
Claudia memasuki ruangan sebelah ruang kerja utama Egnor. Dia duduk di sana menutup wajahnya dan menangis. Dia menangis bukan hanya kemarahan Egnor, namun juga dia mengingat bibinya. Dia mengingat masa lalu nya dimana dia bersama banting tulang mengerjakan hal apapun untuk memenuhi kebutuhan dan juga membayar hutang pamannya.
Sampai sekarang, pamannya belum bisa berubah. Pamannya selalu bermain judi dan menyakiti bibinya. Belum lagi para renternir yang selalu mempermainkannya. Claudia terus menangis sesenggukan dan akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi bibinya. Sudah sekitar seminggu ia bekerja bersama Egnor namun belum pernah menghubungi bibinya karna ia baru mendapatkan uang transportasi mingguan dari Grace kemarin. Dia baru saja membeli kartu pasca bayar untuk ponselnya.
"Halo!"
Suara pria di seberang sana sangat berat dan seperti sedang merasakan kekesalan.
"Paman! Ini Clau." Claudia yang mengetahui suara pamannya langsung menyapa pamannya dengan sedikit penekanan.
"Hah! Akhirnya kau menghubungi juga ya?! Di mana bibi mu menyuruhmu pergi hah?!" Tanya Jack sang paman yang terdengar geram dan penasaran.
~Di mana? Apakah bibi tidak mengatakannya? Apa bibi hendak melindungiku lagi? Tapi, dimana bibi?~ pikir Claudia dalam hati.
"Aku pergi bekerja Paman, eng eng di mana bibi?" Jawab Claudia terbata dan ketakutan.
"Kau pergi dan besoknya bibi mu sakit! Siapa yang di sini akan memberi kami makan hah?! Kau seenaknya pergi meninggalkan kami! Kau di mana sebenarnya hah?!" Tanya Jack lagi sangat sangat marah.
Claudia tersentak. Bibinya sakit. Padahal bibi yang mengantarnya sampai ke depan firma hukum Egnor di Oriental sana. Apakah bibi menyembunyikan sesuatu? Pikirnya lagi dalam hati.
"Pokoknya aku akan memberikanmu uang paman! Di mana bibi sakarang? Apa dia baik baik saja?!" Claudia tidak menyerah.
"Secepatnya kau kirimi aku uang untuk membayar perawatan bibi mu! Dia sedang di rawat dan sekarang aku ingin ke sana! Kalian ini selalu merepotkanku! Cepat kirim uangnya atau bibimu dan aku akan mati kelaparan!" Teriak pamannya dan menutup panggilan.
"Eng, paman -- halo -- paman!!" Claudia melihat ponselnya dan kembali mencoba berbicara, namun seketika:
"Paman siapa? Siapa yang kau hubungi?" Egnor sudah berdiri di daun pintu ruang kerjanya.
Claudia terkesiap. Dia mematikan ponselnya dan menyimpannya di tas kecilnya.
"Tidak. Tidak siapa siapa. Ada apa Tuan?" Jawab Claudia terbata lalu berusaha menghapus air matanya dengan tangannya.
Egnor lalu mengambil tysu di atas dispenser yang ada di ruangan itu. Dia lalu menghampiri Claudia dan memberikan tysu itu.
"Gunakan ini untuk menghapus air matamu." Kata Egnor mengulurkan tangannya memberi tysu.
Claudia memandang Egnor sebelum dia meraih tysunya dengan sedikit gemetar.
"Ada apa? Kau kesal dengan semua kesalahan yang kau buat?!" Tanya Egnor berbohong untuk tidak menyadari kalau ia juga ikut andil dalam kesedihan Claudia.
Claudia menggeleng menjawab pertanyaan Egnor dan menghapus air matanya.
"Sejak kemarin aku tidak melakukan kesalahan! Laporan transaksi pajak tersebut juga. Aku sudah membandingkannya dengan yang Tuan Frank buat. Semuanya sama seperti punya ku bahkan punyaku lebih rinci. Tapi, memang masalah data korban dan pelaku, aku keliru, aku minta maaf Kak Egnor." Claudia memasang wajah polos dan memelasnya untuk mendapatkan simpati Egnor. Dia juga memanggil Egnor dengan sebutan kak.
"Lupakan! Sekarang, atur jadwalku dan ayahku serta orang lapangan untuk melakukan survey ke lokasi lahan yang sudah kita miliki. Aku ingin segera membangunnya. Lebih cepat lebih baik!" Kata Egnor dan berbalik kembali ke ruangannya.
"Cih! Tadi marah marah, katanya tidak mau melihat wajahku, tapi setelah beberapa menit dia datang memberikan ku tysu dan masih bilang aku bersedih karna kesalahanku, aneh! Mengapa kau menjadi berubah seperti ini kak Egnor?!" Decak Claudia setelah memastikan Egnor berbelok dan menuju ke ruangannya.
Claudia menarik napas. Dia lalu segera mengerjakan apa yang diperintahkan Egnor. Dia harus segera mendapatkan uang. Dua minggu lagi dia baru mendapatkan gaji. Untuk sementara dia akan berusaha tidak membuat tuannya marah atau mungkin dia akan dipulangkan secepatnya.
Claudia membuka data jadwal satu bulan yang sudah ia buat untuk Tuan Egnor. Dia mencari hari yang kosong mengingat tuannya itu seorang pengacara terkenal. Bisa hampir dua hari sekali dia menghadapi kasus. Bisa hampir dua hari sekali dia menemui client nya untuk pembicaraan lanjut mengenai kasus client nya.
__ADS_1
Setelah melihat waktu kosong Egnor di hari sabtu, Claudia menghampiri Grace untuk menanyai keseharian Johanes, ayah Egnor dan menanyai kontak orang lapangan. Ketika Claudia memasuki ruangan Egnor lagi, dia mengintip dulu dan memastikan Egnor tidak ada. Claudia masuk dan menemukan Grace sedang berbicara di telepon kabelnya.
"Siapa yang bertugas lembur hari ini? -- Tidak ada? -- Bagaimana bisa tidak ada? -- mereka sudah lembur terus? -- Tuan Egnor tidak mentolelir -- cari secepatnya -- kasus itu harus selesai secepatnya -- ya segera kabari aku!!" Grace menutup kasar telepon. Dia memijit pelipisnya sedikit frustasi. Dia pikir hari ini dia tidak akan mendapat cacian tuannya. Mendengar tuannya mencaci Claudia saja dia sudah pening. Apalagi dia sendiri yang mendapatkannya. Grace menarik napas dan akhirnya menoleh ke arah Claudia yang menghampirinya.
"Ada apa Grace? Mengapa kau muram seperti ini?" Tanya Claudia di depan meja Grace.
"Nanti malam akan ada perangkuman laporan kasus perceraian pengusaha teman dari Tuan Egnor. Kasus nya hampir selesai hanya butuh laporan akhir. Notulen yang seharusnya bekerja lembur mendadak sakit. Aku pusing! Aku masih harus mengerjakan laporan kasus sekarang dan masih banyak lagi. Aku tidak bisa membayangkan kalau Tuan baru mu mendengar kalau laporan kasus temannya itu diundur lagi. Maklum, pengacara terkenal, emosinya terlalu meluap luap. Sebenarnya ini masalah kecil karna ketidak sabarannya pasti dia akan marah. Pasti itu Clau!" Grace menjelaskan seperti mencurahkan isi hatinya.
"Kau sudah menjadi seorang yang sangat sabar Grace. Begitulah pengacara handal dan terkenal, emosinya suka meluap luap. Kalau tidak bagaimana Tuan kita itu selalu memenangkan kasus, dan kau tidak akan digaji." Kata Claudia menanggapi dengan santai sementara Grace meliriknya malas.
"Benarkan?" Tanya Claudia lagi sedikit menggoda.
"Ya benar! Karna gaji aku di sini, ya kau benar! Jadi, apa yang kau inginkan?" Kata Grace menggabungkan tangannya menatap Claudia.
"Eng, apa notulen lembur itu dibayar?" Tanya Claudia melenceng dari tujuannya.
"Yup, kalau tidak, tidak akan ada yang mau lembur. Kau ini sudah pernah bekerja kan?" Jawab Grace.
"Aku saja yang gantikan, kebetulan malam ini aku tidak punya kesibukan di apartemen. Bagaimana?" Claudia mengajukan diri.
"Benarkah Clau? Kau tidak apa pulang larut?" Wajah Grace manjadi sedikit lega.
"Ada apa dengan pulang larut, semalam saja tuan mu membuat ku pulang pukul 9 malam." Kata Claudia tak masalah.
"Baiklah sudah ditetapkan, piufht, akhirnya masalah ku berkurang. Jangan lupa nanti pukul 7 malam di ruanh auditorium!"
"Baiklah Grace aku akan hadir. Oiya, aku membutuhkan jadwal Tuan Johanes dan kontak orang lapangan." Kata Claudia lagi mengingat tujuannya.
...
"Tuan, malam ini urusan kasus perceraian teman anda akan segera rampung. Kalau anda berkehendak, anda bisa ikut rapat tersebut satu jam lagi. Saya permisi dulu Tuan." Grace undur diri.
"Ya, ya kuusahakan, semuanya sudah ada kan? Kudengar dari Frank, notulennya mendadak sakit." Jawab Egnor.
"Iya Tuan, tapi Claudia bersedia menggantikannya." Jawab Grace bergegas pulang.
"Claudia?!"
"Iya Tuan, dia bersedia. Ada apa Tuan?!"
"Tidak apa. Lalu, dia masih bekerja di samping?" Tanya Egnor lagi.
"Iya Tuan membenahi laporan transaksi keuangan yang salah, katanya dia sudah tidak ada kerjaan dan kau belum menyuruhnya lagi."
"Baiklah baiklah. Kau pulanglah Grace!" Kata Egnor mengebas ngebaskan tangannya ke arah Grace.
"Baik Tuan permisi."
Egnor merasa kasihan dengan Claudia. Tapi, jika tidak begini, Claudia akan sering terlambat dan tidak fokus bekerja. Akhirnya, Egnor yang tidak biasa mengikuti rapat malam dengan anak buahnya mendadak mengatakan pada Frank kalau dirinya bisa menggantikan orang kepercayaannya itu. Ya bisa dikatakan, Frank adalah wakil presiden direktur Egnor. Frank merupakan junior Egnor ketika sekolah di magisternya. Frank sempat terkejut mendengar penuturan pemimpinnya. Namun, Frank belum menyadari kalau Egnor sebenarnya ingin melihat Claudia lebih lama. Setelah dia menghukum Claudia tadi, dia mendapat undangan pertemuan pengacara handal se Honolulu.
Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Claudia tidak ingin terlambat lagi. Dia sudah bertandang di depan notebook dan siap mencatat setiap detil rapat.
__ADS_1
"Rapat kali ini harus benar benar selesai, karna Tuan Egnor yang memimpin rapat." Kata seorang pegawai.
Seketika hati Claudia bergetar mendengar kalau pemimpinnya ikut rapat. Grace tidak mengatakan apa apa. Seingatnya Egnor sangat tidak suka jika ada rapat di luar jam kerja. Claudia menepuk dahinya. Semoga Egnor tidak memerahinya lagi karna mencari kerjaan sampingan. Ini semua demi bibinya Claudia harus mencari tugas lembur yang menghasilkan.
Ketika Egnor datang bersama Frank, semua pegawai yang sudah datang berdiri dan menyambut dua orang penting itu dengan menundukan badan mereka. Mata Egnor mencari cari keberadaan Claudia. Claudia juga menatapnya dan menundukan kepalanya. Egnor langsung memalingkan matanya dan memulai rapat. Selama rapat tetap Frank yang memulai. Egnor hanya memperhatikan dan sesekali memberi pernyataan, tapi selebihnya dia terus memperhatikan Claudia yang begitu cantik dan berkarisma ketika sedang serius melakukan pekerjaan.
Ketika ada waktu break beberapa kali, Claudia mendapatkan Egnor yang menatapnya lalu wanita itu menggodanya dengan mengedipkan satu matanya sehingga membuat Egnor salah tingkah dan kadang terbatuk. Ada rasa senang dalam hati Claudia karna walaupun hari ini Egnor menghukumnya namun ada sisi kelembutan yang terpancar dari hati pria itu.
Sampai akhirnya rapat selesai sekitar pukul sembilan malam. Egnor melangkah lebih dulu bersama Frank hendak keluar dari ruang auditorium namun ketika sampai daun pintu, Egnor berhenti.
"Claudia, kau Claudia kan asisten baru Tuan Egnor?" Tanya seorang pegawai menyapa.
Claudia hanya mengangguk dan tersenyum sambil membenahi laptopnya.
"Perkenalkan aku Marco dari bagian tim Tuan Frank. Eng, ini sudah malam, kau mau pulang bersamaku?" Ajak Marco dan semuanya terdengar oleh Egnor.
"Suruh Claudia pulang sendiri atau dia akan kupecat! Bisikan padanya Frank!" Perintah Egnor dan berjalan menuju basement.
Sebenarnya muncul banyak pertanyaan di dalam pikiran Frank mengenai tuannya yang sangat sensitif jika berhubungan dengan Claudia. Namun, Frank selalu mengesampingkannya dan terus bekerja. Dia lalu menghampiri Claudia dan Marco.
"Ehem!" Frank berdehem ke arah Marco. Marco lalu seperti kikuk. Dia membungkukan badannya dan meninggalkan Frank dan Claudia.
"Tuan Frank, terimakasih. Sepertinya pria bernama Marco itu mesum! Dia selalu mengedipkan mata padaku, aku tidak suka!" Kata Claudia masam.
"Frank. Panggil aku Frank Claudia. Aku sama dengan Grace."
"Ya. Kau pacarnya." Claudia terkekeh.
"Baiklah. Kau hati hati. Kau harus segera pulang. Malam semakin larut. Terimakasih telah menggantikan notulen hari ini." Kata Frank undir diri. Claudia juga bergegas menuruni gedung dan pulang.
Ketika dia berbelok keluar dari gedung dan berjalan menuju apartemen kecil nya yang tidak jauh dari kantor, sebuah mobil hitam sedan berhenti di sampingnya. Sang pengemudia membuka kaca, Claudia sempat terheran siapa pengemudi ini.
"Masuk!" Perintah sang pengemudi. Claudia merasa sangat tersentuh dan terpukau melihat piawai pengemudia tersebut yang sungguh meluluhkan hatinya. Yang membuat dirinya ingin cepat masuk dan memeluk pengemudi tersebut
...
Bersambung ..
Next part 9 yuk cuss ..
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE & KOMEN
kasih juta rate dan tip silahkan ..
.
Yang mau join grup wa Fans Mantan Terindah the Series silahkan tinggalkan no hp atau chat akun mt aku kalo uda follow silahkan komen ikut grup oke 😁
.
__ADS_1
Thankyou and lafyou all 💕💕