
Menyematkan nama yang sudah terikat pada sebuah ikatan suci akan terus membawa keberuntungan apalagi dengan kepercayaan akan kembali seperti semula. walau hanya angan angan tapi akan terbawa dalam sebuah kenyataan sejati. Claudia masih membuat namanya di sana dengan nama suaminya dan harapan dia akan baik baik saja. selanjutnya dia tidak berharap apa apa bisa bersama dengan pengacara hebat itu. sedangkan Egnor masih terus meyakini kalau sampai kapanpun Claudia akan menjadi miliknya. bagaimana Egnor dapat menemukan Claudia? apa tali cinta masih membuat mereka berjodoh?
...
Egnor tiba di landasan penerbangan pribadi miliknya di bandara Japanis tepat pukul 8 pagi. Dia datang sendiri tanpa Gabriel atau Frank karena mereka harus mengurus beberapa kasus yang sudah mulai berjalan. Moses juga harus memantau setiap pergerakan kasus atau laporan yang masuk. Sejak Egnor menjadi bulan bulanan karena menjadi penyelamat Honolulu, rasa radanya semua perusahaan, instantsi dan orang orang penting mempercayakan setiap kendala sekecil apapun pada kantor pengacara Egnor. Oleh sebab itu kemarin kemarin Egnor juga membantu dalam penganalisisan laporan agar Frank dapat bekerja lebih mudah. Sampai sampai Grace pun membantunya juga lina dari apartemennya.
Egnor melihat jam tangannya sudah pukul 8. Dia tersenyum dan mengingat biasanya jam segini Claudia sedang memasak. Kebetulan dia lapar sekali. Pagi tadi pukul 3 pagi dia sangat bersemangat sudah bangun dan juga membangunkan ayahnya. Kebetulan Wil Wil pun sudah terbangun. Mungkin karena Wil Wil mau menyemangati ayahnya untuk membawa ibu mereka kembali. Sementara Egnor kembali meminta tolong pada Viena agar datang hari ini ke Honolulu membantu Anne dan Emma menjaga Wil Wil. Kali ini Viena tidak bisa menolak lagi karena ini ini merupakan nasib rumah tangga kakaknya dan juga keluarga keponakannya. Viena datang bersama Lexa dan Dior. Sedangkan Dion terpaksa tidak bisa ikut karena mengurus saham nya yang sedang menanjak tinggi bersama Leon.
"Motel Reiko, oke!" Ujar Egnor yang sudah menyewa mobil. Semua tetap Gabriel yang mengurus. Egnor yang turun dari jet pribadinya siap berkelana dengan Claudia nantinya dengan mobil sedan hitam ini.
Egnor pun melajukan mobilnya menuju ke Motel Reiko. Motel itu hanya terdiri dari 5 lantai dan cukup sederhana. Egnor tidak masalah karena tetap terlihat bersih. Dia memarkirkan mobilnya terlebih dulu di parkiran luar motel tersebut. Egnor sudah siap dengan suit casual broken white dan dalaman kaos putih juga celana jeans. Tak lupa kaca mata hitamnya karena di Japanis sedang musim panas jadi pagi pun terasa seperti siang.
"Tolong infonya, kamar Nyonya Claudia," pinta Egnor di depan meja resepsionis.
"Nyonya Claudia siapa tuan?"
"Em, Claudia Stephanie Gie," kata Egnor yang menerka mungkin saja istrinya itu tidak mau lagi menyematkan nama keluarga nya. Dia tidak mau merasa yang jadinya malah kembali kesal. Kali ini dia tidak boleh salah atau kasar sedikit pun pada Claudia .
"Tunggu sebentar tuan," saut si resepsionis mulai mencari kamar atas nama Claudia Stephanie Gie tapi sepertinya tidak ada.
"Maaf tuan, tidak ada yang bernama Claudia Stephanie Gie, adanya Claudia Jovanca," kata si resepsionis memberitahu.
Deg!
Jantung Egnor bergemuruh dan terselip sesak karena sudah menyakiti wanita itu seturut ego dan logikanya.
Egnor sangat paham kalau wanita itu benar akan selalu mencintainya.
"Maaf, maksudku dia! Claudia Jovanca. Aku suaminya. Egnor Jovanca," saut Egnor mengambil tanda pengenalnya memberikan pada si resepsionis agar mempercayainya.
Seketika sang resepsionis tercengang.
"Kau? Kau Egnor Jovanca yang membuat timbang Tuan Bruce di ketua mafia itu di Honolulu? Waaahhhh, tidak menyangka kau datang ke motel ini tuan. Pantas saja aku agak curiga dengan wajah istri anda yang tak asing bagiku. Kalian pasangan yang serasi. Bisakah aku meminta tanda tanganmu terlebih dulu?" pinta di resepsionis tanpa malu malu. dia sangat terkesan dengan keperawakan Egnor yang asli daripada di media.
"Oh baiklah!"
Egnor pun memberikan tanda tangan pada sebuah buku agenda resepsionis wanita itu.
"Terimakasih tuan, aku sangat terkesan kau menumpas kejahatan di negaramu, emm ..."
"Kamar istriku sekarang!"
"Oh iya maaf tuan, aku sangat terkesima, maaf tapi tadi pagi pagi sekali nyonya Claudia sudah keluar tuan. Katanya dia hendak ke taman Hanasan yang ada di pinggiran Kota Sinsei. Tidak jauh dari motel ini. Mungkin kau bisa ke sana. Tapi kalau mah menunggu di kamarnya silahkan ada di lantai 4 kamar nomor 410, ini kunci cadangannya," kata si resepsionis memberitahukan dengan sangat detail dan menyerahkan kunci cadangan itu.
Egnor pun mengambilnya dan mengucapkan terimakasih. Namun, dia tidak ke kamar, dia harus ikut membantu istrinya mencari ibu mertuanya. Untuk kunci dia harus berjaga jaga kalau kalau Claudia tidak mengijinkan dia masuk. Egnor menyeringai dan menuju ke mobil nya.
__ADS_1
...
Claudia sudah berkeliling taman yang cukup besar itu tapi tidak menemukan batang hidung atau seorang wanita yang sedang berpuisi atau bersenandung. Setidaknya dia juga tidak melihat ada wanita yang memiliki gangguan jiwa atau berprilaku aneh. Akhirnya Claudia duduk di bangku taman mengistirahatkan tubuhnya. Waktu sudah menunjukan pukul 10 dan perutnya sudah keroncongan. Pagi tadi dia hanya menyantap setengah roti lapis dan setengah gelas susu. Dia sudah tidak sabar mencari ibunya.
Claudia melihat sekitar ada sebuah restoran, tapi sepertinya dia harus berhemat. Dia harus memanfaatkan dengan baik uang pemberian Lisa juga sisa uang yang ada di dompetnya waktu itu. Dia tidak boleh menggunakan kartu debet atau kartu kredit pemberian Egnor karena pasti posisinya akan terlacak. Untung saja Lisa juga yang membiayai sewa motel selama satu bulan dengan harapan Claudia sudah menemukan ibunya lalu dia bisa mencari pekerjaan dengan tenang.
Tak lama ketika matanya masih berkeliaran, dia melihat sebuah kedai sushi yang sepertinya baru saja buka dan memberikan promo. Claudia tersenyum lebar dan segera menghampiri kedua tersebut. Dia langsung memesan satu porsi sushi dengan irisan salmon dan telur ikan. Claudia mendapatkan satu porsi onigiri (nasi kepal) berisi daging secaa gratis.
'Hem, aku bisa memakannya untuk makan malam,' gumam Claudia merasa sangat beruntung.
Ketika dia menunggu sushi itu disiapkan, seorang pria juga membeli sushi tersebut. Pria tersebut tampak rapi dan Claudia agak menoleh karena aroma tubuhnya yang sangat menyengat. Claudia agak menjauh karena tidak begitu nyaman. Namun, pria itu yang menoleh malah tersenyum.
"Hay nona, kau membeli sushi?" Tanya pria itu basa basi. Claudia hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Claudia lalu memutuskan duduk di kursi yang disediakan kedai tersebut. Pria itu malah terus memperhatikan Claudia yang saat ini mengenakan blazer kotak kotak dan rambutnya yang agak bergelombang mengeluarkan sisi Claudia yang cukup menggoda. Pria itu memesan sushinya dan juga duduk di samping Claudia. Lagi lagi Claudia sangat tidak nyaman. Dia menegakan tubuhnya hendak memastikan sushinya dan pergi dari sini.
Seketika pria itu melihat surat kabar yang Claudia pegang. Pria itu langsung beranggapan Claudia bukan dari negara ini dan sedang mencari seseorang.
"Hem, nona, apa kau bukan dari negara sini?" tanya pria itu.
"Ya, aku dari Honolulu," jawab Claudia tanpa memandang pria itu sedikitpun.
"Oh, apa kau mencari seseorang?" tanya pria itu basa basi lagi.
"Ya,"
"Ya benar," jawab Claudia hanya ingin menjawab dan tidak berharap pria ini mengetahuinya.
Pria itu malah menyeringai dan hendak berbuat buruk pada Claudia.
"Aahh, sepertinya pagi tadi aku melihat dia memasuki sebuah hotel. Apa kau ingin melihat ke sana dan memastikan? Biar aku antar," kata pria itu bermaksud sesuatu.
Claudia langsung menoleh karena merasa ada petunjuk sedikit demi sedikit. Namun, dia harus tetap berhati hati.
"Em, di hotel mana? Biar aku ke sana nanti setelah aku makan siang," kata Claudia bertanya kembali.
"Kalau begitu bersamaku saja karena hotelnya dekat tempat kerja ku, aku melihat ketika hendak memasuki kantorku," pria itu menawarkan terus menerus.
"Benarkah? Em maav biar aku saja yang ke sana karena setelah ini aku harus menemui seseorang dulu," saut Claudia berdalih.
"Kalau begitu biar aku yang menemani, hitung hitung menjadi tour guide mu. Kenalkan aku Marco," pria itu memperkenalkan diri.
"Hemm, aku Claudia em Jovanca, pernah mendengarnya?" Kata Claudia mengulurkan tangannya. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Dan dia harus menggunakan nama itu untuk melindungi diri.
"Claudia Jovanca? Kalau Jovanca aku tahu, si pengacara yang baru baru ini mengalahkan si mafia itu kan?" saut Marco.
Claudia mengangguk.
__ADS_1
"Kau siapanya? Apa kau adiknya atau kakaknya? Atau saudaranya?" tanya nya lagi.
"Aku istrinya! Aku harus menemui dia jadi kau katakan saja di mana hotel nya?!" kata Claudia lagi berdalih.
"Suamimu? Wah kebetulan sekali aku menemani istri seorang pengacara hebat itu. Biar aku saja yang mengantarmu Nyonya Claudia," kata Marco yang sebenarnya tidak percaya. Namun dia harus tetap sopan agar Claudia tidak mencurigainya.
"Haiz, kau memaksa sekali, baiklah tapi aku peringatkan kau tidak berbuat macam macam ya?" ancam Claudia.
"Kau istri dari Tuan Egnor Jovanca, mana berani aku menipumu. Malahan aku mungkin akan mendapatkan imbalan dari suamimu yang kaya itu?" Marco berkelit. bisa merasakan tubuh wanita ini aja sudah hadiah luar biasa. dan Marco tahu kalah wanita ini hanya berdalih saja. siapa yang tahu wanita ini benar atau bukan.
"Hem, iya ..." Saut Claudia terkekeh. Tak lama sushinya datang. Mereka makan bersama di sana. Setelah itu mereka mulai menuju ke hotel yang Marco maksud.
Claudia sebenarnya bingung. Dia antara takut tapi mungkin saja benar. Claudia menaiki mobil Marco. Marco memberikan air mineral padanya karena hari semakin terik tapi Claudia hanya memegangnya saja.
Sesampainya di hotel, Marco membukakan pintu Claudia. Claudia pun keluar masih menggenggam air mineral dan bungkusan onigiri gratisan dari sushi tadi.
"Kau tidak meminumnya?" tanya pria itu.
"Nanti saja, cepatlah kita tanya resepsionis!" Kata Claudia merasa ada yang aneh tapi dia juga penasaran dengan keberadaan ibunya.
"Baiklah, tapi Nyonya Clauda, bisa menunggu sebentar? Aku harus ke toilet sebentar?" ijin Marco.
"Oh yasudah, cepatlah!"
Marco pun pergi meninggalkan Claudia terlebih dulu menuju ke resepsionis untuk bekerja sama. Namun, Claudia malah makin tidak enak sehingga dia lebih dulu berjalan masuk ke dalam bermaksud menunggu Marco di lobby hotel.
Claudia mengernyitkan dahinya malihat Marco sudah ada di meja resepsionis.
"Sudah kuduga pria itu hendak berbuat macam macam! Sepertinya aku harus pergi dari sini!" Kata Claudia dan dia berbalik tapi Marco menyadarinya. Dia segera berlari mengejar Claudia dan mendapatkan tangannya.
"Nyonya maaf, aku lebih dulu ke meja resepsionis karena ingin lebih cepat. Resepsionis mengatakan wanita yang kau cari ada di lantai 10 kamar 1001, ayo kita pastikan," kata Marco menahan lengan Claudia.
"Dari mana kau mengetahui wanita itu, kau saja tidak membawa surat kabar ini," decak Claudia membela diri dan hendak pergi dari sini.
"Wanita itu sudah cukup terkenal jadi sudah bnayak yang mengatahuinya," saut Marco memiliki banyak cara hendak menikmati tubuh Claudia.
"Tapi wanita itu memiliki gangguan jiwa, jadi mana mungkin dia bisa memesan kamar hotel di sini? Lepaskan tangan kotormu!" Tiba tiba sebuah suara terdengar di belakang tubuh Marco.
Claudia terkejut bukan main siapa yang ia lihat. Sangat tampan, tidak pernah luntur apalagi ketika dia melepas kacamata hitamnya!
Marco lalu berbalik. Dia meneguk salivanya melihat siapa pria yang ada di belakangnya.
...
lanjut dibawah 😁
tetap LIKE dan KOMEN part ini yaaa 😊
__ADS_1
thanks for read and i love you 💕