
Claudia terus menunduk dan tidak berani mendongakan kepalanya. Sampai Egnor memanggilnya.
"Claudia, kau mengenal mereka?" Tanya Egnor masih dengan nada yang lembut dan mencoba membuat dirinya percaya dengan apapun jawaban istrinya itu.
Claudia mendongakan kepalanya menatap Egnor. Saat itu lah Richard memperhatikan wajah mantan istrinya itu. Terlihat tampak segar dan cantik. Pipinya agak merona dan memancarkan kebahagiaan. Matanya bersinar mengharapkan sesuatu yang luar biasa ketika menatap Egnor. Richard sudah tahu kalau ternyata Egnor yang menjadi pemeran utama di hatinya.
"Lihat Tuan Richard! Ini benar Nyonya Claudia!!" Kata Kevin lagi meyakinkan. Karna memang ini adalah Claudia.
"Nyonya Clau, kau mengingat kami kan? Lihat Nyonya, suamimu mencarimu!" Tutur Kevin masih belum menyerah.
"Kevin! Ini istriku. Kau mungkin salah orang, benar apa yang dikatakan tuanmu!" Bentak Egnor.
"Nyonya Claudia Stephanie Gabrianne." Saut Kevin yakin namun..
"Jovanca!" Egnor menekankan
Claudia masih terdiam dan matanya berkaca kaca. Dia terus menatap Egnor. Dia benar benar takut dan bingung sementara dia merasakan aira Richard yang masih memandangnya. Egnor lalu melihat Richard.
"Maaf Egnor! Maafkan asistenku. Kau tahu kan Kevin suka bergurau dan dia agak hiper jika melihat sesuatu yang mempesona seperti istrimu." Ujar Richard tanpa melepas pandangannya ke arah Claudia.
"Maksud Kevin mungkin Claudia Stefanny. Sangat kebetulan. Mohon maaf. Kami permisi." Sela Richard menghentikan perdebatan yang tak ada ujungnya ini. Dia sudah tahu hasil akhirnya.
"Tuan! Kau jangan begini. Kita sudah mencarinya dan ini Nyonya Claudia mu. Nyonya, kau juga jangan pura pura tidak mengenal begini. Tataplah Tuanku, dia mencarimu, aku tidak berbohong." Decak Kevin mencoba memegang lengan Claudia dan mengarahkannya pada Tuannya.
"KEVIN! STOP IT! Ayo kita pergi!" Bentak Richard akhirnya dan menarik lengan Kevin.
"Tuan! Kalian berdua kenapa hah? Kalian takut pada Tuan Egnor? Ini kenyataan kalau kau adalah suaminya dulu! Kau sudah menderita Tuan!" Kevin terus merajuk.
"Diam Kevin! Dia bukan Claudia ku!" Bentak Richard terus mengukuhkan dirinya.
Egnor lalu kembali menatap Claudia yang kini sudah menunduk. Tangannya bertaut dan Egnor mencoba menetralkan dirinya dan tidak langsung emosi. Istrinya pasti memiliki alasan. Dia memegang tangan Claudia yang terasa dingin.
"Clau? Ada yang ingin kau bicarakan?" Tanya Egnor dengan nada datar. Entahlah apa yang ia harapkan. Claudia Benar benar jujur atau sebaliknya. Karna menurutnya hal ini terlalu menyakitkan dan membingungkan. Egnor bingung kalau sampai Claudia bisa mengenal Richard. Apa yang ia lakukan sampai berurusan dengan junior nya itu.
Claudia menggeleng. Dia tidak tahu apa yang harus ia katakan sementara dia pun sudah mengatakan kalau dirinya memang pernah menikah.
"Sudahlah, jangan dipikirkan, ayo kita ke dalam!" Kata Egnor lagi menarik kepala Claudia ke dadanya, memeluknya sesaat dan mengecup puncak kepala Claudia. Claudia merasa ketenangan kembali melingkupinya karna Egnor tidak memaksanya. Beginilah, kenapa Claudia sungguh mencintai Egnor yang sebenarnya adalah pria yang sabar di tengah puncak amarahnya dan perilakunya yang sering berubah ubah. Sementara Richard? Rasanya, Claudia tidak pantas mencintai dan dicinta oleh pria sebaik dia.
Mereka pun makan siang bersama di dalam ruang pertemuan tersebut. Di sana Egnor tampak diam. Dia memikirkan semua kejadian itu dan dia merasa memang Richard adalah mantan suami Claudia.
~Argh! Mengapa harus Richard? Tanpa Claudia mengatakannya aku sudah tahu. Terlihat dari mata berbohong Claudia dan sikapnya. Ya, kuakui Richard memang hebat. Hem, ini sangat sulit dimengerti!~ batinku meronta sambil menegak perlahan wine di gelasku.
Egnor melirik Claudia yang terus terdiam dengan tatapan datar. Dia tidak menyentuh makananya. Dia menggoyang goyangkan gelas berisi vodka. Minuman beralkohol rendah. Tak lama Claudia meminumnya. Awalnya Egnor mengijinkan karna hanya setengah gelas. Dan itu bukan wine. Namun, karna Egnor juga meminum wine nya jadi dia tidak begitu menyadari ketika Claudia meminta lagi pada pelayan. Claudia menegaknya lagi. Entah pikirannya hendak seperti apa. Dia takut membayangkan apa yang akan terjadi di apartemen. Dia takut ketika mengatakan semuanya tidak ada gunanya. Nampaknya suaminya sudah kecewa padanya.
Egnor akhirnya menyadari ketika sudah beberapa kali Claudia meminta vodka putih tersebut. Ketika Claudia hendak menegaknya lagi, Egnor hendak mengambil alih vodka tersebut namun Claudia malah memukul tangannya. Dia lalu menegak lagi vodka tersebut. Egnor menarik kesimpulan pasti Claudia memikirkan kejadian tadi. Ya, Egnor sangat yakin Richard adalah mantan suaminya.
Acara makan siang itu pun selesai. Claudia sudah menyandarkan kepalanya di atas meja. Dia sudah tertidur di sana. Egnor pun menggendongnya dan membawanya pulang. Dia memandangi wajah istrinya yang begitu cantik. Kalau ada sesuatu yang tidak bisa Claudia katakan, sepertinya hal ini benar benar tidak pantas ia katakan. Claudia pasti ingin sebuah ketulusan dari suaminya. Egnor menghela napasnya. Dia pun enggan mengetahui yang sebenarnya walau tetap ingin tahu. Dia harus mengetahuinya dari Claudia.
Egnor berusaha sabar dan percaya pada Claudia. Dia pun membersihkan dirinya. Mencoba mendinginkan hati dan pikirannya agar tidak gegabah seperti bulan lalu dia menghukum Claudia. Dia tidak mau kehilangan Claudia. Namun, sepertinya dia akan menunda pernikahan besarnya dengan Claudia
...
Claudia tertidur sampai pagi menjelang. Ketika bangun dia masih mengenakan pakaian perginya kemarin. Dia tersadar. Dia pun beranjak dari tidurnya dan dusuk. Dia memegang kepalanya. Masih sedikit pening. Dia melihat ke samping tidak ada suaminya.
"Kak Egnor? Apa? Apa dia marah padaku? Oh God! Kenapa kau bodoh sekali Clau!!!" Dengus Claudia. Dia lalu menuju ke meja riasnya dan merogoh tas nya untuk mengambil ponselnya.
Dia menghubungi Egnor. Ini sudah pukul 9 pagi. Dia bahkan tidak menyiapkan makanan untuk suaminya.
Percakapan Egnor dan Claudia di telepon
"Ya sayang?" Jawab Egnor di sebrang sana dengan agak pelan.
"Kakak? Kau dimana? Kenapa tidak membangunkanku?"
Piufht! Claudia sedikit lega karna sepertinya suaminya tidak marah karna mengangkat panggilannya dan menjawabnya.
"Ada rapat mendadak, kasus penting! Nanti hubungi lagi ya?" Jawab Egnor.
__ADS_1
"Oh begitu? Oke baiklah. Selamat bekerja."
Tut! Panggilan dimatikan Egnor. Claudia mengernyitkan dahinya. Ada yang tidak beres. Egnor tidak seperti ini jika tidak marah padanya. Claudia merasa Egnor kembali dingin padanya. Dia menyadari sejak bangun dan masih mengenakan dress kemarin. Seharusnya Egnor menggantikannya atau membangunkannya. Atau hal yang Claudia sukai, mereka pasti sudah bercinta. Claudia menghela napas. Pasti. Ini pasti karna kejadian kemarin. Egnor agak tidak menerima kalau Richard lah yang menjadi mantan suaminya.
Claudia menghela napasnya. Dia menggeleng dan mencoba tenang. Dia pun membersihkan dirinya. Dia lalu menuju ke dapur dan menyiapkan makanan untuk di bawa ke kantor. Dia memang tidak di hukum namun dia merasa ada yang beda dari suaminya itu.
Sementara itu kondisi Egnor sebenarnya sedang berbaring di tempat peristirahatannya di kantor. Grace ijin tidak datang jadi dia bebas dengan pertanyaan yang pasti akan di tanyakan Grace. Hem, Egnor agak kecewa dengan Claudia karna tidak mau memberitahu siapa mantan suaminya padahal hal ini tidak masalah baginya. Tapi ya sebenarnya dia masih mempertanyakan kenapa harus Richard. Dia malah menjadi takut sewaktu waktu Richard bisa kembali merebut darinya. Sudah banyak sebenarnya persaingan yang ia lakukan bersama Richard. Mereka bukan sepenuhnya senior dan junior. Ada beberapa mata kuliah Egnor yang juga diikuti oleh Richard dan rasanya Richard selalu unggul. Richard mengambil sekolah s3 nya dengan jurusan hukum bersama Egnor.
Dan satu lagi hal yang membuat Egnor tidak menyukai Richard karna ayah Richard pernah memaki maki Johanes atas masalah proyek pembangunan yang sudah diambil alih oleh ayahnya. Namun, ayah Richard yang memiliki perusahaan properti terbaik merasa lebih pantas dengan proyek tersebut. Egnor tidak bisa melupakannya. Egnor bukanlah seorang pria yang sangat baik. Dia manusia biasa yang memiliki emosi. Dan dia tidak seperti adiknya. Dia bahkan membenci semua sifat baik adiknya.
Dia kini memperhatikan ponselnya. Melihat foto Claudia di sana. Dia membohongi istrinya namun kebohongan ini tidak ada artinya juga bagi istrinya. Kini dia memejamkan matanya tertidur. Dia tidak mau memikirkan apa apa dulu. Begini saja dia sudah tersiksa.
Sekitar pukul 11 Egnor bangun dan keluar dari ruang peristirahatannya dan bersamaan dengan itu Claudia datang. Egnor terkejut. Dia tidak menyangka kalau istrinya akan datang dengan dress yang sangat manis di tubuhnya. Egnor memperhatikannya dan tersenyum tipis lalu menuju ke mejanya.
"Kak? Bukannya kau rapat? Kenapa keluar dari ruangan itu?" Tanya Claudia menghampiri meja kerja suaminya.
"Ya sudah selesai dan aku mengistirahatkan pikiran ku dulu sebelum kembali bekerja." Jawab Egnor menunduk dan memeriksa ponselnya.
Aneh! Begitulah pikiran Claudia. Suaminya bahkan tidak begitu senang dengan kehadirannya. Dia juga tidak mengecup keningnya atau bahkan memeluknya saja. Claudia mengernyitkan dahinya dan memasang wajah masam.
"Di mana Grace?" Claudia tetal bertanya basa basi karna juga tidak melihat keberadaan Grace.
"Tidak masuk sakit." Jawab Egnor masih bermain main dengan ponselnya. Claudia semakin sebal.
"Kakak!" Panggil Claudia akhirnya agak berteriak dan membuat Egnor mendongakan kepalanya.
"Kau kenapa? Kenapa kau agak mendiamiku? Kau bahkan tidak memelukku. Kau tidak suka aku datang?" Kata Claudia dengan sejumlah pertanyaannya. Egnor menghela napas. Dia lalu berdiri dan menghampiri Claudia. Dia memeluknya dan mengelus lengan istrinya. Tak berapa lama dia menarik dirinya lagi.
"Sudah kan? Aku tidak apa apa. Kau tenanglah." Kata Egnor tersenyum lalu kembali ke bangkunya. Sungguh, tidak ada bedanya. Masih terasa dingin baginya.
Claudia lalu duduk di sebrang Egnor.
"Kak, kau marah padaku karna kejadian kemarin?" Tanya Claudia menatap Egnor.
Egnor menggeleng dan tersenyum tipis.
"Ya, lantas?" Kata Egnor lagi menaikan alisnya.
"Jadi, untuk apa kau marah?" Selidik Claudia dengan wajahnya yang memelas.
"Aku hanya tak habis pikir kalau Tuan Gabrianne yang luar biasa itu adalah ternyata mantan suami mu." Egnor terkekeh.
"Kak! Permasalahannya bukan itu, aku tidak melakukan apa apa dengannya. Kau yang mengetahuinya kan kalau kakak yang menyucikan diriku. Kau jangan seperti ini kak!" Claudia merengek.
"Aku tidak apa apa Clau! Jadi benar kalau ternyata Richard adalah mantan suamimu?" Egnor meyakinkan yang sebenarnya dia ingin Claudia menjawabnya tidak. Tapi nyatanya.
"Iya!
"Ooh, bagus! Kenapa kau tidak menyukainya? Maaf Clau, aku tidak yakin kalau kau benar benar tidak menyukainya. Pasti ada sedikit perasaanmu untuknya. Jadi sepertinya percuma kata kata only one. Hanya pria bodoh sepertiku yang dapat mengatakannya. Haha!" Egnor kini tergelak seperti menyindir.
Dia benar benar tidak menyangka dengan semua ini. Kenapa dirinya selalu memiliki persamaan dengan pria hebat itu. Egnor mengakui Richard hebat.
Seketika hati Claudia seperti tercabik cabik. Egnor ragu padanya. Padahal dia sudah menyerahkan semuanya pada suaminya itu bahkan dia lebih memilih suaminya itu ketimbang pria lain yang jauh di atasnya.
"Kak, kau meragukan cintaku?" Kata Claudia melemah.
"Tidak tidak! Kau sendiri kan tahu bagaimana ketenaran seorang Ricardo Gabrianne yang sangat menjulang tinggi. Seorang dermawan dan motivator handal. Aku apa? Aku tidak ada apa apa nya Clau, hanya seorang pria yang tidak memiliki ibu dan seorang ayah yang hanya kontraktor rendahan. Seperti yang dikatakan pamanmu. Seharusnya kau menetap bersamanya Clau.." kata Egnor menautkan tangannya dan berbicara dengan asal sambil menaikan alisnya. Pada dasarnya dia menyindir istrinya.
Claudia tertegun mendengarnya. Dia merasa seakan akan Egnor sedang menganggapnya seperti wanita yang gila harta dan mementingkan materi. Padahal dia benar benar tulus mencintai Egnor. Tapi beginah ketakutannya jika Egnor mengetahui ada seorang pria yang jauh di atas nya.
"Kak, mengapa kau mengatakan ini?" Kata Claudia lagi semakin tak berdaya.
"Hahaha, tidak apa apa Clau! Sudahlah tidak usah dibahas, aku tidak mau bertengkar. Aku sudah tahu kau tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Kau hanya mencari aman padahal aku tahu isi hatimu." Egnor berdecih.
"Aku mencintaimu kak." Tutur Claudia dengan matanya yang sudah berkaca kaca.
"Cih, ya ya kau mencintaiku tapi kau menikah dengan pria lain. Sudah Clau tidak usah dibahas karna aku semakin tidak mengerti jalan pikiranmu. Baiklah, apa yang kau bawa untukku?" Egnor sudah tak tahu lagi apa maksud hati istrinya. Dia mencoba mengalihkan.
__ADS_1
"Kak, kau ini hebat, kau seorang pengacara handal dan kekuatan mu di Honolulu ini sangat menakjubkan, mengapa kau merasa kalau dirimu lebih rendah dari Richard?" Kata Claudia yang sepertinya merasa di bawah Richard.
"Cukup! Aku tidak mau menjawabnya. Aku lapar, kau mau aku memakan masakanmu atau tidak?" Saut Egnor dengan tatapan tajam.
Claudia menghela napas dan dia terdiam. Dia mengalah dan segera membuka bungkus makanan yang ia bawa untuk suaminya. Namun, saat itu juga, Kate datang. Dia menyeruak masuk ke ruangan itu.
"Selamat Siang kak Egnor dan eh tumben sekali kau kesini Clau? Selamat siang!" Kate memberi salam.
Seketika lagi lagi Claudia memikirkan yang macam macam. Mengapa Kate mengatakan itu? Dia bahkan tahu kalau sekarang dia jarang datang kesini.
"Kenapa Kate? Aku kan istrinya. Kau kenapa tahu kalau aku jarang kesini?" Tanya Claudia mengusap matanya yang hendak menangis.
"Ya karna setiap aku kesini atau datang bersama suamimu, kau tidak ada." Jawab Kate apa adanya.
No! Mengapa rasanya Claudia sangat sangat cemburu. Selama ini wanita ini datang kesini menemani suaminya dan dia tidak mengetahuinya
"Kak? Kenapa kau tidak bilang Kate selalu datang?" Tanya Claudia kini menatap suaminya sendu.
"Kenapa? Hanya masalah pekerjaan. Ya ampun Clau, aku heran kenapa kau jadi sensitif seperti ini?" Sela Kate menimpali. Claudia langsung menoleh ke arah Kate. Dia menatap Kate dengan tajam.
"Kate? Mau apa kau kemari?" Tanya Egnor sebelum Claudia berkata macam macam pada pernyataan Kate.
"Iya kak, kita harus menemui Tuan Gonzaga. Dia sakit dan koma. Pagi ini dia sudah sadar. Dan dia ingin mengatakan sesuatu padamu. Tentang kasus tanah pemerintah di pinggiran Honolulu. Kita harus bergegas kak. Penjagaan Tuan Gonzaga sangat ketat!" Jawab Kate.
"Baiklah!" Saut Egnor dan dia berdiri. Claudia menjadi tambah bingung. Suaminya tidak membela nya seperti di rumah sakit dan dia tidak jadi memakan makanannya.
"Kak Egnor!" Panggil Claudia ketika suaminya melewatinya.
"Katanya kau lapar? Kau tidak makan dulu?" Tanya Claudia lagi menghentikan langkah suaminya.
"Aku makan makanan yang di bawa Kate saja, dia juga sudah biasa membawanya untukku. Kita ketemu nanti malam ya. Jaga dirimu." Begitulah jawaban suaminya dan meninggalkannya keluar ruangan yang diikuti oleh Kate. Sungguh ini tidak sesuai dengan bayangannya dan janji suaminya padanya yang akan selalu memakan masakannya. Claudia tidak mengatakan apa apa lagu. Dia diam melihat Egnor pergi berdampingan Kate. Air matanya sudah menetes.
...
...
...
...
...
...
Aku ga ngerti sama kalian, dadaku uda nyesek 😭😭
.
Next part 45
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Bagaimana keadaan Richard?
Apakah Kate masih berharap pada Egnor dengan semua perkataan santainya untuk Claudia?
Mari jawab bersama sama pada kolom KOMEN di bawah inii wakakakak (moduss) 👇👇
.
Jangan lupa LIKE juga ya 😁😁
Daaann kasih VOTE dan RATE nya ya di depan profil novel 😍😍
.
Thanks for read and I LOVE YOOUUU 💕💕
__ADS_1