Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 50: Pengakuan


__ADS_3

Egnor merangkul tubuh Claudia dengan bangga menuju ke basement parkir. Senyum pengacara handal itu mengembang lebar karena berhasil membuat wajah Richard seperti kalah telak. Claudia masih terheran dengan kata kata suaminya. Dia hamil? Apa yang membuat Egnor menerka kalau dirinya hamil? Apa karena dia ingin, dirinya seperti Grace?


Claudia mendongakkan kepalanya menata suaminya yang tersenyum senyum membuatnya sangat curiga. Dia menaikan alisnya. Claudia merasa Egnor sedang melakukan sebuah kelicikan hati.


"Ya!" Claudia menepuk dada Egnor dan menghentikan langkahnya. Egnor sedikit terkejut dan melirik tajam Claudia. Senyumnya seketika sirnah karena sepertinya Claudia akan kembali mengamuk mungkin.


"Ada apa denganmu kak?" Tanya Claudia sedikit geram.


"Ada apa bagaimana?" Egnor kembali bertanya


"Mengapa di depan Richard kau mengatakan aku hamil?" Selidik Claudia memastikan.


"Bisa saja kan?! Kau kan wanita bersuami!" Tutur Egnor dengan santai dan sedikit menunduk menekankan kata 'bersuami'.


"Kau cemburu kan?" Claudia menaikan alisnya menantang keberanian suaminya.


"Sepertinya aku pernah mengatakan kalau tidak ada kata cemburu di kamus hatiku! Sudahlah, ayo kita ke rumah sakit, cek kandungan!" Ujar Egnor kembali dengan penekanan sedikit terkekeh.


"Tidak mau! Aku tidak hamil!" Dengus Claudia memalingkan wajahnya.


"Baiklah, kalau begitu kita kembali ke apartemen, ada yang perlu kita lakukan agar kau hamil, haha!" Saut Egnor berjalan meninggalkan Claudia yang masih kesal dengan suaminya. Dia kesal karena suaminya masih menjaga harga dirinya dan tidak mau mengakui perasaannya yang sangat tampak.


Claudia akhirnya mengikuti suaminya menuju ke mobil dan kembali ke apartemen mereka.


Sesampainya di apartemen, baru saja Claudia menutup dan mengunci pintu apartemen mereka, Egnor meraih pinggang kecil istrinya itu. Dia mengecup bibir Claudia dengan cukup bersemangat. Claudia sangat terkejut dengan perilaki Egnor yang tiba tiba menyerang seperti ini.


"Kak, kak, kau kenapa hah?" Tanya Claudia mencoba mendorong tubuh suaminya hendak meminta penjelasan apa yang sebenarnya Egnor rasakan.


"Aku ingin dirimu!" Katanya lalu kembali mengecup bibir Claudia.


"Aku tidak mau jika kau terlalu kasar begini kak!" Claudia kembali mendorong Egnor namun tetap tak bisa lepas dari pelukan suaminya.


"Haiz! Kau kenapa Clau?! Sepanjang hari kau terus menolak dan marah padaku, kau kenapa hah?" Akhirnya Egnor yang melepas pelukannya.


"Tidak ada! Aku hanya ingin membuatmu merasakan bagaimana jadinya kalau aku tidak ada?!" Claudia hanya hendak menguji hati suaminya itu. Sejatinya dia ingin kata kata lembut seperti dulu dari Egnor, namun memang agak sulit.


"Apa maksudmu? Kau mau meninggalkanku?" Decak Egnor menolak pinggangnya.


"Tidak! Aku hanya ingin membuat kau semakin mencintaiku jika kau merasa aku tidak ada!" Jawab Claudia sesuai keinginan hatinya.


"Haaahh, kau tidak jelas! Kemari kau!" Egnor tidak mempedulikan kata kata istrinya yang tidak masuk akal. Bisa bisanya dia ingin menguji dirinya. Egnor menarik tangan Claudia dan memasuki kamar mandi.


Egnor membuka dengan kasar seluruh pakaian yang dikenakan Claudia. Dia lalu menyalakan shower sehingga membasahi kedua tubuh mereka.


"Clau, kau cantik sekali. Kau mau aku seperti apa, hem?" Tanya Egnor sudah mendekatkan dirinya dan meminggirkan rambut rambut halus yang menutupi dahi istrinya.


Claudia masih menatap datar suaminya. Dia agak bingung dengan pemikiran suaminya yang suka berubah ubah. Dan sebenarnya, Claudia membutuhkan pengakuan perasaan Egnor yang bersalah padanya.


"Mengapa kau diam? Apa kau tidak mencintaiku lagi Clau? Karena aku memanfaatkanmu untuk membuat Richard cemburu?" Selidik Egnor lembut dan mengelus elus pipi mulus istrinya.


"Aku masih marah padamu karena kau terlalu dekat dengan Kate!" Claudia ingin permintaan maaf. Rasanya sangat menggemaskan jika suaminya melakukannya.


"Oh Tuhan! Baiklah, aku minta maaf. Bukankah aku sudah membelamu dan menunjukan padamu kalau kau milikku. Kau tidak menyadari ketika aku mengatakan dirimu hamil pada Richard?" Egnor menghela napas dan berkata kata sambil memeluk erat Claudia.


"Benar kau mau membuatnya cemburu?"

__ADS_1


"Ya benar! Aku tidak mau kehilangan dirimu Clau, sedikit saja aku tidak mau orang lain mengambilnya dariku!" Tutur Egnor yang akhirnya membuat istrinya itu tersenyum.


"Aku mencintaimu kak!"


"Aku juga!"


Dan Claudia pun juga mulai melucuti kemeja Egnor dan seluruh benang yang menempel di tubuh suaminya. Mereka bergulat di bawah guyuran shower dengan penuh gairah dan Egnor merasakan sepenuhnya tubuh Claudia. Meski masih ada hal yang ditutupi Claudia, Egnor sudah merasa Claudia akan tetap bersamanya. Ini hanya masalah waktu dan semoga Egnor dapat menerimanya. Mungkin Egnor memang harus bertemu dengan Richard. Bisa saja pria itu memang sedang berusaha kembali mendekati istrinya. Egnor hanya ingin memberi peringatan pada Richard. Cukup sudah dia memenjarakan dirinya. Dia ingin membuat Richard tahu kalau dirinya kini bisa sepertinya, bahkan lebih.


...


Sementara itu Richard terus memikirkan Claudia. Dia memikirkan kondisi pernikahan Claudia. Dia pikir, Egnor akan keras hati dan melepaskan mantan istrinya itu. Dia merasa, Egnor tidak bisa memberikan kasih sayang yang dibutuhkan Claudia. Jadi, dia sempat berpikir untuk mendapatkan hati Claudia lagi. Dia ingin mendekati wanita itu selayaknya pria dan wanita dan melupakan masa lalu. Dia baru saja menyadari semua kebaikan Claudia yang pantas untuknya. Menurutnya hanya Claudia wanita terbaik dan cocok untuk menjadi teman hidupnya.


Namun, Egnor baru saja mengatakan kalau Claudia hamil. Bagaimana bisa dia lagi dia hendak mendapatkan Claudia? Hem, semua perkara ini sungguh membuatnya sedikit pening. Setiap hari dia memikirkan wanita itu. Tapi, dia juga tidak ingin menyakitinya. Jadi Richard memang berencana perlahan mendekati Claudia.


"Kevin, turunkan aku di Club Avenue di depan!" Pinta Richard menunjuk neon box plang Club itu


"Kau mau apa Tuan?" Selidik Kevin. Kevin sedang meminimalisir konsumsi alkohol dalam tubuh Richard.


"Ada seorang teman yang hendak bertemu denganku." Jawab Richard berbohong.


"Mau kutemani?" Kevin menawarkan.


"Tidak usah! Kau terus saja mengantar berkas penting ini pada dad, kau kan tahu dia tidak suka menunggu. Nanti aku akan menghubungimu jika sudah mau pulang." Saut Richard dan Kevin menyetujuinya.


Richard berbohong pada Kevin. Dia hendak menghilangkan penat dan menenangkan dirinya hanya sendiri. Menikmati minum sambil mendengarkan live music di Club yang sering ia datangi tanpa sepengetahuan Kevin.


Richard sudah memesan satu botol whiskey dan beberapa cemilan. Dia memilih sofa agak menjorok ke sudut ruangan. Dia agak khawatir beberapa temannya mungkin kesini dan menyadari lalu memberitahukan pada Kevin . Dia sudah malas dengan ceramahan dan nasihat ayahnya apa lagi sekarang ibunya datang mengunjunginya. Richard di sini memang tinggal bersama ayahnya dan ibunya tinggal di Oriental. Mereka masih memiliki darah keturunan kebangsawanan di Oriental dan Honolulu ini.


Sudah hampir setengah Richard menghabiskan minumannya. Dia melihat lihat sekitar sambil mengangguk anggukan kepalanya mengikuti irama lagu. Ketika itu juga dia menangkap sosok wanita yang ia kenal duduk di meja bar. Wanita itu tampak frustasi dan sepertinya sedang menegak wine berkali kali.


"Kate?" Pekik Richard sedikit menerka. Dia lalu melihat jam tangannya dan ternyata waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Memang setelah dari kantor pengacara Egnor, Richard masih harus pergi ke stasiun TV untuk menjadi bintang tamu. Dia tidak begitu memperhatikan waktu.


"Kate?" Panggil Richard ikut duduk di samping teman kuliahnya itu. Kate menoleh namun nampaknya dia sudah setengah mabuk.


"Kau? Kau Richard? Atau kak Egnor?" Kate sedikit menyipitkan matanya.


"Cih!" Richard terkekeh mendengar terkaan Kate.


"Kenapa kau tertawa?" Selidik Kate tak senang.


"Kau masih menyukai Egnor?" Richard bertanya dengan nada meledek karna tak menyangka kalau juga ada orang yang sama sepertinya. Mengharapkan yang tak sejalan dengan hatinya.


"Lantas?" Kate menaikan alisnya.


"Sudah berapa kali dia menolakmu dan terus mengatakan dia mencintai seorang wanita. Kau tahu kan siapa wanitanya?" Richard mencibir Kate mencoba mengingatkan siapa pria yang ia sukai itu.


"Ya ya ya, aku sangat tahu! Sekarang wanita itu yang menyebabkan Egnor membenciku! Aku tidak menyangka wanita polos dan lugu itu membentak bentakku! Kurang ajar!" Dengus Kate menegak kembali wine nya.


"Kau serius? Tidak mungkin Claudia membentakmu!" Richard menatap Kate kembali tak percaya.


"Dia menantang ku! Dan kau? Kenapa kau masih membelanya? Dia juga menolakmu! Pecundang!" Kate meremehkan Richard.


"Dia tidak mencintaiku Kate." Gumam Richard memain mainkan gelas minum nya.


"Kalau kau bisa lembut sedikit dengan wanita, kau bisa mendapatkannya! Sekarang mereka bersama! Seharusnya Egnor bersamaku!"

__ADS_1


"Sudahlah! Kita harus mengalah !! Lebih baik ku antar kau pulang." Richard hendak beranjak namun Kate menahannya dengan suaranya.


"Tidak mau! Aku mau disini sampai Egnor yang menjemputku!" Kata Kate frustasi.


"Heng, tidak waras! Egnor tidak akan menjemputmu, dia sedang ke rumah sakit memeriksa kandungan Claudia!" Richard kini membalikan tubuhnya bersandar pada meja bar.


"Whaaatt?!!! Claudia hamil?" Kate menaruh kasar gelas wine nya.


"Sudahlah Kate, biarkan mereka berdua bersama! Kau juga harus mencari pria lain." Kata Richard mencoba menguatkan teman kuliahnya itu. Mereka sebenarnya cukup dekat.


"Kau bisa menasihatiku, sedangkan dirimu, kau bisa melupakan Claudia atau tidak? Dia pernah menjadi istrimu sir! Kau masih bisa mempertahankannya! Apalagi jika hanya surat perceraianmu tidak kau ajukan! Dia masih menjadi istrimu!" Kata Kate lagi yang sedikit sudah mengetahui kisah cinta Richard.


Seketika Richard menatap tajam Kate. Entah apa yang Kate rencanakan namun perkataan Kate cukup masuk akal. Apakah dia masih bisa memiliki Claudia dengan surat yang tak bersegel resmi itu? Richard mulai bingung dan juga merasakan pergumulan melingkupi hatinya. Dia tidak mau seperti dulu. Tapi, dia tidak bisa membohongi dirinya kalau dia masih mengharapkan Claudia.


Kate tersenyum masam, dia menangkap pancaran mata Richard yang masih menginginkan Claudia. Ini merupakan kesempatan baginya untuk bisa kembali dekat dengan Egnor.


"Bicaramu sangat asal Kate! Aku pulang, terserahmu masih ingin disini atau tidak!" Decak Richard beranjak dari duduknya namun Kate menahan tangannya.


"Richard !! Bantu aku! Bantu aku mendapatkan Egnor kembali!" Seru Kate dengan nada serak dan menenggerkan kepalanya di atas meja bar.


...


...


...


...


...


entahlah apa yang terjadi padamu Kate 😁😁


.


next part 51


maafkan kalau vii perpanjang kisah dan konfliknya tapi menuju ke lahiran Viena dulu yaa 😍😍


apakah Richard akan membantu Kate?


benarkah dia akan menggunakan surat yang tampaknya sudah tidak berlaku lagi?


bagaimana pertemuan Egnor dan Richard?


.


aku ada post 1 lagi nanti maleman ya hehe sama mau ngerayain 50 episod haha 😁😁


.


pada akhirnya jangan lupa kasih LIKE dan KOMEN .. komen apapun vii akan terima, jadi tidak usah menahan nahan diri . sebisa mungkin diriku memaknainya dengan positif ayayaya 😘😘


kasih juga RATE dan VOTE di depan profil novel ya 😍😍


inga inga novel ini akan update setia hari 😊😊

__ADS_1


.


akhir kata selamat membaca and i love you somuch 💕💕


__ADS_2