Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 55: Terbongkar 2


__ADS_3

Entah mengapa setelah pesawat lepas landas perut Claudia menjadi melilit. Kepalanya sedikit pusing dan telinganya mendengung begitu kencang. Ini tidak pernah terjadi kalau dirinya menaiki pesawat. Sudah sering ia menaiki pesawat dan baik baik saja. Ini agak berbeda. Dia lalu menutup telinganya dan menepuk nepuknya kecil. Hal ini tak lama membuat Egnor menoleh padanya.


"Ada apa Clau?" Tanya Egnor mendekatkan wajahnya ke samping wajah Claudia.


Claudia menoleh ke arah suaminya.


"Tidak apa apa sayang, telinga ku agak mendengung, perut ku juga sakit." Keluh Claudia menanggapi pertanyaan suaminya.


"Kau mau makan sesuatu?" Tanya Egnor memastikan.


Claudia menggeleng.


"Apa kau mengantuk?" Selidik Egnor lagi.


"Sedikit."


"Tidurlah, penerbangan mungkin memakan waktu tiga sampai lima jam."


"Iya kak." Jawab Claudia. Dia lalu menyandarkan dirinya ke sisi bangku pesawat . Claudia memejamkan matanya sambil mengelus perutnya. Mengapa dia jadi merespon dirinya untuk memegang perutnya terus? Claudia tersenyum tipis membayangkan mungkin kalau dia hamil, suaminya akan semakin ada untuknya.


...


Mereka berempat sampai di Legacy pukul sembilan malam. Anne sudah tidak sabar ingin melihat Viena, jadi mereka memutuskan akan langsung ke rumah sakit sebelum ke hotel. Claudia yang menawarkan diri mengurus imigrasi mereka sedangkan Egnor menunggu koper koper mereka di ruang tunggu. Johanes dan Anne juga mengikuti Egnor. Selagi menunggu, Egnor menyalakan ponselnya. Dia melihat ada beberapa pesan dan tentu membuatnya penasaran ketika Kate mengirimnya gambar. Egnor segera membuka nya bersamaan Claudia berjalan ke arahnya.


KATE


(gambar surat perceraian.jpg)


Aku sedang mengurus surat perceraian Richard dan Claudia, hem tapi mengapa baru sekarang diurus ya? Apa sebenarnya merek masih sepasang suami istri?


Egnor memperhatikan perlahan apa gambar ini Karna menyebutkan di sana nama istrinya yang sangat ia kenal. Dia mengernyitkan dahinya dan melihat judul surat yang dikirimkan oleh Kate. Darahnya sudah mengalir ke atas kepalanya karna dia tahu apa isi surat ini.


"Kak, kopermu sudah ku ambil, ayo kita ke rumah sakit!" Suara Claudia yang sontak membuat Egnor mendongakkan kepalanya. Di menatap istrinya sangat tajam.


"Kenapa kak? Apa yang kau lihat di ponselmu?" Tanya Claudia sedikit menoleh ke samping bawah melihat ponsel Egnor.


"Claudia, Egnor, ayo kita ke rumah sakit!" Ajak Anne sebelum Egnor menjawab Claudia.


"Cepat cari alasan yang sangat kuat untuk menjelaskan gambar ini!" Decak Egnor memberikan ponselnya pada Claudia dan dia berjalan menghampiri ayah dan bibinya.


Claudia masih terdiam bingung. Dia lalu memperhatikan gambar tersebut. Jantungnya berdegup sangat kuat. Ini surat perceraiannya. Mengapa ada di Kate? Dan mengapa surat ini belum di tanda tangan Richard? Apa benar semua kata kata nyonya besar itu? Semua pertanyaan berkecamuk di dalam pikiran Claudia. Pantas saja suaminya menatapnya tajam. Dan siapa pengirimnya? Kate?


EGNOR


Aku tetap mencintai Claudia dan akan mempertahankannya!


Ya, Claudia yang membalasnya. Dia mencengkram erat ponsel suaminya.


"Wanita berkepala dua! Baru sekarang kau tunjukan kepalamu yang lain ya?! Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa!!" Umpat Claudia kesal setengah mati dengan Kate. Untung dia sudah berada di Legacy, kalau tidak malam ini juga dia akan membuat perhitungan pada wanita itu.


"Claudia! Cepatlah!" Kata Anne lagi karna Egnor sudah berjalan bersama ayahnya.


...


Mereka tiba di rumah sakit tidak terlalu lama karna jalannya lenggang ketikan malam. Mereka langsung menuju ke kamar perawatan Viena. Ketika sudah sampai di depan kamar perawatan, terdengar Viena, Dion dan kedua orang tua Dion sedang memperdebatkan nama panggilan anak mereka.


"Iya Dion, biarkan anakku yang menentukan nama panggilannya," kata Johanes membuka pintu kamar perawatan. Anne langsung menyeruak masuk menghampiri Viena. Egnor masih dengan wajah garang nya karna masalah surat itu tapi dia berusaha menetralkan dirinya agar tidak menjadi pikiran adiknya. Sementara Claudia berada di belakang Egnor.

__ADS_1


"Ah, ayah mertua, selamat datang," Dion langsung menunduk memberi hormat kepada mertuanya. Johanes, Egnor, Claudia dan Annie menyalami mereka dan Johanes memeluk anak perempuannya.


"Kau sudah menjadi seorang ibu sayang, kau pasti akan menjadi ibu terbaik seperti mom mu," Johanes mencium kening anak perempuannya.


"Jadi Dion, kau biarkan adikku yang menentukan nama panggilannya?" Tanya Egnor merangkul adik iparnya itu. Ya dia berusaha sangat netral padahal di dalam hatinya di sedang berpikir apa yang akan dijelaskan Claudia.


Dion berjalan mendekati istrinya dan memeluknya pelan.


"Baiklah, kau boleh memanggilnya Dior," Dion mengalah menuruti lagi keinginan istrinya.


"Yes, Dior like a gold, i want him to shine like you. Sukses dalam karyanya dan menjadi baik dimanapun dia berada. Itulah alasanku suamiku. Belakangan memang aku juga memikirkan nama Dior sepertimu," Viena mendongakan kepalanya. Dion tersenyum menanggapi penjelasan istrinya yang masuk akal. Dia tidak dapat menolaknya.


"Aku mencintaimu, Viena," kata Dion lalu mencium kening istrinya.


Mereka yang ada disana merasa tersentuh, khususnya Claudia. Seharusnya Egnor juga datang merangkulnya. Dan pasti sudah memperkenalkan dia lagi kalau sekarang dia sudah menjadi istrinya. Hem, ini malah menjadi seperti benar benar asisten pribadinya dan mereka pasti berpikir seperti itu. Namun seketika Claudia harus berbuat sesuatu agar semua ini tidak menjadi tegang. Apalagi dia sangat tahu kalau suaminya sedang memaksakan dirinya senang.


"Bisakah kita seperti mereka? Mereka sangat romantis, aku menginginkannya bersamamu, Tuan Jovanca. Aku juga ingin hamil seperti Viena. Lalu kau mencium cium perutku ketika itu terjadi." bisik Claudia menggoda kakak Viena itu. Egnor hanya melirik Claudia sangat tajam. Claudia tidak memperdulikannya malah menggenggam tangan Egnor.


Egnor sedikit terkejut, padahal istrinya tahu sekali kalau dia sedang kesal. Hem, Egnor berusaha tenang karna ini tempat umum dan tidak seharusnya mereka merasa dingin seperti ini. Egnor yakin kalau ada sesuatu yang salah dengan semua ini.


Egnor menghela napas. Dia mengalah dan membiarkan apa yang Claudia inginkan. Viena melirik sedikit ke arah kakaknya dan tersenyum kecil. Akhirnya cinta pertamamu kembali juga, kak, gumam Viena dalam hati.


...


Egnor duduk di sisi ranjang hotel Prime dengan melipat tangannya di dada dan juga melipat kakinya. Wajahnya kesal bercampur muram dan dahinya mengernyit. Bahkan dia membiarkan Claudia menarik koper nya. Egnor ingin marah namun kenapa hatinya tidak terlalu menginginkannya. Dia merasa kalau dia gegabah entah Claudia akan kembali marah padanya karna pemikirannya yang sempit. Dia harus sekali lagi memeriksa surat itu. Dia orang hukum, dia tidak boleh melewatkan sedikitpun.


"Ahhh kau tega sekali kak! Hanya karna lembaran bodoh yang bisa di edit di buat, kau membiarkan istrimu membawa dua koper ini. Sampai sampai ayah mertuaku mau membantunya. Aku jadi bingung, sebenarnya kau ini mengikuti siapa? Ayah apa ibumu? Kedua orang tuamu sangat baik! Bahkan melebihi kedua orang tua ku, tapi kau .." sungut Claudia memasuki kamar hotel mereka.


"Sudah diam! Cepat jelaskan padaku! Aku tidak akan marah, aku hanya butuh penjelasan!" Perintah Egnor dengan nada datar dan wajahnya menunduk.


"CLAUDIA!!" Panggil Egnor yang sudah kesal karna Claudia seperti main main dan tidak mengindahkan kata katanya. Claudia malah menghiraukannya dan menuju ke kamar mandi.


"Oke sudah! Jadi begini Tuan Pengacara! Aku tidak tahu kenapa surat itu belum diajukan! Dan bukankah kau seorang pengacara handal, mengapa tidak mengetahui pasal pernikahan atau perceraian?" Kata Claudia keluar dari kamar mandi.


Egnor terdiam dan malah menatap tajam Claudia. Claudia tersenyum. Dia meraih ponsel Egnor dan mendekatkan dirinya pada suaminya. Claudia lalu berjongkok menatapnya.


"Sayang, bisakah kita bicara dengan hati? Sekali lagi kutegaskan AKU TIDAK MENCINTAI RICHARD!" Kata Claudia terbata dan mengeja ketika menyebut kalimat 'aku tidak mencintai Richard'.


"Kalau aku mencintainya, aku tidak akan menanda tangani surat itu. Kenyataannya aku menanda tangani suratnya. " Tambah Claudia menampilkan wajah manja nya dengan senyum yang lebar. Alisnya naik turun seperti menggoda suaminya.


"Richard juga menanda tangan!" Dengus Egnor seperti biasa selalu ada perkataan yang bisa membuat Claudia kesal, namun nyatanya ..


"Nah, kalau begitu semakin baik berarti dia sudah tidak mencintaiku! Kau ini, mau saja tertipu oleh Kate! Sudah kukatakan dia mencintaimu ingin mendapatkanmu! Sekarang aku terserah padamu kak! Kalau kau mau bersama Kate silahkan! Aku tidak apa apa!" Claudia beranjak dan akhirnya suaminya mengerti sesuatu. Claudia tahu, suaminya begitu mencintainya sehingga terbakar api cemburu ketika hanya mengetahui surat perceraian itu baru di ajukan.


"Kau akan bersama Richard?" Egnor masih dalam lingkup cemburunya.


"Aku akan bersama bibiku! Lagi pula aku sudah tidak tinggal bersama Richard selama 4 tahun, bukankah seharusnya mudah jika aku yang mengajukan perceraian?" Kata Claudia melipat kedua tangannya.


"Jadi, Tuan Pengacara Jovanca, bisakah aku menyewamu untuk menjadi pengacaraku? Dan kau akan melawan Frank atau Kate, HAHAHAHAHAA!!!?" Kata Claudia lagi merasa dirinya sudah menang meskipun belum membuat laporan sama sekali.


Egnor sudah lama tidak mengurusi masalah rumah tangga seperti ini. Dia mencoba berpikir dan sepertinya benar apa yang dikatakan istrinya. Egnor kini menaikan alisnya menatap istrnya.


"Kau bisa membayarku?"


"Tentu saja! Ikut denganku!" Claudia menghampiri Egnor dan menarik dasinya.


Egnor mengikutinya walau masih dengan wajah dinginnya namun merasa tergoda ketika sambil berjalan Claudia membuka kancing kemejanya. Claudia dan Egnor menuju ke bath up yang sudah ia sediakan.

__ADS_1


"Kak, ponselku rusak, aku mau ponsel!" Pinta Claudia di atas tubuh Egnor. Mereka masih di dalam rendaman air hangat itu.


"Hem, besok kita akan membelinya." Jawab Egnor dengan matanya yang terpejam.


Claudia tersenyum dan membalikan tubuhnya menatap suaminya. Dia membentuk garis garis pada wajah Egnor dengan jarinya. Sungguh bangga dia bisa menjadi istrinya dan sudah sedekat ini. Tidak percuma dia menunggu dan mempertahankan perasaannya ini.


"Mengapa waktu itu kau tidak memastikan surat itu sudah diajukan atau belum?" Tanya Egnor masih memikirkan semua permasalahan pelik ini.


"Aku belum mengerti apa apa. Jadi kupikir ketika aku sudah menandatanganinya masalah selesai. Aku tidak tahu lagi!" Jawab Claudia apa adanya.


"Jadi mengapa kau menikah dengannya?" Tanya Egnor lagi yang sangat membuatnya penasaran. Egnor berharap Claudia menceritakan yang sesungguhnya. Dia ingin semuanya jelas.


Seketika jantung Claudia berdegup. Hatinya bergetar. Dia bingung harus seperti apa menjelaskannya. Dia sangat takut pandangan Egnor padanya. Namun, rasanya dia harus menjelaskannya agar semuanya jelas dan terbongkar sudah. Semoga dengan Egnor tahu, Egnor malah menyelamatkannya bukan meninggalkannya. Apapun resikonya dia harus mengatakannya terlebih dulu. Jika Egnor meninggalkannya, biarkan dia menjadi seorang janda dan tidak mau lagi merasakan semua kemelut cinta ini lagi. Terlalu lelah.


"Emm, sebenarnya .. " Claudia memulai dengan bibirnya agak bergetar. Dia membuat posisinya duduk sehingga tidak melihat suaminya.


"Apa? Katakan semuanya padaku sekarang Clau!" Egnor menekankan.


"Paman membutuhkan sejumlah uang untuk membayar utang nya. Richard datang menawarkan kesepakatan kalau aku mau menjadi istrinya maka semua utang Paman lunas. Aku harus menjadi istrinya sampai dia mendapatkan sebuah warisan yang mana dia harus memiliki seorang istri. Ketika sudah dapat dia bisa menceraikan ku. Aku sudah mengatakannya. Kalau kau menganggap ku rendahan, silahkan saja!" Claudia mengatakannya. Ya, akhirnya dia mengatakannya. Dia menghela napas dan pasrah dengan respon suaminya.


Sebenarnya dia takut. Dia mulai beranjak dari sisi Egnor dan menyudahi acara merendamkan diri itu. Egnor terdiam mendengar pernyataan istrinya.


Hem, memang seharusnya dia bertemu dengan Richard dan membicarakan semuanya. Claudia sudah berada di sisi bath up. Dia hendak beranjak lagi namun Egnor menahan tangannya.


"Bisakah kita melakukannya lagi?" Tanya Egnor menyeringai. Claudia tersenyum tipis dan Egnor menarik tangannya masuk kembali ke dalam bath up dan mereka melakukan pergulatan cinta itu lagi. Bahkan lebih bergairah dari sebelumnya. Egnor seperti merasa bersalah karna tidak mencari Claudia dengan serius waktu itu. Kalau saja dia lebih dulu menemukan Claudia, masalahnya tidak akan serumit ini.


...


...


...


...


...


Lah ngapa klean jadi main main aer?? Awas masuk angin 😅😅


.


Next part 56


Mari kita buat perubahan dan menyudahi semua konflik ini okeehh??


Kita buat sebuah cerita baru yang lebih menegangkan dan baper pastinya hehe


Jaga hati dan pikiran dan tetaplah bersamaku 😍😍


.


Jangan lupa bubuhkan jempol kalian pada logo LIKE dan kasih KOMEN kalian .. apapun sangat membantu mood vii dan smangat luar dalam haha .. kalau boleh kasih RATE nya bintang lima 🌟


Dan VOTE nya yaa di depan profil novel 😍😍


.


Happy reading, thanks for read and love you somuch all 💕💕

__ADS_1


__ADS_2