
"Kak Egnor?" Panggil Claudia pelan. Jantungnya berdegup karna wajah tampan suaminya ada di atas hadapannya. Seketika napasnya menjadi stabil karna ketenangan sudah menaungi seluruh tubuhnya.
"Clau, kau sudah sadar?" Tanya Egnor memegang wajah istrinya.
"Kak, kau sudah memaafkanku? Aku dimana?" Claudia malah bertanya kembali. Dia ingin memastikan hati suaminya yang sempat sekeras bongkahan es.
"Tidak, aku yang salah, kau yang seharusnya memaafkanku. Sudah tidak usah dibahas lagi. Kau diamlah dulu biar suster memeriksa mu ya?" Kata Egnor lalu menekan tombol pemanggil suster di platform atas tempat tidur Claudia.
"Aku dimana ka? Kenapa semua tubuhku tak enak?" Tanya Claudia yang memegang lengan Egnor.
Egnor lalu menurunkan tubuhnya untuk duduk di kursi di samping tempat tidur Claudia. Dia meraih tangan istrinya.
"Kenapa kau meminum wine Clau?" Tanya Egnor pelan hendak memulai menjelaskan keadaan yang terjadi. Claudia menatap Egnor. Dia tersenyum lebar. Dia senang akhirnya Egnor pulang dengan wajahnya yang penuh kekhawatiran.
"Clau, jangan menatapku seperti itu. Aku semakin merasa bersalah." Kata Egnor lagi menyadarkan Claudia.
Claudia menggeleng tersenyum.
"Aku senang sekali kau pulang kak. Aku meminum wine karna aku benar benar frustasi. Aku menginginkanmu. Aku mendapat paket dari Viena dan Lexa. Mereka mengirimku gaun tidur yang pasti kau suka jika aku mengenakannya." Jawab Claudia akhirnya dengan masih nada yang lemah.
"Tidak mengenakan apapun aku juga suka Clau, tapi .." saut Egnor menempelkan tangan istrinya di pipinya..
"Sudahlah kak, yang terpenting, sekarang kau sudah memaafkan aku dan aku tidak akan berbohong lagi padamu. Aku akan meminta kau menemaniku kemanapun aku pergi." Kata Claudia lagi.
"Ya sayang, maafkan aku juga. Kenyataannya aku hampa tanpamu. Hari hariku kelam, Clau. Dan sekarang kau jadi sakit seperti ini. Maafkan aku. Tidak ada lagi kali kedua aku menghukummu dan juga diriku." Balas Egnor dengan satu tangan lainnya mengelus dahi Claudia.
"Iya kak, teruslah bersamaku, jangan tinggalkan aku lagi. Cukup 8 tahun itu saja kita berpisah. Aku mau selalu bersamamu karna kau satu terkasih di hatiku tak ada yang lain." Ucap Claudia berkaca kaca.
"Jangan menangis. Sudah cukup air mata yang kau keluarkan karnaku. Sudah ya. Aku mencintaimu my only one." Saut Egnor mengelus kedua mata indah Claudia agar tidak mengeluarkan air matanya lagi.
Claudia tersenyum sangat manis.
Tak berapa lama kemudian dokter datang bersama suster. Dan juga Frank dan Grace. Dokter mengatakan kalau sepertinya kondisi Claudia sudah normal dan sangat membaik. Namun, keadaan perut nya masih kembung dan ada sedikit luka lambung yang mesti ia observasi lagi. Dokter mengatakan tiga hari Claudia harus tetap di rumah sakit. Claudia dan Egnor pun menyetujuinya. Claudia agak menunduk sedikit melemah. Dia mengingat sesuatu yang beberapa hari ini dia menginginkannya.
"Clau, kenapa kau seperti bersedih? Hanya tiga hari di rumah sakit itu sebentar kok." Kata Grace yang melihat mimik Claudia yang sudah duduk bersandar namun menundukan kepalanya. Dia juga menggabungkan tangannya di depan perutnya.
"Emm, apa aku tidak hamil dok?" Tanya Claudia yang kini mengelus ngelus perutnya.
"Oh God! Claudia, kupikir apa?!!" Kata Grace terkekeh menghela napasnya. Begitu juga dengan Frank ikut tertawa kecil. Sementara Egnor tersenyum lalu memeluk istrinya itu.
"Hehe, wajar kalau Nyonya Claudia mengkhawatirkannya. Tapi sepertinya anda belum mengandung Nyonya. Kalau sudah, pasti aku akan memberitahukan pada suami anda. Karna, aku sudah memeriksa semua kondisi tubuhmu juga dengan test darah. Nyonya tenang saja, sering berhubungan setiap dua atau tiga hari sekali saja. Saya yakin Tuhan akan mempercayakan pada anda. Baiklah, kalau begitu Tuan Egnor dan Tuan Frank, para nyonya sekalian. Saya permisi." Jawab sang dokter dengan detail.
"Terimakasih dokter." Ucap Frank dan juga Grace. Sementara Egnor masih memandang tersenyum pada istrinya.
"Kau menginginkan anak dariku Clau?" Tanya Egnor dengan senyum dan tatapan menggoda.
"Tentulah kak, aku kan istrimu, hemm!!" Jawab Claudia menekuk wajahnya.
"Baiklah, kita akan membuatnya ya? Dua atau tiga hari sekali. Ingat jadwalnya jangan terlupakan!" Kata Egnor mencubit kecil pipi istrinya.
"Hahahahaha, aku tidak yakin kau akan mengikuti jadwalmu Tuan, hahaha!!" Saut Frank meledek. Egnor langsung menatapnya tajam namun kembali melihat istrinya sambil mengecupi punngung tangan istrinya. Claudia pun tersenyum tipis sambil mengusap rambut tebal suaminya.
...
__ADS_1
Keesokannya, Egnor terus menunggui Claudia. Dia tidak mau pulang. Dia mau terus bersama istrinya. Akhirnya Frank yang memegang alih dulu semua kekuasaan selama tiga hari ke depan bersama Grace. Sudah biasa seperti ini jika Tuannya itu tidak mau mengurus gedung. Karna, sebelum bertemu Claudia saja, Egnor suka tidak berselara mengurusi kantor pengacaranya. Kalau sekarang karna mengurusi istrinya. Frank dan Grace memakluminya. Hanya dua orang ini yang begitu mengerti Egnor. Juga Joe.
"Kak, apa kau benar menjatuhkan hukuman mati pada paman ku dan Nicolas?" Tanya Claudia sore itu ketika Egnor hendak menyuapi nya cemilan.
"Kau kata siapa?" Tanya Egnor menyodorkan suap demi suap cemilan puding itu.
"Kata Grace mereka sudah mati."
"Tidak! Aku menunggu kau yang menghukumnya."
"Benarkah?" Claudia memastikan.
"Ya, bisa saja aku menghukumnya, tapi pamanmu adalah mertua ku. Tidak seharusnya aku seperti itu." Jawab Egnor masih terus menyuapi Claudia.
"Kau memang yang terbaik sayang. Kau tidak akan melakukan hal sekeji itu kan?" Kata Claudia memegang wajah Egnor.
"Tapi jika kau tidak bangun kemarin, mungkin aku sudah menghabisinya, haha!" Guman Egnor terkekeh.
"Kakakk.."
"Hem, jadi kau mau aku apakan mereka? Aku mengikuti jawabanmu Nyonya Jovanca." Tanya Egnor lagi.
"Oh God! Aku jadi lupa kalau diriku sudah menyandang nama keluargamu!" Pekik Claudia kemudian menutup mulutnya.
Egnor terkekeh melihat tingkah menggemaskan istrinya.
"Em kakak, penjarakan saja mereka seumur hidup. Sepertinya itu sudah setimpal. Biar saja pamanku harus menerima akibat dengan apa yang ia perbuat. Sekarang rasanya aku harus mengurus keluargaku sendiri. Benar kata bibi ku, aku harus siap mengurus diriku sendiri. Mengurus suamiku dan anak anak ku nanti. Bagaimana kak?" Kata Claudia dan Egnor merasa istrinya ini benar benar bijak dan memiliki jiwa kemanusiaan yang mendalam. Bisa saja Claudia menyuruhnya menjatuhkan hukuman mati karna pria pria itu telah menjualnya.
"Sepertinya kak! Kau tenang saja, dia memiliki penjagaan yang baik. Sepertinya bibiku bahagia jika tanpa pamanku!" Jawab Claudia yang mengatakan hal yang sebenarnya. Egnor cukup menyetujuinya. Bukan sekarang Egnor memaksanya, biarlah semua berjalan seperti ini dulu pikirnya.
"Ya kau benar! Baiklah, ayo cepat habiskan puding ini!"
"Pudingnya tidak enak kak! Nanti aku buatkan untukmu ya? Yang enak dan luar biasa." Celetuk Claudia tidak begitu menikmati puding coklat ini.
"Tentu, kau harus memasak untukku. Aku akan memakannya." Saut Egnor terus tersenyum.
"Iya kak, emm kak, ada yang boleh kutanyakan?" Kata Claudia lagi.
"Katakan sayang."
Tapi, belum saja Claudia mengatakan, seseorang mengetuk pintu kamar rawatnya. Seorang wanita seumuran Claudia dengan dress dan coat panjang serta boat sampai ke lutut. wanita itu tampak elegan karna kerapihannya dan warna pakaian yang ia kenakan sangat serasi. Dress merah dengan coat cream kecoklatan. Claudia agak takjub dan dia tidak mengenalnya. Namun, ketika dia melirik Egnor, Egnor tampak biasa saja bahkan tersenyum tipis.
"Selamat sore Kak Egnor dan Nyonya Claudia." Sapa nya tersenyum ramah.
~Kak? Kakak? Dia memanggil Egnor kakak? Kukira hanya aku yang memanggilnya kakak. Siapa wanita ini? Sepertinya agak dekat dengan suamiku!~ selidik Claudia dalam hati. Claudia memasang wajah masam dan berdiam.
"Selamat sore Kate. Mengapa kau datang?" Kata Egnor tersenyum tanpa berdiri.
"Ya, tadi aku ke kantor mu dan Grace mengatakan kalai kau di rumah sakit menjagai istrimu. Jadi aku kemari sekalian menjenguk istrimu." Jawab wanita yang ternyata adalah Kate.
Claudia mendelikan alisnya agak tak senang. Perasaannya seperti Egnor memiliki sebuah hubungan dengan wanita yang bernama Kate ini.
"Oh iya, Claudia perkenalkan ini Kate. Dia adalah junior ku. Dia bekerja di Mahkamah Agung yang mengurus kasus pemerintahan bersamaku. Ah, Kate Joyline yang kau bilang wanita yang harus kitemui." Kata Egnor yang kini beranjak untuk memperkenalkan Kate dan Claudia.
__ADS_1
"Halo Nyonya Claudia, saya Kate Joyline. Panggil saja Kate. Senang berkenalan dengan anda." Kata Kate membungkukan tubuhnya dan memperkenalkan diri. Dia lalu mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan Claudia.
Claudia berusaha menyampingkan rasa cemburunya terlebih dahulu. Dia juga mengulurkan tangannya dan berjabat tangan.
"Halo Kate. Aku Claudia. Em, Claudia Stephanie Jovanca. Benar bukan begitu kan Kak Egnor?" Kata Claudia dan memberi penekanan pada panggilannya untuk suaminya.
"Benar sayang!" Saut Egnor mencubit kecil pipi Claudia.
Sepintas tampak tersirat wajah Kate yang menghilangkan senyum lebarnya. Kini dia hanya tersenyum tipis seperti tak senang dengan keadaan di depannya. Dimana Egnor begitu bertindak manis dengan istrinya.
"Tentu kau adalah Nyonya Jovanca, Nyonya Claudia. Aku tahu. Em, jadi kapan kalian mengadakan perayaan pernikahannya? Mengapa aku tidak mendengar kabar apa apa ya, hehe?" Tanya Kate mencoba memulai pembicaraan yang mana ingin melihat respon keduanya saja. Pasalnya sejak mengetahui Egnor sudah memiliki istri, dia agak curiga dan tidak terlalu mengetahui sosok istrinya.
Seketika mimik Claudia berubah. Dia menunduk dan jadi tidak mengerti apa yang harus ia katakan. Mereka belum merayakan apa apa bahkan pemberian cincin saja hancur berantakan. Dia menganggap waktu itu Egnor hendak melamarnya namun semuanya tak berjalan dengan semestinya. Egnor malah memasangkan cincinnya ketika pagi hari setelah berhubungan. Egnor merasakan aura kekecewaan dalam diri istrinya. Dan Egnor harus melakukan sesuatu, pasalnya Claudia baru saja pulih.
"Kami akan segera melangsungkannya Kate." Kata Egnor lalu duduk di sisi ranjang Claudia dan merangkul istrinya itu. Claudia agak terkejut. Begitu juga dengan Kate.
~Hem, kak Egnor, sepertinya kau memang sudah melupakan semua cinta yang kuberikan padamu waktu itu. Wanita ini seperti kau katakan begitu sederhana dan tidak arogan. Kau benar benar sudah mencintainya begitu dalam.~ gumam Kate dalam hati. Dia begitu kagum dengan Egnor sejak dulu. Dia juga pernah menyatakan cinta pada Egnor namun Egnor hanya mencintai Claudia. Egnor tak ingin yang lain.
"Oh begitu ya kak?" Kata Kate kemudian. Dia sudah benar benar tak berdaya dan hendak pergi namun pasti akan terlihat tak baik di mata Egnor.
"Iya, sebentar lagi aku akan mengadakan sebuah pemberkatan suci di gereja dan resepsi pernikahan yang agak besar. Em Kate, atau bisakah aku meminta tolong padamu untuk membantu Grace mengurusnya? Kau tahu kan seleraku? Kalau Claudia, dia pasti akan setuju dengan apapun konsep pernikahannya karna selera nya sama denganku. Aku dan Claudia ini sudah takdir Tuhan untuk bersama Kate. Ya kan sayang?" Tambah Egnor meraih dagu Claudia. Dia mendongakan wajah Claudia untuk menatapnya. Egnor tersenyum sumringah, membuat Claudia jadi tenang dan ikut tersenyum.
...
...
...
...
...
Aaahhh aku jadi lumer seketika dengan kelembutanmu kakak Egnor 😍😍
.
Next part 42
pulang ke apartemen dulu ya?
apakah Egnor akan semakin memperhatikan Claudia?
jadi, Egnor apa Claudia yanb akan mengendalikan permainan? hihii 😁😁
.
Jangan lupa kasih LIKE dan KOMEN nya ya sayang sayangku .. tembus komen 25 aku langsung up deh wkakakak 😍😍
Kasih juga VOTE dan RATE di depan profil novel yaa 😘 😘
.
Thanks for read and i laf youu 🌹🌹
__ADS_1