Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 42: Falling


__ADS_3

Hujan menderai kawasan Honolulu tepatnya di sekitaran rumah sakit ibu kota Honolulu. Sepasang suami istri masih harus di kamar super vip itu sampai dua hari ke depan lagi. Kate sudah menyetujui akan membantu Grace mengurus pernikahan megah Egnor dan Claudia nanti. Claudia tersenyum manis dan mengucapkan terimakasih.


Egnor kembali menoleh pada Kate yang tampaknya membawa sesuatu.


"Oke, jadi apa yang kau bawa untuk istriku itu, Kate? Tampaknya kau membawa sesuatu ya?" Tanya Egnor tersenyum.


"Ah iya kebetulan sekali di luar hujan dan hawanya sangat mendukung untuk menikmati semangkuk sup hangat bukan? Aku membawa sup jagung kak, aku yakin Nyonya Claudia juga menyukainya kan?" Jawab Kate ikut tersenyum ramah. Dia menunjukan sebuah tas coklat yang dibungkus sangat manis dengan pita di atasnya.


"Aku pemakan segala Kate, kau tenang saja." Saut Claudia tak kalah menebar senyum yang cukup manis sampai Egnor pun terenyuh membalas senyumnya.


"Baiklah, aku akan menghangatkannya sebentar ya?" Kata Kate lagi segera ke meja kitchen set mini yang memang dimiliki fasilitas kamar super vip ini.


Setelah beberapa menit Kate siap membagi baginya ke dalam wadah mangkuk kecil yang disediakan di rak kitchen set itu.


"Biar aku membantunya dan mengambilnya untukmu ya Clau?" Ijin Egnor dan langsung menghampiri Kate tanpa menunggu jawaban Claudia. Claudia tak masalah namun tetap memperhatikan kedekatan suaminya dan junior suaminya itu.


"Biar aku membantumu, Kate. Di mana punya Claudia? Aku akan menyuapinya. Kebetulan sekali kau membawa sup ini. Aku belum sempat memintanya pada aunty ku." Kata Egnor meraih sebuah mangkuk dan ingin menuangnya sendiri.


"Aku memang membawakannya untukmu kak. Aku belum tahu kesukaan istrimu, tapi kata Grace, istrimu tidak terlalu sulit. Jadi aku membawa kesukaanmu saja. Aku selalu ingat apa yang kau suka." Saut Kate masih berkutat dengan sup jagungnya.


"Kau terlalu berlebihan Kate, masa sudah selama ini kita tidak bertemu, kau masih mengingat makanan kesukaanku." Kata Egnor lagi duduk dan menunggu supnya agak mendingin.


"Benar kak! Aku ingat dulu kau menghabiskan sup jagung yang kubawa sebagai bekal ku sampai benar benar bersih mangkuk bekalku, hem!" Dengus Kate mengingat ketika mereka berkuliah dan sering satu mata kuliah.


"Ah iya, kau masih mengingatnya ya? Aku hampir lupa." Egnor terkekeh.


"Aku juga ingat waktu aku membawa banyak, kau mau membaginya dengan adikmu, siapa namanya aku lupa."


"Viena."


"Hah, Viena. Apa kabar dia sekarang kak? Aku mau menanyakan tapi lupa haha. Terlalu terpesona denganmu kak." Kate berdecih sedikit menggoda Egnor sambil terus mengaduk sup jagungnya yang mulai mendingin.


"Kau ini! Dia kembali ke Legacy dan sudah menikah Kate." Jawab Egnor.


"Benarkah? Wah berarti kalian dua bersaudara sudah menikah ya. Aku pernah bicara padanya sekali kak. Titip salam ku padanya ya kak? Siapa tahu dia masih mengingatku. Oiya, dia menikah dengan siapa? Mungkin aku tahu orang orang di Legacy. Kalian kan sekarang sudah menjadi orang penting." Tanya Kate lagi dan kini sudah menuang nuangkan bagian sup sup jagung pada wadah yang sudah disiapkan.


"Dion Prime. Kau kenal?" Jawab Egnor.


"Ahhh Dion Prime, aku pernah melihatnya di majalah bisnis. Tapi belum pernah bertemu. Adikmu memang hebat kak! Siapa dulu kakaknya." Puji Kate sesaat.


"Kau juga hebat Kate! Kau menjadi konsultan hukum paling ditakuti di Legacy." Egnor kembali memuji Kate.


"Hahaha, karna wajahku yang menyeramkan kak!" Kate terkekeh. Mereka pun tertawa bersama.


Dan Kate dan Egnor masih berbincang bincang sampai rasanya Claudia tidak penting. Dan sepertinya sudah terlalu lama mereka berbicara hanya untuk mengambil semangkuk kecil sup jagung. Claudia mulai berpikir yang tidak tidak. Dia menjadi malas tapi juga tidak bisa memisahkan mereka. Akhirnya Claudia memutuskan untuk pura pura tertidur. Biarlah suaminya ber reuni dengan juniornya, meski Claudia tahu kalau sepertinya Kate menaruh rasa pada suaminya.


Namun tak berapa lama Claudia berbaring dan menutup matanya, Egnor datang membawa semangkuk sup jagung untuknya.


"Claudia, sayang? Kau tertidur?" Panggil Egnor menepuk pelan lengan Claudia. Claudia tak bergeming.


"Mungkin dia masih lelah dan tidak enak kak. Biarkan saja dia beristirahat. Kau makan saja dulu sup mu. ini." Kata Kate ikut mendekati Claudia dan memberikan sup kepunyaan Egnor.


"Ya, kau benar Kate!" Balas Egnor dan dia meletakan sup jagung Claudia di nakas samping tempat tidurnya sementara Egnor menikmati sup nya.


"Hem, dia sudah menderita karna ku Kate." Tiba tiba Egnor berkata kata di samping Claudia yang nyatanya dia pura pura tidur.


"Karna kejadian kemarin?" Tanya Kate duduk di sofa penunggu.


"Bukan hanya itu, dia berpindah rumah tapi aku tidak memperhatikannya. Selama 8 tahun aku berpisah darinya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Sekarang aku sudah menemukannya kembali. Aku tidak akan menyia nyiakannya lagi Kate." Jawab Egnor menunduk sambil memegang mangkuk sup nya.


"Kau begitu mencintainya ya kak?" Selidik Kate hanyut dalam kekalutan seniornya.


"Begitu, sangat dan mendalam Kate! Bahkan aku selalu jatuh cinta padanya, Kate!" Jawab Egnor mendongakan kepalanya dan tersenyum.


"Hem, sepertinya aku tidak punya kesempatan lagi ya kak? Haha, aku pikir dulu kita dekat kau memiliki rasa yang sama denganku, ternyata kau tetap mencintai wanita yang sudah menjadi istrimu itu ya?" Gumam Kate terkekeh. Egnor tahu, Kate menyukainya bahkan mencintainya, namun Egnor menolaknya dengan sopan dan malah mau menganggap Kate sebagai adiknya saja.


"Maafkan aku Kate. Aku tetap mencintainya. Dia istimewa bagiku. Dia wanita satu satunya yang pertama kali ku lihat begitu sempurna, tapi hatinya baik. Dia selalu berkorban demi siapapun yang menurutnya benar. Dia juga pemberani dan siap menerima resiko Kate. Kau tahu Kate, orang tuanya sangat kaya, tapi dia tetap sederhana. Dia bermain denganku dengan Viena seperti sejajar dengannya. Betapa itu sangat luar biasa untuk seorang wanita berkelas atas." Kata Egnor dan dia memegang tangan istrinya. Egnor benar benar tidak menyadari kalau Claudia mendengar semuanya dan tidak benar benar tidur.


Claudia tak dapat menahan air matanya. Dia terharu mendengar penuturan suaminya yang sepertinya akan dikatakan tanpa sepengetahuannya.


"Ya kak, dia wanita yang beruntung bisa dicintai pria sebaikmu. Aku tahu kau yang terbaik dan pantas mendapatkan wanita yang baik juga seperti Nyonya Claudia." Balas Kate tersenyum. Dia tidak menyesali siapa yang disukai Egnor, dia hanya ingin Egnor bahagia dan sepertinya bukan bersamanya.


Mereka pun kembali melanjutkan makan dan terus berbincang bincang masalah pekerjaan sampai Claudia benar benar tertidur. Dia seperti mendengar dongeng tentang pekerjaan suaminya dan dia tidak memiliki hak cemburu karna hati Egnor sepenuhnya hanya ada namanya.

__ADS_1


...


Akhirnya Claudia pulang ke apartemen mereka. Selama dua hari Egnor terus menemaninya. Claudia sampai terus berbunga bunga karna Egnor terkadang terus menatapnya. Meski tak ada kata terucap karna suaminya juga sibuk dengan ponsel dan ipadnya masalah pekerjaan, Egnor tetap memberi lirikan yang membuat Claudia tersipu malu. Pasalnya, sejak bertemu prilaku manis Egnor tidak terlalu tampak.


Dokter pun agak terkejut karna kondisi Claudia berangsur semakin membaik dengan cepat. Ya memang, obat yang paling mujarab adalah hati yang senang dan merasa dicintai. Apalagi sudah sangat lama Claudia mendambakan cinta Egnor yang berlebihan seperti ini. Dia jadi berpikir, Egnor pasti akan lebih mencintainya jika dia hamil nanti. Claudia terus tersenyum membayangkannya.



"Kau terus tersenyum, ada apa?" Tanya Egnor memasuki apartemen mereka dengan koper kecil mereka.


"Tidak apa! Aku hanya senang karna kembali ke apartemen dan bersamamu kak!" Jawab Claudia melingkarkan tangannya pada lengan Egnor.


"Kau harus jaga kesehatan dan makan makanan bergizi, Clau! Dan jangan minum wine lagi!" Pesan suaminya mengelus kepalanya.


"Iya kak! Jadi kak, karna aku sudah kembali dan aku sudah sangat pulih, aku mau kita memasak." Kata Claudia kemudian.


"Ya, kau masaklah yang banyak dan biar kuundang Frank, Grace, Joe untuk makan malam bersama disini." Respon Egnor setuju.


"Kate juga boleh kak."


"Ah iya, nanti biar kusuruh Grace."


"Tapi kak," kata Claudia lagi menyeringai.


"Ada apa?" Egnor menatap istrinya.


"Aku mau memasak denganmu. Kau harus membantuku memasak, bagaimana?" Ajak Claudia dengan wajah manjanya.


"Aku hanya bisa masak air Clau." Egnor bergurau menggaruk kepalanya.


"Pokoknya aku mau memasak denganmu!"


"Baiklah baiklah, aku ganti baju dulu!"


"Hihi, berhasil!"


Egnor pun mengganti pakaian formalnya dengan kaos putih berlengan pendek dan masih mengenakan celana panjang hitamnya. Dia menghampiri Claudia yang sudah menyiapkan bahan bahan memasaknya. Ada tepung terigu, ragi, telur, susu, mentega dan lainnya. Tampaknya, Claudia hendak membuat pizza atau roti.


"Apa yang mau kita buat Clau?" Tanya Egnor cukup bersemangat.


"Haha, kau cemburu ya Clau."


"Sedikit, ting!" Saut Claudia mengedipkan matanya. Dia lalu menuju ke laci atas kitchen set mereka dan mengambil dua apron (cemelek)


"Apa itu Clau?" Tanya Egnor yang perasaannya agak tidak enak.


"Apron! Masa kau tak tahu!" Jawab Claudia melebarkan apron nya. Seketika Egnor mendelik. Dia tidak mau menggunakannya.


"Aahhh, aku tidak mau menggunakannya. Seperti ini saja!" Egnor menolak. Ternyata insting seorang pengacara tidak diragukan..


"Tidak bisa, kau harus menggunakannya, nanti baju mu kotor kak!" Decak Claudia memaksa.


"Tidak mau Claudia! Itu hanya untuk perempuan!


"Kata siapa? Bagaimana chef chef di hotel? Hampir semuanya pria kak. Sudahlah, sini aku yang kenakan!" Kata Claudia memaksa dan membelakangi Egnor. Dia lalu mengenakan apron coklat muda itu pada Egnor.


Claudia memperhatikannya sambil tersenyum tertahan.


"Tidak lucu kan?" Selidik Egnor menopang tangannya di meja makan dan alis matanya terangkat.



"Memang tidak lucu kak, haha! Tapi, not bad!" Jawab Claudia menepuk nepuk dagunya.


Dia lalu menyiapkan semua bahan bahannya dan Egnor membantunya jika Claudia menyuruhnya. Sampailah Claudia harus menguleni adonan tersebut. Karna masih lengket, Egnor yang sambil duduk memberikan tepung pada adonan tersebut sampai kalis dan sempurna.


Claudia memperhatikan Egnor yang melihat adonan yang ia uleni dengan begitu serius, munculah keisengannya. Ketika Egnor memberikan tepung lagi, Claudia malah meniupnya ke arahnya.


"Clau!" Pekik Egnor terkejut.


"Hahaha, wajahmu putih kak!"


"Oohh, kau mau bertarung tepung denganku hah! Ini sangat mudah Clau!" Decak Egnor menyeringai. Dia lalu meraih tepung tersebut dan lalu langsung menempelkan tepung itu ke wajah Claudia.

__ADS_1


"Naahh, sama kan? Wajahmu juga putih, bahkan sangat putih!!! Hahahaha!!" Egnor tertawa dan Claudia mencibir. Dia tidak bisa membalasnya karna sedang menguleni. Akhirnya dia mengalah.


Claudia melanjutkan lagi dan dia sudah mengeluarkan semua tenaganya. Egnor akhirnya membersihkan wajahnya juga wajah Claudia yang tersenyum merespon prilaku lembut suaminya. Tak berapa lama, Egnor merasa Claudia agak lelah. Dia lalu berpikir sesuatu.


Egnor mengarah ke belakang Claudia. Dia memeluk Claudia sambil tangannya membantu tangan Claudia menguleni adonan tersebut. Claudia tersentak namun juga senang. Dia agak tersipu malu tercium aroma tubuh Egnor yang begitu memabukannya.


"Selama kau sendiri, kau terus melakukan ini ya?" Tanya Egnor lembut.


Claudia mengangguk.


"Maafkan aku Clau! Atau sini biar aku saja yang menguleninya."


"Tidak usah kak, ini sudah selesai! Kita tinggal menunggunya baru memanggangnya." Kata Claudia menoleh berbalik melihat Egnor yang sudah memandangnya sendu.


"Aku merindukanmu selama ini Clau." Kata Egnor kemudian dan membalikan tubuh Claudia menghadapnya. Claudia pun reflek melingkarkan tangannya ke leher suaminya. Mereka saling menempel dan belum mencuci tangan mereka. Hanya ada tepung di sekitar tubuh tubuhnya.


"Aku lebih merindukanmu kak. Aku minta maaf, aku akan selalu menghadirkanmu disetiap hela napasku kak." Saut Claudia terbuai dengan ketampanan suaminya. Egnor tersenyum manis dan memajukan wajahnya untuk mencium Claudia.


Mereka berciuman agak lama dan terbawa suasana. Egnor lalu membimbing Claudia untuk mencuci tangan mereka dengan Egnor memeluk istrinya dari belakang. Mereka mencuci tangan bersama.


"Sudah lama sekali Clau, kau ingin?" Tanya Egnor kemudian di samping kuping Claudia. Claudia berbalik dan mengangguk tersipu.


Egnor lalu kembali mencium Claudia dan Claudia pun membalasnya. Mereka saling melepas apron mereka. Egnor membimbing Claudia ke kamar mereka. Egnor mencurahkan seluruh hasratnya juga Claudia yang sudah sungguh bergairah. Egnor melakukannya dengan sangat lembut tanpa melepaskan pandangannya pada wajah istrinya yang sudah membuatnya terbuai dan terus ingin melakukannya.


Tak peduli, dia melihat Claudia dari sisi apapun, dia merasa Claudia wanita paling cantik yang pernah ia temui. Tak peduli ada sisi yang melemahkan Claudi, Egnor menganggap istrinya yang paling memukau dan tidak memiliki sisi buruk. Dia hanya ingin Claudia, tidak mau apapun yang mampu memporak prandakan hatinya. Hanya satu satunya Claudia yang ia inginkan.


Egnor bersyukur, pada akhirnya dia bisa bersama lagi dengan Claudia. Dia akan menjaga istrinya ini sama seperti dia menjaga raganya. Egnor tidak mau kehilangan lagi. Dia juga akan membuat Claudia selalu bahagia dalam dekapannya dan genggaman tangannya.


Hem, kalau saja mereka tidak melanjutkan membuat pizzanya, Egnor masih akan terus melakukannya sampai ia puas sekali.


"Nyatanya, kau tak pernah puas dengan ku kak! Kau disini saja, aku yang lanjutkan memasak, aku tidak konsen jika bersamamu." Decak Claudia beranjak dan mengenakan piyamanya.


"Claudia ... Satu kali lagi come on .." teriak Egnor menggoda . Claudia tidak menggubrisnya dan menuju ke dapur sementara Egnor malah tertidur karna kelelahan.


Sekitar pukul 6 sore, semua masakan telah matang, hanya satu loyang tersisa pizza masih terpanggang. Claudia juga sudah menghubungi semua rekan Egnor yang hendak diundang makan malam karna Egnor masih terlelap dan Claudia tidak mau menganggunya. Dia tahu suaminya lelah menunggunya di rumah sakit dan kurang tidur.


Tak lama Egnor bangun dan hendak membersihkan dirinya. Pizza pun sepertinya sudah matang. Ketika, Claudia hendak mengangkatnya ada seseorang yang menekan bel apartemennya. Claudia harus mengangkat pizzanya.


"Kak, kau sudah bangun ya? Buka dulu pintunya ada seseorang kak!" Perintah Claudia.


"Ya ya ya!" Kata Egnor dan membuka pintu apartemen mereka.


"Kevin? Ada perlu apa? Kau pasti mencariku kan?" Kata Egnor membuat Claudia tersentak mendengar siapa yang datang. Claudia gugup dan jadi bingung sendiri. Itu Kevin, asisten Richard.


...


...


...


...


...


Aku mau pizza nya juga ya clau anter ke bekaseh, kan diriku yang buat dikau baikan 😁😁😝😝


.


Next part 43


Jeng jeng ngapain kepin?


Masuk ke dalem ga ya si kepin?


Ketauan ga nii? 😁😁


.


Jangan lupa LIKE KOMEN yang banyak


Kasih RATE dan VOTE di depan profil novel yaa


.

__ADS_1


Thnks for read and i love you always!!


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2