Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 85: Melting


__ADS_3

Kembali dengan persatuan cinta yang menggairahkan sampai lupa apa yang sudah dirasakan. Beginilah mungkin yang dinamakan cinta buta. Ketika salah satu mengalah dan yang lainnya masih menyimpan duka, perasaan itu malah semakin menguat. Tidak peduli apa yang orang lain katakan, jika sudah saatnya berbaikan semua seakan akan hanya mengetahui kata indah. Claudia memang harus menerima suaminya kembali. Dia tidak boleh mengabaikan karna suaminya telah menyesali yang terjadi. Egnor menjelaskan maksud hatinya secara pelan dan mudah diterima Claudia. Bagaimana respon istrinya itu?


...


Claudia berusaha melepaskan diri dari pengukuhan tangan suaminya yang telah menjalar ke punggung nya lalu membuka pengait penutup dadanya. Wajahnya masih menunjukan kekesalannya pada Egnor. Dia mencoba menarik tangan Egnor agar menghentikan aksinya namun Egnor malah tertantang untuk menyelesaikan apa yang ia kehendaki dan sebenarnya juga dikehendaki istrinya. Egnor tersenyum memandang istrinya sementara Claudia mengerutkan bibirnya dan keningnya bersamaan. Egnor pun berhasil melepas pengait bra Claudia dan mulai mengedepankan kedua tangannya hendak memegang dua bulatan kenyal itu yang sepertinya semakin melebar. Claudia sedikit menggelinjang namun dia semakin sebal.


"Hentikan Egnor! Aku benci padamu!" Claudia memukul dada Egnor dan berusaha menjauhi tubuhnya.


"Heng, benci kau bilang! Kalau kata Leon benar benar cinta!" Egnor kini kembali menahan punggung Claudia agar tidak menjauh.


"Lepas kubilang!" Kata Claudia mendorong dada suaminya itu.


"Bukankah kau ingin meraba dadaku? Aku dengan senang hati membusungkan ya, namun kau juga harus memberikan kedua dadamu ini." Egnor mencengkram lembut salah satu kedua benda kesukaannya ini.


"Egnor!" bentak Claudia geram.


"Panggil terus sayang!" Egnor malah terus menggoda istrinya.


"Lepaskan ku bilang lepaskan atau .."


"Atau apa?"


"Aku tidak akan memaafkanmu! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi dan kau pergi dari sini sekarang juga!" gertak Claudia meronta dan berusaha menjauhkan tubuhnya.


"Kau mau begitu?"


"Iya!"


"Kau yang memancing ku , honey!" gumam Egnor menyeringai.


Dan Egnor makin mendekatkan Claudia menempel pada tubuhnya. Posisi mereka Claudia duduk di pangkuan menghadapnya Satu tangan Egnor memegang kepala Claudia dan mendekatkan pada wajahnya. Egnor mendorong bibirnya mencium Claudia dengan paksa. Awalnya Claudia masih memberontak namun lama lama mengapa indera perasa dan indera pengecap itu menjadi sangat manis. Dia pun akhirnya juga melumatt bibir suaminya dan memejamkan matanya.


"Nyatanya kau sangat menginginkannya, honey!" Seringaian Egnor hendak mengembang namun Claudia semakin meraupnya.


Egnor pun sudah sangat bergairah, dia tidak boleh mengabaikan kesempatan ini. Dia lalu membuka sweater nya dan tentu saja mereka menghentikan permainan bibir mereka sesaat. Claudia sedikit terkesima dengan bentuk tubuh suaminya padahal dia sudah sering melihatnya namun mengapa jadi agak berbeda jika sedang dalam keadaan seperti ini. Egnor juga melucuti semua pakaian yang Claudia kenakan dengan sangat pelan dengan senyum yang terus ia torehkan menatap Claudia. Sementara Claudia tetap menekuk wajahnya namun mengikuti apa yang suaminya inginkan karna di dalam lubuk hatinya dia juga ingin.


Egnor memeluk Claudia sambil mengecupi lehernya membuat istrinya itu harus memejamkan matanya dan tangannya merengkuh kepala lalu meremass lembut rambut tebal suaminya itu. Bibir Egnor tak hanya diam di sana tetapi juga turun ke bawah ke dada dan akhirnya kembali memainkan dua gundukan indah nan lembut itu. Sesaat Egnor memperhatikan dan memandang istrinya.


"Kenapa?" Tanya Claudia terdengar serak dan manja. Claudia menggigit bibir bawahnya menunggu jawaban suaminya.


"Terlihat lebih menantang dan menakjubkan!" Kata Egnor dengan seringaian manisnya lalu melahap habis apa yang ada di depannya itu dengan memainkan ujung ujung benda kenyal itu secara bergantian. Claudia terus melenguh tiada habisnya karna permaiann lidah suaminya ini sungguh membuatnya seperti berada di dunia lain yang tanpa tekanan dan peraturan . Yang ada hanyalah sebuah kenikmatan untuk dirinya terus mendesah, berpelukan dan merasakan aliran cinta ini.


Puas dengan gundukan kembar itu, Egnor membaringkan Claudia perlahan di lantai kayu itu. Untung saja Egnor sudah memasang penghangat ruangan jd akan membuat Claudia nyaman berbaring di manapun. Egnor menghampiri Claudia yang sepertinya sudah pasrah dengan serangan lembut yang pasti akan membuatnya lumpuh. Egnor mengelus pelan dahi Claudia dengan belakang tangannya dan satu tangannya lagi mengusap perut Claudia.


"Bagaimana kabar anakku, honey?" Bisik Egnor sambil mengecupi telinga Claudia. Claudia memiringkan tubuhnya agar menatap Egnor lalu memegang wajahnya.


"Baik sayang, kakak dia ingin bertemu denganmu, ayo cepat lihat dia." Jawab Claudia sangat pelan. Egnor kembali menyeringai. Kata kata istrinya benar benar menggoda nya.


Egnor lalu berada di atasnya lalu melebarkan kedua kaki istrinya. Dengan sangat pelan dia memasukan inti gairahnya membuat Claudia memegang tangannya juga memejamkan matanya. Permainan ini tidak seperti biasanya karna kehamilan namun mereka berdua harus tetap menikmatinya.


Egnor memaju mundurkan kepemilikannya dengan tekanan yang pelan namun menyimpan gairah yang tiada taranya. Dia mendekatkan wajahnya pada Claudia yang sudah memerah dan panas. Claudia memejamkan matanya sambil memegang lengan suaminya.


"Kau menikmatinya Clau." gumam Egnor sangat mesra.


"Sangat kak, kau yang terbaik! Aku merasakan kesesakan ini akan membuat ku lebih ingin dan ingin lagi. Kau pintar sekali mengaturnya." puji Claudia pada akhirnya dia mengaku kalah.


Dan mereka terus melakukan gerak di tempat itu dengan kecupan juga senyum. Claudia melupakan apa yang menjadi kemarahannya. Ya, dia akui suaminya adalah pekerja yang handal dimanapun dia berada. Sampai akhirnya mereka melepas puncak kepuasannya. Akhirnya Egnor menekannya dengan penekanan karna akan memberikan sisi cinta dari seorang ayah untuk anaknya yang masih dalam kandungan.


"Twins, i am coming, argh!!!" Egnor mengerang dan menatap tajam Claudia yang sudah terbius cinta sehingga dia hanya diam dan menikmati hentakan Egnor yang bergairah.


Egnor merebahkan tubuhnya di samping Claudia dan dengan cepat menarik tubuh istrinya itu masuk dalam pelukannya. Dia mengecupi pundak istrinya pelan dan terdengar indah.


"Clau, maafkan aku." Ucap Egnor sedikit mendesah dan masih dengan napas tersenggal karna permainan cinta itu. Dia memejamkan matanya sambil meremaass kecil buah dada istrinya. Claudia juga mendekap lengan lengan kekar itu dan sesekali mengecupinya.


"Aku sudah melupakannya, aku juga ingin bersamamu!" jawab Claudia.


"Maafkan aku, aku memikirkan dirimu dan anak kita, hanya itu. Sekarang kalau boleh aku menunggumu di sini, ijinkan aku menunggumu. Aku mohon." pinta Egnor karna ini saat yang tepat untuk tetap bisa menemani istrinya.


Claudia mengangguk dan membalikan tubuhnya.


"Ya kak. kau memang harus di sini temani aku. Tidur bersamaku di sini dan melakukan apapun yang kita sukai. Kau mau kan?" kata Claudia kemudian.


Egnor mengangguk dan mengecup kening istrinya. Dia memeluk Claudia lagi. Akhirnya semua kesesakan sepihak ini pergi dari awal pernikahan mereka. Sebuah pelajaran yang dipetik bahwa saling terbuka dengan pasangan penting agar tidak terjadi kesalahan di kemudian harinya.


...


Sore hari begitu saat saat yang Claudia rindukan di kedai ini. Angin sepoi Sepoi dan mengingat ketika masih ramainya suasan daerah ini, terdengar beberapa anak anak kecil berlarian. Claudia membuka jendela dekat tempat dirinya menguleni roti dan tepung yang berserakan. Claudia memandang ke luar suasanya langit kuning ke oranye yang begitu indah. Suara cuitan burung kadang terdengar melantun lembut. Claudia kembali menatap meja kerjanya dulu. Dia mengelusnya dan mengingat bibinya selalu memarahinya jika dia belum makan. Dia harus berkutat dengan roti roti bulat untuk pesanan maupun untuk dia jual. Hem, Claudia jadi ingin membuat roti namun semua bahan bahan belum ada. Dia pun berbalik hendak membangunkan suaminya.


Setelah pergulatan itu Egnor dan Claudia makan siang, Egnor kembali tertidur karna rasanya dia telah melewati tidur yang panjang dan nyenyak. Namun ketika dia berbalik dia sudah menemukan Egnor mendatanginya. Mengapa jantung Claudia berdebar menyaksikan suaminya tanpa pakaian atasnya berjalan ke arah nya dengan menggaruk kepalanya. Egnor menundukan kepalanya hendak mencari cari sesuatu. Tubuhnya tegap dan berbentuk bak atlet atlet binaragawan namun tidak terlalu berlebihan.


"Clau, di mana bajuku?" tanya Egnor.


Oh my God! Claudia membelalakan matanya. Baju suaminya ia lingkarkan pada pinggangnya karna terlalu gemas dengan sweater nya ini. Claudia yakin suaminya pasti baru membelinya.


"Di sini sayang!" Jawab Claudia akhirnya melepas sweater abu abu ini.


"Kau membawanya?" selidik Egnor meraihnya namun Claudia menahannya.

__ADS_1


"Ya, sweater ini terlalu menggemaskan. Kau pantas sekali mengenakannya. Di mana kau beli?" Claudia membantu Egnor mengenakannya sambil sedikit berjinjit.


"Frank yang membelikan. Aku tidak membawa pakaian."


"Em, sebaiknya kau membelinya yang banyak agar aku selalu memuji ketampananmu. Ting!" Claudia melingkarkan kedua tangannya ke belakang dan mengedipkan matanya.


"Cih, kau ini ada ada saja. Jadi kau tidak suka lagi aku mengenakan jas?"


"Bukan begitu , tapi ini sangat terlihat santai. Em kak?"


"Hem?"


"Aku ingin buat roti, aku rindu." pinta Claudia dengan tatapan manjanya.


"Yasudah buat saja, tapi biarkan aku membeli mixer khusus membuat roti dulu, bagaimana?" saut Egnor sedikit menghadap ke belakang.


Claudia menggeleng. Dia ingin melakukannya dengan tangan.


"Aku ingin menggunakan tanganku." kata Claudia.


"Clau! Kau sedang hamil sayang, hal ini terlalu berat." sela Egnor berusaha berkata lembut.


"Aku mau!!!" Claudia merengek yang akhirnya sungguh melemahkan Egnor. Egnor pun tidak bisa melarangnya terlebih dahulu. Akhirnya Egnor mengangguk. Claudia langsung memeluk suaminya itu dan mendekapnya. Egnor tersenyum mengecupi pangkal kepala istrinya


"Em , tapi kita harus membeli bahan bahannya kak. Aku belum membeli apa apa karna takut kekurangan uang, hihi!" Claudia mendongakan kepalanya membicarakan isi dompetnya seperti anak mengadu pada seorang ayah.


"Bukankah kau memegang kartuku? Kau saja bisa membeli tiket pesawat!" Tutur Egnor memegang lengan istrinya.


"Aku sengaja agar kau tahu dan menjemputku!" Claudia tersenyum.


"Heng, aku memang sudah tahu, tapi kau berlagak marah padaku!" dengus Egnor mulai duduk di kursi meja makan.


"Itu benar aku marah!"


"Yasudah jangan di bahas lagi. Jadi kita mau membeli bahan bahan makannya atau aku menyuruh Frank?"


"Kita saja."


"Baik, tapi pakai mobil, kali ini jangan membantah!"


Claudia mengangguk tersenyum. Sekitar setengah jam kemudian, Frank datang dengan Grace menjemput Claudia dan Egnor. Grace senang sekali akhirnya tuanny dapat berbaikan dengan Claudia. Dia pun menuruni mobil dan menghampiri Claudia. Grace memeluk Claudia.


"Suamimu hampir tewas karna mencarimu Clau!" Bisik Grace. Claudia tersenyum.


"Biar saja! Dia harus tahu bagaimana kemarahanku jadi dia tidak akan mengulanginya lagi." Jawab Claudia dengan nada tegas namun pasti.


"Sekarang masuklah, kau duduk di belakang bersama pangeran mu!" Kata Grace membukakan pintu mobil untuk Claudia. Claudia mengucapkan terimakasih dan duduk di samping suaminya. Egnor merangkul Claudia agar tidak terlalu merasa lonjakan jalan pada perutnya.


Sekitar satu sampai dua jam dua pasangan itu berkutat di departemen store. Mereka membeli bahan bahan membuat roti dan keperluan Claudia dan Egnor selama satu Minggu ke depan di sini. Mereka memutuskan akan tinggal di kedai bibinya saja dan bermain sekali kali ke rumah Emily. Grace menyuruh Claudia dan tuannya membeli kasur yang cukup untuk berdua agar Claudia nyaman tertidur ketika malam. Sementara Grace dan Frank akan kembali besok ke Honolulu juga bersama Lisa dan Richard. Mereka harus mengurus pekerjaan mereka dan Frank harus sementara menggantikan Egnor.


Mereka kembali pada malam hari. Frank dan Grace kembali ke hotelnya karna mereka tidak mau menganggu kemesraan pasangan yang baru saja berbaikan. Sebelum kembali ke kedai, Egnor dan Claudia menyempatkan diri ke rumah Emily terlebih dahulu untuk memberikan sedikit bingkisan dan mengatakan ucapan terimakasih. Egnor pun bertemu dengan Ronald. Mereka jadi berbincang bincang dan akhirnya menunda pembuatan roti. Mereka pun kembali ke kedai setelah puas bercakap cakap. Awalnya Emily menyuruhnya untuk tidur di rumahnya lagi namun Claudia mengatakan sudah ada yang menemani sehingga bisa merasakan Siren melihat mereka berdua bahagia . Egnor menerima keputusan Claudia. Lagipula mereka berdua harus kembali mesra untum menumbuhkan cinta kasih pada anak anak mereka.


Sesampai di kedai, Egnor mengajak Claudia mendoakan bibinya. Claudia terharu mendengar ajakan suaminya. Egnor memang begitu memperhatikan bibinya.


"Maafkan aku yang telah berburuk sangka padamu kak! Padahal kau yang membiayai semua perawatan bibiku." ucap Claudia memeluk Egnor.


"Tidak perlu sungkan sayang! Sejak aku bertemu mu lagi, aku merasa semua tanggunganmu adalah tanggunganku juga, jadi anggap saja kau sudah menjadi istriku ketika kita kembali bertemu." Jawab Egnor mengelus lembut lengan Claudia karna dia sedang merangkulnya. Claudia menyandarkan kepalanya di dada Egnor. Dia sangat sangat beruntung mendengarkan perintah bibinya waktu itu. Memang bibinya yang begitu antusias menyuruhnya bekerja di kantor pengacara suaminya dulu.


Mereka pun berdoa setelah itu bersiap tidur di atas kasur baru mereka. Grace begitu mencemaskan Claudia juga tuannya. Grace dan Frank memang harus membalas kebaikan apa yang sudah Claudia dan Egnor berikan pada mereka. Grace dan Frank tidak bisa membalasnya dengan materi namun dengan kasih sayang, mereka yakin, Egnor dan Claudia akan lebih menghargai ini.


...


Pagi hari nya akhirnya Claudia dapat mengerjakan apa yang sudah menjadi keinginannya. Dia meletakan bingkai foto bibinya di depan pandangannya. Dia seperti melakukannya bersama bibinya. Claudia sudah menyiapkan baskom yang lebar namun tidak terlalu besar juga. Dia sudah menaruh tepung berprotein tinggi, telur, gula, ragi instant dan susu cair. Claudia siap mengelolah nya. Dia ingin ketika suaminya bangun, dia bisa menyiapkan roti buatannya dengan segelas kopi hitam kesukaan suaminya. Claudia tersenyum membayangkan suaminya akan memujinya dan memberikan senyuman terindah yang dimiliki pengacara handal itu.


"Ternyata di balik sifat dingin dan masa bodoh nya, dia memiliki senyum yang begitu memukau. Untung aku yang menjadi istrinya, wanita wanita lain akan iri ketika mengetahui senyum itu, hahaha!" Gumam Claudia merasa bangga dengan dirinya.


Sampailah adonan itu tercampur dan padat. Claudia masih harus menaruh mentega dan meng-uleninya lagi. Namun lama kelama lamaan, napas Claudia menjadi tersenggal. Keringat sudah membanjiri pelipisnya. Perutnya menegang namun Claudia tidak terlalu ingin merasakan. Dia terus menguleni adonan tersebut dengan semangat. Dia hanya merasa ini respon bayinya yang juga senang membuat roti. Claudia terus menekan, mengangkat dan membanting adonan tersebut. Sampai akhirnya Claudia merasa perutnya memang semakin sakit dan nyeri. Kepalanya juga pusing dan pandangannya berbayang. Tangannya melemah dan dia harus memegang perutnya.


"Aahhh, twins, why? Tenanglah, aku hanya membuat roti, tapi .. aahh mengapa ini sangat sakit? Kakkkk!!! Oh my God! Aahh!!" Claudia tersungkur duduk di lantai dengan memegang perutnya. Tangannya masih dipenuhi tepung dan dia terus memegang perutnya dengan kedua tangannya itu.


"Kaaakkkk!!!" Claudia merintih terus memanggil suaminya.


Egnor merasa mendengar sesuatu dan dia mulai mengerjapkan matanya. Dia berusaha untuk membuka matanya yang masih dalam kantuk.


"Kkaaakk.." suara itu lagi yang terdengar namun menjadi pelan dan semakin pelan.


"Claudia?" Egnor akhirnya terbangun. Dia mencari Claudia yang tidak ada di sampingnya. Dia langsung ke dapur dan menemukan Claudia sudah tersungkur dengan celemek dan banyak tepung di sekitar nya memegang perutnya.


"Clau! Sudah kubilang jangan melakukan ini! Adonan sialan!" Decak Egnor menyingkirkan adonan tersebut dari meja itu dan menggendong Claudia duduk di kursi meja makan.


"Apa yang sakit?" tanya Egnor protektif. tatapannya kembali menajam memastikan istrinya yang terus memegang perutnya.


"Perutku, ahhh!!" Claudia merintih.


"Kau memang tidak mau mendengarku Clau! Sabar dulu!" decak Egnor beranjak.


Egnor lalu menuju keluar hendak melihat apa Ronald ada di rumah dengan mobilnya atau tidak. Ternyata ada karna ini hari Sabtu. Egnor segera masuk lagi ke dalam. Dia menggendong Claudia yang masih meringis. Kepalanya sangat berat sehingga bersandar pada dada suaminya.

__ADS_1


"Tenang Clau, kita akan ke rumah sakit." Tutur Egnor cemas.


"Sakit kakk!!!!"


"Ini yang aku takutkan! Kau sangat keras kepala!"


Egnor dengan cepat menutup pintu kedai dan menuju ke rumah Emily. Dia kembali mendudukan Claudia di bangku di halaman rumah Emily. Egnor mengetuk pintu dan Ronald yang membuka. Egnor segera memperlihatkan Claudia dan meminjam mobil. Ronald dengan sangat cepat meminjamkannya.


Egnor segera menuju ke rumah sakit terdekat. Memang seharusnya mereka memeriksakan kandungan akhir akhir ini.


Sesampainya di sana, Claudia langsung di rujuk oleh dokter spesialis kandungan karna kebetulan jam praktek. Dokter langsung melakukan tindakan pada Claudia. Dokter memberikan obat penghilang kontraksi palsu dan ini tidak apa apa. Semuanya baik.


"Ini hanya ketegangan otot perut karna Nyonya melakukan kegiatan yang cukup berat. Sepertinya kondisi Nyonya sedang tidak fit. Anda kurang istirahat dan kurang asupan mengingat anda mengandung anak kembar. Jadi saya mohon anda rutin meminum vitamin dan makan secukupnya. Jangan kurang atau berlebih. Saya sarankan meminum susu hamil atau jus buah setiap hari..


Egnor lalu menatap tajam istrinya yang berbaring di tempat tidur.


"Kau tidak membawa vitaminmu?" Tanya Egnor posesif. Claudia menggeleng merasa bersalah.


"Kau sudah melihatnya dok!" Decak Egnor. Sang dokter hanya tersenyum . Dia lalu kembali menghampiri Claudia hendak mengecek kandungan Claudia yang belum di lihat oleh alat USG.


"Kalau Nyonya Claudia ingin melakukan sesuatu yang sangat menjadi antusiasnya, ini sangat wajah Tuan Jovanca. Mungkin dia sedang mengidam. Sebaiknya anda tetap mendampingi atau ada seseorang yang menemaninya." Kata sang dokter mulai menempelkan alat USG itu pada perut Claudia yang mulai membesar karna dia mengandung bayi kembar.


"Aku sudah menyuruhnya menggunakan mixer tapi dia tidak mau!" sungut Egnor.


"Aku akan mendengarkanmu kak." Claudia menatap manja suaminya.


"Sekarang dia baru menyesal!"


"Lain kali, kau harus mendengarkan suamimu Nyonya. Dia hanya khawatir dan ingin semuanya baik baik saja." dokter meluruskan maksud Egnor.


Claudia mengangguk masam. Egnor pun menghampiri Claudia dan dokter juga hendak mengetahui hasil terkini anak mereka. Egnor sudah di samping Claudia dan memegang tangannya.


"Hem, bayi Tuan dan Nyonya sangat sehat dan lincah. Dinding rahimnya juga bagus dan apakah kalian sudah mengetahui jenis kelaminnya?" Tanya sang dokter melihat Claudia.


Claudia menggeleng.


"Baik, sepertinya anak kalian laki laki dan entahlah satu anak kalian yang ini menghadap ke belakang jadi aku tidak tahu dia perempuan atau laki laki. Pasti dia pemalu. Haha hanya prediksi." Sang dokter memberi tahu jenis kelaminnya. Egnor sedikit melihat monitor USG itu. Hatinya sedikit tersentuh karna dia akan memiliki anak laki laki dan mengapa rasanya ia yakin anaknya yang satunya juga laki laki dan menuruni sifatnya juga sedikit sifat Claudia. Tidak terlalu ingin diketahui oleh khalayak.


"Aahh, kau serius dok? Sudah ketahuan?" pekik Claudia antusias.


"Hehem, tapi ini baru prediksi! Baik laki laki atau perempuan semua sama saja. Yang penting keduanya sehat. Dua Minggu lagi mungkin bisa mengetahui keduanya. Satu bayi kalian benar benar menutup dirinya." kata sang dokter tersenyum.


"Ya mungkin seperti dad nya dok, dia agak cuek dan dingin!" Gumam Claudia menatap Egnor yang sudah menendangnya sejak tadi. Egnor masih sanga cemas namun tetap bahagia. Dia akan memiliki anak laki laki. Dia membantu Claudia duduk dan mengecup pelipisnya terlebih dahulu sebelum menghampiri dokter.


"Kau senang kak? Kita akan memiliki anak laki laki." bisik Claudia riang.


"Kau harus menjaga dirimu Clau! Aku sangat takut!" tetapi Egnor malah memikirkan kondisi istrinya. dia sudah yakin kalau anaknya akan kuat sepertinya.


"Maafkan aku! Cup!" Claudia tidak peduli di dalam ruangan itu ada dokter dan perawat. Dia tetap mendaratkan kecupan kecil pada bibir suaminya.


...


...


...


...


...


Yeay Uda baikan yaa Uda tau jenis kelamin anaknya juga . Yakin itu pasti siii ..... Enggg entahlah tunggu dua Minggu lagi kata dokter 😝😝


.


Next part 12


Kembali ke Honolulu


Kembali ke rutinitas


Dann kembali menanti apa yang menerpa rumah tangga mereka ..


Chiayo badai badai rumah tangga pasti selalu datang silih berganti 😍😍


.


Beb, rekomen Novel Baper romance dari ku nii judulnya LOVE IN FRIENDSHIP , ketika sebuah persahabatan akan dikorbankan atau cinta yang dikorbankan untuk semuanya berjalan dengan baik?? cus diintip ya 😁


.


pada akhirnya Jangan lupa LIKE DAN KOMEN nyaa karna akan menambah semangat penulis untuk trus UP haha


Jangan lupa juga kasih RATE DAN VOTE di depan profil novel ya😍😍


.


Thanks for read .. happy read and i love youu 💕

__ADS_1


__ADS_2