Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 107: Failed Love


__ADS_3

Tunjukan taringmu jika sudah waktunya menyeringai dan jangan biarkan siapapun mengusikmu disaat kebenaran ada pada tanganmu. Barang siapa yang menabur, dia juga yang akan menuai. Jadi pikirkanlah dulu kedepannya barulah mengambil tindakan. Della benar benar meremehkan seorang Claudia. Dia terlalu memikirkan obsesinya untuk dengan segera menjebak seorang Egnor yang tidak begitu mudahnya terbedaya dengan fisik indah semata. Della terlalu terbujuk oleh seorang Kate yang memiliki dendam pada Egnor dan Claudia. So, bagaimana Claudia mengakhiri ini semua?


...


"Grace!" Panggil Claudia membuka pintu ruangan kantor pengacara suaminya. Grace cukup terkejut melihat kedatangan Claudia. Beberapa menit yang lalu baru saja Egnor keluar menemui Della.


"Claudia? Mengapa kau kesini?" Tanya Grace.


"Aku mau tahu, di mana Egnor dan Della bertemu?" Claudia balik bertanya.


"Di Cafe Kondominium Rafles, Clau. Sekitar 15 menit yang lalu baru saja suamimu kesana diantar Gabriel," jawab Grace.


"Aku mau kesana!" Kata Claudia berbalik dan hendak pergi tapi Grace menahannya.


"Tunggu tunggu, mau apa kau kesana? Nanti kalian pasti bertengkar. Serahkan semua pada suamimu, Clau," sergah Grace memegang tangan Claudia.


"Lepas! Aku hanya ingin tahu apa yang mereka bicarakan!" Claudia mencoba melepaskan pegangan tangan Grace.


"Tapi Clau ..."


"Sudahlah, kau mau menemaniku atau aku pergi sendiri! Kau jangan lemah Grace, lihat perutku sudah sebesar ini!" Claudia menunjukan perut besarnya.


"Aku paham, tapi ..." Grace mengelus perutnya yang baru menginjak usia 5 bulan. Dia juga khawatir dengan Claudia.


"Mau atau tidak?" Claudia memastikan dengna tatapan menusuk.


"Baiklah, aku akan meminta Moses menemani kita," kata Grace mengalah dan meraih ponselnya mengirim pesan pada Moses.


"Di mana Frank?" tanya Claudia.


"Mengurus data perkiraan cuaca untuk kasus kecelakaan kapal pesiar kemarin," kata Grace sudah merapikan keperluannya di dalam tas kecilnya.


"Yasudah cepatlah! Aku ingin tahu kelakukan wanita licik itu!"


"Dia terlalu percaya diri, Clau! Tuan Egnor tidak membiarkanku dan Gabriel saja yang mendatanginya," kata Grace sambil mengambil tasnya.


"Si Egnor ini juga kerajinan sekali! Dia bilang, dia akan menyerahkannya padamu dan Lisa," saut Claudia lagi mendengus.


"Katanya Tuan Egnor ingin memberinya ketegasan dan kepastian kalau suamimu hanya bisa menjadi budak cintamu." Grace terkekeh.


"Grace! Perih sekali kata katamu, budak cinta! Egnor mengatakan itu?" Claudia memastikan.


"Tidak, tapi Tuan Egnor benar benar menggilaimu, Clau, haha!"


Grace melingkarkan tangannya ke lengan Claudia keluar ruang kantor dan menuju cafe tersebut.


Sekitar setengah jam perjalanan Claudia dan Grace. Mereka menemukan Egnor dan Della sedang bercakap cakap. Claudia memulai aksinya. Dia mengenakan syal untuk menutupi kepalanya juga kacamata hitam. Begitu juga dengna Grace. Mereka berdua pun juga sudah mengenakan Coat yang cukup tertutup. Mereka duduk di dua meja belakang Egnor. Della tampaknya tidak menyadari.


"Clau, aku curiga dengan kopi nya," bisik Grace menutup wajahnya dengan buku menu.


"Aku juga," balas Claudia.


"Kita harus menghentikan jika suamimu meminumnya, Clau." Grace mengingatkan.


"Aku tahu, sekarang lakukan tugasmu yang kusuruh tadi di mobil, Grace," perintah Claudia kemudian.


"Baiklah," kata Grace mengangguk. Dia beranjak untuk menjalankan aksinya.


Sementara Claudia masih memasang mata dan telinganya dengan baik. Dia harus menghardik di saat waktunya sudah tepat. Tak lama Grace kembali.


"Beres?" Claudia melirik Grace.


"Beres! Tapi kau harus segera mengambilnya Clau sekalipun Tuan Egnor tidak meminum kopi itu," kata Grace mengingatkan.


"Kau tenang saja, aku pasti memberinya pelajaran," gumam Claudia masih memperhatikan sambil menyeruput teh hangatnya.


Dan, saatnya tiba. Lagipula Claudia sudah sangat muak mendengar rayuan yang sangat murahan dari Della. Dia tidak peduli jika nanti Egnor memarahinya karena melakukan ini semua. Claudia sudah panas dan menunjukan kegeramannya pada Della. Claudia berdiri dari kursinya. Dia berjalan perlahan lalu meraih tangan Della untuk berdiri. Della yang tidak tahu mengikuti tarikan Claudia. Claudia lalu menampar Della dengan sangat kencang. Egnor jelas sangat terkejut dengan kehadiran istrinya. Dia tidak jadi meminum kopi tersebut. Claudia akhirnya yang meraihnya dan menyiramkan pada Della.


"Berani beraninya kau menipuku!" Bentak Claudia menunjuk nunjuk Della.


"Claudia? Mengapa kau di sini, honey?" tanya Egnor beranjak dari kursinya dan memegang pergelangan lengan Claudia.


"Kita bicara nanti, aku mau memberi pelajaran pada wanita ini!" Claudia kembali menunjuknya.


"Nyonya, ini sakit sakali, kau ini kenapa hah?" Sungut Della berusaha untuk berdiri dan membersihkan dirinya. Sejenak dia melihat Egnor yang bahkan tidak melihatnya. Mengapa dia jadi sehina ini, pikirnya? Padahal sewaktu ia masuk ke dalam kantor Hakim Benedict, banyak pasang mata pria yang langsung melirik bahkan berani meminta nomor ponselnya untuk bisa dekat dengannya. Namun Egnor? Egnor bahkan benar benar tidak berminat padanya.


Claudia lalu meraih ponsel yang tadi sudah diletakan Grace pada tas Della. Grace menyuruh seseorang dengan sengaja pura pura jatuh di dekat kursi makan Della lalu meletakan ponsel Grace di dalam tas Della untuk merekam apa yang Della katakan pada Egnor.


"Kau dengar ini baik baik, Della!" Tutur Claudia memperdengarkan hasil rekamannya.


Della cukup bingung dengan maksud yang dilakukan Claudia.


"Apa maksudmu merekam percakapanku dengan suamimu? Kau tidak percaya padanya? Kalau kau mencintai dia, seharusnya kau percaya!" ujar Della mengernyitkan dahinya.


"Cih, kau jangan bahas bahas cinta, jelas sekali aku dan suamiku saling mencintai! Dia kemari pun aku yang menyuruh, kalau tidak bisa saja aku langsung menuntutmu karena pencemaran nama baik! Kau orang hukum, suamiku orang hukum dan aku juga pernah bekerja sebagai asisten pengacara jadi kita selesaikan masalah ini melalui jalur hukum agar kau tidak lagi menganggu rumah tanggaku!" Tutur Claudia memegang perutnya.


Egnor sudah beralih ke samping Claudia.


"Clau, sudahlah, biar aku yang membereskannya, perutmu sakit kan?" Bisik Egnor di samping pelipis Claudia.


"Sudah, kau diam dulu! Ini urusan wanita!" Claudia melambaikan tangannya di depan wajah Egnor. Grace yang duduk di sana memperhatikan sudah menutup mulutnya. Dia cukup menanti nantikan tuannya ditindas oleh istrinya.


"Nyonya, apa yang kau inginkan? Suamimu lebih memilihmu, aku tahu, tapi kau tidak perlu memperlakukanku seperti ini!" tukas Della sedikit tidak menerima.

__ADS_1


"Kau yang membuat maka kau yang harus bertanggung jawab! Dengarkan aku baik baik Nona Della, advokat yang terhormat. Rekaman ini akan kutunjukan pada Hakim Benedict. Dia akan memecat mu. Jadi, daripada namamu jelek di dunia hukum, sebaiknya kau pergi dari kota ini. Aku tidak mau melihatmu di mana pun. Terserah apa yang akan kau lakukan, kau harus pergi dari kota ini! Kau sudah membuatku marah sampai seperti ini! Kalau aku tahu kau masih berkeliaran di sini, aku akan menuntutmu sebagai pencemaran nama baik. Kau menipuku dan mertuaku juga menjelek jelekan suamiku!" decak Claudia sangat kesal.


"Nyonya, kau jangan begini, kita bisa bicara baik baik!" Della sedikit memohon.


"Tidak ada baik baik denganmu! Kemarin mertuaku sudah sangat sopan denganmu tetapi kau tetap bersih keras ingin membuatku percaya bahwa suamiku selingkuh denganmu kan?! Sudah sudah begitu saja. Kau pikirkan baik baik dan lebih baik enyah kau dari hadapanku!" Decak Claudia lagi benar benar murka.


"Tuan Egnor, kau tidak bisa membantuku?" kini Della memohon pada Egnor.


"Istriku sudah memperingatkan mu, pergilah!" Kata Egnor tanpa melihat Della sedikitpun.


Della benar benar merasa malu. Sudah berakhir seluruh reputasinya. Sebuah kesalahan dirinya mengikuti kata kata Kate. Seharusnya dia lebih berpikir, Kate yang licik seperti itu saja tidak bisa mendapatkan Egnor, apalagi dirinya yang polos benar tulus menyukai Egnor.


"Baiklah, aku akan meninggalkan kota ini. Maafkan aku Nyonya Claudia, Tuan Egnor," ucap Della benar benar sudah telak.


"Cepat pergi!" Decak Claudia lagi menatap sinis. Della lalu mengambil tasnya dan membungkukan tubuhnya. Dia pergi menuju kamarnya di atas sambil meneteskan air matanya.


Sementara Egnor tersenyum memandang istrinya. Claudia malah melirik tajam suaminya.


"Aku benci padamu!" Dengus Claudia berbalik meninggalkan suaminya.


Egnor ikut menyusulnya dan dia sempat melihat Grace membuka semua penyamarannya.


"Grace, kau di sini juga?"


"Istrimu memaksa dan dia kesal padamu karena kau masih bicara baik baik pada ular berkepala ratusan itu," jawab Grace tersenyum.


"Haiz!" Dengus Egnor dan kembali mengejar istrinya.


"Hem, drama memiliki pria hebat begitulah! Untung Frank biasa biasa saja meskipun menjadi bayang bayang Tuan Egnor, it's oke! Claudia, tugasmu benar benar berat, haha!" Gumam Grace menyeruput teh lemon hangatnya.


"Claudia, jangan seperti ini! Aku hanya berbicara yang seharusnya, kau juga mendengarnya kan?" Egnor berhasil meraih lengan tangan istrinya.


"Kalau sudah tau seorang wanita menyukaimu, jangan terlalu baik kak! Kau masih saja sangat baik, aku tidak suka!" dengus Claudia memberi ultimatum.


"Iya honey, sudahlah jangan merajuk seperti ini! Apa kau ingin sesuatu?" Egnor merayu Claudia.


Claudia masih masam dan memalingkan wajahnya.


"Honey, kau jangan memaksaku melakukannya di sini! Di kondominium ini ada kamar deluxe yang menyediakan jacuzzi, apa kau mau mencobanya?" Egnor menawarkan.


"Berendam?" Claudia sedikit setengah menoleh.


"Hehem, kau mau? Bukankah kau ingin berendam denganku? Kau menulisnya di notebook," kata Egnor mengingatkan.


"Tapi kemarin kita sudah melakukannya," selidik Claudia memicingkan matanya.


"Untuk bagian yang satu itu, aku suka melakukannya berulang ulang," kata Egnor tersenyum.


"Mesum!"


Pada akhirnya, Della benar benar pergi dari Honolulu. Dia berpindah ke Japanis, kampung halaman orang tuanya. Dengan modal dan bekal yang ada, dia membuka kantor pengacara kecil miliknya sendiri. Dia tidak mau lagi berurusan dengan Kate. Sementara Kate sudah urung uringan karena lagi lagi dia gagal menghancurkan Egnor dan Claudia. Tak berapa lama ponselnya berbunyi. Kate langsung mengangkatnya.


"Siapa ini?" tanya Kate.


"Kate Joyline, kenali suaraku baik baik," tutur seorang pria bersuara berat di seberang sana.


"Ada apa Tuan?" tanya Kate sudah meningat.


"Bantu aku memiliki hak otentik pemerintah maka aku akan memenuhi semua kebutuhanmu!" pinta pria itu.


"Aku tidak bisa membuatnya, semua prosedur ada pada tuan Gonzaga sementara kita semua belum menetapkan siapa penggantinya," kata Kate menanggapi pria itu.


"Apa tidak bisa kau membuat salinan yang sudah dibuat? Hanya sementara saja. Ketika aku bisa menguasai Honolulu, aku pasti akan mendapatkan yang asli bukan?" pria itu meminta jalur lain yang dapat dikatakan pemalsuan.


"Salinan? Aku akan mencarinya! Apa ini berhubungan dengan Egnor?"


"Tentu saja, kekasih hatimu," pria itu menggoda.


"Cih! Aku benci padanya! Aku mau menghancurkannya!" dengus Kate.


"Oleh sebab itu, hanya surat otentik itu yang bisa membuatnya bertekuk lutut. Lakukanlah, oke?"


"Ya, kau tunggu saja!"


"Aku ada di Nederland, segera kabarkan padaku,"


"Pintar sekali permainanmu, Tuan. Kau mencuci tanganmu dengan melibatkan semua orang tanpa kau turut campur. terus melakukan pengalihan yang mungkin akan Egnor selidiki!" Kate tersenyum kecut.


"Aku dalangnya, bagaimana aku tidak turut campur? Sudahlah, bergeraklah dengan cepat. Untuk di awal, David akan mengurus pembayaranmu!"


"Ya, baiklah."


Panggilan dimatikan. Kate tersenyum tipis. Mungkin bukan dirinya yang membalaskan dendamnya tetapi orang lain. Namun, nyatanya Kate tidak menyadari bahwa dirinya sudah ikut terlibat.


...


Satu Minggu kemudian akhirnya Frank mendapatkan surat yang diinginkan Egnor. Surat penangkapan untuk Richie Gabriane karena terduga rencana pembunuhan Pendeta Rudolf. Ternyata Richie masih bertahan di Nederland dengan menutup semua akses yang hendak menghubungi dirinya. Surat itu sampai di tangan Richard. Richard benar benar terkejut dengan semua ini. Dia tidak menyangka, ayahnya ikut ambil bagian dari pembunuhan ini. Richard menimbang nimbang, karena ini Lisa menjauh darinya. Richard memutuskan menemui Lisa di rumahnya.


Richard sudah memastikan dari Lina, kalau hari ini Lisa tampak kurang enak badan. Dia di rumah dan tidak mengadakan praktek. Mytha yang sudah menjadi asisten Lisa juga mengunjunginya bersama Gabriel. Kebetulan hari ini Gabriel bagian libur dan dia juga belum sempat mengucapkan terimakasih pada Lisa dan karena telah menjaga adiknya.


Gabriel dan Mytha datang lebih dulu ketimbang Richard. Setelah berbincang bincang dan mengucapkan terimakasih pada Lisa, Lina dan juga Nyonya Cornwell, Gabriel dan Mytha ijin pergi supaya Lisa bisa kembali beristirahat. Lina mengantar Gabriel dan Mytha sampai ke depan rumah. Lisa juga mengantarnya karena tidak enak sampai Gabriel datang dan membawa bingkisan padanya. Sempat sempatnya Gabriel juga meminta nomor ponsel Lina. Lina dengan senang hati memberikannya. Namun, sepertinya hubungan mereka nanti akan terhalang karena kejadian ini.


Bersamaan dengan itu, ketika Gabriel dan Mytha hendak berbalik, Richard datang. Dia tidak menyadari kalau Mytha belum pergi dari sana. Sebelumnya Mytha memang memberitahukan Richard tetapi Richard belum membaca pesannya.

__ADS_1


"Lisa, aku harus bicara padamu!" Kata Richard sudah ada di dekat mereka. Mereka semua cukup terkejut dengan kadatangan Richard yang tiba tiba. Namun tidak untuk Mytha. Mytha langsung menghambur memeluk Richard. Gabriel sedikit tidak enak dengan Lisa, begitu juga Lina. Sementara Lisa merasa aneh dengan pelukan Mytha. Mungkin wajar ketika Gabriel belum kembali, Richard iba pada Mytha tapi sekarang?


"Tuan Richard, apa kau datang menjemputku?" tanya Mytha mendongakan kepalanya.


"Hah? Tidak, aku, aku ingin bicara dengan atasanmu," kata Richard sedikit terbata karena tidak enak dengan Lisa sendiri.


"Kau tidak membaca pesanku?" Mytha sedikit mengerutkan wajahnya.


"Hah? Aku belum melihatnya. Sedang apa kau di sini?"


"Menjenguk Nona Lisa, lalu apa? Kau ingin membicarakan apa pada Nona Lisa? Apa tentang hubungan kita?" Mytha tersenyum sumringah.


Deg!


Semuanya cukup terkejut termasuk Lisa yang membelalakan matanya di dalam tundukan kepalanya.


"Em Mytha, nanti kita bicarakan lagi ya? Gabriel, bisa tolong kau bawa adikmu dulu? Aku perlu bicara pada Lisa," pinta Richard pada Gabriel.


"Ada apa Tuan? Kau sudah menjadi kekasihku, apa kau ingin memberitahunya pada Nona Lisa? Tidak ada yang harus ditutupi kan?" kata Mytha sedikit bingung.


Semua mata benar benar membelalak khususnya Gabriel. Lina sudah merangkul pinggang kakaknya. Dia tahu akan perasaan kakaknya.


"Mytha! Kau bicara apa? Kekasih? Tuan Richard? Ada apa ini?" Gabriel menuntut penjelasan.


"Gabriel, aku bisa menjelaskan tapi sekarang tolong bawa dulu adikmu. Kau mengerti kan apa yang harus kubicarakan pada Lisa?" Richard memohon pada Gabriel.


"Tidak Tuan, aku ingin bersamamu," ujar Mytha sedikit merajuk.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, Richard! Pergilah, aku ingin istirahat dan selamat atas hubungan kalian," sela Lisa dan dia masuk ke dalam rumahnya.


"Mytha, jadi kau sudah menjadi kekasih Kak Richard?" tanya Lina memastikan.


"Benar." Mytha tersenyum melingkarkan tangannya pada lengan Richard. Richard sudah memukul dahinya dan menunduk. Mengapa dia benar benar seceroboh ini?


Gabriel lalu merasakan kegelisahan serta kegundahan Richard. Dia tahu apa yang ingin dibicarakan Richard mengenai surat penangkapan ayahnya yang diperintahkan Egnor.


"Mytha, sebaiknya kita pulang dulu, Tuan Richard butuh waktu bicara dengan Nona Lisa," kata Gabriel mencoba membuat adiknya mengerti.


"Iya, tapi mengapa aku tidak boleh ikut?" Mytha mendengus.


"Mytha, pulanglah bersama kakakmu, nanti aku akan ke apartemen kalian," ujar Richard.


"Tapi sayang?"


"Kau percaya padaku kan?" Richard memegang salah satu wajah Mytha. Mytha menghela napas dan menuruti Richard. Akhirnya Mytha pulang bersama Gabriel dengan raut wajah sedikit cemas dan cemburu.


"Lina, ijinkan aku menemui kakakmu," pinta Richard.


"Untuk apa lagi? Kau sudah menghianatinya!" Lina melipat kedua tangannya di depan dadanya sudah sebal.


"Kau tidak mengerti posisiku, Lina," kata Richard masih berusaha.


"Hem sudahlah, aku bingung dengan hatimu kak! Masuklah, aku akan membujuknya," tutur Lina akhirnya mempersilahkan Richard masuk.


...


...


...


...


...


Bang Richard gimana dah ah 😑😑


.


Next part 108


Apakah rencana Kate kali ini berhasil untuk menghancurkan seorang Egnor dan Claudia?5


Bagaimana hubungan Lisa, Richard dan Mytha?


Boleh ijin bahas mereka dulu ga 1-2 episod sambil nunggu mimi melahirkan? Hehe


Tapi masih ada Mimi n babang nornya kok nyempil nyempil sama Gabriel n Lina hehe 😁😁


.


rekomendasi novel teen teen bau bau remaja yang menyegarkan mengingatkan masa masa sekolah antara Yoora dan Michael mampir gaes dengan judul:


-- LOYALTY IN LOVE --


by Bernadeth Sacitha


dijamin nostalgia abiiss 😍😍


.


Pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2