Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 160: Affection


__ADS_3

Percayakah kalau Kasih masih di atas segala galanya dari cinta. kasih itu lebih luas. kasih itu sabar, memberi, menerima dan menghormati satu sama lain. Claudia mencoba melakukan itu pada Egnor karena dia merasa Egnor seperti ini karena dirinya. dirinya yang sejak awal selalu meninggalkan Egnor sehingga membawa luka di dalamnya. seiringnya waktu, Claudia percaya, dengan berpikir positif, mereka pasti akan kembali bersama. lalu, bagaimana respon Egnor padanya?


...


Egnor pulang cukup larut karena ternyata Andreas Morris datang memberi kejutan dan memberi penghargaan bagi Egnor yang telah menjadi penyelamat untuk memperjuangkan Honolulu. Oleh sebab itu, Gabriel bersi keras membuat Egnor melakukan peresmian pengacara yang diberikan United Nation pada kantor pengacaranya.


Setelah itu Egnor mau tidak mau harus menemani beliau bicara, makan malam dan kembali berbincang bincang dengan lainnya. Di sana juga diundang Kepala Polisi Devon, Bertho, Frank, Eleazar, Alex, Benedict sampai Gerrardo dan semua orang penting lainnya. Gabriel juga mengundang Dion dan Leon untuk datang tapi karena sudah terlalu lama meninggalkan perusahaan, mereka menitip salam saja.


"Selamat malam, Gabe!" ucap Egnor menuruni mobil. Besok Gabriel akan kembali menjemput .


"Selamat malam, tuan, besok pagi jangan lupa ada pertemuan bulanan seluruh pegawai tuan," kata Gabriel mengingatkan.


"Hemm..."


Egnor pun melangkahkan kakinya memasuki rumah ayahnya. Dia berpikir kalau Claudia pasti sudah kembali ke apartemen. Ternyata ketika dia memasuki rumah, dia menangkap sesosok wanita tertidur di sofa. Wanita itu tak lain adalah Claudia.


"Dia menunggumu, nak. Dia tidak bisa menghubungi ponselmu. Aku sudah bilang untuk tidur di kamarmu atau di kamar Anne bersama si kembar tapi dia tidak mau. Dia mau menunggumu. Em, apa kau belum memaafkannya?" ujar Johanes keluar dari kamar melihat anaknya kembali.


Egnor tidak menjawab apapun. Dia bahkan lupa kalau dia membawa ponsel. Ternyata ponsel Egnor off karena lupa mengisi baterai.


"Baterai ponselku habis, dad," kata Egnor memberitahu.


"Pantas saja dia tidak menghubungimu, baiklah aku kembali tidur. Sebaiknya kau pikirkan rumah tanggamu, jangan seenaknya! Claudia wanita baik!" Kata Johanes lagi dan memasuki kamarnya.


Egnor menarik napas dan menghampiri Claudia. Dia mengelus wajahnya dan terus menatapnya.


"Apa kau mengerti perasaanku, Clau? Bagaimana aku waktu itu sangat takut kalah kau pergi dan tak kembali lagi? Entahlah, kau tahu atau tidak. Yang aku tahu, aku hanya ingin menjadi satu satunya yang ada untuk mu atau sebaliknya. Maafkan aku yang keras hati. Aku hanya takut!" Gumam Egnor pelan. Akhirnya dia menggendong Claudia menuju ke kamarnya. Dia membaringkan Claudia dan sepertinya Claudia sangat lelah sehingga dia tidak terbangun.


Egnor hanya melepas jasnya dan langsung tidur bersama istrinya. Dia mendekap Claudia.


"Kak, kau sudah pulang?" kata Claudia merasa kalau dirinya sudah pindah tempat tidur.


"Ya, dan aku mengantuk, tidurlah," balas Egnor sudah memejamkan matanya.


Claudia merasa kalau suaminya sudah kembali seperti semula. Dia berharap sangat berharap dan ikut memejamkan matanya.


Paginya lagi lagi dia sudah tidak menemukan Egnor. Claudia melihat jam sudah pukul 8 pagi. Kemarin memang dia bermain bersama Wil Wil sampai mereka berdua lelah. Wil Wil sudah bisa merangkak. Claudia dan Anne membebaskan mereka. Mereka juga sudah bisa makan buah buahan dalam bentuk jus atau bubur. Claudia semangat sekali sampai sampai membuat Frozen baby food untuk Wil Wil jika Claudia belum sempat kemari.


Selama Egnor belum memutuskan apa apa lagi, Claudia ragu mereka sudah bisa seperti dulu apa belum. Claudia tidak mau berharap.


Claudia menuruni lantai atas dan melihat di sana Johanes sedang menikmati kopi dan Wil Wil sedang bermain di kursi makan mereka masing masing sambil Anne dan Emma menyuapi mereka bubur bayi.


"Se, selamat pagi, dad, aunty and good morning Wil Wil ku?" sapa Claudia memberi salam.


"Moning," saut Willy.


Johanes melirik Willy dan tersenyum lebar.


"Wilson? Moomy morning?" Kata Johanes menguji Wilson.


"Mommy moning?"


"Gooooddddd!!! Give me five!" Kata Johanes lagi. Johanes memang begitu bersemangat jika melihat kedua cucu nya tampak ceria. Seketika dia mengingat Dior. Beberapa kali Johanes bermain bersama Dior yang sangat interaktif.


"Hem, Claudia selamat pagi. Suamimu sudah berangkat pagi pagi sekali karena ada pertemuan bulan. Kau temui saja di kantor sambil membawakannya makan siang," kata Johanes menyampaikan pesan Egnor pada menantu nya.


"Ya dad. Maafkan aku bangun terlambat dad, aunty. Emma maafkan aku," kata Claudia lagi.


"Tidak masalah nyonya, sebaiknya anda membersihkan diri," saut Emma.


Claudia mengangguk dan segera membersihkan diri. Setelah memastikan Wil Wil terlelap, Claudia segera memasak untuk Egnor. Dia masih harus memastikan dengan perasaan suaminya.


Ternyata sesampainya di kantor, Egnor tidak ada. Yang ada hanyalah Lina. Lina mengatakan kalau Egnor ke kantor pemerintah karena ada sebuah proyek yang hendak dilakukan dan meminta Egnor untuk terlibat.


"Kapan dia kembali, Lina?" tanya Claudia.


"Tidak tahu nyonya, mungkin sore atau kalau sudah terlalu lama, tuan Egnor akan langsung pulang," kata Lina memberitahu.


"Baiklah, aku mencoba menunggu,"


Claudia menunggu sekitar satu jam dan memutuskan untuk menghubungi Egnor. Claudia agak gugup karena Egnor mengangkatnya.

__ADS_1


"Kau, kau, kau di mana kak?" tanya Claudia terbata karena tidak menyangka Egnor mengangkat panggilannya.


"Di restoran sedang makan siang," jawab Egnor singkat.


"Oh, aku membawakanmu makan siang, aku pikir kau ada di kantor," kata Claudia memberitahu.


"Berikan saja pada Lina, kalau sempat aku kembali," saut Egnor.


"Apa kau tidak akan kembali?" selidik Claudia sedikit melemah.


"Tidak tahu, aku masih banyak pekerjaan," kata Egnor.


"Tapi kita belum bicara kak,"


"Masih banyak waktu, kau tidak usah terlalu memikirkannya. Jalankan saja apa yang kukatakan kemarin. Berikan ASI ke kantor setiap hari dan tiga hari sekali kau boleh menemui Wil Wil. Kemarin dispensasi karena kau terlibat pertengkaran. Apapun yang orang lain katakan jangan terpancing, percaya saja pada hati Dan cintamu kalau memang kau masih sangat mencintaiku!" tutur Egnor dengan nada datar.


"Tapi kak ..."


"Clau, aku harus makan dan kembali bekerja, apa kau tidak bisa mengerti?" saut Egnor masih dengan nada datarnya yang sudah menjadi ciri khas seorang Egnor.


"Hem, baiklah, semangat bekerja suamiku," ucap Claudia menggoda.


Deg!


Perasaan Egnor agak berkecamuk. Sampai kapan hatinya akan membeku seperti ini. Seperti masih ada jarum yang menusuk pikirannya dan ingatan itu terus membayanginya.


"Hemm ...!" Saut Egnor dan mematikan panggilan.


Claudia tersenyum walau belum ada kepastian apa apa. Claudia memutuskan akan terus mengambil hatinya. Egnor pasti luluh padanya. Claudia percaya hanya dia yang Egnor cintai. Ini mungkin hanya ujian agar dirinya bisa berjuang dan mengerti dengan sifat suaminya atau tidak.


Claudia menitipkan makanan itu ke Lina dan dia kembali ke mansion Richard dan Lisa. Lisa mengatakan kalau mereka berdua ada di sana.


"Egnor sudah memaafkan mu?" tanya Lisa memastikan.


"Entahlah, dia masih agak acuh padaku, tapi setidaknya dia sudah mau tidur denganku," jawab Claudia tersenyum .


"Kalian sudah tinggal bersama?" selidik Lisa lagi.


"Hem, pantas saja kau tidak pulang, aku pikir kau sudah bermesra mesraan," saut Lisa menggoda.


"Belum. Tidak apa apa Lisa. Aku akan kembali meluluhkannya. Setiap hari aku aku menemuinya. Ya hitung hitung kami berpacaran kembali. Bukan begitu?" gumam Claudia dengan wajah segar.


"Kau benar. Semangat! Tapi Clau kau harus membantuku," kata Lisa kemudian.


"Membantu apa?" tanya Claudia.


"Aku dan Richard akan menikah," kata Lisa.


"Kau serius Lisa? Kali ini benar terjadi?" Claudia memastikan. kemarin hanya akting saja.


"Bulan depan. Tidak ada pertunangan. Langsung menikah! Aku takut terjadi halang rintang membentang," Lisa terkekeh.


"Haha, kau bisa saja! Baiklah, apa yang bisa kubantu?" tanya Claudia antusias dengan pernikahan sahabatnya ini .


"Pilihkan katering dan taman yang bagus. Aku berpikir menggunakan taman motel Prime iparmu Clau. Satu Minggu ini aku masih harus menyesuaikan diri dengan rumah sakit. Aku harus kembali bekerja. Dan aku ada sebuah penelitian. Aku harus ikut. Aku tidak enak. Richard juga hari ini sudah kembali bekerja. Dia baru saja pergi ke stasiun tv. Jadi, aku sangat meminta bantuanmu," kata Lisa menjelaskan.


"Oh iya, kau tenang saja. Aku akan mencari katering yang enak untuk kalian," Claudia tersenyum.


"Tapi Clau, bisakah kah menyembunyikannya dari Lina dan ibuku? Aku akan memberikan surprise. Hem, kalau bisa dari siapapun. Kau tahu kan Richard cukup terkenal. Aku takut ada yang menyimpan dendam seperti suamimu padanya haha," tambah Lisa meminta Claudia untuk tutup mulut.


"Kak Egnor tidak sejahat itu Lisa," dengus Claudia membela suaminya.


"Who knows!"


Mereka pun tertawa dan masih berbincang. Claudia tetap tinggal bersama Lisa. Terkadang mereka berdua kembali ke rumah ibunya. Setiap hari Claudia mengunjungi Egnor pada siang hari. Kadang Egnor ada kadang tidak ada. Dan kalau waktunya Claudia menemui Wil Wil, Egnor ikut bersama.


Egnor masih cukup acuh padanya dan jarang banyak bicara. Kekecewaan itu masih mendarah daging. Di saat dia membutuhkan tempat untuk mengadu dan mencurahkan segala kebingungannya, dia tidak menemukan tempat itu. Di saat beban yang harus ia pikul dapat diringankan, dia tidak merasakan itu. Dia malah merasa terus sendiri dan sendiri. Kini, Egnor ingin tahu bagaimana Claudia menanggapi ini semua.


Sudah satu Minggu Claudia menjalani ini, sepertinya makin lama ada kemajuan. terkadang Claudia juga menginap di rumah Johanes.


Seperti sekarang Claudia berhasil menemui Egnor kebetulan hanya ada jadwal pagi.

__ADS_1


"Bagaimana rasa masakan ku kali ini? Sejak kemarin kau mengatakan tidak begitu enak melulu, sekarang apa yang kurang?" Tanya Claudia siang itu yang kebetulan Egnor tidak memiliki jadwal apapun.


"Lumayan," jawab Egnor masih terus menyeruput chicken noodle itu.


"Apa sudah mirip dengan buatan Viena?" tanya Claudia lagi.


"Di mana kau memasaknya? Kudengar kau tidak tinggal di apartemen!" tanya Egnor melirik Claudia.


"Karena kau tidak ada, aku tidak mau! Aku terus memikirkanmu! Aku tinggal bersama Lisa dan Lina," jawab Claudia akhirnya memberitahu.


"Lina tidak mengatakan apapun. Bilang saja kau tinggal di mansion mantan suamimu kan?" gumam egnor menyindir.


"Kalau Lina memberitahumu maka kau akan berpikir yang macam macam , lebih baik aku yang beritahu. Kau bisa bertanya pada nya nanti," jawab Claudia dengan tenang.


Egnor hanya menaikan alisnya. Namun, dia tetap merasa Claudia selalu bertemu dengan Richard. Egnor pun memandangi istinya itu.


"Kak Egnor, mengapa kau memandangiku?" selidik Claudia memperhatikan mata Egnor.


Egnor menggeleng.


"Kak, sampai kapan kita begini? Apa belum cukup kau menghukumku? Apa sebenarnya kau sudah mempunyai penggantiku?" selidik Claudia memicingkan matanya. dia berharap kata kata yang manis dari suaminya.


"Tidak! Terserah kau percaya atau tidak! Aku sudah selesai makan dan sudah tidak ada jadwal. Kita bisa menemui Wil Wil bersama," kata Egnor beranjak dari duduknya.


"Oke! Aku sudah menantikannya,"


Claudia dan Egnor menuruni gedung dan menuju ke basement. Egnor sudah meminta kunci mobil pada Gabriel karena ingin pergi ke rumah orang tuanya berdua saja dengan Claudia.


Mereka bermain bersama. Wil Wil sangat bersemangat karena mereka melihat kedua orang tuanya bersamaan. Ketika sore menjelang, Claudia yang merasa belum ada kepastian harus pulang dari sana. Claudia meminta ijin pada Johanes, Anne dan Emma. Tentu saja pada Egnor yang saat itu sudah duduk di sofa memeriksa email yang ada di ponselnya. Claudia hendak ke rumah Lisa.


"Kak, aku pulang, besok aku akan kembali mengantarkan makan siang untukmu," kata Claudia meminta ijin. Egnor mengantungi ponselnya dan melirik istrinya.


"Aku akan mengantarmu," saut Egnor beranjak, mengambil kunci mobil dan keluar rumah.


Claudia sangat yakin kalau sebentar lagi Egnor pasti akan kembali seperti semula.


Sesampainya di depan rumah Lisa, suasana masih canggung. Egnor diam saja sepanjang perjalanan dan Claudia juga bingung mau berbicara apa. Dia takut kalau Egnor malah mendiaminya.


"Kak," panggil Claudia.


"Turun dan beristirahatlah," kata Egnor tetap melihat depan jalan.


"Terimakasih Egnor, sudang mengantarku," ucap Claudia menggoda.


Egnor menoleh dan menatap Claudia yang tersenyum padanya.


"Jangan memancingku," kata Egnor.


"Sepertinya kita belum pernah melakukannya di mobil," kata Claudia lagi menggigit bibir bawahnya.


Egnor menarik napas. Wanita ini memang mempunyai banyak cara untuk merenggut semua kekecewaannya sehingga dia harus terpaksa melupakan luka seperti apa yang sudah ditorehkan.


Egnor mengarahkan tubuhnya membuka pintu mobil daerah Claudia.


"Keluar!" Kata Egnor dan ketika Egnor kembali menegakan tubuhnya, Claudia mencuri satu kecupan pada pipinya.


"Selamat malam, hati hati dijalan Egnor ku, sampai jumpa," saut Claudia keluar dari mobil Egnor dan menutup kembali pintunya.


Egnor pun langsung melajukan mobilnya karena salah tingkah.


"Heng, pengacara cintaku! Sebentar lagi kau yang akan bertekuk lutut padaku!" Gumam Claudia tersenyum senang.


...


dikit lagi mi


maybe 😁


next part 161


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊

__ADS_1


thanks for read and i love you 💕💕


__ADS_2