
Kekalahan dan kesalahan adalah sesuatu yang mungkin sama tetapi berbeda rasa. kalah di mana masa kita sudah terpuruk atas sebuah pertentangan dan salah ketika melakukan hal yang sama lagi. Bruce pada akhirnya harus kalah dari seorang Egnor. jangankan menjadi pengacara yang membutuhkan argumen dan kepintaran, Egnor tetap harus menguasai diri untuk berlatih sehingg mampu mempertahankan diri. sedangkan Claudia merasa dia sudah melakukan kesalahan yang sama. entah apa yang akan terjadi selanjutnya? pemeran utama tetaplah harus menang walau banyak yang harus dihadapi.
...
Bruce masih menerima pukulan dari Egnor yang bertubi tubi tapi dia tidak bisa menyerah begitu saja. Bruce berusaha meraih leher Egnor dengan agak menaikan tubuhnya. Dia berhasil meraih leher Egnor dan dengan sekuat tenaga menghempaskan Egnor ke atas kepalanya.
Brak!
"Argh!" Teriak Egnor terbentur sehingga menghancurkan sebuah meja kayu di belakang mereka. Dia memegang pinggangnya merintih.
Untung saja Frank sudah berhasil mengambil suratnya dan pergi dari perpustakaan itu. Bruce hendak menahan Frank tapi Egnor sudah kembali bangkit dan menarik pundaknya lalu memberi tinjunya lagi. Frank berhasil keluar dari perpustakaan itu. Egnor malah dengan cepat menutup pintu tersebut.
"Aku sudah melawan semua penjahat model apapun di Honolulu ini, tapi belum pernah menghabisi Ketua mafia yang merupakan sahabat lamaku! Kemari kau! Ini pertandingan yang sesungguhnya!" Decak Egnor menantang Bruce. Dia sudah melakukan ancang ancang dengan kuda kuda untuk melakukan bela diri yang benar.
Sementara Frank keluar dari perpustakaan dihadang oleh Kingsler dan anak buah lainnya. Frank menyembunyikan surat tersebut di dalam saku jas nya. Untung saja Dion dan August sudah datang hendak membantu Egnor. Mereka bertiga terlibat dalam pertarungan sengit. Walau Kingsler berjumlah lima sampai enam orang, tapi mereka bertiga bisa mengimbanginya sampai terakhir Kingsler merasa mereka bertiga terlalu kuat, dia mengeluarkan pistolnya. Dia hendak mengarahkannya pada Dion tapi August menghadangnya sehingga perut August terkena peluru tersebut. Frank menjadi sangat geram. Dengan cepat dia menendang tangan Kingsler sehingga pistol tersebut terlempar.
Frank mendorong Kingsler kemudian sampai terjatuh. Dia memberikan pukulan yang bertubi tubi. Frank sempat menahan tetapi Frank terlalu kesal karena sudah mencelakai August. Frank memelintir tangan Kingsler yang menahan tinjunya dengan tangan satunya sekuat tenaga.
Kretak!
Sepertinya tulang Kingselr patah. Terakhir Frank berdiri dan menginjak leher Kingsler sampai dia tak sadarkan diri. Setelah itu Frank menghampiri August yang di papah oleh Dion.
"Ayo bawa August keluar, tuan!" ajak Frank pada Dion.
"Iya Frank!" saut Dion membantu August berdiri.
"August, bertahanlah," pinta Frank sudah merangkul August.
"Kate, aku ingin pulang menemui Kate! Aku berjanji akan pulang Frank!" pekik August yang hanya terlintas janjinya pada Kate akan pulang walau apapun yang terjadi.
flashback Kate dan Auguts
"Apa kau harus kesana? sudah banyak yang membantu kak Egnor, begitu juga dengan tuanmu, kau tidak usah ikut," kata Kate menahan lengan August yang sudah bersiap berkumpul bersama Egnor dan lainnya. August pun berbalik.
"Aku harus tetap mendampingi Tuan Egnor, aku sudah menjadi salah satu orang kepercayaan yang dia harapkan Kate," kata August juga memegang lengan Kate.
"Tapi kak Egnor kuat, dia pasti dapat mengalahkan pria terkutuk itu. sebaiknya kau di sini saja," pinta Kate lagi menundukan kepalanya. August tersenyum tipis.
"Kenapa? kau mencemaskanku?" selidik August semakin mendekati Kate.
"aku, aku,"
August menarik napas dan meraih dagu Kate.
"Untuk pertama kalinya kau mencemaskanku, terimakasih Kate! kau jangan khawatir, aku pasti akan pulang," kata August mendongakan kepala Kate untuk menatapnya.
"Aku takut terjadi apa apa padamu August! aku tahu siapa pria itu! aku ..."
cup!
August memberanikan diri mencium bibir Kate dengan sedikit lum*tan. dia tidak peduli ada Monica di sana. sejatinya Monica sudah menganggap August anaknya dan menyetujui jika pria itu bersama anaknya.
Kate membelalakan matanya. dia terkejut. ciuman ini sangat lembut dan dengan ketulusan serta kasih sayang yang melimpah. August masih memandang Kate.
"Aku akan pulang! kau tunggu aku! aku akan selalu menjaga dan melindungimu!" ucap August memegang wajah Kate.
Akhirnya dengan sangat teraksa, Kate mengangguk.
"Kau harus pulang, apapun keadaanmu, aku menunggumu, August, aku, sepertinya aku sudah mencintaimu," kata Kate memandang August sesaat lalu menunduk karena malu.
August tersenyum tipis.
"Aku juga, aku sangat mencintaimu, tungulah!" bisik August ditelinga Kate dan mengecup pelipis wanita itu.
back to ...
"KATEE!!" Pekik August lagi. Dion sangat mengerti bagaimana perasaan August. Dia tetap mendekap rekannya itu.
"Kita harus segera mengeluarkan peluru ini dulu August!" saut Frank juga sangat mengerti apa yang dirasakan August.
__ADS_1
"Ya, beritahu Kate aku mohon! Aku aku aku tidak kuat lagi. Beritahu Kate, Frank aku mohon!" pinta August terus menerus. dia ingin melihat Kate jika dia harus menjemput kakaknya di surga.
"Iya kau tenang saja!"
Frank dan Dion memapah August keluar mansion. Tampaknya para aparat Devon sudah menguasai penyerangan ini karena setelah nya aparat dari Legacy dan Nederland membantu mereka. Mereka aparat atas perintah dari Andreas Morris. Mereka sudah sibuk menangkap aparat yang turut campur membantu Bruce juga anak buah Richie dan Bruce.
Di lain pihak, Gabriel masih mengejar Richie. Richie lari cukup cepat dan akhirnya dia menuju ke sebuah ruangan yang ada di belakang untuk bisa keluar dari mansion tersebut. Richie menyadari kalau ada yang mengikutinya. Dia meraih pistol yang ada di saku jas dalamnya. Ketika Gabriel juga hendak memasuki ruangan tersebut, Richie menembakan peluru ke daun pintu ruangan, untungnya Gabriel cepat bersembunyi. Richie segera berbalik dan membuka pintu ruangan tersebut yang merupakan akses keluar dari mansion.
Dor!
Gabriel menembakan pistolnya pada sisi pintu yang hendak Richie buka.
"Siapa kau?!" Pekik Richie kembali berbalik dan menodongkan pistolnya.
"Aku! Aku kakak yang adiknya ditinggalkan karena terdampar akibat kecelakaan kapal pesiar yang kau rencanakan!" kata Gabriel sudah keluar dari tempat persembunyiannya.
"Cih, kau?! Kau kakak yang juga adiknya dicampakn anakku kan?!" Balas Richie yang juga menembakan kembali peluru tapi Gabriel bisa menghindar.
Dor!
Gabriel bersembunyi di samping kulkas dan Richie kembali membuka pintu tersebut dengan cepat. Namun, lagi lagi Gabriel menembakan lagi peluru memang ingin menggoda Richie!
Dor!
"Kau! Apa yang kau inginkan?!" pekik Richie yang sangat terkejut dan merasa dipermainkan.
"Menangkapmu! Kau harus menjalani hukuman, Tuan Richie Gabriane!" desis Gabriel terus berjalan menghampiri Richie.
"Tidak akan!"
Buak!
Gabriel menendang sisi pinggang Richie sehingga dia memegang tuas pintu dan pintu itu terbuka. Richie merangkak untuk keluar dari ruangan itu tapi Gabriel kembali menendang perutnya.
"Seharusnya kau di rumah menikmati kopi atau teh bersama istrimu, bukan membunuhnya lalu mencari keributan dengan orang!" Pekik Gabriel meraih kerah jas belakang Richie hendak mengamankannya tapi Richie tidak ikut begitu saja. Dia tidak boleh tertangkap. Dia memberi hantaman siku pada Gabriel sehingga dia berhasil terlepas dari Gabriel dan berdiri. Gabriel sontak memegang pipinya.
Richie berlari sambil merogoh saku celananya. Dia mengambil kunci mobilnya. Gabriel menembakan peluru ke arah nya berkali kali tapi beruntung sekali Richie dapat menghindar karena banyak nya mobil. Dia berhasil memasuki mobilnya dan menyalakannya. Gabriel masih menembaki mobil Richie tapi meleset. Richie melarikan diri dengan mobil. Gabriel tentu langsung berlari ke depan gerbang dan meminjam mobil pada Devon. Devon juga memberikan dua mobil untuk membantunya mengejar Richie.
...
"Clau, ayo masuk, aku sudah menyediakan makan malam," kata Lisa merangkul Claudia yang masih melihat laut malam. Claudia setengah menoleh.
"Oh iya, aku akan masuk," baals Claudia masih menikmati suasana laut malam.
"Kau kenapa? Besok pagi kita sudah bisa bertemu Egnor, apa yang kau cemaskan?" tanya Lisa menatap Claudia.
"Egnor, Lisa,"
"Ada apa?"
"Aku takut dia marah padaku karena kita tidak memberi kabar padanya sedikitpun," kata Claudia masih mencemaskan sikap suaminya.
"Kau tenanglah, Egnor pasti mengerti. Semua melihatnya. Aku, Richard, Kevin, Emma. Kau tenang saja. Kami akan membantu berbicara pada Egnor. Sekarang lebih baik kau makan. Kau harus sehat agar Wil Wil tidak gelisah terus dan besok bisa bertemu Egnor dengan segar," kata Lisa tidak pernah bosan menyemangati Sahabatnya.
Claudia menarik napas. Entah mengapa hatinya gundah terus menerus. Kejadian ini sama seperti sepuluh tahun yang lalu di mana dia pindah tanpa memberitahu Egnor. Dan ketika kembali bertemu, sekuabterasa asing. Egnor yang awalnya lemah lembut dan periang kini menjadi sosok yang perfeksionis, agak kasar dan mendominasi. Claudia sampai merinding memikirkannya. Apakah dia masih bisa memberikan kehangatan bagi pria yang sangat ia cintai itu? Claudia mengusap kedua lengannya dan masuk ke dalam kapal.
...
Bruce menggila. Sudah berapa hantaman yang diberikan Egnor dan sekarang dia bingung karena Egnor juga tidak menyerah. Ketika dia membalas, Egnor bisa bangkit dengan mudah dan kembali menyerangnya. Kini dia melempar semua benda benda yang ada di situ mengenai tubuh Egnor. Egnor berusaha menghindar atau menerobosnya. Bruce pun hendak mencari pistol nya yang entah terlempar di mana.
"Sebaiknya kau mengalah Brucee!!!" Teriak Egnor melayangkan pukulan pada Bruce tapi pria itu menghadangnya dengan menyerongkan tangannya sehingga bisa menyikut pipi Egnor.
"Kau siapa berani memerintahku pengacara rendahan!" Kembali kini Bruce menyerang Egnor. Memukul wajah Egnor satu kali dan ketika kdua kali, Egnor menahan kepalan tangan Bruce. Dia mencengkramnya dan satu tangannya lagi meraih lengan Bruce dengan cepat lalu memutrnya. Egnor mendorong Bruce dan menghempaskannya. Bruce membentur rak buku kecil dan di sanalah akhirnya dia melihat pistolnya.
"Heng, kau mati sekarang Egnor!" Decak Bruce membungkuk dan hendak mengambil pistol tersebut tapi lebih dulu Egnor mengangkat sebuah nakas yang cukup berat dan melemparkannya ke tangan Bruce.
"AAAARRRGGHHH!!! EGNOR KAU BAJINGAANNN!!!!" Teriak Bruce merasa tangannya tertahan oleh nakas berbentuk kubus tersebut.
"Aku sudah sangat membuang buang waktuku! Sudah saatnya kau menyerah Bruce!" Desis Egnor meraih kerah jas Bruce.
__ADS_1
"Dengarkan aku baik baik! Kau rasakan ini sekarang juga! Sudah habis kesabaranku! Kau mempermainkan pemerintah dan semua orang hanya untuk membalas dendam padaku! Tapi nyatanya apa? Kau tetap kalah Bruce, kau akan tetap meratapi kesialanmu jika kau terus seperti ini!" Pekik Egnor di depan wajah Bruce.
"Cih, lalu kau bisa apa? Kau saja tidak bisa melindungi mereka! Semua sudah hancur Egnor, sudah hancuuurr!!!" decak Bruce benar benar tidak takut dengan seringaian Egnor.
"DIAAAMM!!!"
Buak!
Egnor meninju pipinya.
"Kau sudah gagal, kau hanyalah pria kesepian yang berharap menjadi besar dan hidup bahagia dengan orang yang kau cintai kan?!" Bruce masih terus berdecih memang ingin membuat Egnor marah.
Egnor masih mencengkram kerah jas Bruce dan menatapnya dengan tajam.
"Hidup ini harus realistis! Hanya orang bodoh yang mencari kebahagiaan sejati. Tidak ada kebahagiaan selamanya kalau istrimu saja meninggalkanmu!" ledek Bruce lagi.
"DIAAAAMMMMM!!!"
"Cih, kau percuma membunuhku atau menangkapmu kalau kau tidak mendapatkan kebahagiaan bersama istrimu yang malah bersama mantan suaminya kan? Hahahaha, kau pure it! Loser!" umpat Bruce terus menerus karena tidak sanggup lagi melawan Egnor selain menyerang emosinya.
"Kau tidak berhak mendikte hidupku!"
Buak! Buak!
"Habisi saja Egnor! Kau sudah terjatuh terlalu dalam, lebih baik kau bekerja bersamaku, kau mana bisa melindungi orang banyak dan menegakan keadilan, KAU SAJA TIDAK BISA MENJAGA CLAUDIA, ISTRIMU YA KAN? hahahaa!" pekik Bruce sekali lagi kini membuat amarah Egnor mencapai puncaknya.
"DDDDDIIIIAAAMMMM!!! KAU TIDAK PANTAS MENYEBUT NAMANYA! ARGH!!!" erang Egnor dan menarik tubuh Bruce sampai berdiri karena amarahnya yang sudah meluap. Ternyata Bruce sudah berhasil meraih pistolnya.
"Kau, tamat di tanganku Egnor!" Bruce menodongkan pistolnya di dahi Egnor.
"Pengecut!" Desis Egnor menghempaskan lagi tangan Bruce dengan cepat. Karena nakas besar tadi, kekuatan tangan Bruce jadi melemah. Pistol itu kembali terlempar tapi Bruce mengetahui arah pistol itu.
"Tendangan ini karena kau telah merusak mental Kate!"
Buak!
Egnor memberikan hantaman lutut pada perut Bruce sampai dia terlempar.
"Kau sudah menyakiti orang orang yang ada di sekitarku, sudah saatnya kau menerima hukumkanmu, Bruce!" Kata Egnor masih menghampiri pria itu dan kembali mencengkram kerah jas Bruce.
"Ini, karena kau sempat mengingkan tubuh adikku!"
Buak!
Egnor memukul wajah Bruce yang sudah tampak lelah."Bangun! Kau sudah memancing amarahku!" Kata Egnor lagi menarik kerah jas Bruce untuk berdiri lalu membenturkan tubuhnya ke sebuah dinding berbentuk besi. Egnor tidak menyadari sesuatu di sana.
"Dan ini, karena kau berani beraninya menyukai wanitaku, bahkan ingin mengambilnya dariku! Claudia hanya milikku!" teriak Egnor lagi dan lagi sambil memberi hantaman pada Bruce.
"Cih," Bruce masih sempat tersenyum kecut membuat Egnor semakin panas.
"Kau yang membuat dia pergi, kau yang membuat dia menghilang, kubunuh kau keparaaattt!!!"
Egnor memberikan pukulan bertubi tubi pada perut Bruce sampai Bruce mengeluarkan darah dari mulutnya. Egnor sudah seperti orang kesetanan dan sampai ia lupa kalau dia tidak boleh membunuhnya. Egnor masih memukulnya. Bruce mencoba menahan dan merabakan tangannya ke sisi perbatasan dinding dan besi tersebut. Dia menekan tombol hitam kecil dan terbukalah menyamping pintu tersebut.
Bruce dan Egnor tentu ikut terseret dan keluar dari mansion. Pintu besi itu ternyata pintu rahasia untuk melarikan diri dan memang terdapat di tempat yang rahasia. Mereka berada di kaki gunung yang mengarah ke laut.
'Aku harus melarikan diri! Aku tidak boleh tertangkap apalagi terbunuh!'
Egnor agak kehabisan tenaga sehingga Bruce berhasil menghempaskannya. Bruce pun melarikan diri dengan memegang perutnya.
"Sial! Di mana ini!" Decak Egnor mencoba melihat lihat dan sepertinya mereka ada di pinggiran Honolulu di dekat laut yang merupakan rumah rahasia Ron dan Elizabet waktu itu. Benar saja pikiran Egnor. Mansion Bruce di atas dan dia membuat ruang bawah tanah yang cukup curam, pantas saja menembus kesini.
Egnor tak berlama lama dan segera mencari Bruce. Ditemani cahaya bulan dan bintang serta lampu mercusuar yang memutar, Bruce mencari tempat persembunyian sementara Egnor hanya berlari lurus dan yakin Bruce juga melakukannya.
Waktu sudah menjelang pagi buta sekitar pukul 3 pagi. Para aparat yang berwajib utusan Legacy, Nederland dan anak buah polisi Devon sudah berhasil meringkus para penjahat dan oknum pemerintah yang ada di mansion tersebut. Aparat keamanan negara dari Nederland sudah mengamankan persenjataan yang dimiliki Bruce. Sekarang hanya menunggu penyerahan Richie dan Bruce. Hidup atau mati.
...
bersambung next part 154 😁
__ADS_1
jangan lupa tetap LIKE dan KOMEN nya ya ,😊
thanks for read and i love you 💕💕