
Air susu dibalas dengan air tuba. Bagaimana di balik dengan air tuba dibalas dengan air susu? Heng, hanya sebuah pribahasa yang bisa disangkut pautkan dalam kehidupan. Begitu juga dengan Menjadi sebuah ironi jika seharusnya surga ditelapak kaki ibu tetapi malah menjadi neraka ditelapak kaki ibu. Hem begitulah pemikiran Frank terhadap wanita yang melahirkannya. Hanya sedikit perhatian ibunya semasa dia hidup sampai ayahnya meninggal dan sampai rasanya dia harus berjalan sendirian. Dan bagaimana bisa bisanya Grace, wanita yang sangat ia cintai menerima perilaku keji yang diperbuat oleh ibu mertuannya?
...
Persidangan atas kasus perbuatan tidak menyenangkan (penyerangan secara terang terangan) yang dilakukan Elizabeth Keanu, ibu dari Frank Leonard terhadap Grace Devischa akan dimulai beberapa menit lagi. Terlihat di sana, Elizabeth sudah duduk di bangku terdakwa sementara pengacara dari pihak Grace masih berada di dekat bangku bangku penonton. Pengacara yang Egnor tunjuk sebagai pihak Grace yaitu Moses Adrian. Bukan Egnor tidak mau membantu Frank dan Grace, pasalnya dia sedang menyesuaikan diri untuk selalu ada di dekat Claudia dalam masa kehamilannya ini. Egnor berjaga jaga kalau kalau Claudia mengalami mual muntah atau demam seperti yang sudah sudah. Kemarin sewaktu sidang Frank saja, Claudia dititipkan di rumah ayah dan aunty nya. Jadi Egnor mengutus Moses namun sudah memberikan bukti bukti tindak anarkis yang dilakukan Elizabeth di depan apartemen Frank dan Grace.
Moses sedang menghubungi Tuannya karna kemarin Egnor akan berusaha untuk datang membawakan bukti tambahan. Kenyataannya Egnor memang sedang mengurusi Claudia. Malam hari tiba tiba Claudia demam dan belum masuk jam subuh, Claudia sudah mengeluarkan cairan di dalam tubuh melalui mulutnya sebanyak tiga kali. Kini Claudia sedang berbaring lemah. Egnor sudah menghubungi Viena bertanya apa yang harus ia lakukan. Entah mengapa, Egnor hanya memikirkan nama adiknya yang sudah lebih dulu bahkan sudah melahirkan seorang anak.
"Kak, seharusnya kau menghubungi dokter kandungan Kak Claudia, bukan diriku!" Kata Viena di seberang sana menanggapi panggilan kakaknya yang sangat berlebihan.
"Oh Lord, Viena! Aku panik! Jadi apa yang Dion lakukan jika kau terus muntah muntah?" Tanya Egnor tidak mempedulikan arahan Viena.
"Mengelus perutku atau punggungku!" Jawab Viena singkat dan apa adanya.
"Kekuatan tangan dari mana bisa seperti ini lalu hilang semua rasa sakit!" Decak Egnor dengan semua pemikiran logisnya. Persetan seorang Egnor dapat percaya dengan mitos.
"Kan, sudah ku bilang, kau hubungi dokter kandungan Kak Clau! Kau membuang buang waktu ku kak! Dior menangis! Bye!!" Viena kembali mendengus tak senang pada kakaknya.
Viena mematikan panggilan sementara Claudia merengek lagi seperti dia yang merupakan bayi baru dilahirkan.
"Clau, perutmu masih sakit? Apa kita ke rumah sakit saja?" Egnor kembali pada istrinya dan langsung tanpa sadar memegang perut yang mulai membuncit itu.
Claudia hanya menggeleng. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi dan Egnor masih mengenakan piyama. Moses sudah memberi pesan padanya agar tidak lupa untuk datang ke persidangan sementara kondisi Claudia sangat tidak memungkinkan untuk ditinggal. Untung saja si pengacara handal itu sudah memperhitungkan kalau Moses saja yang menjadi pengacara Grace.
"Tenanglah Clau, oohh my twins, bisakah kalian bekerja sama dengan kami?" Entah apa yang menjadi pemikiran calon ayah itu sekarang. Pada akhirnya dia menuruti apa yang dikatakan Viena. Dia duduk di samping Claudia sambil mengelus perut Claudia dan malah mengajak bicara janin yang masih berusia enam belas Minggu itu.
Claudia sedikit melirik suaminya dan berusaha tenang karna hendak kembali mendengar apalagi yang akan dikatakan suaminya.
"Em, kalau your mom kembali mengeluarkan cairan tubuhnya, kalian tidak akan mempunyai asupan. Dan sebentar lagi your dad akan bekerja." Kata Egnor lagi membuat sebuah pernyataan sebab akibat pada anak di dalam kandungannya. hal ini membuat Claudia tergelitik untuk menggoda suaminya. pada kenyataannya memang Claudia merasa lebih baik ketika merasakan telapak tangan hangat nan kekar suaminya.
"Daddy?" gumam Claudia mengarahkan mengenai pemanggilan Dad yang benar.
"Yes, Daddy akan bekerja. Jadi .." seketika Egnor menghentikan kalimatnya. Dia menyadari seperti nya Claudia sudah tidak meringis lagi dan malah menggodanya.
Egnor mendelikan tatapannya ke arah Claudia.
"Daddy?" selidik Egnor dengan tatapan memburu.
Claudia mengangguk angguk tersenyum sementara Egnor menggeleng.
"No! Only Dad!" Egnor mempertegas.
"Sayang .. kepanjangan Dad itu Daddy." Claudia menjelaskan sambil mengalungkan tangannya ke leher Egnor.
"No Clau! Terlalu kekanak kanakan. Dad saja!"
"Terserahlah!"
"Oke twins, sepertinya kalian mendengarkanku. Seperti inilah terus ya? Be good boys!" Egnor kembali berbicara pada anak anaknya.
"Hem, kenyataannya kau memang ingin anak laki laki." gumam Claudia mengingat kemarin Egnor menginginkan anak perempuan.
"Sepertinya karna bisa kutugaskan untuk menjagamu dan satunya bisa menggantikan ku sewaktu waktu diperlukan." jawab Egnor.
"Apa dia juga akan menjadi pengacara?"
"Entahlah, jika ada bakat, why not?"
"Baiklah sayang, sepertinya aku sudah membaik. Sebaiknya kau segera bergegas." kata Claudia mengingatkan. sidang kali ini harus juga berhasil.
"Ternyata tanganku dapat membuatmu lebih baik ya?" kata Egnor memandangi telapak tangannya.
"Kau harus membaca artikel mengenai panduan menjadi ayah yang siaga. Like you!" kata Claudia memberikan saran.
"Sudah masuk referensi ku! Baiklah aku akan membersihkan diriku. Kau di sini saja dulu Clau. Jika memungkinkan kau bisa ikut denganku." balas Egnor.
Claudia mengangguk. Egnor lalu mengecup kening Claudia dan segera membersihkan dirinya.
Begitulah drama pagi hari pasangan baru ini. Meskipun begitu, ketika sudah siap Egnor hendak pergi juga bersama Claudia, Claudia kembali mual dan muntah lagi. Egnor terpaksa harus menunggu kelegaan istri dan anaknya lagi.
Sementara Moses masih kelimpungan. dia bahkan sudah menghubungi Frank.
"Entahlah Frank, aku bisa memenangkan kasusmu atau tidak. Aku ada kenal pengacara yang digunakan ibumu. Dia dari Japanis dan kurasa dia setara denganmu Frank. Hanya Tuan Egnor yang bisa melawannya atau setidaknya aku memiliki bukti lain untuk menguatkan tuntutan. Namun, Tuan Egnor tidak bisa dihubungi. Terakhir pagi tadi, katanya Nyonya Claudia mengalami mual muntah yang cukup sering." kata Moses dengan nada melemah dan putus harapan.
"Ya itu mungkin terjadi Moses. Aku merasakan Grace juga pernah mengalaminya. Jadi bagaimana ya? Mengapa perasaanku tidak enak?" Frank juga memikirkan jalannya sidang. dia sangat tahu kalau karakter temannya itu harus mendapatkan seorang teman. dia juga tidak bisa menyalahkan Egnor yang sudah berjuang sampai detik ini untuknya.
"Hem, kurasa ini memang seperti kutukan Tuhan kalau kau melawan ibumu Frank. Biar bagaimana pun dia adalah ibumu. Tapi tindakannya juga tidak bisa dibenarkan melakukan semua itu pada Grace." kata Moses memberi peringatan.
__ADS_1
"Aku akan melihat kondisi dan mungkin akan kesana. Kau lakukan saja sebisamu, Moses. Aku akan menghargai apapun keputusan hakim nanti." ujar Frank akhirnya.
"Baiklah, aku menunggu. Tetapi memang aku yang lebih dulu maju." Moses menghela napas.
"Tuhan memberkati, Moses."
"Sama sama Frank, see you .."
Moses mematikan panggilan. Dia sedikit melonggarkan dasinya dan menatap tajam ke tempat persidangan. Dia berjalan melewati batas arena persidangan dengan bangku penonton dan duduk di tempat yang seharusnya. Persidangan akan di mulai lima menit lagi. Moses menarik napas dan masih mempelajari bukti bukti yang diberikan Egnor. Moses juga kembali mengirim pesan pada Egnor kalau mungkin saja rekaman yang dimiliki Claudia dapat dikirim melalui email atau chating berbayar.
"Persidangan akan segera dimulai." Jaksa sudah mulai memberikan arahan.
Tak berapa lama hakim Benedict menduduk meja pengadilan nya bersama satu hakim pendamping lainnya dan satu asistenya. Mereka pun memulai dari pengenalan, pengenalan kasus dan pada akhirnya Moses, penasihat hukum dari penuntut berkesempatan lebih dulu untuk menjabarkan tugasnya.
Moses memulai dari perkenalan tentutnya lalu disambung dengan beberapa pertanyaan mengenai pertanyaan dengan apakah. Apakah anda mengenal, apakah anda mempunyai hubungan dengan Frank dan Grace, dan apakah anda melakukannya. Semua dijawab Elizabeth dengan wajah seperti menyesal namun merasa dirinya yang sebagai pihak yang di Sudutkan. Lalu Mosen kembali bertanya mengenai pertanyaan mengapa. Di bagaian ini Elizabeth menceritakan bagaimana hubungan dirinya dengan Frank versi dirinya. Elizabeth melakukan ini Karna dia merasa pengacara yang melawannya ini tidak mengetahui dirinya. selain itu tidak ada orang orang yang berhubungan dekat dengan dirinya. Jadi dia bisa leluasa menceritakan yang sebenarnya tidak terjadi. Sementara Moses hanya sedikit banyak tahu tentang Frank.
"Tapi Nyonya Elizabeth, di laporanku mengatakan kalau dirimu bahkan tidak serumah dengan Frank dan Grace. Apa kah kau yakin dengan pernyataan anda?" Tanya Moses lagi mengerutkan dahinya.
"Ya, karna Grace selalu mempengaruhi anakku untuk tidak bisa bersama mereka. Padahal aku ingin bersama Frank dan Grace." Jawab Elizabeth sambil menyapukan air matanya. Elizabeth benar benar melakukan perannya dengan sangat baik dan menjiwai.
"Baiklah Tuan Moses, waktu anda sudah habis, semua pertanyaan telah di jawab oleh Nyonya Elizabeth. Sekarang silahkan penasihat hukum dari tergugat, apakah ada yang ingin disanggah dari pertanyaan atau pernyataan penasihat hukum penuntut?" Kata jaksa penuntut umum sebagai perpanjangan tangan sang hakim.
Pengacara dari Japanis yang di sewa oleh Elizabeth itu berdiri. Dia memberikan pernyataan yang seolah oleh Elizabeth adalah seorang ibu yang dipojokan dan ditinggalkan. Padahal sudah sangat diketahui kalau dia terlibat dalam pembunuhan berencana suaminya.
"Tuan hakim dan jaksa. Di sini saya yang menekankan kalau tidak ada rasanya seorang anak atau kekasih dari anaknya menuntut seorang ibu yang sedang merubah sikapnya terhadap anaknya. Nyonya Elizabeth hanya mendekatkan diri pada anak dan calon menantunya agar diterima dan dipercaya namun pada akhirnya mereka menolak dan menganggap ini merupakan perbuatan tidak menyenangkan. Di mana sikap seorang anak yang seharusnya ditunjukan. Dan tolong garis bawahi. Sewaktu keguguran Nona Grace terjadi, Nyonya Elizabeth tidak tahu kalau calon menantunya sedang mengandung . Lagi pula apa tidak wajar seorang ibu yang frustasi, ketika dirinya dengan sudah payah hendak meminta maaf pada anaknya tetapi tidak dimaafkan dia lalu hendak bunuh diri? Sementara suami aslinya sudah tidak ada, dia hanya menginginkan darah dagingnya untuk ada bersamanya. Namun Tuan Frank menolak. Nyonya Elizabeth hendak bunuh diri tetapi Nona Grace mencegahnya dan malah Tuan Frank yang sebenarnya mendorong Nona Grace, jadi di sini seharusnya Nona Grace menuntut Tuan Frank." Kata pengacara Elizabeth dengan totalitas dan penekanan perasaan di setiap katanya agar mempengaruhi hati para hakim.
Dan suara riuh bisikan para penonton bertebaran di mana mana. Sementara Moses sudah mengusap keringat pada dahinya. Dia masih punya satu kesempatan untuk memenangkan kasus yaitu arsip bukti rekaman CCTV aksi anarkis Elizabeth di depan apartemen Grace dan Frank juga ketika pernikahan Egnor dan Claudia. Tetapi sayang sekali. Ketika penayangan rekaman itu diputar, sepertinya ada yang menyabotase atau meretas rekaman tersebut sehingga tidak memiliki suara. Hanya penggambarannya saja.
Moses lalu menjelaskan kronologi sesuai yang dikatakan oleh Egnor, namun karna seluruh alasan afeksi yang sudah didramatisir oleh Elizabeth dan si pengacara Japanis itu, Moses sudah kehilangan kepercayaan dari para hakim dan jaksa. Moses tidak cukup kuat karna pegangan dia juga sedikit dan ini sangat mendadak. Awalnya tidak seperti ini. Awalnya dia berdampingan dengan Egnor atau Egnor akan datang walau terlambat namun semuanya jadi berantakan.
"Keberatan hakim!" Tiba tiba si pengacara membantah.
"Silahkan!" Hakim Benedict mempersilahkan setelah Moses selesai menjelaskan.
"Hanya pernyataan seperti itu semua orang bisa menjelaskan dengan susuka hati dan saya pun juga bisa menjelaskan kalau Nyonya Elizabeth menggedor pintu apartemen Nona Grace dan Tuan Frank adalah karna dia tidak diijinkan masuk. Dia ingin terus meminta maaf pada Frank dan meminta pengakuan. Dia juga datang ke pernikahan itu hanya karna hendak menemui Frank dan Grace yang kala itu menjauh dan menghilan dari bayang bayang Nyonya Elizabeth, ibunya Frank. Jadi di sini sebenarnya Nyonya Elizabeth tidak bersalah. Ini hanya salah paham. Nyonya Elizabeth hanya menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang ibu yang sedang merasa bersalah." Kata si pengacara dengan sangta yakin kalau kliennya dapat bebas dari hukuman ini.
"Bagaimana Tuan Moses, apa ada lagi yang hendak anda sampaikan? Apa anda memiliki bukti lain atau saksi yang bisa didatangkan? Mengapa saya melihat anda hanya sendiri? Biasanya anda bersama rekan kerja anda?" Kata hakim Benedict yang sebenarnya mengetahui sidang ini akan dihadiri temannya seperti kemarin yaitu Egnor.
Moses sudah pasrah dan tidak tahu berbuat apa. Dia hanya menggeleng. Pernyataan dan bukti dikuatkan oleh alasan dengan perasaan yang lebih menyentuk. Sementara saksi kuatnya tidak muncul muncul.
Moses diam saja sementara si pengacra Japanis masih berbicara sedikit mengenai hubungan keluarga yang terkadang dapat terjadi perselisihan.
"...Namun, mengapa ada sampai hati seorang anak yang baru saja ingin menjadi bagian dalam hidupnya malah menuntut dan hendak menjebloskan wanita yang melahirkan kekasihnya ke dalam penjara? Sungguh sebuah ironi." Begitulah pernyataan si pengacara Japanis itu.
Di dalam tundukan Elizabeth tergurat senyuman sinis penuh kemenangan. Matanya berbinar binar dan senang bahwa dia akan kembali melanjutkan aksinya dan kini benar benar bahkan akan sangat menghancurkan Grace. Begitu juga dengan si pengacara yang menampilkan senyum kemenangan hanya dengan sebuah pernyataan afeksi dimana menjelaskan hubungan antara dua orang yang lebih dari sekadar rasa simpati atau persahabatan.
'Semua ini tidak ada apa apanya apalagi hubungan mertua dengan calon menantu yang penuh drama anak satu satunya itu. Sesuatu yang mudah.' gumam si pengacara Japanis sangat sangat percaya diri.
"Baiklah sudah kami putuskan semuanya. Silahkan hakim membacakan surat putusannya." Kata sang jaksa melanjutkan.
"Ya, dengan ini, dari segala pernyataan dari penasihat hukum penuntut dan juga penasihat hukum terdakwa, maka kami para hakim dan jaksa memutuskan kalau .." Hakim Benedict mulai berkata kata memberikan hasil keputusan, namun ..
"Tunggu duluu!!!!!" Tiba tiba seorang berteriak sambil membuka pintu ruang sidang. Seorang wanita berteriak dengan napasnya yang sedikit tersenggal dan memegang perutnya.
"Claudia, bisakah tidak terlalu gegabah? Kau sedang hamil!" Decak sebal Egnor yang dengan pelan menatih istrinya dari lapangan parkir sampai ruang sidang ini . Namun, Claudia yang sudah terbakar emosi. Egnor tidak menjelaskan kalau dirinya belum memberikan bukti yang ia punya. Egnor memang sengaja menahannya karna khawatir akan terjadi peretasan dan ternyta memang benar. Namun kondisi istrinya mengalahkan semua kasus yang ada di pikirannya. Dia terlalu protektif dengan keadaan Claudia yang bisa berubah ubah sewaktu waktu. Kehamilan kembar tidak sama dengan kehamilan biasa. Semua orang pun mengakuinya.
Semua mata tertuju pada pasangan itu. Ada buratan senyuman merekah di wajah Moses juga Benedict. Benedict sebelum nya sudah tahu, namun dia tetap harus menjalankan tugasnya. Mengerjakan semua seturut bukti dan pernyataan di sidang. Beginilah dunia hukum yang hanya perlu pembuktian dan pernyataan yang meyakinkan.
Sementara Elizabeth membuka matanya lebar lebar di bawah sana. Dia merasa itu Grace namun sependengarannya lagi suara laki laki itu adalah suara orang yang sesungguhnya ia takuti.
'Seharusnya sejak dulu, aku dan Ron menghabisi lelaki ini bagaimana caranya. Harusnya aku menghabisi pusat intinya. Tetapi aku malah membuatnya berkembang dan memiliki pasangan yang sama mengerikan bahkan dia mengandung. Mereka pasti akan menciptakan orang orang yang berbahaya bagiku dan Ron. Sial!!!!!' Elizabeth malah masih bisa berpikiran hal keji dan tak pantas.
"Tunggu dulu! Aku, aku memiliki bukti kongkrit kalau sebenarnya wanita yang seharusnya kita nobatkan sebagai wanita fenomenal di dunia ini nyatanya malah mau menghancurkan darah dagingnya sendiri. Cucunya sendiri." Gertak Claudia menunjuk ke arah Elizabeth dan napasnya terus tersengal tak karuan.
"Clau, tenang!" bisik Egnor memperingati yang sudah berdiri mendampingi Claudia.
"Apa maksudmu dengan tenang kak?!" Claudia mendelik dengan maksud suaminya yang tiba tiba menjadi melunak hanya kena kondisi dirinya. ya, Egnor memang memikirkan semuanya
"Langsung saja berikan rekamannya, kau tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk memarahi batu karang yang diterpa badai sekalipun tidak akan terkikis!" Jawab Egnor seperti biasa dengan tenang namun tetap mengena ke pusat sasaran.
"Ah, kau benar kak!" Claudia segera meraih ponselnya dan memberikannya pada Moses. Moses yang menyalakan rekaman yang sudah Claudia tunjukan.
Dan suara suara Elizabeth mulai berkumandang di dalam ponsel Claudia.
REKAMAN SEWAKTU ELIZABETH BERTEMU DENGAN CLAUDIA DI DEPAN APARTEMEN LAMA FRANK & GRACE SEKITAR SATU BULAN YANG LALU (bisa dibaca di part 59)
________________________________________
__ADS_1
"Hah, kau temannya?! Cepat suruh teman mu keluar dari apartemen anakku karna dia tidak pantas menjadi ibu dari cucuku! Aku tidak mau! Cuih! Dasar anak yatim piatu yang tidak bermoral! Cepat cepat suruh dia!!!"
"Apa kau bilang? Pengacau? Kau siapa hah? Aku Elizabeth, ibunya Pengacara Frank Leonard, pengacara nomor dua paling handal di Honolulu. Kau siapa?!"
"...Aku tidak akan pergi dari sini sampai si wanita murahan di dalam ini PERGI DARI KEHIDUPAN ANAKKU!"
"Untuk saat ini aku melepaskan temanmu yang murahan itu dan kau! Aku tidak akan diam, sampai kapanpun aku tidak akan Sudi dia menjadi menantuku!!!"
Dan satu lagi yang menguatkan rekaman tersebut adalah suara dari security apartemen tersebut :
"Nyonya itu sudah hampir setiap hari mendatangi apartemen ini nyonya. Aku sampai kasihan dengan Nyonya Grace. Pasalnya dia sedang hamil."
______________________________________
Bisikan dan cibiran kembali berkumandang memenuhi ruang sidang menjadikan suasana nya panas.
"Mengapa bukti ini tidak dilampirkan lebih awal Tuan Moses?" tanya hakim Benedict karna bukti ini benar benar begitu kental dan jelas. waktu itu, sebenarnya Claudia sudah sangat curiga, jadi dia memanfaatkan kecanggihan ponsel limited editionnya di mana dapat melakukan standby aplikasi bilamana ponsel tersebut juga mendapatkan kegiatan lain. Claudia hanya iseng merekam untuk menguji kecanggihan ponsel barunya.
"Biarkan saya memanggil saksi saya satu satunya Tuan hakim dan dia yang akan menjelaskan. Tuan Egnor Jovanca." Kata Moses memanggil Egnor namun belum saja Egnor membenarkan posisi duduk istrinya , sebuah suara muncul lagi dari pintu ruangan tersebut .
"Aku juga ingin menjadi saksi yang biarlah ini menjadi sebuah bahan yang tidak masuk akal. Ya, ironi di dalam ironi." Kata seorang pria mendorong sebuah kursi roda dengan seorang wanita di atasnya. Frank dan Grace datang.
Elizebeth akhirnya menampakan wajahnya. Dia mendongakan wajahnya mendengar suara seorang pria yang seharusnya saat ini melindungi atau sekedar membelanya. Namun, malah menyerangnya dan mengharapakan hukuman yang besar bagi dirinya. Air mata Elizabeth pun mengalir.
"Cih, baru sekarang di menangis untuk Frank atau hanya meminta belas kasih?" Claudia berdecih memperhatikan respon Elizabeth mendengar suara Frank.
Grace sebelumnya sudah sadar setelah Frank selesai mengadakan pernikahan. Awalnya dia sangat shock karna kehilangan anak mereka. Grace manangis seharian dan disusul juga permintaan maaf dari Frank. Satu harian mereka di dalam ruangan ICU itu sampai Frank sudah seperti penghuni ruangan intensive itu karna mungkin hati dan pikirannya juga sudah mengalami komplikasi yang parah. Semua suster dan dokter merasa kasihan dengan pasangan ini. Egnor dan Claudia terpaksa harus menceritakan semua kejadiannya sampai mereka akhirnya membiarkan Frank melepas rindu dengan terus menemani dan menenangkan Grace yang menangis pilu karna dia tidak bisa menjaga anaknya.
Dalam kesedihan seperti itu, yang membuat Frank semakin jatuh cinta dengan istrinya, Grace tidak menyalahkan siapapun. Grace pun tidak menyalahkan wanita yang kini menjadi mertuanya. Dia malah menyalahkan dirinya.
"Aku menyesal dengan semua ini Frank. Aku yang tidak bisa menjaga anak kita. Sejak awal kehamilan, aku merasa enggan dengan dirinya. Seharusnya aku yang harus disalahkan dengan semua ini. Betapa dia tidak mengerti apa apa namun aku langsung tidak menginginkannya. Anak kita hanya butuh perlindungan kita. Dia lahir pun belum, bagaimana dia melindungi dirinya. Aku adalah ibunya, seharusnya aku yang menjaganya. Aku yang merawatnya. Bukannya malah terkadang aku tidak mau makan agar semuanya berakhir dan benar sekarang sudah berakhir. Aku yang membunuh anak kita, aku ibunya , akuuu!!!!" Grace menangis menutup wajahnya menyesali dirinya yang juga berencana mengugurkan anaknya. Frank pun ikut menangis di atas punggung tangan istrinya.
"Sekarang dia sudah menuruti ku. Dia sudah menjadi anak yang berbakti. Dia tidak mau membuatku bersedih dan terbeban. Dia meninggalkan kita untuk membuat kita bahagia. Untuk membuat ibumu bahagia Frank. Dia benar benar anak dan cucu yang sangat luar biasa. Maafkan aku anakku. Maafkan mommy!!" Grace menyandarkan dirinya ke tempat tidur.
"Aku tidak bisa memaafkanmu Frank karna bukan kau yang salah. Kau tidak usah meminta maaf padaku. Seharusnya aku yang meminta kesempatan sekali lagi untuk bisa menjaga dan merawat anakmu. Sekali lagi asal kau menginginkannya. Asal kau masih mencintaiku
"Aku mencintaimu Grace! Lihat tanganmu sayang! Ini cincin pernikahan kita. Aku mau, aku mau kau sekali lagi menjaga dan merawat anak kita. Kita berdua dan kupastikan tidak ada lagi penganggu. Kau suka kan Grace." Frank meraih angan Grace yang memang belum menyadarinya dan menunjukannya pada Grace. Grace mencoba memandangnya. Cincin berlian yang begitu indah yang pertama kali ia lihat.
Ya, akhirnya dirinya menikah dengan Frank. Pria satu satunya yang ada dipikirannya, di hati nya dan di relung jiwanya. Yang terus memanggil namanya ketika dirinya koma tak sadarkan diri. Grace merasa tidak pantas marah atau meninggalkan Frank. Grace merasa dirinya harus bersama Frank. Harus bisa saling melengkapi di tengah kebobrokan keluarganya. Grace harus menjadi hawa sejuk di tengah panasnya masalah yang selalu menyelimuti Frank.
...
...
...
...
...
Walah beb sukses diriku nangis lagi dan sepertinya harus ku jeda dulu Uda kepanjangan haha berarti satu lagi bab nya gapapa yak tanggung haha 😁😁
.
Next part 6
Penentuan akhir
Apa yang akan dilakukan Grace yang hatinya selembut bulu merpati dan Frank yang hatinya sudah menjadi lautan api terhadap ibunya?
Apa Grace akan mengasihani ibunya atau Frank yang bersih keras menhukum sejatuh jatuhnya ibunya?
Ini merupakan konflik terbesar antara anak dan ibu juga memilih anatara wanita yang melahirkan atau wanita yang akan menjadi teman hidup sampai maut memisahkan?
Dan bagaimana masa depan hubungan Frank dan Grace?
Satu lagi part yang akan membuat kita menyaksikan sebuah cinta sejati.
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤
__ADS_1