Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 124: Violence


__ADS_3

Apakah kecurangan merupakan sebuah bentuk usaha untuk mendapatkan hal yang sulit kita raih? Namun, bagaimana jika kecurangan pada akhirnya hanya membawa keterpurukan? Apa yang kali ini akan terjadi? Setitik cahaya, Egnor sudah mendapatkan bukti mengenai kejahatan Richie Gabriane, tapi apakah berhasil begitu saja? Apalagi yang akan dilakukan Richie dan Bruce? Apa kali ini, Claudia akan terlibat?


...


Frank, Richard, Kevin, Bertho dan juga August sudah menuruni Kondominium malam itu. Sementara Egnor sudah menunggunya di bawah di dalam mobil. Dia memegang dagunya berpikir mengenai semua ini. Ketika bertukar peran, Egnor merasa ada yang mengikutinya, khususnya mengikuti Kate. Egnor merasa mereka pun di balik dari perbuatan Richie. Perasaannya yang tidak menentu membuat dirinya memerintahkan Frank dan Richard yang mengawasi pekerjaan August.


Tok! Tok!


Frank mengetuk kaca pintu mobil tempat Egnor duduk. Egnor pun membuka pintu dan keluar.


"Sudah beres?"


"Sudah, tuan!"


"Kate?"


"Dia berteriak teriak di kamarnya," kata Frank memberitahu.


"Di mana August?" tanya Egnor lagi


"Itu dia tuan!" ujar Frank menunjukan August yang berjalan mengikuti Bertho. Dia tampak menundukan kepalanya dan memikirkan sesuatu.


"Kau tidak menikmatinya?" tanya Egnor asal.


August menggeleng. Bertho menoleh kepadanya karena tidak menjawab pertanyaan Egnor.


"Ada apa denganmu? Pekerjaanmu sangat bagus!" Decak Bertho mendorong pelan tubuh August.


"Tuan Egnor, bisakah aku kembali ke atas dan membawanya ke rumah sakit?" pekik August seketika.


Egnor memicingkan matanya.


"Apa maksudmu?"


"Banyak luka lebam di sekujur tangan dan bahkan di dalam tubuhnya terdapat goresan goresan memerah. Apa kau tega dengan wanita itu? Kita sudah mendapatkan rekaman pengkuan dirinya. Ini ku berikan alatnya," kata August seperti memohon lalu menyerahkan alat perekam mini itu pada Frank.


"Luka?" Selidik Egnor mengingat dia juga melihat sisi bibir Kate yang terkoyak.


"Benar tuan! Di sisi pipinya di bawah telinga juga terlihat lebam yang agak membiru. Dia juga mengatakan ibunya sedang sakit. Tolong tuan, serahkan dia padaku untuk kubawa ke rumah sakit," pinta August lagi sungguh tergerak.


"August! Apa apaan kau ini, kau ini di pihak mana? Wanita seperti itu banyak!" decak Bertho menyenggol August.


"Bukan begitu Tuan Bertho, aku, aku mengingat kakakku, kau tahu kan bagaimana dia di siksa dan diperkosa oleh teman teman pacarnya sampai aku membunuh mereka semua?" Balas August tetap ingin menemui Kate kembali tanpa mereka berpikir, dia mengkhianati tuannya.


Bertho terdiam. Bertho yang menebus August di penjara waktu itu sehingga menjadi anak buah kesayangannya.


"Apa yang sudah ia katakan padamu sampai kau ingin sekali membawanya, August?" Selidik Richard curiga kalau Kate sudah merayu August yang ia anggap Egnor dengan menjanjikan sesuatu.


Egnor menatap tajam August.


"Tidak tuan, aku bersumpah, dia hanya merayu aku sebagai tuan Egnor jadi untuk apa aku menanggapinya?" bantah August masih menghormati.


"August," panggil Egnor kemudian.


"Ya tuan,"


"Apa kau merasa ada yang mengikuti kalian ketika kalian menuju ke kamar?" tanya Egnor kemudian.


August mencoba berpikir dan mengingat perlahan. Dia memang sempat melihat ada dua orang pria dan wanita berpakaian jas lengkap dan rapi dengan kaca mata hitam melintas di lorong kamar yang hendak ia dan Kate masuki.


"Sepertinya Tuan, tapi aku merasa itu office boy," jawab August.


"Yasudah, cepat kau naik ke atas dan lihat kondisi Kate. Dia meminum obat perangsang, aku takut ada yang memanfaatkannya. Nyonya Monica masih menantikannya," perintah Egnor dan tidak ada lagi yang bisa membantah. Egnor kembali memasuki mobil yang diikuti Frank sedangkan Richard juga sudah naik ke mobil bersama Kevin.


Bertho masih di sana memperhatikan August yang masih menundukan kepalanya untuk Egnor.


"August, kau menyukai Kate?" selidik Bertho.


"Tidak tuan, aku benar hanya mengingat mendiang kakakku," jawab August tidak berani menatap mata tuannya.


"Kalau menyelamatkan Kate bisa menghapus segala penyesalan atas kematian kakakmu sehingga kau menjadi pembunuh, lakukanlah. Naik ke atas dan bawa wanita itu ke rumah sakit. Beritahu pada ibunya dan jangan bawa bawa nama Tuan Egnor terlebih dulu. Kau mengerti?" kata Bertho mengingatkan.


"Mengerti tuan, aku naik dulu,"


Bertho mengangguk dan menaiki mobil bersama Frank dan Egnor.

__ADS_1


"Bertho, besok kau periksa bagaimana keadaan Kate dan laporkan padaku!" Perintah Egnor lagi.


"Baik tuan!"


"Frank, buat laporan tuntutan atas apa yang dilakukan Richie! Dan, simpan baik baik bukti rekaman tersebut!" perintah Egnor lagi pada Frank.


"Siap Tuan! Besok aku akan menemui Hakim Benedict,"


Egnor mengangguk dan mereka kembali ke tempat tinggal mereka masing masing.


Sementara itu August menaiki lagi kondominium itu dan menuju ke kamar Kate.


Dor!


Terdengar suara tembakan. August tersentak dan hatinya berdegup kencang sambil mengatakan dalam hati semoga itu bukan Kate.


Para pegawai Kondominium dan beberapa penghuni sudah berkerumun ketakutan. August terus menerjang menghampiri kamar tersebut. August langsung membukanya tetapi pintu terkunci. August pun mendobrak pintu tersebut. Butuh satu kali saja August melakukannya.


Di sana tampak dua orang yang August curigai berdiri di depan kamar mandi dan hendak menekan pelatuk pistolnya.


"Kalian siapa?" Tanya August. Satu orang pria tidak berkata langsung berbalik dan menembakan pistolnya pada August namun August dengan cepat berdalih. August menyimpan sebuah pisau kecil di saku celananya. Ketika dia berkelit, August langsung melemparkan pisau kecil tersebut ke arah pergelangan tangan pria itu dan menyayat sisi nadinya. Pria itu tentu saja melepaskan pistolnya dan memegang lengannya. Temannya yang wanita tentu reflek ke teman prianya. August lalu menerjang pria itu dengan cepat. Memberikan tinju keras ke pipinya lalu menendang perut si teman wanitanya. August juga meraih pistol mereka yang terjatuh.


"Diam kalian semua! Aku tidak segan segan membunuh kalian, pergi atau ku tembakan peluru ini! CEPAATT!!!" ancam August.


Kedua orang itu tentu pergi lari tunggang langgang. August tidak mau membunuh lagi. Dia masih bisa mendengarkan emosinya. August cepat cepat menyimpan pistol juga pisau kecil nya di saku jas dan menghampiri kamar mandi itu. Dia menekan tuasnya lagiagi terkunci. Sekali lagi August mendobrak pintu itu dan terbukalah. Di sana Kate sudah tersungkur duduk di samping closet sambil memegang dadanya.


"Kate?" panggil August mendekati Kate.


"Kak? Kau kembali? Kau? Kau bukan Egnor?" Selidik Kate yang mendongakan kepalanya lemah dan efek obatnya sudah menghilang. Dia sudah sedikit tersadar. Namun, tubuhnya masih sangat panas dan napasnya menderu.


"Kau baik baik saja?"


"Kau siapa? Tolong aku, sepertinya aku akan mati ..." Balas Kate dan akhirnya tak sadarkan diri. August melihat bibir Kate kini membengkak karena sebelah sisi bibir satunya sudah berdarah.


Tanpa banyak bicara lagi, August menggendong dan membawanya ke rumah sakit.


...


Egnor memasuki apartemennya kira kira pukul sepuluh malam. Dia mencuci tangannya sebelum masuk ke kamar. Kedua anaknya tentu sudah tertidur di keranjang bayi mereka sementara Claudia juga sudah tetidur tetapi belum tertutup selimut dan iya terduduk menyandar sisi kepala tempat tidur. Claudia juga masih mengenakan dress Priyama pendeknya. Biasanya jika tidur malam, Claudia mengenakan piyama panjang atau gaun tidur, itupun Egnor yang menyuruh. Egnor tersenyum dan membuka jasnya. Dia hendak merebahkan tubuh Claudia. Dia merangkul leher Claudia perlahan, mengecup pelipisnya dan merenggangkan tubuh istrinya.


"Engg, kak, kau sudah pulang?" Kata Claudia tiba tiba yang merasakan tangan hangat suaminya terbangun dan melenguh sesaat.


"Semua sudah didapatkan?" selidik Claudia.


"Sudah, tapi sepertinya Kate mengalami penyiksaan di Japanis," tutur Egnor memberitahu.


Claudia sedikit terkejut mendengarnya dan mencoba membuka matanya menoleh ke arah suaminya.


"Ada apa?" tanya Claudia lagi.


"Entahlah, aku hanya fokus dengan pencarian awal," saut Egnor dengan wajahnya yang serius.


"Kau sudah melakukan yang terbaik sayang, sekarang bagaimana caranya memberitahu Nyonya Monica, dia sangat memikirkan anaknya itu," kata Claudia lagi mengingat perkataan Anne mengenai temannya itu.


"Aku sudah menyuruh seseorang. Kita hanya menunggu hasilnya," balas Egnor. Claudia mengangguk dan dia ingin mengetahui sesuatu.


"Jadi apa kau harus memegang Kate?" tanya Claudia mengelus lengan suaminya. Egnor menarik napas menyesal.


"Maafkan aku, dia langsung menggandeng lenganku menuju ke club. Ini yang terakhir Clau. Tidak ada penyamaran yang berhubungan dengan wanita lagi," saut Egnor.


Claudia menatap suaminya yang penuh rasa bersalah. Tak seharusnya Claudua cemburu sementara tidak ada terbesit hal macam macam dalam pikiran suaminya. Egnor menempelkan dahinya pada dahi Claudia.


"Yasudah, sana bersihkan dirimu dan tidur bersamaku. Sepertinya hari ini sangat dingin aku butuh pelukan dan dekapan hangat untuk dadaku," saut Claudia menggoda suaminya.


"Dengan senang hati," balas Egnor dan segera membersihkan dirinya.


Keesokan paginya, Claudia sedang menemani Egnor sarapan sebelum suaminya berangkat ke kantor. Kebetulan, Anne datang agak cepat sehingga dapat membantu Claudia memandikan si kembar secara bersamaan. Kini si kembar sudah tertidur setelah diberi ASI oleh ibunya dan Claudia bisa mengurus anak pertamanya.


Tak berapa lama, Frank datang bersama Grace. Frank memapah Grace yang hendak bersama Claudia dan si kembar hari ini.


"Tuan Egnor, selamat pagi," ucap Frank memberi salam. Begitu juga dengan Grace.


"Hay Frank, duduklah, kita sarapan bersama, aku membuat roti lapis dan telur. Grace, apa kabar?" tanya Claudia mempersilahkan mereka masuk.


"Beginilah nyonya, sudah agak sesak," saut Claudia mendekati meja makan.

__ADS_1


"Tenang saja, asal ada Frank semua akan lancar," kata Claudia lagi tersenyum.


Grace mengangguk dan duduk bersama di meja makan.


"Tuan Egnor, August sudah memberitahu Bertho kalau keadaan Kate sangat mengkhawatirkan," kata Frank kemudian. Semua mata tentu mengarah pada suami Grace itu.


"Ada apa Frank?" Tanya Claudia.


"Sepertinya Kate mengalami kekerasan fisik beberapa hari ini dan dia hamil," jawab Frank yang memang ingin memberitahu kabar ini.


"Oh God!" Claudia dan Grace menutup mulutnya.


Entah mengapa Egnor jadi kehilangan nafsu makan. Dia menatap serius Frank.


"Namun, dokter mengatakan ada yang salah dengan sistem syaraf otaknya karena dia menegak obat perangsang yang tidak tersampaikan tuan. Selain itu dokter tidak menjamin bahwa kandungannya akan baik baik saja," tambah Frank lagi.


"Utus Detektif Kyle ke Japanis. Selidiki kemana Kate pergi dan bersama siapa!" Perintah Egnor menanggapi pemberitahuan Frank karena ini juga akan menambah bukti kejahatan Richie yang bersama Kate. Atau, mungkin kecurigaan Egnor akan satu orang lagi yang melakukannya.


"Tenang sayang," bisik Claudia menyadari ketegangan di ruang makan itu. Dia memegang pundak suaminya Grace sudah mengusap wajahnya. Biar bagaimanapun Kate seorang wanita yang sedang dimanfaatkan karena dirinya juga memiliki dendam.


Egnor menarik napas dan mengelus punggung tangan istrinya agar tidak ikut mengkhawatirkan.


"Baiklah, aku berangkat dulu Clau, masih banyak yang harus ku urus," kata Egnor meminta ijin.


"Ya kak, hati hati,"


Egnor beranjak dari kursi makanya. Dia memeluk Claudia dan mengecup keningnya dengan sangat mendalam.


"Jangan bukakan pintu untuk orang yang tak dikenal, kau mengerti, Clau?" Egnor memperingatkan.


Claudia mengangguk. Egnor meraih jasnya, Frank tentu mengikutinya setelah meminta ijin pada Grace dan juga Claudia. Claudia dan Grace juga memikirkan kondisi Kate.


"Mengapa dia jadi se-naas itu Clau?" selidik Grace merasakan kesengsaraan Kate.


"Apa yang ditabur itu yang dituai, Grace," gumam Claudia memegang dadanya masih tidak percaya dengan yang terjadi.


"Kau benar Clau, semoga kedepannya dia bisa berubah," gumam Grace juga.


Claudia menautkan tangannya berusaha tenang dan akan terus mendukung suaminya. Entah mengapa dia merasa semua ini saling berhubungan.


...


...


...


...


...


hem, begitulah dunia ada sisi terang dan gelapnya . teruslah berjuang, sir eg 😎


.


next part 125


apakah Bruce akan mengetahui keberadaan Kate?


langkah apa lagi yang akan dilakukan Egnor dan team?


smangat bang Nor, smua pasti akan ada jalan keluarnya πŸ˜‡


.


rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:


---- LOVE & HURT ----


karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❀❀


__ADS_2