Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 168: Gimme, Something New!


__ADS_3

Kalau bersabar adalah hal yang paling mahal diraih dan harus dibayarkan pada prilaku yang sudah kita perbuat, lakukanlah dengan perlahan tanpa paksaan. memberikan sesuatu yang baru agar semuanya berjalan dengan baik dan penuh cinta. Egnor bertekad akan melakukan apapun demi mendapatkan hati Claudia yang sudah hancur karenanya. Egnor tahu kalau Claudia masih sangat mencintainya oleh sebab itu Egnor akan mempertahankan semua ini. apapun keputusan Claudia semoga menjadi yang terbaik dan baru bagi pernikahan mereka. apakah Claudia akan luluh? dapatkah mereka menemukan ibu Claudia?


...


Claudia menarik napas karena terpaksa harus menerima Egnor di motelnya ini. Dia tidak tahu selanjutnya harus seperti apa tapi juga tidak bisa mengusir suaminya itu. Egnor yang menyelamatkannya dari minuman mengerikan itu, dari keteledorannya. Kalau bukan suaminya yang menangkap, kemungkinannya ada 3, seseorang yang baik yang membawanya ke rumah sakit, seseorang yang memanfaatkan kesempatan atau dia akan mati karena menahan hawa panas dalam tubuhnya. Namun, lagi lagi si pria hukum itu diberi predikat penyelamat dirinya lagi. Dia harus membalasnya.


Claudia menyiapkan onigiri yang ia punya. Dia masih harus menjaga harga dirinya untuk tidak meminta apapun dari Egnor. Claudia membawakannya untuk suaminya makan dan mungkin dia bisa beli beberapa obat pereda demam dan saat itu juga dia bisa menyuruh Egnor meninggalkannya. Ya! Tekad itu sudah membumbung di kepalanya.


"Kak, aku hanya punya ini, satu porsi onigiri dan nanti aku akan membeli obat pereda demam di mini market di motel ini," kata Claudia sudah duduk di pinggir tempat tidur dengan membawa sepiring onigiri.


Egnor masih menutup dahi dan matanya dengan lengannya lalu mengintip sedikit.


"Kepalaku pusing sekali Clau, bisakah kau menyuapiku?" Pinta Egnor dengan nada lemah.


"Tidak! Makan sendiri dan aku akan membelikan obat dulu!" Saut Claudia.


"Argh! Mungkin kalau aku tidak menuruti nafsumu, aku tidak akan seperti ini, sekarang kepalaku pusing sekali!" Balas Egnor masih mengeluhkan kepalanya.


Claudia memutar bola matanya malas. Dia menarik napas dan menarik pergelangan tangan Egnor.


"Duduklah, aku akan menyuapimu," kata Claudia akhirnya.


Egnor mengintip lagi dan tersenyum tipis. Dia berusaha duduk perlahan lahan.


"Buka mulutmu!"


Egnor membuka mulutnya dengan terus memandang Claudia dengan seksama sambil sesekali tersenyum.


"Jangan memandangiku terus seperti itu atau aku tidak akan menyuapimu," kata Claudia menyodorkan lagi potongan kecil onigiri.


Egnor langsung memegang pergelangan tangan Claudia dan kini makin memandangnya dengan seksama.


"Kak, apa, apa, apa yang mau kau lakukan?" Tanya Claudia terbata.


Egnor menggeleng dan tersenyum lebar.


"Kalau tidak lepas, jangan seperti ini!"


"Biarkan aku membantumu mencari ibu mertuaku," kata Egnor memohon..


"Cih, ibuku dan tidak akan menjadi ibu mertuamu! Kau yang mau menceraikan ku kan?" Decak Claudia acuh.


Egnor menggeleng.


"Sudahlah kak, kau jangan memohon atau merasa menyesal! Waktu kau mengatakan itu, apa tidak ada perasaan cintamu untukku sedikit saja?" Ujar Claudia membumbung air mata di kelopak matanya.


"Maaf!


"Aku sudah memaafkanmu tapi untuk bersama sepertinya tidak bisa


"Bagaimana Wil Wil, Clau?


"Tidak usah menggunakan nama Wil Wil! Kau yang menyebabkan ini semua! Sekarang lepas!" Kata Clau sudah menaruh piring di nakas samping tempat tidur dan berusaha memaksa melepaskan tangan Egnor dari pergelangan tangannya.


"Kau makan sampai habis, aku akan membelikanmu obat!" Decak Claudia berdiri dan meninggalkan Egnor.


Egnor menarik napas dan memegang lagi dahinya. Dia harus bersabar untuk kembali merebut hati istrinya. Memang semua salahnya. Emosi dan keegoisan terlalu memenjarakan dirinya. Kini dia harus memberikan sesuatu yang baru untuk Claudia. Harus menjadi pelindung dan teman untuk masalahnya. Dia harus menemani istrinya mencari ibu mertuannya. Sekarang dia harus menuruti apa kata Claudia sehingga bisa memohon padanya.


Egnor menghabiskan onigiri itu lalu menghubungi Grace sebelum Claudia kembali membeli obat.


"Apa yang harus kulakukan untuk bisa menemukan ibu mertuaku?" tanya Egnor dengan nada datar.


"Buka seluruh peta Japanis dan kunjungi tempat tempat yang sebelumnya beliau datangi lalu tanya dari sana di mana beliau pergi selanjutnya. Cari juga info info sebelumnya mengenai beliau, siapa tahu dapat membantu tuan," kata Grace memberitahu seturut pikirannya.


"Suruh Frank mencarikannya untukku lalu kirim ke email ku. Carikan juga info peta yang memudahkanku dan Claudia, Grace! Kau tahu kan aku tidak paham dengan ini semua!" ujar Egnor kemudian.


"Tapi kau mengetahui jalan jalan japanis kan tuan? Beritahu Claudia kalau kau bisa memberitahu tempat tempat yang berbahaya yang mungkin tidak akan dikunjungi nyonya Gie! Seperti sekarang saja dia ditipu kan tuan?"


"Grace! Apa tidak ada kemungkinan ibu mertuaku bekas pasien dari rumah sakit atau penghuni panti kejiwaan atau semacamnya?" tanya Egnor meminta pendapat.


"Bisa saja tuan, kau memang bisa memikirkan sampai ke sana!" jawab Grace setuju dengan pikiran tuannya.

__ADS_1


"Tanyakan pada dokter Ernest, minta data pasien semua rumah sakit kejiwaan di Japanis dan Honolulu. Kalau itu benar nyonya Gie pasti tidak akan jauh dari Japanis atau Honolulu kan?" perintah Egnor langsung memutar otaknya.


"Benar tuan!"


"Carikan! Secepatnya aku butuh data ibu mertuaku! Atau minta data kependudukan Honolulu dan Japanis. Suruh Gabriel dan Lina membantumu! Dari situ aku akan tahu latar belakangnya dan kemungkinan dia mengunjungi tempat tempat kenangan!" perintah Egnor lagi. seketika Grace terkesima tuannya bisa dengan cepat menganalisa padahal Claudia masih acuh padanya.


"Hebat! Kau memang pengacara handal! Masalah cari mencari kau nomor satu! Oke tuan, aku akan mengerjakannya!" saut Grace.


"Kirim semua ke emailku dan jangan lupa belikan laptop kecil dan kirim ke motel Reiko! Aku tidak membawa laptop," kata Egnor lagi.


"Siap tuan!$


Panggilan dimatikan. Masalah pertama selesai. Ketika Claudia kembali dia akan memohon untuk bisa menemani istrinya lalu dia akan menunjukan keahliannya. Egnor kembali menyeringai menegak habis air putih lalu kembali berbaring.


Tak lama Claudia kembali dengan obat pereda demam dan minuman penambah cairan tubuh. Dia melirik sesaat ke arah suaminya yang masih tertidur dan memegang dahinya. Claudia menaruh apa yang ia beli di atas meja tamu. Dia lalu menghampiri Egnor.


"Kak, bangun! Aku sudah membelikanmu obat!" Kata Claudia membuka tutupan lengan pada dahinya.


Egnor membuka matanya perlahan karena dia memang tertidur. Dia melihat Claudia seperti melihat malaikat bintang yang selalu menerangi hatinya.


"Clau, kau seperti malaikat!" ujar Egnor tersenyum hangat. Claudia tentu saja terenyuh tapi dia harus tetap tegas pada suaminya.


"Apa apaan kau! Kau mau aku mati? Cepat bangun minum obatmu dan pergi dari sini! Aku tidak membutuhkan bantuanmu!" desis Claudia pada akhirnya.


Seketika hati Egnor berdesir. Mungkin perasaan seperti ini yang dirasakan Claudia ketika kata kata jahat itu keluar dari mulutnya.


Egnor meraih lagi pergelangan tangan Claudia dan menariknya ke pelukannya. Mereka saling berpandangan. Claudia sedikit salah tingkah karena menatap jelas wajah tampan suaminya. Hanya wajah ini yang membuatnya terjatuh dan tak sanggup bangkit lagi melihat pria lain. Bahkan Claudia hanya rela dipegang pria ini sekalipun dia sedang marah.


"Aku mohon lepaskan aku dan hargai aku. Aku sungguh sudah sangat membencimu, Egnor! Sudah jelaskan?" decak Claudia dengan nada sinis.


Egnor memicingkan matanya agak gemas.


"Katakan sekali lagi!"


"Aku sangat membencimu, Egnor!"


"Kau terus membuat kepalaku pusing jika kau memanggilku seperti ini, Clau! Kau seperti memancingku untuk ingin terus menjajaki semua yang kau punya!" balas Egnor mengabsen seluruh wajah Claudia.


"Claudia, maafkan aku, satu kali ini saja! Beri aku kesempatan memberikan sesuatu yang kau butuhkan! Oke, aku tidak akan memaksa kau kembali padaku, tapi biarkan aku membantumu mencari ibumu, ibu mertuaku," ucap Egnor memohon.


"Ibuku!


"Oke, ibumu! Satu kali ini Clau, biarkan aku membantumu! Aku tidak mau kau ditipu atau dalam kesulitan seperti kemarin. Pria yang hendak menyakitimu sudah mendekam di penjara," kata Egnor membuat Claudia membelalakan matanya.


"Apa?!"


"Ya, hanya berpikir saja aku tidak akan rela karena dia sudah membayangkan semua yang kau miliki. Kau hanya milikku, satu satunya yang kuinginkan, selamanya! Meski kau menghindar menjauh, aku percaya suatu saat nanti takdir tetap akan menyatukan kita! Jadi sekarang tolong biarkan aku membantumu! Sampai kita menemukan nyonya Gie, aku akan menerima segala keputusanmu!" Egnor benar benar memohonkan dengan terus memegang tangan Claudia.


"Kau berjanji?"


"Ya, aku berjanji! Aku hanya ingin melindungimu mengunjungi tempat tempat yang asing untukmu. Aku bisa membantumu menemukan ibumu dengan cepat, jadi tolong jangan usir aku!"


Claudia menarik napas. Dia sejenak berpikir. Benar kata kata suaminya. Kalau dia sendiri mungkin akan banyak kejahatan yang menggandrungi dirinya tapi jika dengan pengacara hebat ini dia akan aman. Lagipula dengan cepatnya pencarian ini dia juga bisa secepatnya terlepas dari Egnor. Entahlah bagaimana perasaan Claudia. Dia takut tidak bisa menjauh. Setiap melihat wajah ini, dia mengingat kedua anaknya.


Akhirnya Claudia mengangguk menyetujui permintaan Egnor. Egnor pun tersenyum lalu membelai pipi Claudia.


"Sudah kak lepaskan aku!" pinta Claudia memelas.


"Gimme some kiss, pliss!" kata Egnor ikut memelas.


"Kau banyak mau! Lepas!"


Egnor tak mengindahkan malah menarik tubuh Claudia lagi dan mencium bibir itu. Claudia tidak menanggapi dan terus menarik diri sampai akhirnya Egnor melepaskannya. Egnor tersenyum lebar sementara Claudia terus merengutkan wajahnya.


Claudia mengambil obat dan memberikan pada suaminya. Egnor meminumnya dengan terus memandang Claudia. Tersirat merah merona pada rahang wajah istrinya. Hatinya terus bergetar jika pandangan itu khusus ditunjukan untuknya.


'Hanya aku yang akan terus mengikat dirimu di hatiku Clau! Kau lihat saja! Kau tidak akan bisa jauh atau lepas dariku!' tutur Egnor dalam hatinya.


...


Paginya Egnor sudah menerima laptop pesanan Grace. Tadi malam Egnor sengaja bermain ponsel di sofa sehingga Claudia bisa tidur di tempat tidur. Egnor sangat yakin Claudia tidak mau tidur dengannya. Namun, ketika Claudia sudah pulas, Egnor menelusup tidur di belakang Claudia sambil memeluknya. Kenyataannya Claudia malah lebih nyaman dan tidur dengan sangat pulas.

__ADS_1


Sebelum Claudia bangun, Egnor lebih dulu bangun dengan membeli roti lapis di kantin motel. Dia begitu merasakan lelah dari istrinya. Dan kini kondisi Egnor sudah membaik karena perawatan istrinya.


Egnor membuka laptop dan memeriksa email yang mungkin sudah dikirimkan Grace, Frank, Gabriel atau Lina. Mereka bekerja sungguh cepat dan akhirnya Egnor bisa membuka peta Japanis secara keseluruhan. Frank juga sudah mendapatkan berita berita tentang wanita paruh baya penyair itu. Namanya Cleona Francez. Dan benar dugaan Egnor. Cleona Francez merupakan pasien dari sebuah rehabilitas kejiwaan yang melarikan diri. Namun, dia begitu lihai sehingga bisa mengelak kesana kemari.


Egnor memicingkan matanya merasa kalau sepertinya bukan ini nama ibu mertuanya. Dan wanita ini tidak menggunakan nama keluarga Gie. Tak lama Claudia sudah terbangun. Dia melihat suaminya sibuk di depan laptop. Claudia pun menghampiri Egnor setelah membasuh wajah dan menggosok giginya.


"Selamat pagi. Maaf aku terlambat bangun. Apa kau ingin segelas kopi atau susu?" tanya Claudia berusaha tetap menjadi seorang istri yang bertanggung jawab pada suaminya yang berkunjung.


"Aku sudah membuatnya Clau dan juga membelikan roti lapis untukmu di meja makan. Sarapan lah terlebih dulu," saut Egnor masih fokus dengan penyelidikannya.


Namun Claudia malah menangkap wajah ibunya di laptop yang sedang Egnor buka. Claudia sudah tahu kalau Egnor pasti sudah mempersiapkan ini semua.


"Mommy! Ini mommyku kak, apa kau mendapat kabar darinya?" Tanya Claudia sudah berdiri di samping Egnor dan akan menundukan tubuhnya sehingga mengenai tubuh Egnor. Egnor setengah menoleh dan menyaksikan wajah manis istrinya membuat dia gemas dan sayang jika tidak melakukan sesuatu padanya.


"Kemarilah, kita bisa melihat bersama!" Kata Egnor menarik tubuh Claudia duduk di pangkuannya. Sontak seluruh tubuh Claudia bergidik. Mengapa suaminya melakukan ini?? Dia malah tidak bisa konsentrasi!


"Tidak perlu seperti ini kak! Aku bisa berdiri di sampingmu!" kata Claudia terbata.


"Tidak! Aku mau seperti ini," saut Egnor tersenyum.


"Aku belum membersihkan diriku,"


"Aku tidak peduli! Aku mau apa adanya dirimu," kata Egnor lagi terus membuat Claudia melayang dengan kata katanya.


"Biarkan aku di sampingmu saja kak," pinta Claudia.


"Aku mau begini, menurutlah, atau kalau kau terlalu banyak bergerak, ini akan menjadi permainan yang panjang dan kita tidak jadi mencari ibumu," kata Egnor mengancam.


Claudia meneguk salivanya. Dia tidak dapat berbuat apa apa. Akhirnya dia tetap duduk di pangkuan Egnor dan melihat isi layar laptop itu.


"Clau, sepertinya nama ibumu bukan Cleona Francez," kata Egnor memberitahu.


"Francez nama keluarga ibuku kak, nama ibuku Clauna Francez Gie," jawab Claudia dan Egnor menarik satu kesimpulan yang masih ia terka.


"Sudah kuduga. Sedangka wanita yang kau cari ini Cleona Francez. Apa mungkin ibumu memiliki saudara kembar?" selidik Egnor.


Claudia berpikir. Dulu memang ibunya pernah menceritakan tentang adiknya. Namun, dia belum sempat melihat bentuk rupanya. Ibunya juga tidka menceritakan mereka kembar atau tidak.


"Clau? Kau terdiam?" Tanya Egnor yang malah mengendusi pundak Claudia. Claudia tersadar dan setengah menoleh.


"Kau sudah kelewat batas kak," balas Claudia berusaha beranjak dari Egnor tapi lagi lagi Egnor menahannya.


"Diamlah di sini!" Egnor menekan panggul Claudia untuk tetap di atasnya.


"Kakak! Apa kau tidak bisa serius?!" bentar Claudia pelan.


Egnor manarik napas. Dia melupakan sesuatu.


"Baiklah, berdirilah, ayo kita mulai mencari!" Kata Egnor akhirnya. Ada sedikit rasa kecewa ketika egnor tidak memaksanya lagi karena dari sana dirinya masih bisa dekat dengan suaminya. Claudia pun berdiri di samping Egnor.


"Jadi Clau, terakhir Nyonya Cleona memang berada di taman Hanasan. Kemarin kau ke sana, apa kau mendapat petunjuk lain?" selidik Egnor awal awal.


"Ada beberapa yang mengatakan ibuku berjalan ke arah selatan japanis," jawab Claudia.


"Selatan? Di selatan japanis ada sebuah danau di mana di sekitar danau tersebut terdapat perkumpulan biarawati. Menurut data yang dicari dari Gabriel dan Lina, Nyonya Cleona dulunya bersekolah biarawati di sini. menurut perkiraan ku, Bisa jadi Nyonya Cleona ke sana karena ingin mengenang atau dia masih merasa dia merupakan penghuni biarawati itu. Jadi, apa kau ingin ke sana memastikan analisa ku atau kembali bertanya pada orang orang di Hanasan?" kata Egnor kemudian.


Claudia terperangah mendengar penuturan suaminya. Kini suaminya sedang benar benar membantunya dengan semua pikiran cemerlang yang ia miliki. Baru kali ini Claudia merasakan aura ketampanan dan kehebatan suaminya dalam menguak keberadaan salah satu orang terpenting dalam hidupnya. Claudia masih memandangi Egnor yang sudah menaikan alisnya.


Egnor pun menyadari kalau istrinya benar benar tercengang padanya. Egnor tidak menyadarkannya, dia malah kembali merengkuh tubuh Claudia lalu mencium bibirnya. Claudia pun tersadar kalau dirinya sudah terbius dengan pesona suaminya yang benar benar tak akan luntur. Claudia malah membalas kecupan bibir suaminya.


"Clau, sarapanlah, setelah itu kita ke danau yang kumaksud, kau mau kan? Kita akan menemukan ibumu!" Kata Egnor memegang wajah Claudia dan menatapnya dengan seksama.


Claudia hanya mengangguk dan tersipu malu. Egnor lalu menegakan tubuh istrinya dan kembali melihat informasi lainnya. Dia harus tetap pada sikapnya agar Claudia tidak risih dan membutuhkannya.


...


next next part 169


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕💕

__ADS_1


__ADS_2