Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 94: Not Sense!


__ADS_3

*Claudia : Kau berbohong padaku! Kau bilang, kau tidak akan meninggalkanku, kau bilang kau akan selalu membalas pesanku, kau bilang semua dengan kata kata yang dapat kupercaya. Namun, sampai mataku terbuka, kau tidak ada. Lebih baik diriku yang meninggalkanmu tanpa berkata kata namun aku kembali, sedangkan dirimu? Kau berbohong dan terus berbohong!


Egnor* : ...


...



POV CLAUDIA


Batin ini terus memanggil namamu. Aku seperti tidak bisa bernapas dengan baik. Aku seperti berjalan tetapi tidak tahu kemana tujuannya. Aku seperti tidak bisa melihat dengan benar. Pandanganku gelap dan aku seperti tidak mau mendengar apapun. Yang aku mau hanya kau kembali, kak! Kau dimana? Cepat balas pesanku dan membuatku tenang.


Kenyataannya aku berbaring disini. Aku bernapas dengan baik walau sangat lambat. Rasanya aku memang ingin menemuimu saja. Ini terlalu menyakitkan. Melebihi semua rasa sakit yang pernah kau lakukan padaku.


Kenyataanya aku pasti bisa berjalan. Aku bisa berjalan ke pelabuhan lalu menyewa kapal terbaik dan menyisulmu. Aku yang akan mencarimu. Sebentar lagi aku akan bangun. Kau tunggu saja kak. Kau tidak boleh meninggalkanku, ya memang tidak boleh. Sejak dulu tidak ada hukumnya kau meninggalkanku, hanya aku yang boleh meninggalkanmu karena apa? Karena aku pasti kembali kepadamu!


Lebih baik kau menceraikan ku dari pada kau pergi ke alam yang entah dengan mengakhiri nyawaku maka aku bisa menjemputmu. Kalau kau menceraikanku, aku bisa datang merayumu dan kita kembali bersatu.


Aku tidak kuasa menerima ini. Maafkan aku kalau memang kau pergi dan aku tidak rela. Terserah semua orang mengatakan aku egois. Ini merupakan keterpurukanku melebihi apapun. Aku rela dihina, dilecehkan tapi tidak dengan kau pergi ke alam lain. Aku tidak mau.


Kenyataannya, aku bisa membuka mataku sebentar lagi. Aku bisa melihat dengan benar dan kupastikan di pandanganku hanya dirimu. Jika kau tidak ada lebih baik aku tidak usah melihat apapun! Seandainya aku tidak menginginkanmu pergi, aku masih bisa melihatmu! Kalau seperti ini cungkil saja kedua mataku. Tidak ada gunanya melihat kejamnya dunia dan indahnya bunga di taman jika tidak bersamamu, aku tidak mau!


Kenyataannya aku bisa mendengar. Bahkan sangat jelas. Aku mendengar berita palsu itu. Aku yakin itu palsu. Aku akan mencari kebenaran yang ada. Kata Frank mereka sudah melaporkan ramalan cuaca tetapi apa yang terjadi? Hujan itu menderai bagai tetes air mataku yang kupastikan tidak akan berhenti sebelum aku mendengar bahwa kau baik baik saja.


Semua ini salah siapa? Kurasa ini bukan rencana Tuhan dan kehendak Tuhan. Aku tahu, Tuhan belum mengijinkan ku berpisah dengan mu karna kau hanya boleh pergi bersamaku. Ini semua salah si pelapor ramalan cuaca. Dia telah merenggut jiwaku, kakiku, mataku, telingaku, semua tubuhku ada padamu kak! Dia keterlaluan! Aku akan membuat perhitungan. Ku pastikan, istri seorang Egnor Victor Jovanca akan menuntut kecelakaan ini. Ini bukan tidak sengaja karna badai. Aku pun tak takut dengan badai! Rasa cinta ku melebihi badai dan derasnya ombak di tengah laut. Mereka sungguh bermacam macam dengan kehidupan rumah tanggaku! Aku tidak bisa terus berbaring disini dan sebentar lagi menerima kabar mengenai korban jiwa, atau mendengar keadaanmu. Yang hanya ingin ku terima EGNOR JOVANCA MASIH HIDUP!


...


Claudia membuka matanya. Dia mencoba mengamati ruangan yang kini menampungnya. Ini bukan kamarnya. Dan aroma ini sepertinya dia ada di rumah sakit. Grace langsung menghampirinya. Sejak tadi dia dan Anne yang menunggui Claudia.


Mata Claudia memerah. Sisi sisi indera penglihatannya yang indah itu membengkak membentuk sebuah lingkaran yang merah. Claudia masih terdiam mengamati langit langit ruangan. Dia tidak memperhatikan Grace dan Anne yang tampak sangat cemas. Seketika Claudia menyadari sesuatu.


Suaminya belum membalas pesannya. Dia segera duduk dan akhirnya mendesis karna dia bangun terlalu tiba tiba. Dia memegang perutnya.


"Claudia, tenanglah, kau harus beristirahat. Kau baru saja kontraksi." Kata Anne memegang pundak Claudia.


Claudia mendongakan kepalanya menatap nanar Grace.


"Dimana ponselku? Apa Kak Egnor sudah membalas pesanku? Kemarikan ponselku!" Pinta Claudia dengan sangat geram. Hatinya benar benar berkecamuk. Dia belum terlalu menyadari dengan berita yang pagi tadi membuatnya sampai di ruang perawatan ini.


"I i ini sayang. Egnor belum membalas pesanmu! Kau tenanglah, semua sedang menyelidikinya." Anne memberikan ponselnya. Claudia seperti Pura pura tidak mendengar perkataan bibi mertuanya. Dia meraih ponselnya dan menekan nekannya mencari pesan Egnor. Namun yang ada hanya pesan terakhir Egnor tadi malam.


"Lihat! Aku belum membalasnya!" Claudia menunjukan pesan terakhir suaminya pada Grace.


"Cukup Clau! Kau sudah membalasnya tapi, tapi, tapi Tuan Egnor belum membalasnya. Clau tolong terimalah, kabar ini benar benar nyata." Kata Grace sudah menangis dan memegang tangan Claudia.


"Kabar apa? Kau asal bicara! Aku tidak mendengar kabar apapun selain kata kata aku mencintaimu dari suamiku! Kau sebaiknya pergi dari sini, aku mau menghubungi suamiku!" Claudia menghempaskan tangan Grace. Dia kembali menari narikan jemarinya di atas ponselnya. Dia menghubungi suaminya.


Tetapi jawabannya seperti pagi tadi, tidak dapat dihubungi.


"Ini tidak benar! Angkat panggilan ku kak angkat!" Claudia terus mencoba menghubungi suaminya meskipun hasilnya sama.


"Claudia, ponselnya off, kapal pesiar tertabrak batu karang dan tidak mungkin ada ponsel yang menyala." Grace mencoba menyadarkan Claudia.


"Diam kau!" Gertak Claudia menatap tak suka pada Grace.


"Claudia, sadarlah! Kau harus menerimanya dan kita berdoa agar Tuan Egnor baik baik saja Clau." Grace tidak menyerah membujuk Claudia.


"Kau bisa diam tidak?! Aku sedang menghubungi suamiku! Kau berisik sekali! Suamiku tidak suka ribut ribut, kau diamlah dulu!" Gertak Claudia lagi dengan penekanan yang penuh emosi.


"Claudia, dengarkan aunty. Kapal pesiar yang ditumpangi Egnor terkena badai sehingga tertabrak batu karang besar dan tenggelam. mengertilah aku mohon jangan begini!" Anne memberanikan diri menolehkan wajah Claudia menghadapnya.


Claudia menatap sedih wajah Anne. Claudia pun menyadari berita yang ia dengar pagi tadi adalah kenyataan.


"Tidak aunty! Jangan berkata seperti itu. Keponakanmu pasti baik baik saja! Atau dia sudah pulang? Ya ya dia pasti sudah pulang. Kau ikut denganku kita melihatnya. Dia pasti sudah melihat pizza yang telah kubuat, ayo aunty!" Claudia hendak beranjak dari te


"Claudia tidak Clau tidak! Egnor belum kembali. Dia masih ditengah luar mengalami kecelakaan. Tolong mengertilah sayang mengertilah!" Anne sudah menangis sambil berkata kata.


"Tidak Aunty, tidak .." Claudia ikut menangis. Ini memang kenyataan yang harus ia dengar dan ia terima. Claudia menjuahi wajahnya. Dia menoleh ke arah Grace yang sudah menangis menundukan kepalanya dan menutup wajahnya.


"Tidak, Kak Egnor pasti sudah pulang, ya aku yakin itu. Itu bukan kapal pesiar yang ditumpangi suamiku. Dia sudah pulang, dia bilang dia merindukanku semalam jadi dia pulang, ya benar! Tunggu kak, aku juga akan pulang!" Kata Claudia seperti bukan dirinya sendiri. Dia tahu kecelakaan itu tapi dia tidak mengindahkannya, dia tidak mau bukan tidak tahu.


"Aku akan pulang ke apartemen!" Kata Claudia dan langsung mencabut selang infus yang menancap di punggung tangannya. Grace dan Anne terkejut.


"Claudia, apa yang kau lakukan?" Grace menahan tangan Claudia untuk beranjak dari tempat tidurnya.

__ADS_1


"Aku mau pulang, minggir kau!


"Tidak tidak jangan Clau, kondisimu lemah


"Diam kau! Mengapa hari ini kua berisik sekali Grace! Aku mau pulang, aku mau menemui suamiku! Minggir!" Claudia menghempaskan tubuh Grace. Dia berhasil berdiri menapaki lantai rumah sakit tetapi Anne dengan cepat menahannya agar tidak pergi dari kamar ini.


"Claudia jangan begini Clau! Kau harus dirawat dulu, ingat kau sedang hamil!" Anne berusaha menahan.


"Karna aku sedang hamil, aku ingin bertemu dengan suamiku aunty! Bukankah tadi kita sedang apa di apartemen? Aku tidak mau disini! Jangan menahanku aunty!" Balas Claudia menyingkir dari pengukuhan Anne. Dia segera menuju ke pintu keluar dan Grac mengejarnya.


"Aku mau pulang, aku mau bertemu dengan suamiku! Kalian semua tidak mengerti rasa rinduku yang sangat mendalam ini!" Decak Claudia.


Brak!


Claudia sudah membuka pintu dan keluar tapi dia menabrak Richard yang hendak menjenguknya.


"Claudia, kau mau kemana?" Richard menahan Claudia yang hampir saja terhempas ke lantai.


"Richard? Kau tahu suamiku sudah pulang kan? Cepat antarkan aku pulang, aku mau menemuinya." pinta Claudia memohon pada Richard.


"Tidak tidak! Dia belum pulang Clau! Kapalnya kecelakaan." Richard juga sama seperti Grace, mencoba memberi pengertian pada Claudia.


Pak!


Claudia menampar Richard.


"Jangan kau bilang kapalnya kecelakaan, dia baik baik saja. Dia bilang dia merindukanku dan dia akan pulang!" Claudia menunjuk Richard dengan telunjuknya.


"Tuan Richard maaf! Dia terus seperti ini, Claudia tidak menerima kecelakaan ini." Grace menjelaskan dengan tetes air mata yang telah terjatuh.


"Memang itu tidak terjadi, kalian semua berkhayal! Ulang tahunku sudah berakhir, kalian semua jangan mengerjaiku!" bentak Claudia berusaha melepaskan diri dari Richard karna pria itu terus menahannya.


"Tidak Clau, kau harus sadar, KAPAL EGNOR MENGALAMI KECELAKAAN! CLAUDIA SADAAR!!!" Gertak Richard akhirnya terpaksa. dia memegang kedua lengan Claudia dengan tatapan serius dan meyakinkan.


Lisa sudah terdiam memegang dada nya. Dia juga tidak tahu harus bagaimana dan dia pun juga tidak percaya akan kejadian ini. Mytha sudah tidak masuk dan dia sudah khawatir. Entah Mytha sudah mengetahui kecelakaan yang juga menimpa kakaknya atau belum.


Claudia terdiam dan menangis.


"Kak Egnorr ... Kau menipuku, kau bohong! Pulang kak pulang! Sudah kubilang, biarkan aku ikut bersamamu, kalau begini aku yang tersiksa!" Claudia menangis sambil memanggil manggil nama suaminya. Air matanya berlinangan di lengan Richard. Claudia memukul mukul lengan Richard. Dia ingin suaminya.


"Biarkan aku ke pelabuhan, aku mau menjemputnya, Richard! Dia baik baik saja! Itu pasti bukan kapalnya bukannn!!!" Claudia merajuk dengan deraian tangisnya yang memilukan.


Richard akhirnya memeluknya. Dia merasakan kesedihan mantan istrinya itu. Dia tahu dan hanya dia yang mungkin merasakan cinta Claudia yang sangat besar untuk Egnor, pria yang kini sudah mau bersahabat dengannya. Claudia kembali lunglai dalam pelukan Richard. Dia terus menangis di depan kamar perawatan itu. Anne juga sudah menangis menutup wajahnya. Grace pun tak kalah sedih. Semua tragedi ini adalah ketidak sengajaan. Semua terjadi begitu cepat dan tidak mudah mendapatkan kabar lebih lanjut.


...


"Viena!" Panggil Claudia. Claudia sudah kembali terbangun pada malam harinya. Dengan keterpaksaan, Claudia disuntikan obat penenang yang aman bagi ibu hamil. Lisa yang menanggung jika terjadi apa apa pada Claudia. Lisa sudah memastikan keamanannya. Namun kini Claudia berada di apartemennya dan tentu saja dengan infus di tangannya.


Claudia tetap meminta pulang namun ketika tidak mendapatkan suaminya, dia kembali mengamuk dan Lisa terpaksa melakukan tindakan. Grace, Anne dan juga Johanes yang menjaga dirinya. Sementara Frank masih memantau perkembangan laut dan hujan deras yang masih mengguyur daerah kejadian kecelakaan. Frank tetap menyuruh Bertho mengawasi apartemen Egnor. kali ini Frank tidak boleh lalai karna ramalan cuaca yang dilaporkan tidak sesuai. Frank juga masih menyelidikinya bersama Moses. Frank bolak balik kantor dan kantor pusat kapal pesiar juga ke kantor pelabuhan untuk mengetahui perkembangan.


Johanes menghampiri Claudia.


"Apa yang kau butuhkan, anakku?" tanya Johanes memegang tangan menantunya.


"Viena, aku mau menghubungi Viena. Kak Egnor pasti bersama Viena." kata Claudia hendak duduk. Anne juga menghampiri dan membantu menantunya duduk.


"Viena sedang mengurus kantornya terlebih dahulu. Dia akan segera kemari." jawab Johanes.


"Aku tahu, kak Egnor pasti bersama Viena." kata Claudia dengan keyakinan.


"Tidak sayang, Viena tidak tahu keadaan Egnor. Tenanglah anakku!" Johanes berusaha menenangkan Claudia.


"Viena. Aku mau menghubungi Viena!" pinta Claudia mulai kembali histeris.


Grace mengalah. Dia mengambil ponsel Claudia dan menghubungi Viena.


"Viena, kak Egnor Viena!" kata Claudia dan dia mulai menangis lagi.


"Sabar kak! Dia pasti baik baik saja, percaya padaku!" ujar Viena di seberang sana.


"Tapi dia belum pulang. Dia berjanji tidak meninggalkan ku Viena." kata Claudia tersedu.


"Tenang kak, dia tidak akan meninggalkanmu, aku tahu Kak Egnor. Dia pria terkuat. Kau harus tenang, berdoa dan terus berharap kalau kak Egnor baik baik saja." Viena mencoba menenangkan dengan caranya.


Claudia menangis mendengar penuturan adik iparnya. Dia merasa seperti menelepon suaminya. Karna kedekatan Egnor dan Viena yang begitu dalam, Claudia selalu merasa Viena adalah Egnor.

__ADS_1


"Kak, kau harus melihat bayi di kandunganmu. Kalau kau bersedih maka bayimu juga akan bersedih. Sekarang kau harus tenang. Aku sangat tahu perasaanmu. Aku adik kandung dari kak Egnor. Perasaanku, perasaan dad, perasaan Aunty Anne dan Grace, Frank sekalipun sama sepertimu kak. Kita semua bersedih. Tolong, kau harus menguatkan dirimu. Semua sedang mencari. Dion juga sudah membayar tim pencarian terbaik di Legacy untuk langsung meninjau laut Atlantis. Jadi sekarang kau makan, minum susumu dan beristirahat. Lakukan sesuai pesan kak Egnor. Aku akan segera kesana." Viena berkata kata lagi.


"I i iya Viena, hu hu hu .." Claudia akhirnya mau melemah. Dia memegang perutnya di tengah tengah tangisnya.


Claudia akhirnya sudah agak melemah walau masih terdiam. Dia tidak mau bicara kecuali dengan Viena.


Tengah malam, ketika mereka semua yang menemaninya tertidur Claudia beranjak dari tempat tidurnya perlahan agar Grace tidak bangun. Dia membawa tiang infusnya menuju ke meja ruang tamu, tempat terakhir dia meletakan notebook pemberian suaminya. Dia mengambilnya dan kembali ke kamar. Dia tidak mau menganggu Anne yang tidur di sofa sementara Johanes tidur di apartemen Frank.


"Kak Egnor, kau baik baik saja kan? Aku sudah meminum susu ku kak. Aku ingin dibuatkan susu olehmu kak. Aku menunggumu pulang kak! Aku yakin kau selamat! Tuhan, lindungi suamiku dimanapun ia berada. Selamatkan dia dari segala belenggu kesulitannya." Begitulah Claudia menuliskan pada notebooknya. Dia kembali menangis dengan melipat kakinya. Hatinya meringis perih. Grace perlahan mendengar dan terbangun. Dia pun beranjak dan menghampiri Claudia lalu memeluknya dari belakang.


"Semua pasti baik baik saja Clau." Kata Grace menenggerkan kepalanya di pundak sahabatnya. Claudia hanya mengangguk dan terus menangis.


...



"Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Rintangan sebesar apapun, badai bergelora, ombak menderai, hal hal dan orang orang yang tidak masuk akal sampai maut pun yang hendak memisahkan kita, sebisa mungkin aku akan selalu dihatimu. Dan akan melindungimu. Trust me!" sebuah suara di alam tidur Claudia dan dia terbangun.


"Kak Egnor? Kak Egnor? Iya, itu Kak Egnor, dia sudah pulang." Claudia membuka matanya. Dia bermimpi. Egnor ada di depannya memegang tangannya dan berkata kata seperti itu. Dia sangat yakin kalau Egnor selamat dari kecelakaan tersebut. Claudia bangkit perlahan dari tempat tidurnya tidak lupa mendorong tiang infusnya ke luar kamar. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar Frank dan Grace bercakap cakap dengan Johanes dan Anne.


"Semuanya tidak masuk akal Tuan Besar Jovanca. Pihak pelabuhan, pihak pemerintah sampai pihak kantor kapal pesiar Rose Gold menerima laporan ramalan cuaca yang baik baik saja. Jika mereka menerima ramalan cuaca yang buruk, mereka pasti menunda pelayaran." kata Frank menjelaskan analisa yang sudah ia dapatkan pada Johanes


"Kita harus meminta pertanggungjawaban dari Badan Klimatologi." Tutur Johanes menautkan tangannya. dia pun sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa anaknya saat ini.


"Ya, memang harus seperti itu. Sementara Tim SAR sampai sekarang belum ada yang sampai di lokasi karna hujan kembali mengguyur semenanjung Nederland. Ombak begitu pasang. Kemungkinannya sangat kecil Tuan!" balas Frank menundukan kepalanya. dia sudah sangat lalai dan ikut bersalah dengan semua ini. belum lagi kemarin dia, Moses dan Richard berusaha menenangkan Mytha. gadis itu terpaksa tinggal bersama Lisa untuk sementara. dia sangat mencemaskan kakaknya.


"Tenanglah Frank, semua pasti akan ada jalannya. Aku percaya, sebelum Tim SAR belum mengabari apa apa, aku yakin anakku pasti masih hidup. entah dimana dia. Theres, lindungi anakmu!" kata Johanes juga menundukan kepalanya sedikit frustasi.


"Aku akan meminta penjelasan pada Badan Klimatologi Honolulu. Ini tidak benar!!!!" Tiba tiba Claudia berpekik. Dia tidak terima dengan semua ini. Dia kembali masuk ke kamarnya dan bersiap hendak kesana. Grace dan Anne menyusulnya ke kamar.


...


...


...


...


...


Dah mi Jan marah marah nanti dirimu pingsan lagi, tenang aja mi 😭😭


#soksokkuat!😔😔


.


Next part 95


Ada apa dengan ketidak masuk akalan ini?


Siapa di balik semuanya?


Bagaimana bisa Badan Klimatologi melaporkan hal yang tidak sesuai?


Apa yang akan dilakukan Claudia?


.


EgClauFansClub : jadi Egnor slamat ga vii?


Vii : laahh, kaga tau aku, kan aku daritadi sama Clau sampe disuntik penenang sama Lisa, wong abis itu aku yang disuntik karna ikutan eror!! 😂😂


.


rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:


---- LOVE & HURT ----


karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2