Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 161: Cold and Hurtfull - 1


__ADS_3

Kalau akhirnya harus merelakan maka harus siap menerima apapun yang menjadi keputusan. kalau akhirnya tidak bisa terlepas maka harus ada yang dikorbankan. Egnor mulai membuka diri dan memberi kesempatan pada Claudia. dia hanya terjebak dengan kesalahan masa lalu. tidak ingin terulang lagi tapi malah menyakitkan diri sendiri. Claudia pun sudah merasakan sebuah hawa baru, tapi apa bertahan dengan lama? apa Claudia tidak lagi terlibat masalah?


...


"Claudia!" Panggil seorang pria ketika dia berbalik hendak masuk ke dalam rumah Lisa.


"Oh God, Richard! Mengapa kau mengagetkanku?" kata Claudia langsung berbalik memegang dadanya.


"Aku menunggumu, aku butuh bantuanmu, Clau!" ujar Richard terkekeh.


"Kau baru tiba?" tanya Claudia berjalan ke arah pagar rumah.


"Sudah sejak tadi menunggu di mobil. Sepertinya Nyonya Marlyn sedang ke gereja. Dia tidak ada di rumah dan Lisa sedang makan malam di luar bersama Lina. Aku baru saja tiba dari Greenville dan langsung kemari. Aku melihat mobil Egnor. Jadi aku menunggunya menjauh," jawab Richard menjelaskan.


"Hem, maafkan dia, dia hanya tidak tahu saja . Sebenarnya kak Egnor pria yang sangat baik," saut Claudia selalu membela suaminya.


"Ya, kalau tidak kau tidak mencintainya sampai seperti ini kan?" celetuk Richard bergurau.


Claudia mengangguk.


"Jadi, apa yang kau butuhkan?" tanya Claudia lagi.


"Bantu aku memilih gaun pengantin untuk Lisa. Aku ingin memberinya kejutan sebagai inisiatif ku. Sebenarnya aku sudah memilih tapi selera wanita tetap lebih penting. Bagaimana?" pinta Richard antusias atas pernikahannya ini.


"Kau yakin mempercayaiku memilihnya untuk Lisa?" gumam Claudia melirik.


"Ya, seleramu dan dia tidak jauh berbeda," saut Richard.


"Eemm, baiklah kapan?"


"Besok jam 11 pagi, di Ever After Boutique. Kau tahu kan?"


"Dekat Honolulu Plaza di pinggir pinggir jalan pusat kota kan?" selidik Claudia memastikan.


"Ya benar. Kita bisa menemui designer juga bisa memilih beberapa gaun seragam untukmu, Grace, Lina, Kate dan Lena," kata Richard lagi.


"Aaaahhh coooll, baiklah Richard, setelah itu aku juga bisa ke kantor Egnor," ujar Claudia.


"Sepertinya sudah ada kemajuan sejak rencana kita kemarin?" tanya Richard ingin tahu.


"Begitulah,"


Tak berapa lama sebuah mobil berhenti di depan Richard dan Claudia berbincang. Lisa dan Lina kembali. Gabriel yang mengantar.


"Kalian mengapa berduaan?" Selidik Gabriel agak curiga.


"Jangan bicara macam macam pada bos mu! Kalau kau mengatakan macam macam, kau putus saja dengan Lina!" ancam Lisa yang melihat wajah Gabriel tampak kesal melihat Richard bersama Claudia.


"Kak Lisa! Kau tega sekali! Mengapa aku dan Gabriel yang menjadi korban?! Kau seharusnya awasi kekasihmu agar tidak labil lagi!" Dengus Lina turun dari mobil dan langsung memasuki rumah. Dia tidak suka jika Lisa mengatur ngartur hubungannya.


"Gabe, jangan salah paham, aku baru saja tiba, Claudia juga baru saka diantar bos mu!" kata Richard menjelaskan.


"Gabriel, masuk dulu sana urusi pacarmu!" suruh Lisa.


"Hemm ... Kalian masih dalam pengawasan, hati hati!" Balas Gabriel turun dari mobil dan menemui Lina Agar tidak merajuk dengan kakaknya.


"Lama lama mereka seperti tuannya," gumam Lisa menggeleng.


"Mereka hanya berusaha loyal dengan tuannya. Sudah kukatakan, sebenarnya Egnor orang baik. Kalau tidak, kita tidak bisa kembali lagi ke Honolulu. Sudah aku masuk dulu, bye Richard!" Tambah Claudia juga membela Egnor.


"Hemm, sepertinya Egnor sudah memaafkannya?" gumam Lisa pada Richard.


"Sepertinya. Tadi Egnor yang mengantar kemari, Lisa," saut Richard memberitahu.


"Perubahan yang baik!" tambah Lisa.


"Hem, kau tidak merindukanku?" Tanya Richard kemudian merengkuh pinggang Lisa.


"Apa yang kau inginkan?" selidik Lisa membiarkan tangan Richard membelai pinggangnya.


"Berendam di mansion ku, bisa kah?" bisik Richard membuat Lisa seketika merinding.

__ADS_1


"Aku akan memberi pesan pada Claudia," kata Lisa.


"Di mobil saja, aku merindukanmu, dua hari seperti dua tahun, Lisayang," saut Richard menarik tangan Lisa.


"Apa kau bilang?" Lisa memicingkan matanya.


"Lisayang,"


Lisa tersenyum dan Richard menarikya ke dalam mobil. Lisa kembali pergi bersama Richard ke mansionnya.


...


"Cepat sedikit Gabe! Jangan membuat Cluadia menunggu!" Kata Egnor di dalam mobil. Mereka baru saja dari rumah sakit memberikan sampel obat terlarang yang masuk ke tubuh Bruce waktu itu. Kemarin Devon sudah membantu nya mendapatkannya.


"Siap tuan!"


"Besok besok kalau membuat janji dengan dokter Lim siang atau sore saja jadi tidak terburu buru," kata Egnor lagi.


"Maafkan aku Tuan," ucap Gabriel yang merasa hati tuannya semakin membaik terhadap istrinya.


"Lina, jam berapa biasanya Claudia datang?" tanya Egnor memastikan.


"Jam 12 tepat tuan,"


"Aku mau membawanya kembali ke rumah jadi aku harus menemuinya bukan?" tutur Egnor.


"Wah, aku ikut senang tuan," saut Lina merasa perkembangan yang baik bagi tuannya.


"Cepat Gabe! Dua puluh menit tidak sampai tidak dapat uang lembur hari ini!"


"Kau tega sekali tuan!"


Egnor tak bergeming dan melihat ke luar jalan. Namun, ketika Gabriel sudah menjalankan mobil nya dengan cepat, Egnor melihat sepintas wanita yang sangat ia kenal.


"Gabe, stop!" perintah Egnor.


Ckit!


Gabriel memberhentikan mobil dengan mendadak, untung saja jalanan sedang sepi, sepertinya sudah bersiap makan siang.


"Mundur!"


Gabriel memundurkan mobil. Ternyata di sana Egnor melihat Claudia keluar dari butik membawa dua paper bag besar. Egnor tersenyum dan sepertinya wanita tercintanya itu butuh bantuan.


"Pinggirkan mobil, ada Claudia di sana!" kata Egnor lagi.


"Ah iya benar,"


Seketika perasan Lina tidak enak. Itu butik gaun pengantin. Apa yang dilakukan Claudia di sana, pikirnya.


Ketika Gabriel sudah meminggirkan mobilnya, Egnor pun bergegas turun dari mobil. Namun, baru saja ia turun dan berdiri di depan mobil nya, dia malah melihat pemandangan yang tidak mengenakan. Bahkan tidak mengenakan hatinya.


Tak lama Richard keluar dan mengambil salah satu paper bag yang dipegang Claudia. Lalu, tak berapa lama kemudian ada sebuah sepeda melintas dan menabrak sisi tangan Claudia sehingga dia hendak terjatuh tapi Richard tentu saja menahan tubuh Claudia sehingga Richard harus memeluk Claudia dari belakang dan agak setengah berbaring.


Wajah Egnor berubah datar dan kembali dingin. Padahal dia ingin mengakhiri semua hukuman ini. Namun, melihat pemandangan itu mengapa jadi sangat merana dan berpikir seperti nya Richard dan Claudia tidak bisa dipisahkan. Bagaimana pun caranya mereka akan tetap terlibat dalam sebuah persitiwa.


Ketika Richard menegakan Claudia, Egnor sudah kembali masuk ke dalam mobil.


Egnor masih di seberang jalan, jadi Claudia tidak melihatnya. Lina dan Gabriel juga melihat kejadian itu.


"Kemarin juga mereka berduaan di depan rumah Lina," celetuk Gabriel tanpa sadar.


"Gabe!!!" Lina memukul lengan Gabriel.


"Ups! Maaf tuan, maksudku si motivator itu baru saja datang hendak menemui Nona Lisa," kata Gabriel menjelaskan.


"Jalan!" kata Egnor singkat.


"Gabriel kau bodoh sekali!" bisik Lina mengusap dahinya.


"Aku tidak sadar, Lina,"

__ADS_1


"Em tuan, sepertinya Nyonya Claudia membantu Kak Richard memilih gaun ..." Lina mencoba menjelaskan tapi Egnor memotong nya.


Egnor mengangkat tangannya agar Lina tidak kembali bicara. Egnor tidak mau mendengar apapun. Pikiran dan hatinya sudah tidak sinkron.


Kondisi hati Egnor kembali melemah. Padahal dia sudah tahu Richard dan Lisa akan menikah tapi Richard dan Claudia tetap sangat dekat. Richard selalu ada di samping wanita yang ia cintai itu. Mungkin kalau waktu itu Egnor sudah tidak bisa mencintai Claudia lagi, Claudia akan kembali bersama Richard. Egnor bingung dengan hatinya. Rasanya sesak sekali kalau dirinya akan terus di bawah seorang Richard. Berulang kali Egnor ingin menerima dan mempercayai Richard tetapi jika melihat kedekatan mereka tetap saja rasanya tak karuan. Sempat Egnor terbebas karena melihat Richard dan Mytha atau Richard dan Lisa tetapi ketika hatinya lagi lagi dipermainkan? Dia benar benar bingung tapi sejujurnya dia sedih dan sedikit cemburu.


Mengapa dia harus melihatnya?


Egnor mengusap dahinya.


"Lina, di mana Frank?" Tanya Egnor kemudian.


"Di kantor tuan," jawab Lina.


Sesampainya di kantor, Egnor tidak ke ruangannya. Dia ke ruangan Frank.


"Katakan pada Claudia aku tidak ada!" perintah Egnor dengan nada datar.


"Kemana tuan?" tanya Lina.


"Kau yang harus memikirkannya!" Kata Egnor lagi dan berjalan ke ruangan Frank.


"Gabriel! Kau keterlaluan! Mulutmu benar benar! Jangan salahkan aku kalau Kak Lisa tidak merestui kita!" bentak Lina memukul paha Gabriel.


"Aku tidak sadar Lina, maafkan aku!" ucap Gabriel menyesal dan mengikuti kekasihnya.


"Baru saja mereka berbaikan tapi, argh tidak taulan akan terjadi perang yang keberapa lagi!" keluh Lina tidak mau membayangkan aura aura tidak enak kedepannya.


Sementara, Egnor memasuki ruangan Frank.


"Frank, suruh Emma jangan memberi akses Claudia bertemu dengan Wil Wil! Dan aku juga tidak mau bertemu dengannya lagi!" Perintah Egnor memutuskan entah karena emosi atau memang berpikir dengan benar. Frank terkejut melihat tuannya memasuki ruangan. tidak biasanya.


"Kau kenapa lagi tuan? Kata Lina kalian sudah mulai kembali dekat?" ujar Frank beranjak dan mendekati tuannya.


Egnor menggeleng. Percuma dia menceritakannya. Sepertinya semua orang pasti akan menyalahkannya.


"Dan Frank," kata Egnor lagi menarik napas.


"Urus surat ceraiku. Seperti nya Claudia lebih baik hidup tanpaku. Dia lebih bebas dan tidak terikat denganku," perintah Egnor lagi. Frank tercengang.


"Apa? Cerai? Tuan! Kau serius? Kalau ada sesuatu yang mengganjal bicarakan jangan seperti ini!" pekik Frank dengan wajah serius.


"PERCUMA!" pekik Egnor beranjak.


"Percuma Frank! Sampai kapanpun, Claudia tidak akan bahagia denganku. Sudahlah, kau jalankan saja apa perintahku! Aku lelah, biarkan aku beristirahat di sini sebentar," kata Egnor kembali duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya.


Sejak saat itu, besoknya Claudia tidak menemui Egnor. Claudia juga tidak bisa menghubunginya. Panggilannya selalu di putus atau tidak di angkat.


Keesokannya lagi juga begitu. Claudia akhirnya hanya bisa mengirim pesan dan menitipkan makan siang Egnor ke Lina. Meski begitu, Egnor tetap menerima dan menghabiskan makanan itu tapi Frank mengatakan pada Lina kalau Egnor tidak sempat memakannya karena lupa atau semacamnya. Egnor tidak mau Claudia mengetahuinya dari Lina. Sepertinya Egnor sudah memutuskan untuk hidup sendiri saja dengan anak anaknya. Jadi tidak akan yang tersakit.


Dan sampailah ketika Claudia harus menemui anak anaknya. Emma mengatakan pada Claudia kalau Egnor tidak mengijinkan dirinya bertemu untuk beberapa waktu.


"Aku tidak tahu alasannya nyonya. Dan, karena Wil Wil sudah makan dan bisa mengkonsumsi susu formula jadi anda boleh atau tidak boleh memberikan asi di dalam botol," kata Emma memberi tahu sesuai perintah Egnor.


"Oh God! Ada apa ini Emma? Aku benar benar tidak paham! Terakhir kali kami bertemu malah hubungan kami semakin membaik, mengapa seperti dia menghindar dariku?" ujar Claudia frustasi.


"Aku juga tidak mengerti nyonya. Tuan Besar sudah menasihati Tuan Egnor tapi Tuan Egnor hanya diam saja. Semakin hari beliau juga selalu diam, nyonya. Dia hanya menyapa dan bermain bersama anak anaknya," tambah Emma ikut bersedih.


Claudia memang merasa ada yang aneh sejak siang itu dia tidak menemui Egnor. Claudia harus mencari tahu dan sampailah Claudia pergi mengunjungi Grace yang masih mendapat cuti selama satu tahun ini.


"Dia melihatmu bersama Tuan Richard, Claudia. Seharusnya aku tidak boleh memberitahumu tapi aku tidak mau kalian bercerai," kata Grace akhirnya menunduk sedih sambil menimang Louise.


"APA?! CERAI? KAK EGNOR MAU MENCERAIKANKU??!" pekik Claudia berdiri dengan sangat terkejut.


Grace mengangguk lemah.


"Mengapa? Mengapa dia sampai mengatakan itu, Grace? Kau tidak bercanda, Grace?" Selidik Claudia terbata dan matanya sudah berkaca kaca.


...


lanjut tar ya brb aku 😁

__ADS_1


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2