Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 157: Uncompromising


__ADS_3

Hal yang paling menyiksa adalah memang menyiksa diri sendiri. hal yang bisa menjadi mudah malah menjadi sulit terjangkau. ketika ego lebih bisa menguasai diri dan perubahan akhirnya menjadi dinding pembatas antara dua hati yang harusnya menjadi satu. ketakutan Egnor lebih menyelimuti dirinya. dia tidak ingin Claudia tahu apa yang ia rasakan, dia ingin Claudia langsung merasakan. Egnor yang sekarang menjadi baru dan asing bagi Claudia. jauh lebih keras dan membuat hati membeku. apakah Claudia sanggup menerima perubahan ini? dan, apakah perasaan Egnor pada Claudia telah berkurang sedikit demi sedikit?


...


Viena, Dion dan Leon harus kembali ke Legacy. Lexa di sana sendiri mengurus perusahaan dan membantu Rika menjaga Dior. Semua pemerintah kembali kondusif sedikit demi sedikit. Walau masih menggunakan tongkak Gerrardo sudah mulai melakukan pembenahan sedikit demi sedikit. Dia juga meminta bantuan pada Benedict dan juga Egnor. Namun, hari ini Egnor menyempatkan waktunya untuk bermain dengan anak anak nya. Dia menyuruh Anne untuk datang walau tetap ada Emma dan Lina di sana.


"Sampai sore ini dia belum kembali, Viena," keluh Claudia melihat ke langit orange di luar apartemen dan ke arah pintu.


"Tunggu saja kak, kau tenang saja, selama cinta kalian masih bersemi itu akan mudah. Maafkan aku kak malam ini aku harus kembali ke Legacy, kasihan Lexa dan Dior," ujar Viena memegang tangan kakak iparnya. dia terpaks harus kembali ke Legacy.


"Ya kau benar, terimakasih Viena. Terimakasih telah menemani dan membantu Egnor," balas Claudia yang memang harus berjuang sendiri.


"Sama sama kak, itu sudah menjadi tugasku. Selanjutnya akan menjadi tugasmu kak! Kalau kau butuh bantuan katakan saja! Mungkin aku bisa mengajaknya bicara walau hanya lewat panggilan telepon," kata Viena lagi.


Claudia mengangguk tersenyum.


Malam harinya Viena, Leon dan Dion pun menuju ke bandara. Sementara Claudia masih menunggu Egnor yang tak kunjung pulang. Claudia sudah sangat gemas. Ini sudah malam sekitar pukul 8 malam. Claudia malah bertaruh kalah suaminya tidak akan pulang lagi. Claudia memutuskan untuk berendam. Sudah lama sekali tidak merasakan ini padahal di mansion Richard di Rililand sangat lengkap fasilitas berendam. Pernah sekali dia mendengar Richard mengajak Lisa berendam. Seketika dia merindukan Egnor. Claudia kembali menangis. Mengapa semua jadi seperti ini. Padahal dia sudah membayangkan kalau suaminya itu akan memanjakannya atau bersama dengannya terus di tempat tidur atau bath up ini.


Claudia benar benar bersedih. Dia tidak menyangka dengan sikap suaminya. Dia mencoba mengoreksi diri. Mungkin dia juga ada kesalahan. Memang dia tidak memberi kabar sedikit pun. Claudia memutuskan akan mengikuti saran Frank dan Viena. Tidak peduli apa yang terjadi. Dia hanya ingin bersama Egnor juga anak anaknya.


Akhirnya Claudia menyalakan musik pada ponsel yang diberikan Viena padanya. Ketika perjalanan dari gedung kembali ke apartemen, Viena langsung peka membelikan Claudia ponsel terlebih dahulu. Viena juga sudah memberikan lagu lagu terbaru di ponsel tersebut. Viena berpesan, lagu bisa menenangkan. Claudia memang juga menyukainya. Karena lelah jiwa dan raga juga hati yang kian tak menentu mencemaskan suaminya serta aroma therapi yang menenangkan, Claudia malah tertidur di dalam rendaman air hangat itu.


Setelah selang tiga puluh menit, seseorang memasuki apartemen. Dia menuju ke kamar dan langsung ke kamar mandi. Dia seperti tahu apa yang akan dilakukan Claudia. Dia tersenyum tipis dan menghampiri wanita itu.


'Kau lelah sekali ya? Namun, kau tidak tahu seberapa lelahnya diriku melebihi dirimu! mencarimu sampai lupa apa itu bernapas," Gumam pria itu dalam hati. Dia lalu menggendong Claudia dengan sangat perlahan agar tidak terbangun. Dia menuju ke tempat tidur. Dia membaringkan Claudia dan memakaikan jubah handuk setelah mengeringkan semua tubuh Claudia. Walau ada sedikit hasrat melihat mulusnya tubuh Claudia, tapi seperti belum saatnya dia melakukan itu. Dia hanya mengelus wajah Claudia dan kembali meninggalkan apartemen itu. Sesaat Claudia agak membuka matanya.


"Kak Egnor ..." Panggil nya tapi dia kembali terlelap.


...


Paginya Claudia baru tersadar. Dia terbangun karena merasa buah dadanya agak menegang dan bengkak. Dia memang belum memberikan ASI pada Wil Wil. Walau tidak sebanyak dulu tapi setidaknya satu hari Claudia harus memberikannya. Claudia benar benar tertidur karena lusa kemarin dia tidak tidur menunggu Egnor.


"Oh God! Pasti Kak Egnor sudah kembali pergi ke gedung, aku harus menemuinya. Hem, mungkin aku harus memasakan sesuatu untuknya," gumam Claudia tidak berpikir macam macam. Dia yakin Egnor pasti luluh padanya dengan seketika.


Kebetulan hari ini Gabriel dan Lina harus ke kantor pemerintah untuk membantu Gerrardo memeriksa bagian mana yang belum diperbaiki. Dan mereka berdua juga harus mengunjungi Bruce yang kondisinya malah mengenaskan. Hanya Frank dan Moses yang bekerja dia kantor pengacara bersama Egnor menangani kasus sosial yang juga harus diperhatikan.


"Selamat siang," sapa Claudia membuka pintu ruangan Egnor. Egnor tentu langsung menoleh dan jantungnya berdebar. Dia baru saja memikirkan istrinya itu. Claudia tampak manis dengan blouse dan rok model clock.


"Claudia? Akhirnya kau datang juga!" Pekik Moses yang merasa tuannya diam pasti karena menunggu wanita ini. Egnor malah melirik tajam Moses karena terlalu berlebihan. Moses menunduk dan menghentikan senyumnya.


"Selamat siang kak Egnor," sapa Claudia mendekati meja Egnor.


Egnor sekali lagi hanya meliriknya walau hati kecilnya mengatakan ingin memeluk bahkan mencium bibir yang tersungging itu.


"Kau sudah makan siang? Aku membawakanmu udang dan cumi goreng tepung dengan saus mayonaise. Kau masih menyukainya kan?" tanya Claudia menaruh coolerbag Wil Wil yang berisi beberapa botol asi dan membuka kemasan bekal makanan itu.


"Tidak!" jawab Egnor datar namun entah mengapa terdengar sangat tajam di telinga.


Claudia tercengang. Dia mendongakan kepala dan menatap suaminya.


"Aku sudah membuatkannya kak, lihat sangat banyak. Viena ternyata menyetok udang dan cumi banyak sekali sehingga aku ..."


"Bawa kembali, aku sudah makan!" potong Egnor tidak memikirkan perasaan istrinya.

__ADS_1


Kini Moses yang mendongakan kepalanya. Mengapa tuannya berbohong. Moses mengira mereka sudah berbakikan walau tidak sepenuhnya yakin.


"Tapi kak .."


"Kau punya telinga kan? Apa sudah tidak berfungsi?" sela Egnor lagi dengan sedikit menaikan alisnya.


Claudia menarik napas mencoba tenang, mengalah dan mengerti sampai batas akhir.


"Baiklah, kalau begitu bisa nanti di makan sebagai cemilan. Em dan dimana Wil Wil? Aku mau memberikannya ASI. Mengapa kau tidak membawanya kembali ke apartemen? Aku menunggu kalian kak," kata Claudia berharap Egnor menanggapinya dengan bersahabat.


Egnor menarik napas dan menegakan tubuhnya.


"Aku sudah memutuskan sesuatu, kau dengar baik baik dan tidak ada pertanyaan atau perbantahan," kata Egnor.


Frank sudah menunduk. Dia sudah tahu apa yang akan tuannya bicarakan. Sebelumnya dia juga sudah membicarakan ini pada Frank. Namun, mungkin akan menyakitkan bagi Claudia. Claudia hanya menatap datar Egnor.


"Mulai hari ini, aku tinggal bersama Daddy dan Aunty Anne. Kau tinggal saja di apartemen," kata Egnor lagi.


Claudia melebarkan matanya. Apa maksud suaminya? Apa mereka akan bercerai?


"Karena kau sudah bersama Wilson dan Willy selama berbulan bulan jadi mulai hari ini mereka ada di bawah tanggung jawabku! Aku, Daddy, aunty Anne dan Emma yang akan mengurusnya. Karena mereka masih meminum ASI, kau bisa memberikannya secara langsung sekalian bertemu dengan mereka tiga hari sekali," tambah Egnor dengan wajah yang sangat tenang.


"Kak! Ada apa denganmu? Mengapa kau jadi seperti anak kecil begini?" decak Claudia tidak menerima dengan keputusan Egnor yang sepihak.


Egnor mengangkat tangannya tidak menerima protes.


"Sementara setiap harinya kau bisa mengantar beberapa jumlah botol asi kesini. Aku yang akan memberikannya pada Wil Wil. Sudah jelas?" kata Egnor lagi.


"Apa kau ingin bercerai denganku?" Tanya Claudia terang terangan.


"I i i iya tuan,"


"Em Frank? Kirim asi itu Aku akan makan malam di luar bersama Gerrardo, terserahmu, mau kau apakan makanan yang ada di atas meja ku itu," kata Egnor lagi sebelum keluar ruangan. Sekilas dia melihat Claudia dan menundukan kepalanya lalu keluar yang diikuti Moses.


Sementara Frank masih bersama Claudia. Claudia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya.


"Clau, aku tahu kau tidak mengerti dengan semua ini, tapi percayalah kalau kau terus memperhatikannya, dia akan kembali lagi seperti semula. Namun, aku tidak akan memaksamu untuk mengerti nya. Kau berhak memutuskan apapun. Aku tahu ini sangat menyakitkan. Tuan Johanes dan Nyonya Anne sudah menasihatinya dan dia tidak bergeming. Dia memang sangat kepala batu, Clau. Aku mewakili dirinya meminta maaf padamu," ujar Frank merasa sangat tidak enak dengan Claudia.


"Memang aku yang salah, sejak dulu aku yang salah, Frank. Aku mengerti apa yang ia inginkan, aku baik baik saja. Baiklah, aku pergi dulu. Em, buang saja makanan ini, percuma kalau tidak ada gunanya," saut Claudia dengan mata berkaca kaca dan tersenyum kecut. Claudia pun meninggalkan gedung kantor pengacara itu.


Ternyata, Egnor tidak langsung pergi. Moses yang lebih dulu menyiapkan mobil sementara Egnor masih di sebelah ruangannya. Setelah dia memastikan Claudia keluar dari ruangannya dia kembali.


"Tuan? Kau kembali?" tanya Frank agak terheran.


"Ya? Kau gantikan aku pergi bersama Moses, aku tidak selera!" jawab Egnor berjalan menuju meja kerjanya.


"Makanan ini?" tanya Frank lagi hendak membereskan bekal makanan yang Claudia bawa.


"Tinggal di situ, aku akan memakannya," jawab Egnor frustasi.


Frank membungkukan tubuhnya seraya tersenyum. Dia sudah tidak heran. Benar kata Dion pikirnya. Frank tidak banyak komentar, dia segera menyiapkan berkas untuk pergi bersama Moses.


...

__ADS_1


Claudia sangat merasa sedih. Dia tidak tahu harus kemana. Dia tidak mau kembali ke apartemen karena malah akan mengingat Egnor dan Egnor. Namun, dia juga tak ingin mengabaikan Egnor. Dia memang harus sekali lagi merayu suaminya itu. Dia tidak mau bercerai dengan pria itu. Susah payah dia mendapatkan gelar menjadi istrinya sekarang malah seperti ini. Claudia tidak mau menyerah untuk saat ini.


Claudia berjalan tak tentu arah. Berkali kali Grace menghubunginya tapi Claudia tidak mendengarnya. Dan sampailah Claudia di depan rumah Lisa dengan sebuah taxi yang akhirnya ia tumpangi.


"Apa aku memang harus meminta tolong pada Lisa?" Gumam Claudia yang masih ragu. Dia memang tidak mau merepotkan Richard dan Lisa. Claudia merasa semua ini salahnya. Dia yang tidak bisa bertahan sebentar dan berusaha mencari perlindungan di sini waktu itu.


"Lisa hanya kembali satu hari setelah itu kembali menemani Richard di mansionnya, Claudia," kata Marlyn, ibu Lisa.


"Oh baiklah kalau begitu bibi, aku akan ke sana,"


"Kau ada masalah?" selidik Marlyn.


Claudia menggeleng dan mengecup pipi kanan kiri Marlyn lalu pergi. Sementara Marlyn menghubungi Lisa atas kedatangan sahabatnya itu.


Ketika Claudia sampai di depan gerbang mansion Richard yang agak tidak terawat, entah mengapa dia mengingat perkataan pedas dari suaminya. Apa memang benar Claudia akan terus berharap pada Richard? Padahal dia tidak mau!


Akhirnya Claudia malah duduk di pinggir pintu gerbang yang terdapat beberapa pekarangan bunga yang tampak layu. Memang sejak Samantha meningga, semua pegawai dipecat oleh Richie. Sementara Richard masih berduka dengan kedua orang tuanya. Lisa juga belum bisa memutuskan apa apa. Dengan adanya Claudia di depan tanaman itu, mereka benar benar bagai memiliki nasib yang sama.


Tak lama, Kevin membuka gerbang dari dalam dan menoleh karena merasa melihat sepasang kaki di depan pekarangan bunga bunga layu itu. Kevin tentu saja keluar untuk memastikan.


"Nyonya Claudia?" Panggil Kevin dan Claudia mendongakan kepalanya dengan lelehan air mata yang masih membanjir.


"Nyonya? Sedang apa kau di sini?" kata Kevin lagi dengan wajah cemas.


"Claudia? Ada apa?" kata Lisa yang mendengar nama Claudia dari suara Kevin..


Claudia langsung beranjak dan memeluk Lisa.


"Dia tidak mempercayaiku! Tiga hari ini dia dingin terhadap ku, dia mengambil Wil Wil dan dia tidak mau tinggal bersamaku, Lisa ...." kata Claudia dengan tangisnya yang lagi lagi berderai.


"Apa? Egnor? Yang benar Claud," selidik Lisa agak tidak percaya Egnor melakukan ini sesuai ketakutan Claudia


Claudia mengangguk dan Richard juga mendengarnya. Mereka baru saja ingin ke pemakaman Samantha dengan berjalan kaki.


"Kevin, siapkan mobil, kita temui Egnor!" Perintah Richard penuh emosi dan berjalan masuk ke halaman mansion.


"Tidak tidak, jangan dulu Richard kumohon, Lisa jangan dulu, dia sangat marah dengan Richard, tunggu dulu," pinta Claudia hendak menahan Richard yang terus berjalan.


"Bagaimana bisa tunggu dulu, aku harus ikut menjelaskannya Claud!" decak Richard sesaat berhenti dan setengah menoleh.


"Tidak, tunggu dulu, Lisa hentikan Richard. Tidak semudah kelihatannya. Tolong Lisa, kau mengerti bagaimana Egnor kan? Dia terlalu memojokan hubungan lamaku dengan kekasihmu, aku, aku kemari hanya butuh tempat berlindung," Claudia kembali pada Lisa dan memohon.


Lisa sangat mengerti bagaimana perasaan Claudia. Dia juga mencoba mengerti pola pikir Egnor yang sangat tidak suka dikalahkan. Ingin selalu menjadi menang dan menjadi satu satunya yang dibutuhkan Claudia. Lisa paham bagaimana akhirnya Egnor mengartikannya.


"Richard, sayang, tenanglah, kita harus perlahan lahan mencairkan balok es itu, tidak bisa dengan menjadi palu atau batu. Maka dia akan kesakitan dan mungkin malah terus bertahan. Berikan dia air dengan kelembutan. Tenanglah, aku tahu apa yang harus kita lakukan," kata Lisa akhirnya berhasil menghentikan Richard yang hendak naik ke mobil.


...


berhasil ga Nii 🤔😭


next part 158


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊

__ADS_1


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2