
Kasih ibu sepanjang masa. Meski pada akhirnya dia tidak bisa bersama sang buah hati, asalkan mereka baik baik saja, sehat dan selamat di manapun mereka berada maka tak selalu berdekatan itu tidak masalah. Namun, bagaimana dengan seorang ibu yang hanya memanfaatkan sang anak mendapatkan apa yang ia inginkan atau mencari jika diperlukan? Di part ini, Mari kita saksikan sebuah perjuangan perasaan dan hati untuk kebaikan seorang anak serta perbedaan ibu yang benar dan tidak benar.
...
Ibu tersebut tetap menatap Egnor, Frank dan Claudia dengan tajam. Dia berbalik dan seraya menantang Egnor.
"Aku tidak takut! Ini anakku! Jangan sampai kau seenaknya menggunakan jalur hukum hanya untuk memuaskan istrimu yang sudah gila itu!" Decak ibu itu sangat yakin.
"Apa kau bilang? Aku gila? Kau yang gila, serahkan sekarang juga anakku, kemarikan!" Decak Claudia juga melangkah dan berteriak pada ibu itu. Egnor tentu menahan pinggangnya sedangkan Frank tetap mengawasi sang ibu.
"Ya kau gila! Jangan jangan anak kalian sebenarnya keguguran dan istrimu menjadi gila sehingga menganggap semua bayi adalah anaknya kan?" Umpat si ibu pada Egnor dan Claudia.
"Wanita tua bedebah! Kau yang gila, itu Willy ku! Kak Egnor, itu anak kita, kau juga tahu kan?" Claudia mengumpat kembali dan merajuk pada suaminya.
Egnor mengangguk dan memberi kode pada Frank.
"Nyonya, mohon maaf, kalau kau merasa ini anakmu kau tentu tidak akan takut jika anakmu diadili seperti ini!" Kata Frank kemudian.
"Ya, aku tidak akan takut! Aku baru saja membuat akta lahirnya. Kalian bagaimana?" Cetus si ibu seketika.
Deg!
Egnor dan Claudia membelalakan matanya. Mereka memang belum membuat akta lahir Wilson dan Willy bahkan belum menambahkan nama mereka di akta keluarga mereka.
"Kakak, bagaimana ini? Kita belum sempat membuatnya kan?" Bisik Claudia mulai panik.
Egnor mengangguk pelan dan mencoba berpikir. Kalau dia menghubungi pihak yang bertugas juga tidak akan cepat, kalau mau harus menyogok tapi itu sangat tidak sesuai dengan seorang Egnor.
"Kenapa kalian diam? Kalian tidak mempunyai akta kelahiran anak kalian kan? Cih, sebaiknya urungkang niat Kalian untuk membawa anakku ini. Ini anakku, NEHEMIA GRILL BUKAN WILLY JOVANCA!" Decak si ibu yang bernama Leola itu.
Dia hendak pergi tapi seketika bayi yang digendong itu menangis. Tangisannya sangat kencang dan melengking sampai orang orang di sekitar jalan itu melihat ke arah mereka.
Claudia pun tergerak, nyeri pada dadanya kembali hadir. Air susunya pun kembali terasa menetes.
"Oh God, Nyonya, Willy haus, bisakah aku menggendongnya dulu walau itu benar, itu benar anakku nyonya," tutur Claudia menghampiri Leola dan Leon tentu saja menolaknya. Dia mendekap bayi tersebut dan memberikan suara suara yang hendak menenangkan bayi tersebut tapi gagal. Bayi itu terus menangis.
"Berikan dia susu, kalau kau adalah ibunya!" Celetuk Frank. Egnor juga menghampiri mereka dan menarik tangan Frank.
"Cepat hubungi Benedict, suruh dia ke pengadilan sekarang!" Perintah Egnor berbisik. Frank mengangguk dan mundur perlahan meraih ponselnya.
"Nyonya, Willy haus!" ujar Claudia dengan lembut.
"NEHEMIA! INI NEHEMIA!" bentak ibu itu.
OOOWWWAAAA
Bayi itu semakin menangis ketika Leola meneriaki Claudia. Claudia sampai sempat mundur juga Egnor yang menahan tubuh istrinya.
"Oke oke Nehemia, tapi tolong berikan dia padaku, biarkan aku yang menyusuinya!" pinta Claudia memohon.
"Tidak! Aku akan memberikannya susu formula! Ini! Aku punya! Jangan dekat dekat!" Leola menunjukan susu yang ia ambil dari tasnya.
Leola lalu pergi meninggalkan Claudia dan Egnor yang tentu mengikutinya. Leola duduk di bangku taman dan memberikan bayi itu susu. Namun, bayi itu hanya menghisapnya dua tiga kali setelah itu dia melepas dan kembali menangis.
__ADS_1
"Oh sayang! Mengapa kau menangis terus! Aku sudah memberimu susu!" Kata Leola menimang nimbang sambil berkata kata.
Claudia memandangnya sangat kasihan. Claudia menatap Egnor. Egnor pun bingung harus berbuat apa karena yang ia hadapi seorang ibu yang sepertinya juga sudah berumur.
"Kakak, bagaimana ini? Willy terus menangis! Aku mau menggendongnya," rengek Claudia menautkan tangannya dan dia sudah ikut menangis.
"Nyonya, aku mohon berikan dulu anakmu pada istriku agar disusui. Willy haus," kata Egnor akhirnya kembali bicara.
"Ya Tuhan! Kenapa kalian berdua keras kepala sekali! Lagipula untuk apa kalian mengikutiku?! Aku mau bekerja! Sana sana! Ini anakku dan akan terus begitu!" Bentak Leola lagi kini sudah berdiri. Willy masih menangis walau tidak begitu kencang tapi hati Claudia begitu miris. Pasti Willy merindukan dirinya. Hanya dia dan ayahnya yang dapat menenangkannya.
Leola hendak pergi tapi Claudia kembali menahannya.
"Nyonya nyonya, sebentar saja aku mohon! Nyonya berbelas kasihlah. Dia anak mu kan baiklah kalau kau mengakui dia anakmu tapi dia menangis nyonya. Dia haus dia butuh asi yang lebih baik. Aku mohon sesama ibu. Biarkan aku menyusuinya terlebih dulu atau menggendongnya sebentar setelah itu aku akan memberikannya lagi padamu aku mohon!" pinta Claudia terus memohon sampai memegang lengan Leola.
"TIDAAAAAKKKK!!!!" Teriak Leola dan menghempaskan Claudia sampai terjatuh. Egnor langsung membantu Claudia. Leola hendak pergi tapi Frank sudah kembali menghadangnya.
"Nyonya, kita harus ke pengadilan terlebih dulu. Anak ini akan diadili!" kata Frank menegaskan.
"Hahahaha! Kalian mau mengadili tapi kalian tidak punya akta lahir untuk apa? Apa mungkin seorang pengacara terkenal seperti kalian akan menyogok Hakim?" Decak Leola meremehkan.
"Nyonya, tolong ikuti kami terlebih dulu. Hakim yang memutuskan untuk bisa melakukan test darah dan DNA! Kalau kau yakin itu anakmu, kau tidak perlu takut! Aku mengatakan ini karena meskipun aku belum membuat akta lahir Willy tapi dengan DNA semua bisa jelas!" kata Egnor juga menegaskan.
Seketika Leola bergidik. Bagaimana bisa dilakukan test DNA? Kalau begini maka akan ketahuan. Dia akan dimasukan ke dalam penjara. Dia harus memikirkan sebuah cara. Terpaksa hanya cara ini yang dapat ia lakukan selagi Willy masih menangis.
"Tentu aku mau, tapi aku tidak bisa membiarkan Nehemia menangis seperti ini!" tuturnya berkelit.
"Oleh sebab itu, biarkan istriku menggendongnya sebentar dan kalau bisa menyusuinya. ASI lebih baik ketimbang susu formulamu nyonya!" ancam Leola memandang sangar Egnor dan Claudia.
"Baiklah! Tapi awas jangan macam macam! Namamu ada di tanganku Tuan Egnor! Kalau sampai kau berbohong, namamu, reputasimu akan ku buat hancur di manapun keberadaan ku!" Ancam Leola.
"Ikut denganku!" Kata Leola dan mengarah ke sebuah gedung apartemen yang seperti August katakan hanya ada satu bangunan apartemen.
Egnor tidak lupa menyuruh Frank melakukan sesuatu. Di dalam mobil yang Egnor dan Frank tumpangi merupakan mobil serba yang terdapat peralatan pengintaian dan penyelidikan. Egnor sudah memberi arahan pada Frank dan Frank langsung menjalaninya.
Namun ketika baru saja memasuki gedung apartemen tersebut, Leola melarang Egnor dan Frank untuk masuk.
"Aku harus menjaga keselamatan istriku!" decak Egnor.
"Kau mau tunggu di sini atau aku tidak mau ke pengadilan!" Leola memberi pilihan.
Claudia menatap Egnor agar menuruti dan percaya bahwa Claudia akan baik baik saja. Akhirnya Egnor menyetujui Claudia untuk tetep di luar apartemen bersama Frank. Dengan begini juga, Egnor dan Frank bisa mengerjakan aksinya.
Claudia memeluk Egnor terlebih dahulu karena tatapan Egnor ke dirinya begitu cemas.
"Aku hanya sebentar kak!" kata Claudia mengecup dada suaminya.
"Tetap perhatikan sekitar Clau!" bisik Egnor di pelipis Claudia.
"Pasti kak!"
Claudia mengikuti Leola menaiki apartemennya. Claudia menjalankan apa yang Egnor perintahkan padanya untuk tetap memperhatikan apartemen tersebut karena mungkin bisa dijadikan saksi kunci. Claudia juga sudah menyalakan rekaman dari ponselnya tapi tetap berada di tas nya. Mereka pun sampai di sebuah kamar apartemen. Claudia memasukinya bersama Leola juga bayi tersebut.
"Kau harus menyusuinya di kamar itu! Setelah Nehemia tertidur, berikan lagi padaku! Aku tunggu disini!" kata Leola memberitahu kamarnya.
__ADS_1
"Mengapa tidak di sini saja Nyonya?" tanya Claudia juga ingin mengawasi Leola.
"Nanti suamiku pulang! Dia akan marah jika melihat anaknya bersama orang lain!"
"Baiklah, aku mengerti," tutur Claudia mencoba sabar dan mengalah karena ini lah yang harus ia lakukan terlebih dulu.
Akhirnya Leola memberikan bayi yang diakui bayinya itu kepada Claudia. Rasanya Claudia benar benar bahagia bisa memeluk bayi yang ia anggap Willy. Claudia menggendong dan seketika bayi itu terdiam. Cepat cepat Claudia membawanya masuk untuk ia susui sementara Leola juga cepat cepat menghubungi seseorang.
Claudia masuk ke dalam kamar. Dia langsung menyusui bayi itu. Bayi itu meraih ujung buah dadanya dengan sangat lahap. Claudia sampai menangis melihat bayi ini yang begitu kehausan. Claudia begitu yakin kalau anak ini Willy, anaknya.
"Willy, sabar sebentar ya nak, kau pasti akan kembali bersama kakakmu di apartemen kita! Maafkan mommy nak!" Ujar Claudia meneteskan air matanya.
Claudia lantas berpikir, apakah dia bisa melarikan diri dari sini? Namun, sepertinya sulit. Hal ini akan membahayakan Willy. Sebaiknya dia mengikuti rencana suaminya juga kemauan nyonya tersebut terlebih dulu.
Claudia kembali berpikir dan ingin mengetahui sesuatu. Dia menyusui bayi itu sambil menggendongnya. Dia berjalan ke arah pintu kamar dan ingin tahu apa yang dikerjakan Leola. Claudia sejenak mendengar Leola berbicara dengan seseorang pada sambungan telepon dan membicarakan DNA. Claudia yakin, Leola pasti sedang merencanakan pembuatan surat DNA palsu.
Tak lama Claudia terkejut karena terdengar suara langkah kaki dan tidak mendengar suara Leola lagi. Claudia harus kembali duduk di sisi tempat tidur kamar tersebut. Dan benar, Leola yang hendak masuk ke kamar. Dia membuka pintu dan melihar Claudia tampak masih menyusui bayi itu. Leola mendekat dan melihat kalau bayi itu sudah tidur.
"Dia sudah tidur! Kemarikan!" Pinta Leola. Claudia melirik tajam Leola dan saatnya dirinya yang harus berjuang. Dia menarik buah dadanya perlahan dari mulut bayi itu dan membenarkan pakaiannya. Claudia lalu menggendongnya dan memeluknya.
Leola mengerutkan dahinya.
"Ada apa denganmu?! Kemarikan anakku!" pinta Leola lagi.
"Tidak! Ini anakku!" Decak Claudia menyenggol Leola dengan kencang lalu ia berlari keluar apartemen.
"WANITA SIAL, BEDEBAH, KEPARAT! KEMBALIKAN ANAKKU!" teriak Leola kembali berdiri tapi sebelumnya dia mengambil sebuah pistol yang ia letakan di bawah tepat tidur kamar itu. Dia mengejar Claudia yang keluar dari apartemen membawa bayi itu.
...
...
...
...
...
lah Bu, mainstream amat! 😱😱
.
next part 128
bagaimana kondisinya nanti?
stay tune ya masih ada di bawah aku ngaso dlu haha 😁😁
jangan lupa kasih LIKE, KOMEN di part ini dulu yaa, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤
__ADS_1