
Jika kita goyah di tengah ombak apapun saat ini, rasakan saja angin dan biarkan kita mengikutinya. Ketika angin memudar dan ombak semakin kecil, suatu hari nanti kita dapat berdiri di tengah laut. Saat ini ombak ketakutan menyerang hati nurani Egnor, mengombang ambingkan perasaan. Namun, dukungan selalu datang menjadi angin yang sepertinya harus Egnor lakukan perlahan lahan. Percaya suatu saat ombak pun akan semakin kecil dan angin pun sudah tidak menggiring lagi disanalah keberhasilan atas pengabdian yang tinggi akan terasa nyata. Egnor tidak akan menukar istrinya dengan semua kebahagiaan orang lain, bagaimana dengan dirinya? Walau tidak ada yang tahu akhir dari semuanya. Perjuangan dan langkah langkah baik akan terus Egnor jalani. Permasalahannya apakah Egnor sanggup? Apakah Claudia akan ambil bagian?
...
Frank dan Bertho tidak bertanya atau mangajak tuannya bicara. Egnor di sana tampak frustasi. Dia menolak pinggang dan satu tangannya lagi memegang dahinya. Dia tidak habis pikir dengan penawaran yang ia dengar. Dan kemana dia harus mencari Bruce? Namun, dia harus bertemu dengan pria itu. Sudah lama tidak bertemu, sekali bertemu memang masih menanam kebencian padanya.
Frank dan Bertho saling berpandangan. Merasakan kegundahan yang tuannya rasakan. Frank pun menundukan kepalanya. Dia tidak tahu harus bagaimana selain memberi dukungan semangat. Semua memang hanya ada di tangan tuannya.
Tetes darah sudah melintas di jari jari tuannya. Frank langsung menuju ke kursi pengemudi sementara Bertho mengambil sapu tangan lalu di lilitkan pada tangan Egnor.
"Aku baik baik saja, ke rumah ayahku!" Kata Egnor dan memasuki mobil.
"Siap tuan!" Saut Bertho yang sangat mengerti bagaimana perasaan dan pikiran tuannya sedang bercampur menjadi satu. Ingin melakukan sesuatu yang benar malah digiring untuk menciptakan sesuatu yang tidak benar.
Mereka pun menuju ke rumah Johanes dan Anne. Egnor langsung keluar dari mobil tanpa mempedulikan Frank dan Bertho. Kedua bawahannya itu menarik napas panjang. Sampai kapan kenistaan ini menggandrungi tuannya. Padahal tuannya hanya ingin menjunjung tinggi keadilan. Tidak ada maksud mencari permusuhan atau menjatuhkan nama baik seseorang. Pada akhirnya yang bertindak selalu benar ujung ujungnya tetap disalahkan.
Egnor memasuki rumah ayahnya dan menemukan Claudia sedang membuat sesuatu dengan Anne. Dia berjalan ke arah meja makan itu dengan tatapan wajahnya tidak mengenakan. Egnor merasa telah membawa duri bagi negara dan juga keluarganya sendiri. Emosinya masih meluap luap. Pikirannya tidak seimbang dengan apa yang harus direncanakan dan tubuhnya memanas.
"Kak? Kau sudah pulang?" Sapa Claudia menoleh ke arah suaminya. Egnor berjalan mendekati Claudia dan menarik pergelangan tangannya.
"Aahh, ada apa kak?" Pekik Claudia mengikuti arah suaminya.
"Egnor, ada apa denganmu?" Tanya Anne yang melihat Egnor seperti orang sedang marah.
Egnor menggeleng dan terus menarik tangan Claudia menuju ke lantai atas. Untung saja Johanes sedang menunggui Willy dan Wilson tidur. Anne hanya berharap tidak ada lagi orang yang menghasut Claudia sehingga keponakanny itu percaya dan menyakiti Claudia.
Egnor memegang kencang pergelangan tangan Claudia dan Claudia terus mengikutinya. Claudia merasa seperti ada yang membuatnya marah dan suaminya butuh pelepasan. Cluadia juga merasa hal ini pasti ada hubungan dengannya. Egnor selalu bertindak arogan dan kasar seperti jika ada yang menyangkut pautkan dengan dirinya. Seperti tidak mau melepaskan sehingga harus berada dalam kurungannya.
Egnor membuka pintu kamarnya. Dia masuk bersama Claudia dan langsung mencium bibir Claudia. Claudia sangat terkejut tapi mengikuti ritme yang suaminya buat.
"Uhm, kak, kau kenapa hah? Uhm," tanya Claudia sambil terus menerima hujaman bibir Egnor padanya. Claudia juga masih menanggapi kecupan bibir Egnor yang kini membuka celemek yang masih Claudia kenakan. Lalu, dia juga membuka jas dan merenggangkan dasinya.
Egnor membaringkan Claudia di tempat tidur dan membuka sweater serta menarik rok yang Claudia kenakan.
"Kak, kau kenapa hah? Aku tidak mau kau kasar seperti ini!" Decak Claudia mencoba mengingatkan Egnor.
__ADS_1
"Diam! Kau milikku dan hanya boleh menurutiku!" Balas Egnor memegang dagu Claudia. Egnor menatap Claudia dengan intim dan penuh gairah.
"Iya aku mengerti, tapi kenapa? Ada masalah apa? Katakan padaku!" Pinta Claudia
Egnor tidak mengindahkan pertanyaan Claudia. Dia melucuti kemeja serta menanggalkan semua yang ada di tubuhnya. Egnor kembali mendekati Claudia dan dengan cepat membuka satu helai bahan lagi yang tertinggal di bagian bawah Claudia. Egnor menarik tubuh Claudia dan memulai permainan. Tak butuh waktu banyak untuk Egnor memasuki dirinya pada tubuh istrinya.
"Argh!" Pekik Claudia merasakan benda tumpul itu menerobos masuk dengan penekanan yang tidak seperti biasanya.
"Katakan Clau, kau hanya boleh menjadi milikku dan tidak akan pernah bersama orang lain!" pinta Egnor dengan penekanan penuh luapan emosi.
"Iya kak, aku milikmu, kau kenapa, ini sakit sekali, argh!" balas Claudia melenguh mendongakan kepalanya sampai terlihat leher putih nan jenjang itu sehingga Egnor tak kuasa membuat tanda cinta di sana.
Egnor terus memajumundurkan tubuhnya dengan irama yang cepat dan kuat. Decitan tempat tidur menggema seturut gerakan yang Egnor buat. Lenguhan dan desahan keluar dari mulut Claudia membuat Egnor semakin bersemangat menjajaki tubuh istrinya.
Tangannya memegang belakang leher Claudia sementara satunya memegang panggul Claudia untuk membantu Claudia mengikuti tekanan dan hent*kan yang ia berikan. Claudia hanya bisa pasrah dan mengikuti birahi Egnor yang memuncak bagaikan gunung Merapi. Walau begitu Egnor tidak menyakiti Claudia secara berlebihan. Nyatanya Egnor masih mencium bibirnya dengan pelan dan membelai sekujur wajahnya. Dan sesekali meremass buah dadanya dengan pelan dan mengendusi sisi sisinya seperti ingin mengeluarkan isi di dalamnya.
Pergulatan cinta itu terus terjadi dengan Egnor yang menguasai permainan. Matanya terus memandang Claudia yang hampir tidak bisa mengimbangi suaminya yang begitu bergairah menyetubuhinya. Claudia juga sesekali menarik wajah tampan itu dan juga mengecup bibirnya.
"Aku mencintaimu, Clau," kata Egnor sambil melahap setiap lapisan bibir itu.
"Aku juga kak, ada apa denganmu? Apa aku membuat kesalahan?" tanya Claudia menangkup wajah Egnor dengan seksama.
Egnor masih menyatukan tubuhnya dengan Claudia sampai akhirnya kepuasan itu tersalurkan. Egnor menghentakann tubuhnya untuk mengakhiri permainan ini dan Claudia mencengkram pundak Egnor merasakan lelehan lelehan itu mengalir dengan cepat.
Egnor merebahkan tubuhnya di samping Claudia dan menarik Claudia masuk ke dalam pelukannya. Dia mendekap Claudia dengan sangat erat dan menciumi dahinya.
"Argh, aku tidak bisa hidup tanpamu, Clau! Kau hembusan napasku, kau darah yang mengalir di tubuhku, dan kau jaringan sel sel yang melintas di otakku!" Tutur Egnor makin mendekap tubuh Claudia yang napasnya masih tersenggal. Dia juga memeluk suaminya.
"Aku tahu kak, tapi kau bukan seperti dirimu. Ada apa denganmu?" tanya Claudia mendongakan kepalanya.
"Ada seseorang yang menyukaimu, Clau! Dia mau mencurimu dariku! Aku tidak akan membiarkannya menyentuh seujung jarimu saja!" kata Egnor dengan seraknya.
"Kau harus melindungiku kak, aku hanya ingin bersamamu," saut Claudia mendekap erat dada suaminya.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkannya menemukanmu bahkan melihatmu saja, aku akan mencungkil matanya karena menganggumu wanitaku. Wanitaku satu satunya, jangan tinggalkan aku Clau! Kabar apapun yang kau dengar, jangan pernah sekali sekali mengorbankan dirimu!" kata Egnor lagi memperingati Claudia.
__ADS_1
"Ada apa kak? Siapa yang menginginkanku? Katakan padaku kak?" tanya Claudia kembali mendongakan kepalanya.
Tidak. Egnor tidak boleh mengatakannya pada Claudia. Istrinya bukan seperti wanita wanita lain. Dia bisa merelakan dirinya demi kebahagiaan orang lain tanpa memikirkan dirinya. Tidak boleh. Egnor harus menyimpannya rapat rapat dan tidak akan membiarkan Claudia berkeliaran di luar dalam waktu dekat ini. Egnor tahu siapa orang yang ia hadapi. Mereka mungkin akan berani menculik Claudia. Egnor tidak boleh membiarkannya.
"Aku, aku yang selalu menginginkanmu! Diamlah, aku ingin memelukmu!" pinta Egnor tidak mau membahas terlalu jauh.
Claudia kembali memeluk suaminya dan memainkan jarinya di atas dada Egnor.
"Bagaimana pertemuannya kak? Apa membuahkan sedikit hasil?" tanya Claudia memastikan.
"Tidak! Tidak ada yang penting untuk dibicarakan denga pria berotak udang dan picik seperti mereka!" decak Egnor masih tak senang. siapa yang akan senang jika ada pria lain yang menginginkan istrinya dan mendapatkan dengan cara seperti ini.
"Mereka pasti tidak memberi hakmu?" selidik Claudia.
"Kau sudah mengetahuinya Claudia. Mereka meminta sesuatu yang tidak akan pernah ku berikan padanya! Tidak akan!" saut Egnor masih dalam nada kesal.
"Apa kak?"
"Kau tidak perlu tahu. Aku akan berjuang tapi tidak menuruti penawarannya. Kau lihat saja Clau, Honolulu ini akan menjadi seperti sedia kala. Aku akan menghancurkan semua oknum yang sedang terlibat saat ini. Tugasmu hanya terus berada di sampingku, kau mengerti, Clau!
Claudia mengangguk lalu mendongakan kepalanya menatap Egnor. Egnor juga sedikit melihatnya lalu kembali mencium bibir merah itu. Mereka berciuman dan akhirnya melakukan satu permainan cinta lagi tapi kali ini Egnor lebih lembut dan Claudia yang mendominasi. Claudia sangat tahu kalau suaminya membutuhkan ini untuk mengembalikan semua daya dan kekuatan berpikirnya. Dan ketika sudah sampai pada pencapaian Claudia berada di atas Egnor. Egnor sudah memejamkan matanya. Dia terlihat lelah. Claudia tersenyum kecil dan memandang sesaat wajah tegas itu.
"Tidurlah kak, aku mencintaimu, aku akan selalu ada untukmu. Mana bisa aku juga hidup tanpamu. Namamu sudah melekat sampai di tempat hati ku yang paling dalam. Jangan takut, selalu ada wajahmu dalam setiap langkah hidupku!" Kata Claudia mengelus wajah Egnor. Dia membiarkan suaminya tertidur.
Claudia sangat yakin mungkin ada hubungan dengan dirinya mengenai penawaran itu sehingga Egnor seperti takut dan bimbang akan melakukan kesalahan. Claudia merasa tidak boleh berdiam diri. Dia juga harus membantu suaminya. Apapun itu walau hal kecil pasti sangat berharga.
Keesokan harinya Egnor sudah bersiap pergi ke kantor. Dia sudah menghubungi Alex dan Eleazar untuk mengadakan pertemuan. Dia juga sudah menyuruh Frank mengumpulkan para jaksa dan advokat yang menentang sistem pemerintahan sekarang. Dia juga sudah menghubungi Dion untuk datang bersama Leon jika memiliki waktu.
Dion tentu menyetujuinya di mana Dion juga sebagai salah satu orang kepercayaan pemerintah Legacy untuk bertanggung jawab atas ketenagakerjaan di sana.
Egnor sudah tidak seperti biasanya. Pikirannya bercabang kemana mana. Hatinya bergemuruh ingin semua menjadi yang terbaik tanpa melibatkan orang orang yang ia sayangi. Walau pandangannya sedikit kosong dan merasa takut ketika bangun pagi, tapi mendengar celotehan Wilson dan Willy bersautan serta melihat senyum indah istrinya, dia menjadi semakin bersemangat untuk membenahi tanah kelahiran anak anaknya ini. Egnor dan Claudia bukan warga asli dengan catatatn kelahiran di Honolulu tapi sejak semua orang mempercayakan keadilan padanya, rasanya tidak bisa dia melarikan diri dari negara yang sudah membesarkan namanya.
...
bersambung lanjut di bawah ya 😊
__ADS_1
tetap LIKE dan KOMEN part ini ya 😁
thanks for read and i love you 💕