lagi lagi Egnor tidak mengajaknya.


Brak! Claudia malah menggebrak mejanya. Egnor dan juga Grace melirik padanya.


"Aku ikut!" Kata Claudia sudah berdiri.


Egnor hanya menoleh kembali menyebarkan tatapan tajamnya.


"Kak Egnor! Kau sudah berjanji akan membawamu kemana pun kau pergi kan? Lagi pula aku ini asistenmu!" Claudia memberanikan membuka suara. Sejatinya dia hanya ingin terus berdekatan dengan Egnor yang sepertinya agak menjauh darinya.


"Kalau kau butuh uang minta ke Grace, tidak usah mengikutiku!" Saut Egnor dingin dan sedikit merendahkan Claudia yang seketika terpaku di sana. Grace memandangi Claudia yang sudah termangu diam. Dia kasihan dengan temannya itu. Namun, sebelum ia berkata untuk temannya Claudia malah menegakan kepalanya dan tersenyum. Luar biasa pikir Grace.


"Aku mau ikut, pokoknya aku akan ikut!" Kata Claudia kemudian. Dia mengambil tas kecilnya juga alat tulisnya. Dia lalu menghampiri Egnor.


"Ayo kita berangkat!" Claudia tersenyum di samping Egnor membuat Egnor berdecih dan akhirnya menyetuji Claudia mengikutinya.


Grace menarik napas melihat kelakuan kedua orang itu. Grace tersenyum lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tibalah mereka di sebuah gedung kedutaan Legacy. Egnor hendak menghadiri makan siang para pengacara inti yang dipekerjakan oleh pejabat pejabat Legacy dan Honolulu. Sebenarnya Egnor sudah menugaskan Frank tapi Frank memiliki jumpa klien yang cukup penting. Terpaksa Egnor mengikutinya.


Egnor dan Claudia tiba agak telat. Mereka tiba sudah ingin acara makan siang. Sebelumnya ada acara sambutan dari beberapa pejabat dan perwakilan pengacara.


Ketika Egnor hendak memasuki ruang makan siang bersama Claudia di belakangnya yang agak terbingung, Claudia malah melihat sosok yang ia lihat pagi tadi. Jantungnya berdetak sangat cepat. Matanya membelalak dan ia pastikan kalau mereka bertiga akan berpapasan. Dan lagi sosok pria itu bersama asisten yang sangat mengenalnya dan pernah bertemu di bank waktu itu. Claudia langsung mencari akal untuk pergi terlebih dahulu sebelum mereka semua bertemu. Claudia sangat belum sanggup dan lagi Egnor sedang mendiaminya kalau sampai Egnor tau sesuatu tentang masa lalunya, entah bagaimana lagi Claudia bisa bersama selamanya dengan Egnor.


Dan, Egnor pun berpapasan dengan sosok yang Claudia takuti itu. Richard Gabrianes.


"Selamat siang Tuan Jovanca, lama tak bertemu ya?" Sapa Richard mengulurkan tangannya.


"Selamat siang! Kenapa kau ke sini?!" Tanya Egnor datar namun tetap berjabat tangan.


"Aku? Biasa sebagai pengisi acara. Kau seperti tak tahu pekerjaan ku saja seperti artis." Jawab Richard dengan nada ramah.


"Heng, artis gadungan!" Umpat Egnor menoleh ke arah lain.


"Terserah mu mau menganggap apa, kau datang sendiri? Kata Frank kau sudah memiliki asisten." Richard tetap mencoba menghormati dan ramah dengan Egnor.


"Aku bersama asistenku!" Egnor menoleh dan mendapatkan Claudia tidak di sampingnya. Dia lalu menoleh lagi ke belakang dan tidak ada siapapun. Egnor sampai terheran.


"Kemana dia?" Tanya Egnor kalang kabut sendiri.


"Kau mencari asistenmu?" Richard memastikan.


"Iya, aku bersamanya tadi!"


"Kulihat sejak tadi kau berjalan sendiri dari kejauhan!" Richard mengoreksi menurut pandangannya.


"Ah selalu seperti ini. Sudahlah, mungkin dia ke toilet!" Egnor menyerah.


"Asistenmu sangat cantik ya jadi kau takut mengenali padaku, takut asistenmu suka padaku.." bisik Richard malah menggoda Egnor.

__ADS_1


"Aku pasti sudah tidak waras mempekerjakan orang yang bisa menyukaimu! Permisi aku duluan ke dalam!" Decak Egnor menanggapi Richard dan meninggalkannya.


"Heng, pengacara tengik selalu seperti itu sikapnya terhadapku!" Umpat Richard yang selalu terabaikan oleh Egnor.


"Begitulah Tuan Jovanca, Tuan." Tambah asisten Richard.


"Ya, kau saja orang lain mengetahuinya, apalagi aku junior nya, sudahlah ayo masuk ke dalam, sebentar lagi giliranku!" Kata Richard memaklumi sikap Egnor yang selalu dingin padanya. Bahwasanya Richard dan Egnor pernah satu kampus bersama.


Sementara Egnor di dalam menunggu kedatangan Claudia. Dia agak cemas karna Claudia bahkan tak menghubunginya. Dia sudah menyantap makanan kecil dan segelas minuman dingin. Egnor masih harus bertemu dengan salah satu petinggi negara yang akan menjadi kliennya jadi dia masih harus berada di sana namun dia mengkhawatirkan Claudia sampai akhirnya Claudia memberinya pesan.


πŸ’ŒCLAUDIA


Kak Egnor aku mendadak sakit kepala. Aku pulang saja. Aku minta maaf. Kita bertemu di apartemen


"Ya, begini saja. Aku sudah mengiriminya pesan. Kenapa Richard bisa ada di sini? Memangnya dia pengacara? Aku belum siap bertemu dengannya. Oh Tuhan mengapa masalahku terus bertambah!!! Jangan sampai paman juga menghubungiku dulu, aku bisa gila. Aku jadi ragu, aku tetap di sini atau ikut bersama kak Egnor ke Legacy?" Gumam Claudia berada di toilet. Sudah hampir tiga puluh menit lebih dia mendekam di sana. Dia sangat bingung dan takut kalau bertemu Richard. Mantan suaminya.


Akhirnya dia memutuskan untuk kembali saja ke kantor. Dia tidak mau menyalakan api dulu. Belum saatnya dan dia berpikir kalau Egnor jangan sampai mengetahui masa lalunya siapa.


Claudia kembali dengan wajah yang agak frustasi. Dia benar benar cemas. Dia takut bagaimana kalau Egnor menyebut namanya pada Richard.


"Aaaahhhhh!!!" Claudia mengacak rambutnya kasar sampai Grace kembali bingung.


"Claudia, kau ini kenapa? Sudah kembali lebih awal, sekarang kau teriak teriak, ada apa?!" Grace melihat ke arah Claudia.


"Grace, bagaimana kalau kita bertukar jiwa. Aku lelah dengan jiwa ini terlalu banyak beban. Rasa rasanya aku mau meledak saja!" Sungut Claudia menyandarkan kepalanya di meja kerjanya.


"Ada apa denganmu?" Tanya Grace.


"Kau kenal Richard?" Claudia malah bertanya kembali karna sedikit penasaran dengan keberadaan pria itu.


"Richard?" Grace sedikit bingung.


"Eng maksudku Ricardo Gabrianes!" Claudia mengoreksi, dia sudah kebiasaan.


"Kenal lah, dia klien tetap Frank! Dia pundi emas kami Clau!! Kau kenapa?" Grace mulai mencurigai.


"Tidak apa apa. Aku hanya tahu dia motivator di Oriental. Mengapa dia ada di sini? Apa kau tahu?"


"Tidak apa apa, hanya fans!" Saut Claudia asal.


"Iya kah?"


"Iya! Sudahlah, sepertinya aku ikut saja ke Legacy. Aku butuh liburan!!" Claudia kembali mengalihkan pembicaraan.


"Kau ini aneh Clau, sangat aneh! Siap siap nanti malam Tuan Egnor akan mengintrogasimu!"


"Aku sudah biasa diintrogasi olehnya."


"Uuuww, sepertinya nanti malam kalian akan melakukannya. Ceritakan padaku ya Clau!"


Claudia menunjukan jari tengahnya menanggapi Grace yang terus menggodanya. Claudia akhirnya memesankan empat tiket untuk berangkat ke Legacy lusa. Dia harus bersabar. Dia harus berpikir positif dan di sanalah dia harus menggapai hati Egnor lebih dalam dan banyak lagi. Claudia menyeringai memikirkan apa yang hendak ia lakukan nanti di Legacy pada Egnor.


...


Jam kerja kantor sebentar lagi berakhir. Egnor belum juga kunjung pulang. Claudia menarik napas. Untung saja dia kembali lebih dulu, mungkin saja Egnor sedang bercakap cakap dengan Richard. Dia sudah ngeri memikirkannya. Claudia akhirnya memutuskan untuk juga pulang lebih cepat. Dia mengatakan pada Grace hendak ke apartemen lamanya dulu mengambil beberapa barangnya yang belum sempat ia ambil.


Claudia menyusuri jalan ke apartemen lamanya dengan berjalan kaki karna tak jauh dari gedung pengacara nya. Ketika sudah sampai, dia dengan segera mengambil barang barang yang ia butuhkan. Claudia menaruhnya ke sebuah tas yang tidak terlalu besar. Claudia lalu menuruni apartemennya. Ketika dia sudah sampai di bawah dia melihat dua pria mengendarai sepeda motor di sisi gerbang gedung apartemennya. Dia menyipitkan matanya. Claudia seperti pernah melihat. Seketika dia mengingatnya salah satu pria itu hampir ingin menculiknya waktu itu. Untung saja Egnor datang setelah Claudia juga sempat menendang antara kedua kakinya.


"Shit, dia melihatku!" Decak Claudia yang menyadari pria itu menunjuk ke arahnya. Claudia langsung berbalik dan berlari setelah melepas sepatu hak tingginya. Dia berlari ke arah pintu belakang yang mana dapat berputar ke jalan utama. Pria itu sudah tahu kemana arah Claudia dan menunggu di luar namun Claudia lebih gesit dan berhasil menyusuri jalan utama.


Dia terus berlari walau telapak kakinya agak sakit karna alas aspal itu. Claudia menyadari kalau dua pria itu pasti akan mendapatkannya karna mereka mengendarai sepeda motor. Dan benar saja, kedua pria itu segera mengejarnya dengan sepeda motornya. Claudia berlari dan mengingat ada sebuah gang kecil yang hanya bisa dimasuki satu orang. Dia segera berbelok.


Dia berlari terus dan berharap jalan keluarnya adalah kantornya. Salah satu pria itu menuruni motornya dan mengejar Claudia. Claudia tak peduli dengan semua goresan yang sudah melekat pada kakinya. Dia menyusuri lorong kecil itu yang hanya pencahayaan dari langit sore dengan sangat cepat.


"Clau!! Jangan lari kau, kalau dapat habis kau!!!" Pria itu juga terus mengejar Claudia yang sangat cepat larinya mengingat tubuh kecil dan mungil Claudia. Dan sampailah Claudia melihat cahaya yang kian meremang.


Akhirnya dia keluar dari sana dan pucuk dicinta ulampun tiba. Dia melihat mobil Egnor yang hendak keluar. Dia lalu mengenakan sepatunya dan berlari lagi mengejar mobil Egnor yang hendak berbelok.


"Kak Egnor! Tunggu dulu!" Claudia tepat sekali di samping jendela mobil Egnor. Egnor terkejut melihat wajah Claudia yang baru saja ia pikirkan. Dia segera membuka kaca jendelanya.

__ADS_1


"Hah, kemana saja kau?! Tidak bisa diam sekali!! Cepat masuk!" Decak Egnor. Claudia yang masih tersenggal lalu secepatnya masuk agar Egnor tak melihat pria yang sebentar lagi akan keluar dari gang kecil itu.


"Huft, lelah sekali, cepat jalan kak!" Kata Claudia dan Egnor mengernyitkan dahinya.


"Kau kenapa?" Selidik Egnor.


"Seekor anjing mengejarku, aku sampai berlari seperti ini. Pas sekali bertemu denganmu, haha kau memang penyelamatku kakak Egnor ku sayang!!" Claudia menepuk nepuk bahu Egnor. Egnor tak bergeming.


"Mencurigakan!" Decak Egnor menegangkan rahang wajahnya. Dia lalu menjalankan mobilnya ketika baru saja pria yang mengejar Claudia berbelok. Dia sudah mengeluarkan umpatan serapah untuk Claudia.


~Oh God thankyou! Tak percuma aku memenangkan marathon ketika sekolah, piuft! Dan tampaknya mereka tidak mengejar lagi.~ gumam Claudia dalam hati namun masih melihat ke belakang.


"Kau ini kenapa hah?" Tanya Egnor sedikit menoleh ke Claudia.


"Tidak apa kak! Kak, kenapa kau baru pulang dari kedutaan itu?"


"Seharusnya aku yang bertanya mengapa kau tiba tiba menghilang!" Egnor kembali bertanya sambil menekan tombol fm pada layar LCD mobilnya.


"Kepalaku sakit sekali kak, sepertinya karna sakit semalam, kau kan tahu." Claudia menaik turunkan alisnya. Egnor menarik napas. Egnor menyerah. Claudia memang selalu mempunyai seribu jawaban yang memang masuk akal.


"Sampai rumah segera kompres kepalamu dan minum teh hijau andalanmu itu agar tidak kembali sakit! Sakit kepala namun bisa berlari sampai tersenggal begitu." Sindir Egnor pelan dan Claudia tidak menanggapinya. Dia lalu mencoba menyamankan tubuhnya di kursi mobil Egnor yang cukup lembut.


Mereka berdua lalu agak terdiam. Sampai mereka mendengar suara suara yang mereka kenali dari sambungan radio yang telah Egnor pasang. Egnor memang sedang mencari berita berita yang ia butuhkan beberapa hari ini. Namun, dia malah mendengar suara dari pria yang tidak terlalu serasi dengannya. Claudia pun hanya terdiam ketika suara itu bergema di sana.


"Heng! Orang ini sedang eksis sekali ya di sini? Tadi pagi, tadi siang dan sekarang mengapa aku selalu mendengar suaranya! Membosankan!" Decak Egnor tetap mendengarkan dengan satu tangannya menopang dagunya.


Claudia tetap diam. Dia tahu suara itu.


"Ya, akhir akhir ini aku memang merasa bersemangat. Namun ada kalanya aku juga merasa tidak selera. Salah satu cara untuk membangkitkan semangat kita adalah mengingat orang orang yang sudah berjasa bagi kita. Di situlah kita jadi menghargai titik di mana kita masih di angka nol dan merambat menjadi menaikan angka nol tersebut. Meskipun hanya ke angka 1 tapi orang itu sudah membuat kita naik lebih ke depan. Sebuah cerita seorang yang berjasa itu ketika dia merelakan dirinya untuk orang yang bahkan tidak terikat inti. Orang itupun tidak menyuruh kita berubah namun karna prilakunya membuat kita merubah sikap ke arah yang membuat kita bersemangat. Ah, sangat menakjubkan menurutku...."


Begitulah beberapa kalimat yang keluar dari suara seorang pria yang merupakan motivator di saluran radio sana. Dia tak lain Richard.


"Seperti pengalaman pribadi! Aku curiga dia wanita! Sejak kapan dia memiliki wanita!" Gumam Egnor pelan namun Claudia mendengarnya. Claudia langsung merasa Egnor menyindirnya.


"Uhuk uhuk!"


Tiba tiba Claudia terbatuk mendengar pernyataan Egnor terhadap Richard. Membuat Egnor menoleh padanya dan lagi mengernyitkan dahinya merasa aneh.


...


...


...


...


...


Jeng jeng kalo kaga mo kasih tau mah diem aja clau selow, ga tau deh dikau jadi apa nanti sampe apartemen wakakakakk 😝😝


.


Next part 26


Clau liburan dlua ya 1 part ke Legacy abis itu kita serangan jantung lagi ahahay 😁😁


.


Jangan lupa LIKE dan KOMEN yaa 😍😍


Kasih RATE dan VOTE juga di depan profil novel yaa 😘 😘


.


Eng kalo mau bercengkramah sama aku tentang novel boleh kok follow ig aku nii @viiyovii hehe 😍😍


Aku baik kok ga gigit πŸ˜‚πŸ˜‚


.

__ADS_1


Oke thankyou for read and i laf youu all πŸ’•πŸ’•


__ADS_2