Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 21: Seutuhnya


__ADS_3

"Kenapa kerannya bisa bocor seperti ini? Kau memutarnya dengan kencang?" tanya Egnor menyelidiki.


"Mana ada?! Aku hanya mencuci piring seperti biasa. Memutar kerannya dengan pelan, kau jangan menyalahiku, salahkan wakil direkturmu yang memberikan ku apartemen tua ini! Kau tak tahu kan bagaimana aku membuat apartemen ini rapi, tapi ini yang terjadi! Apa kau tahu juga kalau terkadang mesin cucinya bermasalah, jadi aku selalu mencuci bajuku dengan tangan! Hem, seharusnya aku menolak semua pekerjaan yang bibi ku tawarkan untuk menjadi asistenmu! Lebih baik aku membuat roti dengan tenang bersama bibiku tanpa harus memikirkan mesin cuci, keran air dan terlebih hatiku! Repot sekali menyukai pria hebat sepertimu!!! Hem!" Claudia merajuk sambil menekuk wajahnya dan akhirnya memalingkan wajah dan tubuhnya tidak mau menatap Egnor.


Egnor mengernyitkan dahinya. Claudia menjadi agak menyeramkan.


"Jadi, kau mau apa?" Tantang Egnor menatap tajam Claudia.


"Tidak mau apa apa!" Claudia sudah menekuk wajahnya sangat kesal.


"Hem, kau benar benar wanita sangat menyusahkan!" Decak Egnor yang malah membuat Claudia semakin naik pitam.


"Apa kau bilang? Menyusahkan? Ya, aku memang menyusahkan, bahkan sangat sangat merepotkan dirimu harus mencari cari diriku sampai kesini sementara besoknya kau kembali bersama wanita lain! Sebenarnya kau yang teramat menyusahkan Tuan Egnor Jovanca yang terhormat! Aku pergi! Kau urus saja apartemen sial ini, hem, aku sangat benci menjadi orang seperti ini. Terlalu naif dan dimanfaatkan semua orang, bahkan termasuk orang yang kucintai, semuanya bullshit!!" Decak Claudia tak terima dengan pernyataan Egnor. Dia lalu mengambil tas kecilnya. Dia meninggalkan Egnor dan apartemennya. Dia sudah kesal terbakar api cemburu dan malah orang yang menyebabkannya mengatakan dirinya menyusahkan.


Egnor semakin terheran dengan sikap Claudia yang jadi uring uringan di depannya. Dia memutar bola matanya dan menghela napas.


"Shit!" Ujar Egnor lalu menyusul Claudia setelah menutup pintu apartemen Claudia.


"Tunggu dulu, aku salah, ya aku yang salah! Diamlah dulu sebentar, kita harus bicara!" Egnor berhasil menyusul Claudia dan menahan tangannya.


"Aku tidak mau! Kalau kau memaksa, kau bicaralah aku akan tutup kuping!"


"Diam dulu!" Kata Egnor lagi sedikit membentak. Dia lalu meraih ponselnya menghubungi Frank.


"Segera utus orang untuk membersihkan apartemenku! Isi lemari pakaianku yang kosong dengan pakaian wanita model terbaru dan piyama tidur ukuran Claudia! Isi juga lemari es dengan bahan makanan segar seperti buah dan sayur sayuran, karna mulai hari ini Claudia tinggal di apartemenku, kau mengerti?!" Kata Egnor setelah Frank mengangkat panggilannya.


Claudia membelalakan matanya mendengar penuturan Egnor untuknya tanpa bertanya dulu padanya. Dan, Claudia masih kesal dengannya.


"Ada apa dengan apartemennya tuan!" Frank terheran.


"Kau melakukan kesalahan besar dengan tidak memeriksa kekurangan apa yang terjadi pada apartemen yang kau berikan! Bonusmu tahun ini akan kupotong karna merepotkan wanitaku, kau mengerti?!" Tutur Egnor dengan wajah menegang.


Sementara wajah Claudia memerah ketika Egnor mengatakan wanitanya namun dia berusaha tetap netral dan tenang.


"Hah? Dipotong? Tapi Tuan!" Frank kembali terkejut karna menyangkut gajinya.


Egnor : "Jangan protes, sebaiknya kau meminta maaf pada Claudia!"


Frank : "Kau benar benar tak asik Tuan!"


Egnor : "Tak asik kau bilang? Ya sudah tidak ada bonus untuk --"


Frank : "Jangan jangan! Baiklah, potong saja!" (muram)


Egnor : "Kerjakan yang kuperintahkan!"


"Siap Tuan.." jawab Frank dengan nada sedih pada akhirnya dia tidak bisa bernegosiasi dengan majikannya itu.


"Masalahmu sudah selesai, mulai sekarang kau tinggal di apartemenku!" Kata Egnor pada claudia setelah menutup panggilan Frank.


"Aku - tidak - mau!!" Jawab Claudia sedikit mengeja seraya menolak Egnor.


"Apa maksudmu? Mengapa tidak mau?" Egnor mengernyitkan dahinya.


"Aku tidak mau, aku siapamu? Aku bukan siapa siapa mu!" Sindir Claudia menghempaskan tangan Egnor. dan dia tidak mau ada sebuah pembicaraan aneh tentangnya. Pasalnya sekarang dia bekerja sebagai asisten Egnor.


"Kau tenang saja, aku tidur di apartemenku kalau banyak pekerjaan di kantor, kalau tidak aku pulang ke rumah!" Egnor menjelaskan.


"Ya kau pulang ke rumah karna akan bertemu Nona Lisa mu kan? It's so nice!!" Sindir Claudia melipat satu tangannya dan memainkan jari tangan lainnya.


"Hem, nampaknya kau ingin aku pulang ke apartemen setiap hari ya? Memang itu yang ada di pikiranku sekarang, kau pintar sekali tikus kecil, ayo kita makan siang!" Bisik Egnor lalu kembali menarik tangan Claudia menuju basement parkir.


Claudia akhirnya dengan terpaksa mengikuti Egnor namun dia masih menekuk wajahnya. Sesampainya di mobil dia merapikan rambutnya dengan jari jari tangannya dan memalingkan wajahnya menghadap luar.


"Clau?" Panggil Egnor ketika sudah menjalankan mobil tapi Claudia tidak mempedulikannya. Egnor mengernyitkan dahinya.


"Claudia!" Panggil Egnor lagi namun Claudia tidak bergeming. Dia terus menghadap keluar. Egnor menarik napas panjang.


"Menguji batas emosiku ya?" Ancam Egnor.


"Ada apa kak?!! Argh, kau ini terus mengangguku, ada apa?! Tidak bisakah kau diam tidak memanggil manggil ku dan konsentrasi mengemudi, atau aku yang mengemudi. Berisik sekali! Kepalaku pusing, kau tahu? Tidak kan?! Sudahlah, diam saja!!" Lagi lagi Claudia membentak Egnor. Claudia benar benar masih marah, kesal. Dia ingin menjauhi Egnor namun dia malah menyerahkan dirinya untuk tinggal di apartemen pria itu karna dia terlalu keras memutar keran wastafel itu. Ya, Claudia sangat cemburu karna Egnor tidak mengatakan yang sebenarnya padanya.

__ADS_1


Egnor sangat terkejut mendengar Claudia memarahinya. Claudia adalah sosok wanita yang lembut namun mengapa berubah seperti ini. Egnor merasa Claudia pasti sangat sangat marah padanya. Akhirnya Egnor tidak memanggil Claudia lagi. Dia terus melajukan mobilnya sampai ke sebuah restoran makanan barat. Restoran itu cukup besar sehingga memiliki basement parkir di bawah tanah.


Egnor memarkirkan mobilnya namun belum membuka kunci pada mobilnya. Claudia lalu menoleh padanya.


"Aku minta maaf." Kata Egnor kemudian dan memegang tangan Claudia. Claudia tersentak dengan yang dilakukan Egnor.


"Aku tidak marah." Saut Claudia menundukan kepalanya.


Egnor lalu mendekati Claudia. Dia mengarahkan kepala wanitanya itu ke hadapan wajahnya. Egnor menatap wajah Claudia dengan sangat teduh dan tersenyum.


"Aku minta maaf." Sekali lagi Egnor mengatakan itu. Claudia masih memasang wajah muram. Hatinya benar benar sakit melihat pria nya berdanding bersama wanita yang bukan dirinya.


Egnor tak menunggu lagi, dia lalu mencium bibir Claudia. Claudia hanya diam saja. Egnor terus mengecupi bibir Claudia.


"Kau tidak mau mencium ku?" Tanya Egnor menghentikan kecupannya. Claudia menggeleng. Egnor menarik napas dan akhirnya menyerah. Dia menjauhi wajahnya dan menekan tombol agar kunci mobilnya terbuka.


"Aku tidak memaksamu, aku sudah minta maaf dan kau sendiri yang mengatakan menerima apapun alasanku, jadi aku tak perlu mengatakannya! Sekarang keluar dari mobil dan makan!" Kata Egnor lagi lalu dia keluar dari mobil lebih dulu.


Lagi lagi mereka makan dalam diam. Egnor terus makan tanpa melihat ke arah Claudia. Sementara Claudia melirik lirik Egnor. Namun, tak ada niatan Claudia untuk mengajak Egnor berbicara meskipun dia agak berpikir kalau Egnor marah padanya. Dia tidak menanggapi ciuman Egnor tadi. Claudia masih menyantap makannya sampai sebuah panggilan hinggap di ponselnya. Claudia melihat yang menghubunginya ternyata pamannya. Dia hendak mengangkatnya karna pasti masalah bibinya. Tapi, sangat tidak mungkin jika dia mengangkat di sini.


Akhirnya Claudia ke toilet dan tidak ijin dengan Egnor. Egnor menyipitkan matanya melihat gelagat Claudia menuju toilet.


Claudia : "Paman?"


Jack : "Hey Claudia! Aku butuh uang!" (Nada suara yang pelan namun seperti terjadi masalah)


Claudia : (terheran dan sudah mengelus dahinya) "Uang? Aku belum bisa mendapatkannya paman, baru saja aku mengirim semua uang bulananku padamu kemarin kan? Bulan depan lagi aku akan mendapatkannya!"


Jack : "Aku tidak mau tahu, pokoknya aku butuh uang!" (Merajuk)


Claudia : "Kau mabuk paman!"


Jack : "Ya, aku butuh uang, aku harus membayar kekalahanku!!"


Claudia : "Paman, kau bermain judi lagi?"


Jack : "Lalu aku mau apa? Bibimu sekarat di rumah sakit tidak bangun bangun. Semua biaya rumah sakit sudah beres. Aku bosan!"


Jack : "Ah aku tak mau tahu, pokoknya kirimi aku uang besok ya bessook!!!"


Claudia : "Tunggu dulu paman, apa penyakit bibi?"


Jack : "Jantungnya sudah membusuk, aku tidak tahu dia akan bertahan atau tidak!"


Deg! Jantung Claudia ikut berdegup! Dia takut dan cemas. Dia takut kehilangan bibinya.


"Kau serius paman?!" Claudia memastikan.


"Terserahmu percaya atau tidak, pokoknya kau kirimi aku uang atau aku ikut masuk rumah sakit atau mati! Besok ya .aku tunggu!" Saut pamannya acuh.


Pamannya mematikan panggilan. Claudia menundukan kepalanya. Dia memikirkan bibinya. Bibinya yang selama ini merawatnya. Dia kembali menangis. Dia tidak tahu mencari uang seperti apa lagi. Pamannya tak memikirkan istrinya sama sekali. Pantas saja bibinya sekarat jika dia menderita penyakit separah itu. Claudia benar benar kalut. Dia bingung dia harus kembaki marah pada Egnor atau menerimanya.


Tak lama dia berpikir tentang apartemen Egnor dan juga Egnor. Dia juga bisa meminta lembur dari Grace. Dia kembali menegakan kepalanya dan membasuh wajahnya. Dia kembali pada Egnor.


"Siapa yang menelepon?" Tanya Egnor datar.


"Pamanku!" Jawab Claudia sedikit ketus.


"Paman?"


"Iya, pamanku!" Claudia melotot.


"Apa katanya?" Egnor menyelidiki.


"Ada apa? Tidak apa apa, semuanya baik!" Seperti biasa Claudia berbohong.


"Begitu ya? Baguslah! Baiklah selesaikan makananmu dan kembali ke kantor!" Kata Egnor tidak terlalu memaksa dengan pernyataan Claudia karna dia sudah tahu. Sepertinya ini masalah uang lagi, pikir Egnor.


Claudia segera menghabiskan makannya namun terus melirik lirik Egnor yang sedang melihat lihat ponselnya. Egnor menyadari lirikan Claudia yang seperti hendak mengatakan sesuatu.


"Kau mau mengatakan apa Clau?" Tanya Egnor membuat Claudia terbatuk. Claudia merasa mengapa Egnor sangat mengetahuinya.

__ADS_1


"Makan saja tidak benar, bagaimana menjalani hidup! Ini minum!" Egnor meraih segelas air dan memberikan pada Claudia yang tersedak karna pertanyaannya. Setelah kembali normal, Claudia menyudahi makannya.


"Kak Egnor?" Panggil Claudia pelan.


"Hem?" Egnor menatap Claudia.


"Aku mau tinggal di apartemenmu." Jawab Claudia masih agak takut.


"Aku tidak butuh persetujuanmu! Kau menolakpun kau harus tinggal di sana


"Tapi kau harus membayarku!" Claudia mendongakan kepalanya.


"Kartu yang kuberikan?" Saut Egnor santai.


"Aku tidak mau menggunakannya!"


"Kenapa?"


"Pokoknya tidak mau! Aku mau bekerja dengan usahaku sendiri. Aku akan membersihkan apartemenmu, menyiapkan makanan untuk mu kalau kau kembali ke apartemen, mengelap kaca, mengepel, pokoknya aku akan bekerja mengurus apartemenmu dan kau harus membayarku 500ribu satu hari. Tidak banyak kan?"


"Heng." Egnor terkekeh.


"Untuk apa uangnya?" Tanya Egnor kemudian.


"Eng, aku akan membeli apartemen baru!" Jawab Claudia sekenanya.


"Ooohhh, baiklah 500ribu satu hari!" Egnor menyetujuinya. Bukan jumlah yang banyak baginya dan ini akan menguntungkan juga baginya. Dia bisa melihat Claudia berkeliaran setiap menit di depan matanya, sehingga dia juga bisa menjaga keamanan Claudia. Dia bisa memiliki Claudia seutuhnya, tanpa harus khawatir atau menyuruh anak buahnya mengawasinya.


"Bayar dimuka!" Claudia menengadahkan telapak tangannya.


"Iya nanti kau minta pada Grace, aku tidak pegang tunai!" Jawab Egnor.


"Jadi 500ribu kali 30 sama dengan 15 juta. Hihi gaji asisten rumah tangga seorang pengacara 15 juta." Gumam Claudia terkekeh dan pelan namun Egnor mendengarnya. Egnor menyeringai.


Egnor lalu beranjak dan berjalan ke sisi Claudia. Claudia tidak menyadarinya. Egnor lalu membungkukan tubuhnya mengarahkan mulutnya ke kuping Claudia.


"Termasuk melayani semua keinginan pemilik apartemennya!"


Bisik Egnor tersenyum. Dia lalu menegakan tubuhnya dan kembali berjalan keluar restoran dengan memasukan tangannya di saku celananya.


Tubuh Claudia seketika bergidik dan membelalakan matanya.


...


...


...


...


Dan, drama baru dimulai 😍


next part 22


bagaimana nasib Claudia tinggal di apartemen Egnor?


bagaimana Claudia melayani Egnor? 😝😝


staytune staytune!!


.


jangan lupa LIKE dan KOMEN yaaa


kasih RATE dan VOTE di depan profil novel 😍😍


.


thankyou for read and i love you 💕


HAPPY NEW YEAR 2020 🎉

__ADS_1


GBU ALL 😇


__ADS_2