Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 62: Sidang 2


__ADS_3

Rasanya seperti melihat pelangi sehabis hujan. Terpancar warna warni di setiap wajahnya melihat sosok yang ia nantikan ada di sampingnya. Meskipun dengan tatapan tajam ke depan dan belum menghadap padanya. Meskipun terhalang bening kaca matanya yang membuat dirinya malah terpesona. Claudia merasakan pria ini mengeluarkan kehangatan luar biasa dalam hatinya. Dinginnya aura yang memenuhi ruangan ini nyatanya tak dapat membuat hatinya bergeming kalau pria ini satu satunya yang selalu ia inginkan dan harapkan.


Pria itu menoleh dan masih menatap datar dirinya. Namun tak lama sebuah lengkungan senyum terpancar meski tidak terlalu sumringah.


"Aku di sini!" Gumam pria itu yang tak lain adalah suaminya, Pengacara Nomor satu di Honolulu dan sangat di segani. Egnor Victor Jovanca dengan banyaknya gelar yang melekat pada kepintarannya.


Claudia meneguk saliva nya. Ingin sekali dia memeluk suaminya, memberikan kecupan yang paling banyak serta memberikan kewajiban yang sejatinya selalu diinginkan pria ini. Claudia malah menggeleng tak karuan. Bisa bisanya dia memikirkan hal cabul di ruang pengadilan yang sedang menunggunya.


"Baiklah, kita akan memulai proses sidang. Terimakasih atas kedatangannya Tuan Jovanca." Hakim Benedict membuka prakata. Claudia belum saja puas menyaksikan pesona suaminya dengan balutan kaca mata itu, dia harus kembali memperhatikan sang hakim. Seorang pria tua yang masih sangat berwibawa dengan pakaian kebesaran jabatannya sebagai hakim.


Egnor mengangguk dan kembali menatap sang hakim.


"Baiklah selamat siang semuanya. Kita akan segera memulai jalannya sidang oleh sebab itu ada baiknya kita meminta yang kuasa untuk menaungi supaya sidang hari ini dapat berjalan dengan lancar. Mari berdoa." Kata Benedict lagi memulai semuanya dengan restu yang kuasa.


Dan mereka semua menundukan kepalannya dengan berdoa masing masing.


"Berdoa selesai. Baiklah tidak lagi banyak bicara karna semuanya sudah hadir di sini. Dan sebelumnya persidangan hari ini merupakan sidang pidana tertutup karna sang penasihat hukum dari tergugat merasa keberatan jika masalah seperti ini harus dibuka untuk umum. Jadi kita tidak menunggu siapa siapa lagi kecuali saksi saksi yang akan didatangkan nanti." Tutur Benedict dengan cukup berwibawa.


Entah mengapa hati Kate merasa tidak enak dan tentu saja Samantha sudah merasa rendah di sana. Akan ada sesuatu yang pasti dilakukan Egnor. Menurutnya.


"Baiklah, jaksa penuntut umum silahkan dimulai!" Kata sang hakim lagi.


Sang jaksa beranjak dari kursi posisinya dan mulai menyerukan kata demi kata yang menjadi tugasnya.


"Selamat siang Tuan Hakim Benedict. Nyonya Gabriane dan Nona Joyline sebagai penggugat serta Nyonya Jovanca sebagai terdakwa dan Tuan Jovanca sebagai penasihat hukum atau pengacara dari istri anda sendiri. Saya harap tidak ada sebuah bentuk kerja sama yang melanggar hukum sehingga tidak ..." Sang jaksa berkata kata namun ..


"Ehem ..!" Egnor berdehem karna dia merasa sang jaksa telah melewati batas awal mula prakata.


"Mohon maaf Jaksa Penuntut Hukum, lakukan sesuai tata aturan yang berlaku." Benedict mengingatkan. Sang jaksa agak terbawa suasana dengan apa yang sudah dijanjikan Kate padanya.


"Mohon maaf Tuan. Jadi, Nona Kate Joyline dan Nyonya Gabriane, apakah anda benar sebagai Penggugat dan menyerahkan sepenuhnya kepada pengadilan untuk menyelesaikan kasus ini?" Sang jaksa terlebih dulu bertanya pada penggugat.


"Benar Tuan." Jawab Kate angkuh.


"Baiklah terimakasih. Sedangkan anda Nyonya Claudia Jovanca, apakah benar anda sebagai tergugat dan Tuan Egnor Jovanca sebagai penasihat hukum atau pengacara anda?" Kini giliran Claudia.


"Be, benar Tuan." Jawab Claudia agak terbata karna ini merupakan kali pertama dirinya mengikuti sidang seperti ini.


"Baiklah terimakasih. Jadi dalam kasus ini, penggugat telah melaporkan kepada pengadilan tinggi bahwasanya Nyonya Claudia telah melakukan tindak perlakuan tidak menyenangkan terhadap Nona Kate dan Nyonya Samantha. Di mana Nyonya Claudia telah memberikan umpatan yang membuat Nona Kate dan Nyonya Samantha terbeban. Selain itu, Nyonya Claudia juga melakukan penyerangan terhadap Nona Kate dalam bentuk merebut ponsel Nona Kate dan menghancurkannya. Berikut ini serpihan ponsel Nona Kate yang tersisa. Hal ini memang merupakan tindak pidana yang melanggar karna secara tidak langsung membuat psikologis penggugat terbeban serta ketidak nyamanan ketika bertemu kembali dengan yang bersangkutan. Yang bersangkutan di sini merupakan terdakwa yaitu Nyonya Claudia Stephanie Jovanca. Sampai sini, apakah Hakim Benedict sudah jelas mengapa duduk perkara ini harus segera diluruskan dan di sidang." Sang Jaksa menjelaskan secara singkat duduk permasalahannya.


"Ya sangat jelas. Lanjutkan!" Balas Benedict setuju.


Sang jaksa kini mempersilahkan terdakwa menaiki podium khusus tergugat untuk menerima pertanyaan pertanyaan dari jaksa penuntut umum.


Sesaat Claudia meraih tangan suaminya. Dia sangat takut. Namun, Egnor menepuk pelan puncak tangannya agar tetap tenang dan mengikuti proses sidang dengan benar. Claudia menarik napas dan menuruti. Dia pun segera ke atas podium. Rasa rasanya dia seperti benar benar tersangka kelas kakap.


"Terimakasih Nyonya Claudia telah menempati podium. Jadi, Nyonya Claudia, apakah benar anda bersama sama dengan Nona Kate dan Nyonya Samantha di sebuah departemen store siang itu?" Pertanyaan pertama. Claudia sudah sedikit berkeringat. Bukan karna ketakutannya namun juga kondisi tubuhnya.


Claudia mengangguk lemah namun tetap berusaha kuat kalau kalau ada sesuatu yang harus ia katakan.


"Apa benar anda memberikan umpatan, sindiran serta kata kata yang tidak mengenakan hati penggugat?" Pertanyaan kedua.


"Karna mereka lebih dulu yang menghampiriku!" Decak Claudia tanpa sadar keluar begitu saja.


"Saya masih hanya membutuhkan jawaban benar atau tidak!" Jaksa menekankan.


"Benar!" Dengan mata Claudia yang agak melotot.


"Apa benar anda membuat penggugat kesal dan marah terhadap penggugat sehingga anda melakukan penyerangan yang sangat anarkis. Dengan merebut ponsel tergugat dan menghancurkannya, setelah itu anda kembali memberikan umpatan yang sangat menghina kedua penggugat.??" Pertanyaan ketiga.


"Ehem!" Egnor tiba tiba berdehem dan sang jaksa menoleh pada Egnor. Egnor lalu sedikit memiringkan kepalanya dan menaikan satu alisnya. Seketika sang jaksa merasa Egnor tahu kalau ada beberapa kata yang ia tambahkan untuk menguatkan penggugat di mata Hakim.


"Maaf, Tuan Egnor, apakah anda ingin menyanggah?" Tanya sang hakim yang merasa sang jaksa agak berlebihan.


Egnor hanya menaikan tangannya menolak karna belum saat nya juga dirinya memberikan esepsi (penolakan atau keberatan)


"Baik lanjutkan! Sebaiknya ke dalam inti permasalahan sehingga Nyonya Claudia juga dapat menjelaskan." Benedict menekankan agar sang jaksa jangan membuat kesalahan dan berbelit Belit.


Sang jaksa meneguk saliva nya. Dia hanya sedang menjalankan pekerjaannya yang mana juga sudah diberikan bayaran cukup banyak oleh Kate yang merupakan temannya.

__ADS_1


"Baik Tuan! Jadi Nyonya Claudia, tiga pertanyaan yang saya ajukan benar adanya?"


"Ya benar!!!" Jawab Claudia dengan nada sedikit bosan karna semua yang dikatakan sang jaksa adalah pembohongan besar. Dirinya malah memain mainkan jarinya.


"Baiklah, sekarang saya ingin menanyakan, mengapa anda ikut campur dalam urusan perjanjian yang dibuat Nyonya Gabriane terhadap Nona Kate?" Kini sang jaksa menanyakan mengenai alasan.


"Perjanjian apa? Aku tidak tahu prihal mereka berdua." Sungut Claudia menjawab singkat.


"Perjanjian sebuah hubungan yang akan dilakukan keluarga Gabriane dengan keluarga Joyline." Lanjut sang jaksa.


"Oh itu? Aku tidak ikut campur, aku hanya memberi tahu sifat asli Kate yang tak akan di senangi oleh Richard Gabriane." Jawab Claudia apa adanya karna begitulah yang sebenarnya.


"Ada hubungan apa anda dengan Richard Gabriane sehingga mengetahui hal hal yang tidak disenangi oleh anak dari Nyonya Gabriane?" Tanya sang jaksa lagi dan terlihat di sana wajah Kate dan Samantha tersenyum lebar. Sang jaksa pun agak memutar kan tubuhnya dan melihat Egnor. Tampak Egnor mengacungkan sedikit ketiga jarinya memberi kode pada Frank. Frank mengangguk tersenyum.


Lagi lagi sang jaksa meneguk saliva nya. Mengapa jadi agak menegangkan. Sang jaksa seperti sudah sangat mengenal Egnor. Namun, dia memang agak bingung karna biasanya Egnor tampak menggebu gebu. Kali ini Egnor tampak santai dan tanpa perkataan. Sang jaksa menjadi sangat khawatir. Dia lalu menatap Kate yang memberi kode untuk terus memojokan Claudia.


"Anda tidak perlu tahu, dan sepertinya ini sudah keluar jalur. Untuk apa anda menanyakan hal ini. Harusnya anda bertanya mengapa saya menyerang penggugat anda itu?!" Bantah Claudia berdiri dan menunjuk nunjuk si jaksa.


"Kau jangan seenaknya Clau! Biarkan jaksa penuntut ku yang menanyakan semua duduk permasalahannya agar mengetahui akarnya!" Kate ikut membantah dengan membentak Claudia.


"Kau diam saja! Aku tahu kau memang ingin menyudutkan ku kan?!" Claudia kembali membalas.


"Tidak!" Kate melipat tangannya di depan dadanya.


Tok! Tok! Tok! Benedict memukul palunya agar tetap tenang dalam persidangan.


"Nona Kate mohon jaga emosi anda. Anda tidak berhak berkata kata karna anda telah menyerahkan pada jaksa penuntut dan Nyonya Claudia harap mengikuti prosedur. Saya juga memohon untuk jaksa penuntut umum agar segera ke pokok permasalahan." Benedict meluruskan.


'pengadilan rendahan! Benar kata suamiku!' dengus Claudia dalam hati.


"Baiklah saya akan melanjutkan. Nyonya Claudia, atas dasar apa anda juga memberikan umpatan tidak sopan terhadap Nyonya Gabriane?" tanya sang jaksa lagi.


"Karna dia lebih dulu menyerangku. Kenapa tidak ada yang bisa mengerti hah? Semua yang ku lakukan karna mereka yang menyerangku terlebih dahulu!" Claudia tetap pada jawaban yang sebenarnya.


"Penyerangan seperti apa dan apa yang melandasi beliau melakukan penyerangan. Karna pada dasarnya Nyonya Gabriane seorang tua yang seharusnya dihormati?!" sang jaksa seperti membalik balikan posisi. Egnor sudah memperhatikan semua ketidak serasian antara Jaksa dan pertanyaan yang sesungguhnya.


Egnor meliriknya dan mungkin sebentar lagi ia akan memulai aksinya.


"Nyonya Claudia harap anda menjawab pertanyaan jaksa penuntut!" hakim mengingatkan.


"Pokoknya Nyonya besar itu mendatangi kantorku dan tiba tiba dia menyerangku dan bahkan mendorongku. Dia juga menghancurkan ponselku jadi aku juga menghancurkan ponsel Nona Kate itu!" jawab Claudia sedikit terbata dan pelan.


"Oh, kau di serang Nyonya Gabriane namun kau malah menyerang Nona Kate, jadi sebenarnya Nona Kate tidak bersalah dan anda malah menghancurkan ponselnya!" sang jaksa kembali berusaha membuat Claudia bingung.


"Ah tidak benar! Terserahlah, kepalaku pusing! Kak Egnor aku sudah tidak sanggup, kau urus saja. Masuk penjara atau membayar uang tebusan aku rela!" Claudia memegang dahinya dan kembali terduduk. Dia sudah tidak tahu lagi. Rasanya dia ingin kembali tak sadarkan diri namun tidak bisa. Dia ingin melihat apa yang dilakukan suaminya yang masih terdiam di sana. kenyataannya Egnor memang tampak menatap sang jaksa dengan tajam. dia juga sempat menoleh ke Kate dan Samantha. mereka berdua tampak diam pura pura tidak merasakan apa apa.


"Nyonya Claudia satu lagi pertanyaanku. Tolong dijawab karna ini yang akan menentukan anda bersalah atau tidak. Mengapa anda membawa bawa semua masalah rumah tangga, masa lalu dan kepribadian Nyonya Gabriane untuk menjatuhkan Nona Kate dan Nyonya Samantha di tempat umum?" lagi lagi pertanyaan yang tidak ada kaitannya sama sekali.


"Keberatan!" Egnor akhirnya angkat bicara. dia mengetuk ngetik meja dengan jari jarinya. semua sudah tidak masuk akal baginya. semua melihat ke arah Egnor dan tentu saja Claudia yang melirik suaminya sambil tersenyum tipis.


"Kau sudah banyak sekali bicara Elias!" Decak nya lagi sambil berdiri. Ya, sang jaksa bernama Elias.


"Tunggu sebentar Tuan Egnor, Nyonya Claudia harus menjawabnya terlebih dahulu." sela Elias membuat Egnor semakin menajamkan tatapannya dan sangat terasa menusuk meskipun ia mengenakan kacamata.


"Tidak perlu! Karna bukan dia yang harus menjawab semuanya! Hakim Benedict, perkenankan saya membawa saksi dan biarkan saya berkata kata karna sepertinya ini sudah merupakan bagian saya yang sudah tertunda sejak tadi." sanggah Egnor dengan seluruh daya tariknya yang mampu membius jalannya persidangan.


"Ya silahkan!" Benedict menyetujui.


Kate melebarkan matanya menatap Egnor di sana masih duduk dengan santai dan tenang. Sementara Samantha sudah menundukan kepalanya. Perasaannya tidak enak. Seperti akan terjadi badai besar sampai ketika ia pulang nanti. Mungkin batin seorang ibu yang merasakan anaknya ada di antara nya karna benar saja. Tidak lama kemudian seorang pria memasuki ruang pengadilan tersebut. Seorang pria yang pernah menjadi orang terpenting bagi kehidupan Claudia. Seseorang yang membebaskan dirinya dari belenggu hutang namun orang tersebut juga yang membawanya sampai kepada pengadilan ini. Ricardo Gabriane.


Pria itu memasuki ruangan dengan berjalan sedikit pelan lalu melangkah terus menerus dan berhenti pada barisan kursi yang ditempati ibunya dan wanita yang akan dijodohkan untuknya. Dia lalu menoleh ke arah ibunya yang juga sudah melihatnya.


"Mom, mengapa kau sampai melakukan seperti ini? Mengapa kau belum melepaskan wanita suci itu dan malah menjadi sekutu wanita yang jelas jelas menyukai pria lain mom bukan diriku? Kau benar benar membuat ku kecewa untuk yang kesekian kali!" Kata Richard membuat ibunya makin tertegun lalu meneteskan air matanya.


"Hakim Benedict yang terhormat dan jaksa Elias yang sangat handal, berikut merupakan saksi pertamaku. Silahkan Tuan Muda Gabriane ." Kata Egnor mempersilahkan .


Richard lalu menceritakan sedikit saja hubungan dirinya dan Claudia khususnya kedekatan Claudia dengan Samantha. Setelah itu Richard memberikan pernyataan bahwa ibunya hanya ingin ia kembali dengan Claudia yang mana mereka sudah resmi bercerai dan Claudia sudah menikah dengan Egnor. Sang hakim cukup mengerti.


Dari apa yang dikatakan Richard sang hakim sudah mendapat sebuah kesimpulan namun masih belum terlalu kuat. Richard akhirnya duduk ke bangku penonton bersama Frank, Joe dan Grace. Rasa rasanya dia agak malu mempunyai ibu yang membawa masalah kecil ini ke pengadilan.

__ADS_1


"Baik terimakasih Tuan Ricardo. Tuan Egnor apa ada lagi yang ingin anda katakan?" tanya Benedict yang bertujuan kembali meminta bukti.


"Tidak ada, tapi aku hanya ingin memberikan bukti bahwa Nyonya Claudia benar benar tidak bersalah. Dia melakukannya karna terpancing jadi dia berbuat anarkis dan emosinya meningkat tinggi." jawab Egnor datar.


"Silahkan."


Egnor lalu memberi kode pada Frank sehingga ia menghampiri Egnor untuk memberikan ponselnya.


"Di sini merupakan hasil rekaman CCTV dari gedung pengacara ku dan rekaman CCTV departemen store yang merupakan lokasi tindak anarkis Nyonya Claudia." Egnor memberikan ponsel Frank yang berisi beberapa video.


Dan rekaman itu dilihat oleh Benedict dan tentu saja Elias. Egnor lalu menghampiri Claudia yang sudah terduduk lemas.


"Kembali duduk di bawah bersamaku." Kata Egnor memapah Claudia. Claudia mengangguk dengan wajahnya yang sudah pucat pasi. Egnor memaklumi karna istrinya memang sedang tidak enak badan.


Sementara Benedict memperhatikan rekaman yang diberikan Egnor.


Dalam rekaman terlihat jelas Samantha menyerang Claudia dengan semua bentakan yang sama sekali tidak dibantah oleh Claudia. Sementara pada video kedua terlihat juga bahwa Kate dan Samantha yang menghampiri Claudia bukan Claudia.


"Sudahkah anda melihatnya Hakim Benedict? Saksi dan bukti yang sudah saya hadirkan adalah benar adanya tanpa ada rekayasa jadi segeralah membuat keputusan yang semestinya. Karna saya merasa keputusan yang akan anda buat merupakan kesempatan istri saya untuk bisa menuntut kembali si penggugat." Tutur Egnor setelah melihat Benedict menimba nimba hasil yang akan ia simpulkan. Egnor berkata kata dengan keyakinan yang membumbung tinggi karna tidak ada kata kalah dalam kamusnya apalagi masalah sekecil ini. Dia bahkan hampir melupakan sidang yang seharusnya tidak terjadi. Namun, karna ketamakan dan rasa ingin memiliki yang dipaksakan membuat seseorang malah menterjerumuskan nya dalam lubang yang ia buat sendiri.


"Baiklah. Saya sudah menangkap jelas apa maksud dari rekaman yang diberikan pengacara tergugat. Nona Joyline dan Nyonya Gabriane. Dalam video menyebutkan anda berdua yang lebih dulu menghampiri Nyonya Claudia seperti yang benar dikatakan beliau. Anda seharusnya mencari tahu terlebih dulu asas asas anda melaporkan permasalahan ini. Itu yang pertama. Dan yang kedua Nona Joyline, anda sebagai orang hukum walau hanya seorang notulen kepala daerah, seharusnya mengerti etika dalam berprilaku dan mengambil keputusan. Dalam hal ini Nyonya Claudia juga bersalah karna melakukan tindak anarkis namun tidak ada akibat tanpa adanya sebab. Nyonya Claudia melakukannya karna Nyonya Gabriane yang terlebih dulu melakukannya. Semua ini hanya kesalah pahaman dan Nyonya Claudia anda dapat menuntut kembali Nona Joyline juga Nyonya Gabriane sebagai tindak pencemaran nama baik. Namun, semua ada pada keputusan anda bilamana Nona Joyline dan Nyonya Gabriane meminta maaf atau mencabut kembali gugatannya. Jadi dengan semua hasil penelusuran ini, saya sebagai hakim utama menyatakan kalau Nyonya Claudia tidak bersalah.


Tok! Tok! Tok! Benedict mengetuk palu. Kate lalu berdiri seraya masih belum menerima.


"Silahkan Notulen menyerahkan laporan kepada ku, jaksa dan penasihat hukum tergugat. Sidang selesai! Atas perhatiannya, terimakasih!" Kata Benedict lagi menyudahi sidang. Dia hendak berdiri namun Kate manahannya.


"Hakim Benedict!" Panggil Kate. Dia ingin kembali mempermasalahkan yang masih tersisa.


"Kate! Sebenarnya aku kecewa terhadapmu, tapi biarkan Claudia yang membuat keputusan sebagai terdakwa bilamana mau masih mempertahankan egomu.


"Kak Egnor! Kau yang melihat sendiri kalau istrimu yang tidak waras ini yang menghancurkan ponselku!


"Kate! Aku memaafkanmu! Pengadilan ini membuatku muak, sudahlah! Aku tidak akan menuntutmu! Aku tidak sepertimu yang sangat kekanak kanakan. Kau sudah menyita waktu banyak orang. Perhatikan attitude mu jika ingin mendapatkan pria seperti Egnor ku! Kak, ayo kita pulang! Aku sangat tidak enak!" Kata Claudia kemudian.


Egnor mengangguk dan tidak mempedulikan Kate. Claudia hendak berdiri namun hal tak terduga terjadi. Egnor malah menggendong Claudia karna ia merasa Claudia tidak bertenaga. Egnor menggendong Claudia ala bridal style dan melewati mereka semua yang menyaksikan pasangan sejoli itu yang semakin dekat dan mesra. Egnor sudah tidak peduli lagi dengan semuanya karna merasa sudah cukup dengan kata kata Claudia yang secara tidak langsung merendahkan mereka.


Richard sudah tertunduk. Dia menghela napas dan ikut keluar sambil mengusap dahinya. Kate tersungkur di lantai merasa benar benar sudah masuk ke dalam lubang yang ia buat sendiri. sedangkan Samantha, dia menangis menutup wajahnya karna merasa sudah gagal menjadi ibu dari Richard.


...


...


...


...


...


Pelajaran : jangan apa apa terbawa perasaan, sebaiknya kenali dulu dalam mengambil keputusan. Jangan terlalu percaya diri. Tetap ikuti permainan takdir dan jalankan sesuai porsi. Jangan kelebihan tapi juga tidak kekurangan.


Egnor dalam setiap kelebihannya tetap menjalankan sesuai prosedur. Memberikan kesempatan bagi penuntut dan membiarkan Claudia mengatakan apa yang menjadi isi hatinya meski pada akhirnya tidak sanggup karna kondisinya. Egnor berusaha bersikap netral dengan profesinya sebagai pengacara dan juga perannya sebagai seorang suami. Tak ayal, dia juga menghormati Benedict meskipun mereka akrab. Dan jangan mencoba coba menghalalkan segala cara apalagi sampai menyogok untuk memenuhi kepuasan mu


(Haha panjang kali lebar ya karna semoga mengerti maksud dari duduk permasalahan ini. Salam hormat Hakim Vii wkwkwkwkšŸ˜ŽšŸ˜Ž)


.


Oke next part 63


Siap siap mantenan dan smoga keadaan Claudia menjadi membaik ya Mimi Clau wkwkwk .. aku suka memanggil mu Mimi karna kedewasaanmu dan perangaianmu yang meluluh lantahkan hati seorang pengacara berkutub selatan tenggara barat daya, apaan sih vii 😁😁


.


Bebs .. Jan lupa ya kasih LIKE dan KOMEN nya dongs biar aku smangat 45 ngetik dan up 😊😊


Boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel yaa šŸ˜šŸ˜


.


thanks for read and i lup youu šŸ’•šŸ’•

__ADS_1


__ADS_2