
Jika batin sudah terus merasa meskipun terbentang ruang dan waktu maka akan kembali bersatu bagaimana pun caranya. sampai sejauh mana Egnor sabar menghadapi Claudia? dan sampai seberapa tahan Claudia tanpa Egnor?
...
'mengapa aku merasa ada yang memanggilku atau mengikutiku? Apa itu kak Egnor? Hem, baru saja satu hari aku meninggalkannya tetapi sudah sangat memikirkannya. Apa dia memikirkan ku?' gumam Claudia dalam hati nya sambil memilih milih umbi umbian itu. Dia mengingat Egnor ketika meraih satu kantung ubi ungu. Dia tersenyum mengingat dulu suaminya itu menyebutnya lobak.
Dan rasanya sudah sangat lama Claudia berpergian. Dia harus kembali ke kedai bibinya. Masih banyak urusannya dan dia juga harus beristirahat. Claudia berjalan menuju kasir dan membayar semua belanjaannya. Dia sembari melihat lihat isi dompetnya agar tetap cukup selama kehidupannya di sini. Mungkin satu Minggu atau lebih. Pikirnya. Dia menghela napas dan agak sedih membayangkan dirinya tanpa Egnor. Apa dia bisa? Namun dia harus melakukannya. Sedikit memberi pelajaran dan juga sedikit menenangkan dirinya agar tidak terlalu lama memendam luka pada suaminya.
Claudia akhirnya berinisiatif langsung memesan taxi online agar segera menunggunya di pintu utama. Dia membawa belanjaannya dan menuju ke pintu utama. Taxi yang ia pesan sudah datang dan ia langsung menaikinya. Grace, Lisa dan Richard tidak menyadarinya sampai Egnor yang membuyarkan mereka.
"CLAUDIA!" panggil Egnor namun terlambat. Claudia telah masuk ke dalam taxi dan tidak mendengarnya. Claudia sempat melihat ke belakang namun Egnor sudah berbalik memegang kepalanya seperti frustasi jadi dia tidak tahu itu suaminya atau bukan namun dalam batinnya bergumam dia merindukan suaminya. Claudia mengelus perutnya dan meneteskan air matanya.
'Kak, apa kau baik baik saja? Apa kau mencemaskan ku? Aku dan anak kita baik baik saja kak. Twins, terimakasih telah menguatkanku.' pekik Claudia dalam hati. Dia sudah bertekad dan tidak dapat diganggu gugat. Dia harus menghormati kepergian bibinya dengan cara seperti ini. Dia tidak peduli dengan lainnya , hanya bibinya dan anak anaknya.
Sementara Egnor dengan tatapan kembali mencekam menatap Grace, Lisa dan Richard.
"Tuan, kau lari cepat sekali! Kau mendapatkan Claudia?" Tanya Frank dengan napas tersenggal.
"Argh! Sudah kubilang kalian semua tidak bisa diharapkan!" Decak Egnor yang tidak mau berlama lama meluapkan kekesalannya. Dia merasa Richard memarkirkan mobil mereka di pinggir departemen store ini dan ada di belakang mereka.
"Cepat kunci mobilnya Richard, cepat!" Pinta Egnor pada Richard. Memakan waktu lama jika kembali ke basement atau menunggu frank mengambil mobil.
"Ah iya biar aku saja, ayo ayo!" Kata Richard segera menuju ke tepat pengemudi. Egnor memutar bola matanya malas dan akhirnya menuruti perkataan Richard. Tidak ada waktu lagi. Mereka harus mengejar taxi itu. Frank, Grace dan Lisa menaiki mobil Frank. Lisa melacak arah mobil Richard melalui ponselnya dan ponsel Richard.
"Egnor tenanglah, kita pasti akan menemukan Claudia." Kata Richard mencoba menjadi teman yang baik.
"Ya sudah kau cepat kemudikan mobil ini dan kejar taxi tadi!" Egnor sudah malas dan kepalanya semakin pening. Matanya agak buram namun dia benar benar menahannya.
Taxi itu menuju ke kawasan kantor pengacaranya yaitu ke kedai roti itu. Richard agak tertinggal jauh namun dia berusaha mengingat jalan jalan yang di lalui taxi tersebut. Dan akhirnya benar, ketika Richard berbelok dan hendak menuruni jalan ke kedai Claudia, dari kejauhan tampak taxi itu berhenti di depan kedai. Claudia turun dan merekah lah wajah Egnor.
"Itu benar Claudia, Egnor." Pekik Richard ikut merasakan kelegaan Egnor.
Egnor mengangguk dan tak berkedip memperhatikan istrinya.
Ketika Richard masih harus mendekati Claudia dari ujung tanjakan sana, Claudia terlihat memegang perutnya lalu disambut oleh seorang wanita paruh baya yaitu Emily. Emily menyambut Claudia dan di bawa ke rumahnya. Claudia tampak melemah. Namun interaksi Claudia dan Emily tertutup taxi tersebut dan sangat jauh memastikan kemana Claudia masuk bagi Richard dan Egnor karna belum lagi pepohonan rindang sampai mengenai atap atap dan kaca depan mobil.
"Kau terlalu lelah, Claudia, aku sudah menyuruh orang untuk merapikan kedai mu. Kedai rotimu sudah rapi dan bersih tetapi sepertinya kau beristirahat dulu saja di sini." Kata Emily meraih tangan Claudia memapahnya masuk ke dalam.
"Iya Nyonya, aku akan berbaring terlebih dahulu. Em, aku merasa ada seseorang yang mengikutiku. Siapa saja, tolong sembunyikan identitas ku Nyonya. Aku tidak ingin diganggu terlebih dahulu." Pinta Claudia dengan tatapan sendu dan letihnya.
"Bagaimana jika itu suamimu, Clau?" Tanya Emily hanya memastikan.
Deg!
__ADS_1
Jantung Claudia sedikit berdebar. Dia merindukan pria itu tapi ini masih terlalu singkat. Claudia menghela napas. Sebentar lagi saja pikirnya.
"Katakan aku tidak ada di sini. Aku bisa mengatasinya Nyonya." Pinta Claudia lagi. Emily tidak bisa menghentikannya.
"Baiklah, aku mengerti, " Emily menghela napas.
Claudia pun menuju ke kamar Jenice. Dia langsung tertidur karna begitu lelah dan kepalanya sudah pening.
Tak lama kemudian, baru saja Emily meletakan belanjaan Claudia di dapur, terdengar suara ketukan pintu. Emily sedikit gugup takut seperti apa yang dikatakan Claudia. Emily menuju ke depan rumahnya dan sedikit mengintip dari jendela. Emily tidak mengetahui wajah Egnor dengan sangat seksama, tapi dia mengenal wajah Richard karna dia sering tampil di acara berita dan talk show. Emily segera membukanya.
"Nyonya, aku mencari istriku. Tolong, biarkan aku menemuinya." Kata Egnor dengan napas sedikit tertatih dan sangat lelah.
"Istri? Siapa yang anda maksud Tuan?" Emily sedikit mengerutkan dahinya. Dia berusaha memposisikan dirinya agar tidak dicurigai.
"Claudia. Claudia Stephanie Gie." Jawab Egnor pasti.
"Claudia? Bukannya dia pergi bekerja ke Honolulu? Dia tidak ada di sini." Kata Emily dengan tenang.
Richard mengernyitkan dahinya. Richard merasa kalau Emily sedang menyembunyikan sesuatu terlihat dari mimik Emily yang berusaha tenang.
"Tolong Nyonya, suaminya sangat ingin bertemu. Tolong biarkan suaminya menemui Claudia karna tadi saya melihat dia masuk kesini." Kini Richard yang meminta dengan nada suara cukup meninggi.
"Oh, itu anak Perempuanku Tuan. Dia baru saja pulang dari Legacy. Aku menyambutnya. Dia kini sedang beristirahat. Kalau kau tidak percaya, kalian buktikan saja tetapi ini melanggar hak ku di rumah ini!" Emily hanya berusaha tegas dan tidak terlihat mencurigakan. Dia kasihan pada Claudia. Dia merasa sedang ada sebuah perdebatan antara Claudia dan suaminya.
'kalau ini yang kau mau, aku akan mengikuti permainanmu sayang! Kau pikir aku akan menyerah? Mustahil! Kau sudah menjadi darah dagingku dan kau membawa anak anak ku! Aku tidak akan membiarkanmu! semua kulakukan hanya untuk mu, hanya ingin bersamamu! 'pekik Egnor meringis dalam hatinya.
"Nyonya! Kau sudah menyalahi peraturan. Kau berbohong!" Richard menunjuk nunjuk Emily. Dia sudah sangat kesal dan prihatin dengan keadaan Egnor yang seperti ini.
"Berbohong apa? Ini rumahku! Sudahlah, sebaiknya anda semua pergi dari rumahku!" gertak Emily.
Egnor lalu menahan Richard untuk kembali memastikan Emily. Richard hendak berkata kata lagi pada Emily.
"Nyonya, maafkan temanku. Mungkin dia salah melihat. Em, begini karna kau dekat dengan istri dan keluarganya, aku suaminya, aku Egnor Jovanca. Aku pemilik kantor pengacara yang dulu terdapat di ujung jalan sana. Aku Mohon, aku butuh istirahat, aku butuh membersihkan diri, sebentar lagi asisten ku membawakan pakaian ganti untukku. Kalau kau menghargai istriku, tolong biarkan aku membersihkan diriku disini . Aku menumpang kamar mandi mu setelah itu aku akan pergi. Aku membutuhkan waktu yang lama jika harus ke kota lagi dan mencari hotel. Tolong aku mohon. " dan begitulah kata Egnor akhirnya dia berusaha menahan semua emosi dan bersikap profesional.
Richard benar benar terkejut dengan apa yang dilakukan Egnor. Baru kali ini Egnor memohon dengan lembut seperti ini. Hem, Richard merasa Egnor memiliki sebuah rencana. Dan Richard tidak meragukan hati Egnor lagi yang memiliki insting cukup tinggi dan merasakan cinta sejatinya.
Emily melihat wajah tampan Egnor yang lelah. Dia cukup tergerak. Emily tahu Claudia di dalam dan suaminya sungguh sudah sangat menderita. Tidak ada salahnya jika menumpang sebentar. Claudia juga pasti akan lama beristirahat.
"Em, ba baiklah, ini semua karna istrimu dan Nyonya Siren, masuklah." kata Emily mempersilahkan Egnor dan Richard.
Egnor dan Richard pun duduk di sofa. Egnor lalu meraih ponselnya dan menghubungi Frank meminta satu setel suit casual dan semua pakaian gantinya. Egnor menautkan tangannya dan menyandarkan dahinya. Dia benar benar sudah lelah namun dia berdoa supaya rencananya diam diam dan menahan semua emosinya dapat berjalan dengan lancar. Dia sudah sangat yakin kalau istrinya ada di sini. Cukup satu hari mereka tidak bertemu, dia tidak mau banyak hari hari kelam tanpa istrinya.
"Egnor, kau yakin istrimu disini kan?" bisik Richard.
__ADS_1
"Hemm. Kau diamlah dan jangan bertingkah!" Hanya itu tanggapan Egnor.
"Ya, aku mengerti rencanamu!" Richard sedikit tersenyum tipis lalu mengambil ponselnya sambil memperhatikan rumah sederhana Emily ini.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Frank datang namun Lisa dan Grace menunggu di mobil karna Richard sudah memperingati Frank jangan terlalu ramai agar tidak dicurigai.
"Nyonya, di mana kamar mandinya?" tanya Egnor.
"Di belakang samping kamar di samping tangga." jawab Emily menunjuk sebuah kamar mandi dengan pintu berwarna coklat.
Kamar itu merupakan kamar yang di tempati Claudia.
...
...
...
...
...
gedor Uda nor dobrakk 😁😁
.
next part 8 ges
mari sama sama berdoa agar Claudia meluluh, hentikan semua kesesakan ini Mimi 😭😭
sampe babang eg mengalah . apa yang akan dilakukan pipi eg 😎😎
.
.
Pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤
__ADS_1