
Egclaud21
Claudia menyampingkan sisi rambutnya yang terurai ke kupingnya agar dia bisa lebih mendengar apa yang Egnor barusan katakan. Kata kata yang dia pikir agak sulit Egnor keluarkan. Egnor seorang yang tidak mau repot dan menjadi keras sejak Claudia pindah. Dia sangat menjunjung tinggi pekerjaan dan keluarganya. Tidak sempat memikirkan wanita apalagi hubungan dan komitmen yang akan menyita waktunya ini.
"Kenapa kau Clau? Ayo cepat! Kita harus tiba pagi agar cepat diurus!" Egnor menopang tangannya pada meja makan dan satunya menolak pinggangnya.
"Kau serius mau menikahiku?" Claudia meyakinkan Egnor.
"Iya, lalu aku mau apakan kau? Kau mau status kan? Aku pasti memberikannya! Sudah cepat Claudia, kalau ke arah siang akan ramai!" Kata Egnor benar benar yakin.
Jantung Claudia bertabuh, namun dia tetap merasa ada yang kurang. Mengapa Egnor melamarnya seperti ini? Sama sekali tidak romantis. Benar benar dingin dan seenaknya menyuruh menyiapkan berkas berkas lalu menikah. Ini seperti Egnor meminta berkas berkas profil korban dan pelaku kasus yang akan ia selidik dan berhasil. Dia berhasil memenangkan kasusnya. Claudia menunduk tapi tetap menjalankan apa yang diinginkan pria yang ia cintai itu karna sudah berusaha mencaru solusi yang malah membuat hati Claudia bertanya tanya.
"Ba, baiklah aku akan mengambilnya dulu." Jawab Claudia terbata dan kurang bersemangat. Egnor mengernyitkan dahinya. Mengapa Claudia tidak senang melainkan tampak kecewa? Ah Egnor tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran wanitanya itu.
Claudia keluar dari kamar dan membawa paspor serta akta lahirnya. Sementara dia tidak pernah mempunyai akta kaluarga.
"Sudah kubawa kak." Kata Claudia berdiri di depan Egnor dan menatapnya. Egnor menghela napas. Dia lalu mendekatkan dirinya lagi. Dia memegang pinggang Claudia dan satu tangannya lagi memegang dagu Claudia.
"Kau sedih ya karna aku tidak berlutut dan membukakan kotak cincin lalu mengatakan maukah kau menikah dengan ku? Iya kan?" Tanya Egnor tersenyum tipis. Claudia mengangguk pelan.
"Hem, kemarilah!" Egnor menarik Claudia dan memeluknya.
"Clau, ini hanya sementara, hanya memberikanmu status kalau kau sudah menjadi istriku. Kalau ada yang mengetahuimu tinggal di sini, bahkan dad atau auntyku, kita sudah sah menjadi suami istri. Setelah ini aku akan mengurus lagi semuanya. Kau tenang saja. Aku akan mencari waktu untuk berbicara pada dad dan auntyku. Aku juga akan segera menyelesaikan semua kasus penting beberapa minggu ini sehingga kita bisa menikah dengan tenang. Kau mengerti maksudku? Menikah dengan semua yang kau inginkan membutuhkan persiapan yang matang Clau, jangan seperti Viena. Dia jadi merasa tersakiti. Aku tidak mau kau tersakiti. Kita kan juga butuh seperti kencan, pendekatan lebih dalam. Kau tidak mau melakukan itu denganku?" Egnor lalu menarik dirinya dan menatap lekat lekat Claudia.
Claudia berpikir dengan semua yang Egnor katakan dan semuanya benar. Tak seharusnya Claudia menuntut lebih. Lagipula dia menikah catatan sipil kali ini adalah dengan orang yang ia cintai bukan seperti Richard. Dan dia percaya kalau Egnor pasti memberi yang terbaik baginya.
Claudia mengangguk. Dia lalu menegang pipi Egnor. Dia menyesal seperti telah menolak usaha yang Egnor berikan padanya. Padahal dia memang begitu mencintai Egnor dengan semua kekurangan, kelemahan bahkan semua sifat buruk Egnor.
"Maafkan aku yang sangat serakah kak. Aku mau. Apapun yang kau lakukan padaku aku mau. Aku rela sepenuhnya asal bersamamu. Aku pun tak mau jauh darimu. Aku tidak dapat bernapas hanya dengan memikirkannya saja. Terimakasih kak." Kata Claudia membuat Egnor ingin mencium bibirnya. Mereka pun berciuman dengan rasa memiliki hati mereka masing masing.
...
Mereka tiba di kantor catatan sipil. Claudia agak gugup, jadi dia mengenakan kaca mata hitam. Dia tahu kalau semua orang mengenal Egnor di sana. Egnor mengerti bagaimana perasaan Claudia yang mungkin memiliki ktraumaan karna juga pernah menikah dengan cara seperti ini. Egnor tetap merangkulnya memasuki kantor itu.
"Selamat pagi Tuan Jovanca."
"Selamat pagi Tuan Jovanca."
"Selamat datang Tuan Jovanca."
"Halo Tuan Jovanca."
Ya begitulah mereka semua menyapa Egnor sambil membungkukan tubuh mereka dan kembali berjalan. Egnor hanya mengangguk pelan menanggapi mereka. Claudia agak melihat wajah Egnor yang cukup tenar.
"Kau terkenal sekali kak, kau yakin akan menikah denganku? Aku bukan siapa siapa lho?" Tanya Claudia merendah.
"Kalau kau siapa siapa aku tidak mau!" Decak Egnor sedikit melirik Claudia.
"Kenapa?"
"Karna pasti banyak lelaki yang mengejarmu dan aku akan melakukan kejahatan!" Kata Egnor jujur dan wajahnya menegang.
"Kejahatan?" Claudia mengernyitkan alisnya.
"Ya, semuanya akan ku hancurkan karna hanya aku yang harus menjadi milikmu!" Tambah Egnor.
"Hem, sok jago!" Claudia meledek.
"Kau mau membuktikannya?" Mereka masih berjalan walau perlahan.
"Boleh, ketika sudah resmi nanti aku menantikannya di tempat tidur!" Kata Claudia lalu berbisik. Egnor bergidik mendengarnya namun menyukainya.
Mereka kembali berjalan, namun sebelumnya Claudia ijin ke kamar kecil. Dia agak gugup sehingga dia hendak berias diri dulu. Mungkin saja akan ada foto berdampingan. Dulu dia melakukan itu.
__ADS_1
Claudia ke kamar kecil dan dia merias dirinya. Sepintas dia melihat wajahnya. Sungguh sudah memerah. Dia tidak menyangka kalau sebentar lagi dia akan mendapatkan nyonya Jovanca. Sesuatu yang sangat ia inginkan sebelum dia meninggalkan Egnor. Dia pikir dia tidak akan bertemu lagi dengan cinta pertama nya itu. Rasanya Claudia tidak mau menjalin hubungan dengan pria lain karna belum ada sesempurna Egnor baginya. Ketika bertemu lagi, Claudia agak bingung dengan sifat Egnor yang sangat berbanding terbalik dengan sifatnya dulu namun Claudia berusaha meyakinkan diri mendapatkan lagi cinta Egnor yang kini telah ia rasakan.
Dia pun kembali menemui Egnor namun langkahnya terhenti. Di sana. Egnor berbicara dengan Richard dan Kevin asistennya. Seketika tubuh Claudia bergidik. Pertanda apa semua ini. Dia masih selamat karna dia ke kamar kecil terlebih dahulu. Entah apa yang mereka bicarakan, lama sekali dan terlihat wajah Egnor tidak terlalu tegang seperti kemarin kemarin karna mungkin dia akan resmi menjadi suami Claudia.
Claudia berbalik. Dia bersembunyi di tembok perbatasan namun ada sedikit sisi bahunya terlihat. Dia terus berdoa agar secepatnya Richard pergi dari sini. Dia sedikit mengintip dan sepertinya Richard dan Egnor sudah selesai bicara. Richard tampak sangat rapi dan dia memang selalu seperti itu. Dengan parasnya yang bersih dan selalu memperhatikan penampilan paling utama.
Richard berjalan ke luar gedung bersama Kevin. Karna Richard terus bicara, dia tidak menyadari kalau dirinya menyenggol bahu Claudia. Claudia menyadari itu karna dia hendak kembali pada Egnor.
"Ah maaf nona!" Kata Richard merasa seperti mengenal gelagat Claudia. Claudia hanya mengangguk dan dia menunduk lalu berjalan ke arah Egnor. Untung saja dia sudah mengenakan kaca mata hitamnya.
Richard tidak mengejar namun memperhatikan Claudia terus yang menjauh.
"Tuan, apa kau mengenalnya?" Tanya Kevin memastikan.
"Seperti Stephanie.." Richard menerka nerka dan menyebut nama tengah Claudia yang menurutnya lebih menggemaskan.
"Nyonya Claudia?" Kevin memastikan.
"Sepertinya. Tapi dia berjalan ke arah Egnor. Lihat lah Kevin." Richard mengarahkan tubuhnya melihat Claudia yang berjalan ke arah Egnor.
"Oh iya, mungkin dia calon istri Tuan Egnor, Tuan?" Saut Kevin mengingat Egnor mengatakan akan mendaftarkan pernikahan.
"Oh iya benar. Aku pikir Stephanie. Aku sangat merindukannya. Entah mengapa aku sering memikirkannya akhir akhir ini." Richard kembali berbalik dan menggaruk pelipisnya.
"Ya, karna kau terus saja membawa ceritanya kemanapun kau pergi. Dan sudah kukatakan kalau Nyonya Claudia Stephanie memang ada di sini Tuan, aku bertemunya kemarin di bank." Cerita Kevin lagi.
"Kau pasti salah orang, mana bisa dia pergi kota besar ini." Richard terkekeh. Dia hanya tahu latar belakang keluarga Claudia yang tinggal hanya bersama paman dan bibinya.
"Bisa saja, mungkin saja dia bekerja di perusahaan Tuan Egnor, karna aku melihatnya bersama tunangannya Frank. Tapi dia tidak mengenaliku." Tambah Kevin.
"Begitu ya? Ya sudahlah, kalau jodoh kita pasti akan bertemu lagi."
"Jangan terlalu percaya dengan jodoh Tuan Richard, sebaiknya kau cepat mencari wanita lain untuk singgah di hatimu."
"Hehem, sepertinya sulit. Tidak ada yang setulus dan berani seperti Claudia Stephani Gie. Ayolah!"
...
Egnor dan Claudia memasuki ruangan peresmian buku catatan sipil. Ketika memasuki ruangan, tidak ada siapapun. Hanya mereka berdua dan sang petugas yang mengurusi hal ini. Claudia tampak bingung.
"Kak, kita kepagian apa belum ada yang datang?" Selidik Claudia berbisik bertanya pada Egnor.
"Aku tidak tahu!"
Dan mereka pun duduk di bangku depan sang admin. Dia adalah seorang wanita paruh baya namun tidak terlalu tua.
"Selamat pagi Tuan Egnor? Nama anda Egnor Vic --" sapa sang petugas namun agak lupa dengan nama lengkap Egnor.
"Egnor Victor Jovanca!" Egnor memperjelas.
"Ah benaaarr, kau si pengacara hebat itu kan?!" Puji sedikit si wanita paruh baya ini.
"Tidak juga."
"Tidak usah merendah, aku cukup mengangumimu." Sang admin terkekeh dan sedikit membuka kaca matanya.
"Em, jadi kalian ingin menikah?" Tanya sang petugas selanjutnya.
"Begitulah." Saut Egnor.
"Tuan Egnor, nampaknya kau tidak menyadari ini tanggal berapa dan hari apa." Sang petugas menautkan tangannya. Claudia yang sejak tadi menunduk akhirnya mendongakan kepalanya melihat si petugas seperti akan terjadi sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Egnor singkat.
__ADS_1
"Lihat lah! Ini hari tanggal kabisat, 29 februari." Si petugas memperlihatkan tanggalan pada Egnor.
"Lalu?" Egnor tampak santai.
"Kau mau kalau kalian hanya mengadakan anniversary kalian selama 4 tahun sekali?" Si petugas memperjelas.
Deg! Jantung Claudia meringis! Ada apalagi pikirnya. Mengapa dia lagi lagi sial dan terus merasa terintimidasi? Claudia lalu menoleh ke arah Egnor.
"Kak, sebaiknya lain hari saja, aku tidak apa!" Bisik Claudia pelan. Egnor malah meliriknya tajam. Tidak ada dalam kamusnya yang dapat menolak rencana dan kehendaknya.
"Hari ini saja!" Saut Egnor tak peduli.
"Biar kuberitahu Tuan Egnor. Mungkin anda terlalu sibuk jadi melupakan semua ini. Lihatlah, hanya kau saja yang mendaftarkan pernikahan hari ini. Mereka tidak mau melewatkan hari pernikahan mereka meskipun hanya setahun. Bagaimana dengan empat tahun. Nanti bagaimana kau menjelaskan sudah berapa lama kalian menikah?" Lagi lagi si petugas memperingati yang membuat Egnor geram namun dia mencoba menahannya.
"Hari ini saja! Aku tidak peduli dengan semua mitos itu!" Begitulah kata si pengaca balok es ini.
"Kak..."
Claudia mencoba menenangkan namun,
Claudia tidak melanjutkan karna Egnor benar benar menatapnya dengan sangat tajam sampai Claudia langsung menunduk.
"Baiklah, aku sudah mengatakannya. Kemarikan syarat syaratnya." Kata wanita tua itu menyerah menjelaskan tentang sebuah primbon yang mungkin masuk akal mungkin juga tidak.
Dan, resmilah Egnor dan Claudia menikah. Claudia masih melihat lihat buku nikah mereka. Namun, Claudia masih mengkhawatirkan perkataan si wanita tua petugas itu. Pasalnya dia memiliki segudang permasalahan yang takutnya malah menyulitkan Egnor. Dia takut pernikahan ini dengan tanggal ini malah membuatnya dan Egnor semakin sial.
"Clau! Kau tidak bisa menghindar lagi! Kau sekarang menjadi miliku, istriku, SATU SATUNYA YANG KUINGINKAN dan aku tidak akan melepaskanmu!!! Jangan ada yang pernah menggagalkan apa yang aku inginkan lagi! Aku tidak seperti dulu!"
Kata Egnor merangkul Claudia yang terhenti di pintu masuk basement menuju mobilnya.
"Sekarang kau menjadi nyonya Jovanca! Ini kunci mobilmu. Aku membelikannya untukmu. Ini kartu debet dan kredit black gold. Kunci apartemen kau punya kan? Hari ini aku akan ke Oriental menemani petinggi mahkamah agung. Mungkin lusa baru pulang. Kau tidak usah ikut. Aku bersama Frank dan Joe. Kau jaga meja kerjaku saja sebagai seorang istri pemilik Gedung Eg. Lawyer."
Egnor mengambil semua yang sudah ia sediakan semalam bersama Joe dan memberikannya pada Claudia. Dia berjalan lebih dahulu menuju mobil meninggalkan Claudia yang masih sangat terpaku.
Claudia benar benar seperti mimpi. Hidupnya jungkir balik lagi seperti dulu menjadi seorang yang berada bahkan sangat berada.
...
...
...
...
Wes ambyar hatiku!!! 😍😍😍
.
Next part 33
Kapan clau bilang smuanya vii?
Ga tau aku, nanti tak rayu dlu mba clau nya yaak? Wakakakak 😂😂
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE & KOMEN
kasih juta rate dan tip silahkan .. VOTE JAN lupaaa 😍😍
.
yang mau bercengkramah manja sama aku silahkan ya follow ig aku @viiyovii dan nanti tuker tukeran nope wakakak entah kepo bat kan ga usah disimpen nanti atit 😝😝
__ADS_1
.
Thankyou for read and lafyou all 💕💕