Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 36: Chip


__ADS_3

Egnor mengeringkan tubuh Claudia setelah mereka berdua bergulat di bawah pancuran shower. Hawa nafsu melingkupi perasaan mereka ketika baru saja melewatinya kemarin. Seperti tak ada waktu lagi untuk mencurahkan cinta mereka. Egnor benar benar dibuat harus mengeluarkan apa yang menjadi bayang bayangnya selama penerbangan ekspres itu. Sementara Claudia dengan permasalahannya yang sampai ke ubun ubun mendapatkan perlakuan romantis nan mesra dari suaminya. Membuat dirinya melupakan dan sedikit terbuai dengan kecupan bibir Egnor. Dengan belaian lembut tangan kekar suaminya dan permainan indera perasa tuan pengacara itu yang membuatnya terus menggelinjang tak karuan.


Apalagi ketika Claudia terus mengerang mencapai pelepasan yang belum tersampaikan oleh sang suami, Egnor malah makin bersemangat. Menghujam Claudia dari belakang sambil memegang erat bongkahan dada Claudia seraya tak dibiarkannya bergoyang dengan bebas. Pikiran Egnor menjadi tak berdaya bila sedikit saja Claudia melenguh merasakan kenikmatan yang menyelimutinya.


Mereka pun menuntaskannya dengan sebuah pelukan yang masih dihiasi guyuran air disekujur tubuh mereka. Egnor membimbing Claudia menuju ke tempat tidur hanya berlilitan handuk. Claudia masuk ke dalam Pelukan Egnor dan mereka mengistirahatkan tubuh mereka dengan tertutup selimut tebal itu.


"Kenapa kau kembali?" Tanya Claudia mengelusi dada suaminya.


"Kau yang meminta maka aku akan datang." Jawab Egnor mengecup puncak kepala Claudia.


"Bukannya baru besok siang?" Tanya Claudia lagi.


"Sudahlah, tidak usah dipermasalahkan, aku sudah datang dan sudah membayangkan tubuh telanjangmu." Kata Egnor yang kini mengelusi lengan istrinya.


"Hem, kau ini kak! Kau yang membuatku kecanduan!" Decak Claudia agak bergidik kalau Egnor sudah genit seperti ini.


"Tidak apa Clau, kecanduan kita ini sebuah rutinitas kesehatan!" Egnor tersenyum.


"Aku tidak mau."


"Kenapa?"


"Aku sudah mencapai puncakku sementara kau masih menjelajahiku. Itu sangat melelahkan kak!" Sungut Claudia memukul kecil dada Egnor.


"Hahaha, kau sungguh membuatku mabuk Clau!" Egnor makin mengeratkan pelukannya pada Claudia dan istrinya tersenyum menerima kehangatan pelukan suaminya.


"Em, Clau? Apa yang kau lakukan hari ini?" Tiba tiba Egnor bertanya karna mendapat laporan penarikan sejumlah uang dari kartu debit yang ia berikan pada istrinya.


"Tidak ada. Ada apa?" Jawab Claudia melupakan sesuatu.


"Kau tidak berbelanja atau apa yang kau beli hari ini? Aku menerima laporan pengambilan uang sebanyak dua puluh juta. Untuk apa?" Selidik Egnor dengan tenang.


Deg! Dia hampir saja melupakannya. Semua perlakuan Egnor membuatnya tidak bisa berpikir lagi. Untung saja suaminya memberitahukan apa yang menjadi pertanyaannya. Dan untuk sekali Claudia melakukan pengambilan pada mesin atm. Claudia menarik napas dan Egnor sudah muncul hal hal yang tidak enak di pikirannya. Seperti kecurigaan.


"Ya, aku membeli sebuah coat. Kemarin aku melihat Viena mengenakan coat merah yang begitu mengagumkan. Kebetulan aku melihatnya disebuah butik di Luxury Plaza. Jadi aku membelinya." Jawab Claudia agak terbata namun tetap logika.


"Terbuat dari apa sampai segitu harganya." Kini Egnor membuka matanya karna merasa Claudia sudah aneh.


"Em, entahlah . Bahan kulit yang begitu tebal dan bagus."


"Bisa aku melihatnya?"


~Tamat sudah kau Clau! Bagaimana ini? Apa yang harus ku katakan lagi?~ gumam Claudia dalam hati.


Claudia lalu beranjak dari dekapan suaminya dan duduk di sana dengan dadanya tertutup selimut.


"Em, jadi itu sebuah coat limited kak. Ketika aku ingin membelinya sudah habis namun dia bisa membuatkannya lagi untukku. Jadi aku baru memesan. Selang satu minggu pasti sudah jadi." Kata Claudia menghembuskan napasnya.


"Begitu ya?"


"Hehem." Claudia mengangguk.


"Baiklah, pakai piyamamu dan tidurlah. Besok masih banyak pekerjaan kita." Kata Egnor kemudian yang mencoba untuk mempercayai jawaban istrinya.


"Iya kak, ku ambilkan celanamu juga ya?" Claudia beranjak dari tempat tidur dan menghapus kringat yang tiba tiba keluar dari pelipisnya. Dia lega karna membuat Egnor percaya padanya. Dia tidak mungkin mengatakan mengganti rugi atas ulah pamannya. Masalah coat itu, Egnor pasti tidak akan memperhatikannya.


Selang beberapa jam, Claudia dan Egnor tentunya sudah tertidur. Seperti biasa pukul dua pagi Egnor selalu bangun untuk menyapa ibunya dalam doanya.


"Mom, lihatlah Claudia berada dipelukanku dan sudah menjadi istriku dan sudah menjadikannya menantumu. Semoga hubungan kami selalu baik dan tidak ada yang memisahkan kita." Ucap Egnor. Dia lalu beranjak dari tidurnya dan menuju ke dapur hendak meminum segelas air.


Ketika dia meminum, dia melirik ponselnya menyala tampak ada sebuah pesan berisi gambar. Egnor lalu membukanya. Tampak sebuah gambar Claudia bersama pamannya duduk di cafe si pemilik bar yang tadi berurusan dengan Jack.


💌BERTHO


Tuan Egnor, hari ini istri anda Nyonya Claudia mengantarkan uang sebesar 20juta untuk mengganti rugi atas ulah pamannya terhadap bar ku. Aku curiga Jack pasti akan selalu memanfaatkan istri anda. Sebaiknya anda mengawasi istri anda, jangan sampai Jack melakukan hal yang tidak tidak pada istri anda. Belakangan saya sering melihat Jack bersama renternir bernama Nicolas. Mungkin anda mengenalnya. Bertho.


Egnor mengernyitkan dahinya. Ternyata Nicolas masih berkeliaran dan hendak mempengaruhi paman Claudia itu. Wajah Egnor menegang. Auranya penuh kebencian pada pria paruh baya bernama Jack dan juga Nicolas itu.


💌PENGACARA EGNOR JOVANCA


Terimakasih Bertho! Terus awasi mereka kalau mereka bertemu lagi. Aku juga akan mengabarimu jika butuh bantuan.


💌BERTHO


Katakan saja bos!


Egnor menggenggam erat ponselnya. Dia duduk di kursi makannya. Betapa Claudia berani menyembunyikan pembelaan dirinya terhadap pamannya. Dia bukan keberatan dengan uang dua puluh juta itu, namun dia merasa Claudia lagi lagi tidak mau menghadirkan dirinya dalam menyelesaikan masalahnya. Claudia hanya menbutuhkannya untuk menenangkannya. Egnor jadi bingung dia harus marah atau bagaimana dengan Claudia. Dan sepertinya memang Egnor menangkap sesuatu yang tidak baik ketika kedatangan Jack ke kota ini. Dia menjadi takut ketika dia tidak bersama istrinya, pamannya akan benar benar mencelakai Claudia.


Egnor lalu mengingat Grace. Grace sangat ahki dalam teknologi dan juga orang paling dekat dengan Claudia jika dirinya tidak bersama wanita itu. Egnor lalu mengirim pesan pada Grace. Dia tidak akan mengangkat panggilannya pagi pagi buta begini.


💌TUAN EGNOR


Grace, buat sebuah chip yang dapat dilacak dengan sangat intens dan detil juga dapat dilihat ketika ponsel dalam keadaan mati. Lalu pasang besok chip atau semacamnya itu di ponsel dan nomor ponsel Claudia. Aku mencium hawa hawa orang yang akan mencelakainya. SEGERA JALANKAN PERINTAHKU!!


Egnor mengusap dahinya. Dia lagi lagi harus melindungi istrinya di tengah kekalutannya. Egnor tidak sanggup bertanya padanya. Dia pasti sangat tidak tega melihat kecemasan wajah istrinya itu. Dia lalu kembali menghampiri Claudia. Claudia masih tertidur. Dia melihat wajah istrinya itu. Memang tampak lelah. Ternyata karna hal ini Claudia membutuhkannya dan menghubunginya. Dia menjadi sangat kasihan pada istrinya ini. Egnor mengecup kening Claudia dan kembali bergabung tidur memeluk istrinya itu.


...

__ADS_1


Keesokannya, Claudia agak aneh dengan tingkah Grace yang sangat fokus dengan komputernya. Ketika Claudia bertanya, Grace hanya berkata sedang ada misi. Claudia mengernyitkan alisnya. Dia jadi terheran, kadang menjadi anak buah pengacara itu harus seperti detektif dan mengendap ngendap. Dan yang paling Claudia benci adalah membicarakan mayat atau jenasah. Jadi ketika Grace mengatakan kalau dirinya ada misi rahasia, Claudia takut dia akan membicarakan mayat yang disembunyikan olehnya. Claudia jadi bergidik membayangkannya. Dia lalu tidak mengganggu Grace lagi.


"Baiklah Grace, aku tidak akan menganggumu, aku menganggu suamiku saja." Kata Claudia hendak menjauh menuju kamar tidur kecil di kantor itu. Egnor sedang tidur di sana. Semalam dia benar benar tidak bisa tidur lagi karna memikirkan istrinya.


"Tunggu Clau!"


"Ada apa? Kau butuh bantuan istri pemilik kantor pengacara ini?"


"Tidak, aku hanya hendak meminjam ponselmu." Pinta Grace menengadahkan tangannya.


"For what?" Claudi mengeluarkan ponselnya dari saku celana bahan yang hari ini ia kenakan.


"Menyimpan nomor seseorang, ponsel ku low." Jawab Grace berbohong.


"Apa nomor seorang detektif tampan?" Claudia sedikit menggoda.


"Cih, apa ketampanan suamimu kurang!" Decak Grace risih dengan tingkah genit Claudia.


"Melebihi sih! Haha . Ini! Jangan membuka apapun!" Claudia membuka sensor kunci pada ponselnya dan memberikannya pada Grace sementara dirinya menujunke kamar tidur kecil melihat suaminya.


"Sangat polos! Pantas saja Tuan Egnor berbuat seperti ini!" Gumam Grace setelah memastikan Claudia masuk kemar tidur kecil itu. Setelah itu dia mengerjakan apa yang diperintahkan tuannya semalam.


...


Sekitar beberapa hari kemudian, Claudia tampak uring uringan. Seperti bingung dan jadi tidak tahu apa yang harus ia kerjakan. Pamannya memberi pesan padanya kalau dirinya akan kembali ke Oriental, namun sebelumnya dia ingin bertemu dengan Claudia. Sementara hari ini dia selalu bersama Egnor. Egnor tidak pergi kemanapun dan harus mengerjakan berkas berkas yang harus di tanda tangani di kantor.


💌PAMAN JACK GIE


Untuk terakhir kalinya aku ingin bertemu denganmu. Pukul 3 sore di bandara. Aku akan memberikan pesan mu juga untuk bibimu. Dia pasti senang menerima apa yang hendak kau berikan padanya.


Pesan itu terus menggandrungi kecemasannya. Dia tidak ingin pergi namun juga ingin memberikan sesuatu pada bibinya. Dia berusaha mengalihkan mimiknya yang seperti ini pada Egnor.


"Clau, kau baik baik saja?" Egnor menoleh ke meja kerja Claudia. Mereka hanya berdua di ruangan itu. Grace pergi makan siang bersama Frank.


Claudia beranjak dari kursinya dan menghampiri suaminya. Sepertinya dia punya ide untuk membuat suaminya pergi darinya sebentar.


"Tidak apa apa kak. Tapi aku ingin seperti makan sesuatu." Kata Claudia merangkul pundak Egnor.


"Kau sudah hamil? Mengapa secepat ini?" Tanya Egnor yang menyangka Claudia mengidam.


"Hem! Memang kenapa kalau cepat?" Dengus Claudia merasa diremehkan.


"Jadi kau hamil?" Egnor meyakinkan.


"Tidak tahu! Aku hanya ingin makan ramen pedas dengan tempura dan mie nya dengan udon, pasti sangat lezat kak."


"Begitulah!"


"Sebentar, akan kusuruh Grace membelinya." Egnor hendak meraih telepon kabelnya menghubungi Grace.


"Tidak! Aku mau kau yang membelinya." Claudia menahan.


"Sepertinya kau benar benar hamil ya?" Egnor memicingkan matanya.


"Tidak tahu kakak, kita baru saja menikah seminggu yang lalu, kau ini!"


Tak berapa lama, Egnor mendapat panggilan. Claudia yang sudah terbiasa mengangkat telepon segera menghampiri telepon kabel itu dan mengangkatnya.


"Halo selamat siang. Kantor Eg. Lawyer. Ada yang bisa saya bantu? -- oh iya? -- oh masalah peraturan itu? -- ya, dimana? -- oh iya baik akan saya sampaikan -- siapa? -- oh oke, bertemu dengan Nona Kate Joylin -- baiklah sudah mengerti -- sama sama!"


Claudia menutup panggilan. Hatinya agak lega ternyata Egnor akan pergi sebentar lagi sehingga dirinya bisa menemui pamannya.


"Ada apa?"


"Kau harus segera ke mahkamah agung pemerintah menemui Nona Kate Joyline untuk membahas peraturan masalahmu yang kemarin juga ada sedikit pengaduan masyakat yang harus kau urus. Sekarang Tuan Egnor Jovanca!" Claudia memberi tahu inti dari panggilan tadi.


"Oke! Kau ikut aku!" Saut Egnor santai.


"Aku?" Claudia terheran karna biasanya Egnor tidak pernah mengajaknya.


"Ya, lalu? Kau kan asisten ku!" Kata Egnor kemudian.


"Aku istrimu!"


"Ya, sama saja, ayo! Setelah itu kita beli udon pedas mu!" Egnor sudah berdiri dari kursi putarnya.


"Kaakkk, kalau kau pergi sekarang, siapa yang menjaga kantor ini? Grace belum kembali." Kata Claudia yang sebenarnya menyayangkan dirinya tidak ikut.


"Baiklah, kalau aku diterkam oleh si Kate itu, baru kau menyesal!" Decak Egnor yang sedikit kecewa dengan penolakan istrinya.


"Hem, paling hanya seorang wanita paruh baya. Aku tahu para pekerja pemerintah itu biasanya orang tua tua." Claudia berdecih.


"Dia tahu saja!" Gumam Egnor memalingkan wajahnya.


"Ya kan? Kau jangan mencoba membuatku cemburu, suamiku!" Claudia menarik kerah jas Egnor. Egnor melihat Claudia tampak menggemaskan dari jarak sedekat ini. Dia pun lalu mencium bibir Claudia sangat lembut sampai tidak ingin melepasnya. Sampai akhirnya Claudia yang menarik dirinya.


"Kau harus pergi kak." Claudia mengingatkan.

__ADS_1


"Hem, aku ingin Clau." Egnor masih mengelus ngelus dahi Claudia dengan dahinya.


"Sejak tadi pagi kau seperti tidak ingin menjauh dariku. Ada apa?" Tanya Claudia memegang wajah suaminya itu.


"Entahlah, aku ingin selalu di dekatmu hari ini. Baiklah, jaga dirimu dan segera kembali jika Grace juga kembali dan tunggu aku di apartemen, oke?" Kata Egnor mengelus pipi Claudia. Claudia mengangguk tersenyum.


Egnor pun pergi bersama satu pegawainya dan Joe. Sementara Frank dan Grace harus menemani Claudia. Namun, kenyataannya, sebelum Grace kembali, dia menemui pamannya di bandara.


Claudia segera menuju ke bandara. Pamannya berada di sebuah cafe di pojok bandara dekat keberangkatan luar negri. Cafe tersebut tampak sepi namun berada di sekitar koridor. Pamannya sudah menunggu di sana.


"Maaf aku terlambat." Kata Claudia duduk bersebrangan dengan pamannya.


"Tidak apa apa. Pesawat terbang pukul setengah lima sore. Apa kabarmu Clau?" Tanya Jack basa basi. Wajahnya tampak cemas.


"Beginilah, selalu tegang dan bingung menghadapimu! Aku tidak bisa lama. Ini paman, berikan kalung mutiara ini pada bibi. Bibi dulu memberikannya padaku ketika aku demam. Semoga dengan kembalinya mutiara ini, dia bisa sembuh atas doaku." Claudia mengeluarkan sebuah kalung mutiara berwarna putih.


"Baiklah, tapi Clau, ada yang ingin kubicarakan padamu secara baik baik." Kata Jack kemudian.


Claudia melirik Pamannya tanpa bertanya. Dia seperti hendak mengambil ancang ancang pergi karna perasaannya tidak enak.


"Ini tiket pesawat dan passport barumu. Ikutlah bersamaku Clau. Aku menyediakan pekerjaan yang baik untukmu!"


Benar sudah perkiraan Claudia. Jack sudah menyiapkan tiket dan passport gelap untuknya entah untuk pergi kemana.


"Sudah gila! Aku sudah tahu kau akan berbuat hal konyol seperti ini! Tidak ada gunanya lagi aku mempercayaimu, aku pulang!" Claudia benar benar tak percaya akan semua ini. Untung saja dia tidak membuat Egnor pergi karna keinginannya mengelabui ingin sebuah makanan tapi karna pekerjaan, kalau tidak dia akan sangat merasa bersalah.


Claudia pun beranjak dari kursinya. Dia mengambil kembali kalung mutiara bibinya dan berbalik hendak pergi. Namun ketika berbalik dia malah berhadapan dengan Nicolas.


"Claudia, turutilah kata kata pamanmu!" Kata Nicolas menghadangnya.


"Tidak akan!" Dia meminggirkan tubuh Nicolas dan matanya tiba tiba melihat sosok yang mungkin akan membantunya.


"Moses!" Panggil Claudia melihat salah satu pegawai Egnor yang sempat menyukainya keluar dari pintu kedatangan yang terdapat beberapa meter dari pijakan kakinya.


Claudia hendak menghampirinya, namun Jack menahan tangannya. Moses pun mencari cari suara panggilan namanya. Namun ketika dia menoleh, dan melihat Claudia yang sedang ditutup mulut dan hidungnya dengan sebuah sapu tangan dari belakang.


"Maafkan aku Clau!" Kata Jack yang menutup mulut dan hidung Claudia dengan sapu tangan yang sudah diberikan obat bius hirup.


Sementara Nicolas menyuruh anak buahnya menangkap Moses. Moses yang menangkap gelagat tak baik langsung menghubungi Egnor sambil dirinya mencari tempat aman. Tak ada seorang pun yang menyadarinya karna Jack segera menyembunyikan Claudia dengan pengamanab yang sudah ia rencanakan bersama Nicolas.


"Moses! Kau anak buah Frank, mengapa seenaknya menghubungiku?!" Saut Egnor di sebrang sana mengangkat panggilan nya


"Claudia, Tuan!" Pekik Mosen, namun ..


Buk!


Seseorang memukul bagian belakang Moses sehingga ia langsung tak sadarkan diri.


Tut tut tut tut


Egnor terheran karna panggilan terputus dan Moses menyebutkan nama Claudia. Seketika perasaannya menjadi sangat sedih dan memikirkan istrinya.


...


...


...


...


...


Haduh haduh, gua yang tegang begini!!!


Buruan lacak nor lah lah .. 🤔🤔


.


Next part 36


Kemana Jack and Nick membawa Claudia pergi?


Apa Egnor sendiri yang turun tangan atau mengerahkan anak buahnya?


.


Jangan lupa jangan lupa jangan lupa


Kasih Episode kali ini LIKE dan KOMEN yang banyak karna komen kalian pembenahan bagi vii, vii akan menerima semua saran dan kritik apapun 🙏🙏


Kasih juga VOTE dan RATE di depan profil novel yaa 😘😘


.


Selamat membaca 🎉🎉


Salam hangat

__ADS_1


viiyovii 💕


__ADS_2