
lanjutan part 149,
Grace yang didampingi Maltha dan Lina di apartemen terus memberitahu keberadaan Viena pada Egnor dan lainnya sehingga mereka mengetahui di mana keberadaan Markas Mansion rahasia itu. Mereka yang melakukan penyerangan adalah : Egnor, Dion, Frank, August, Eleazar, Alex, Kepala Polisi Devon, Leon, Gabriel dan yang menjadi kejutan mereka adalah Bertho yang datang malam bersama August setelah Viena dan Dion menyetujui rencana Egnor.
Meski begitu tenggorokan Bertho masih bermasalah sehingga dia tidak bisa bicara banyak atau berteriak. Dia akan tetap menyumbangkan tenaganya sebagai bodyguard Egnor. Bukan hanya mereka, Kepala Polisi Devon juga sudah menyiapkan anak buah yang masih bersama nya juga anak buah Bertho bersiap jika kekurangan tenaga untuk menghancurkan markas rahasia dan seluruh aparat Bruce jika Egnor belum mendapatkan surat otentik atau sebelum Egnor memutuskan berhenti.
Semua aparat milik Egnor sudah dikomandoi Jaksa Cedric yang juga siap menyerang ketika dibutuhkan. Egnor bermain sangat rapi karena tidak mau lagi jatuhnya korban tewas. Namun, tetap Egnor tidak melupakan untuk penjagaan apartemennya, rumah ayahnya dan motel Prime. Dia meminta bantuan pada aparat milik United Nations. Pasukan Komando bersenjata kenegaraan tinggi.
Egnor mengelus cincin pernikahan nya. Dalam hati masih memanggil nama Claudia dan ibunya untuk memberinya kekuatan. Entahlah, hari ini atau malam ini dia masih bisa bernapas atau tidak. Egnor menarik napas mengelus dagunya melihat ke arah luar. Hatinya sedikit gundah sama seperti Dion. Kedua pria itu sama sama sedang berpisah dengan istrinya. Namun, bedanya Dion akan bertemu sebentar lagi sementara Egnor tidak tahu, Bahkan dia tidak tahu kabarnya sedikitpun tentang istri juga anak anaknya.
'Claudia, kau di mana?' hanya itu pertanyaan Egnor yang melintas setiap saat.
...
Rililand,
"Tuan Richard, Nyonya Claudia, Nyonya Lisa, dikabarkan Tuan Egnor masih tidak pernah terlihat di ibu kota atau di pusat pemerintahan. Banyak yang berkata dia frustasi karena berita ini tuan: skandal Tuan Richard dan Nyonya Claudia yang tiba tiba menghilang," pekik Kevin yang baru tiba dari Greenville.
Prang!
Claudia menjatuhkan gelas susu yang hendak ia minum. Kakinya lunglai dan hampir saja terjatuh mengenai serpihan pecahan gelas tersebut jika Emma tidak menahannya lagi.
Richard dan Lisa menundukan kepalanya dan bergeleng. Lisa memandang Wilson yang sedang ia timang. Begitu juga dengan Richard yang lebih sering menggendong Willy .
"Maafkan paman, Willy, paman harus melakukan ini terhadap kedua orang tuamu," ujar Richard melemah pada Willy .
"Wilson, kau pasti mengerti kan? Segera kuatkan mommy mu," ujar Lisa juga hendak berjalan ke arah Claudia .
Claudia menghempaskan tangan Emma dan berjalan menuju kamarnya di atas. Emma hendak mengejar tetapi Kevin menahannya.
"Biarkan dia sendiri, Emma," kata Kevin memegang tangan Emma. seketika Emma malah menghempaskannya.
"Kevin! Mengapa kau mengatakan berita itu padanya? Seharusnya kau tidak mengatakan itu! Kau tidak tahu kan setiap malam nyonya Claudia menangis dan ketika tidur dia selalu memanggil nama Tuan Egnor. Aku mendengarnya. Terkadang dia mencuri satu gelas wine di dapur dan dia merasakan kesakitan ya sendiri. Dia merindukan suaminya! Apa kalian tidak ada yang mengerti? Aku mengerti, sangat mengerti karena sebenarnya aku mempunyai suami, tapi dia memiliki penyakit dan keluarganya tidak menyetujui kami. Aku merelakan dia bersama keluarganya agar dia sembuh. Ternyata dia sudah menikah lagi. Jadi aku sangat mengerti bagaimana perasaan Nyonya Claudia yang berjauhan dengan orang yang ia sayang dan cintai! Tuan Richard, aku mohon pikirkan untuk mengembalikan Nyonya Claudia ke Honolulu, ini sudah hampir dua bulan. Aku sangat mencemaskan kondisi mental dan kesehatan Nyonya. Nona Lisa juga tahu kan kalau ASI Nyonya Claudia sudah sangat berkurang karena dia frustasi! Tolong jangan hanya mengatakan sabar, tenang, berikan dia sesuatu yang bisa membuatnya bertahan hidup! Maaf kalau perkataan ku lancang, permisi! Aku harus tetap mengawasi Nyonya. Tuan Egnor sudah berpesan padaku untuk selalu menjaganya," tutur Emma yang tidak pernah melepas pandangannya untuk menjaga dan mengawasi Claudia.
Lisa, Richard dan Kevin jadi merasa bersalah. Yang dikatakan Emma ada benarnya. Richard pun memandang Lisa dan mulai memikirkan tentang kepulangan ini.
Emma menyusul nyonya ya. Dia hanya mengintip dari pintu kamar yang sedikit terbuka dan melihat Claudia duduk di pinggir jendela menatap pantai. Emma tidak mau menganggunya. Dia hanya memastikan kalau majikannya baik baik saja.
'Kak, aku di sini, aku sakit, aku terluka, aku meng-khawatirkanmu, aku takut, gelisah dan aku membutuhkanmu! Aku baik baik saja kak dan hanya ada nama mu satu satunya di hatiku. Tolong, percayalah!' gumam Claudia menundukan kepalanya memegang hatinya yang lebih hancur berkeping keping sama seperti pujaan hatinya.
...
Back to Honolulu,
__ADS_1
Hutan Tropis Pinggiran Timur Honolulu
Ternyata kawasan Markas ini terdapat di sebuah hutan tropis satu satunya yang dimiliki Honolulu. Konon hutan ini merupakan pembuangan para jenasah yang mendapat hukuman mati jadi tidak akan ada yang berani menginjak hutan ini kecuali kepala mafia yang haus darah dan wanita ini. Siapa lagi kalau bukan Bruce Dalton.
Hutan ini berada di dataran tinggi dan merupakan atas dari sebuah tebing tinggi sehingga akan mengarah pada jurang atau laut dalam yang dihiasi bebatuan karang di bawahnya. Viena agak bergidik melihat sisi jalan tersebut yang sebelumnya tidak ia ketahui kalau Honolulu sangat luas dan memiliki tempat seperti ini. Viena mencoba menetralkan dirinya dan tetap berlagak angkuh. Padahal hari masih sore walau akan gelap sebentar lagi, tapi jika suasana seperti ini, Viena hanya wanita biasa yang cukup ngeri.
"Ada apa Nona, kau ketakutan?" Selidik Dawney hendak merangkul Viena tapi dengan cepat Viena menjauhkan diri dan memukul tangan Dawney.
"Aku akan mengadu pada Tuan Bruce jika kau menyentuhku sedikit saja!"
"Ouch, oke, i'm sorry!" Saut Dawney mengangkat kedua tangannya. Richie terkekeh mendengarnya.
Mansion Markas Rahasia Bruce Dalton
-------------------------------------
Sekita tiga puluh menit akhirnya mereka memasuki sebuah gerbang besar dan mansion yang cukup klasik dengan bata putih dan atap biru dongker yang menunjukan kemegahan dari mansion yang kira kira terdapat tiga lantai itu. Viena meneguk salivanya. Sebelumnya dia belum pernah memasuki sebuah mansion.
'Dion, semoga kau sudah sampai di dekat sini, aku takut sekali!' gumam Viena dalam hati menyebut nama suaminya.
Viena turun dari mobil dan mengikuti Dawney dari belakang. Viena memasuki mansion tersebut yang di dalamnya banyak terdapat ornamen emas. Namun, tak lama Viena hendak ke atas menemui Bruce, Kingsler menahannya.
"Tuan Bruce tetap menyuruh untuk memeriksa siapapun yang berasal dari luar," kata Kingsler tegas.
"Oke!" saut Viena tampak tenang.
"Maaf nona, pertama Tama anda harus melepaskan semua logam yang anda kenakan seperti anting, gelang dan cincin yang anda gunakan! Dan anda harus meninggalkan tas serta alat komunikasi anda di sini!" kata Kingsler lagi.
"Aku ingin bertemu Bruce bukan menjual semua barang berhargaku padamu!" decak Viena agak risih.
"Begitulah perintah Tuan Bruce nona, harap ikuti agar kau bisa menemui beliau!" saut Kingsler datar.
"Baiklahhh!! Merepotkan sekali!"
Dan Viena mulai melepas antingnya setelah melepas topi. Lalu dia melepas gelang dan terakhir cincin yang merupakan milik Claudia. Di sanalah chip yang disembunyikan Grace dan Eleazar untuk bisa melakukan pelacakan lokasi Viena. Tapi bukan hanya itu, ketika Viena menekan batu berlian kecil yang melekat di cincin tersebut, cincin tersebut dapat melacak bagaimana sistem keamanan yang ada di markas rahasia ini. Ternyata memang terdapat beberapa garis merah detektor yang dipasang Bruce untuk mengetahui adanya penyusup yang memasuki markasnya.
Viena sudah menekan batu berlian tersebut dan chip tersebut sudah memberitahu Grace di mana saja titik garis merah berbahaya yang harus di hindari team Egnor.
Grace pun kembali bekerja memberi tahu Egnor, Dion dan lainnya agar tetap berhati hati. Tujuan mereka sebenarnya adalah membawa Egnor bertatapan langsung dengan Bruce tanpa penyerangan walau pada akhirnya tetap akan ada perseteruan atau perkelahian untuk bertahan dan menyerang.
__ADS_1
Viena kembali meneguk salivanya. Sudah tidak ada alat pelacak di tubuhnya. Viena kini dengan mudahnya disentuh oleh siapapun tapi Viena tetap akan berjaga jaga sampai suaminya dan kakaknya datang mengamankannya. Viena mengawasi tangan dan mata Dawney yang terus memperhatikannya. Dan, sampailah Viena di depan kamar Bruce.
'Oh God! Mom, lindungi aku, menantu dan anak laki laki mu! Katanya Bruce cukup tampan, tapi tidak akan mengalahkan suamiku! Hem, Dion cepat selamatkan aku!' gumam Viena dalam hati dengan degup jantung yang sangat kencang. Dia menarik napas ketika Dawney membuka pintu besar kamar Bruce.
Lagi lagi Viena dilanda ketegangan dan kembali meneguk salivanya. Di sana tampak Bruce sedang memainkan sebuah piano besar dengan lagu terkenal karya Beethoven. Entah mengapa suasananya jadi sangat mengerikan.
"Selamat malam, Tuan Bruce!" Sapa Dawney. Sementara Richie tidak ikut karena agak kesal dengan Bruce yang terlalu percaya dengan wanita cantik manapun.
Bruce menghentikan permainan pianonya dan menoleh. Dia tersenyum dan beranjak.
Dawney dan Viena sudah memasuki kamar Bruce dan berhenti di tengah tengah.
"Kau bisa keluar Dawney, ini urusanku dengan si wanita Jeconya ini!" Perintah Bruce. Dawney segera keluar dan menutup pintunya.
Viena meneguk salivanya lagi dalam hati menyebut nama Dion dan Kakaknya bergantian tetapi tetap tidak menghilangkan sikap acuhnya. Viena akui Bruce tampan seperti kakaknya tapi dia tidak semudah itu terbuai. Yang jahat tetaplah terlihat malam menyeramkan.
"Selamat malam Tuan Bruce," sapa Viena.
"Selamat malam, Nona ..." Saut Bruce mengulurkan telapak tangannya hendak menerima jabatan tangan Viena.
Sampai saat ini belum ada tanda tanda Dion atau Egnor datang. Viena terpaksa mengulurkan tangannya agar tidak dicurigai.
"Glo, Gloria Jeconya," kata Viena terbata dan menerima kecupan punggung tangan dari Bruce.
'Kapan kau datang Dion, Kak Egnor, aku sudah risih sekaliii!!!' decak Viena dalam hati.
dan tak lama terdengar sebuah ketukan dari luar. Viena menarik tangannya sedikit gugup dan wajah Bruce menunjukan kekesalan karena seseorang menganggu momen ini. Viena berjalan mundur. Bruce sudah mulai curiga dan terkejut ketika pintu terbuka perlahan dan ada seseorang yang masuk dari jendela dengan sangat cepat.
"Viena! kau baik baik saja?" kata pria tersebut menarik tangan Viena masuk dalam pelukannya. Bruce membelalakan matanya.
"Kau?! Dion Prime?" decak Bruce tetap dalam pijakannya namun dengan wajah terheran.
"Hello, Bruce! long time no see!!" kata seorang lagi membuka pintu kamarnya dan kembali menutupnya.
...
oke, you ready, fight? 😎
Mon map kalo kata katanya aneh . author aliran romance yg sok sok an buat action modal noton kok ini beneran .. 😁😁
.
minta LIKE dan KOMEN nya kakak kakak sekalian 😁
__ADS_1
thanks for read and i love you 💕💕