Satu-satunya Yang Kuinginkan

Satu-satunya Yang Kuinginkan
Part 116: Mommy & Twins


__ADS_3

DI LIKE DULU YUK BIAR GAK LUPA


😍😍 THANKYOU


...


Mencoba mendalami peran yang berbeda dan menjadi bermanfaat dalam sesinya. Berusaha tampil terbaik dan memberikan apa yang dimiliki dengan ketulusan. Itulah orang tua yang baik. Claudia baru saja pulih dan bagaimana dirinya harus menjadi seorang istri juga seorang ibu? Apakah Egnor ikut terlibat dan juga harus menyesuaikan diri dengan perkara genting di Honolulu?


...


"Claudia? Kau sudah sadar?" Kata Frank terkejut dengan suara berat Claudia. Egnor langsung menghampiri istrinya.


"Clau, kau sudah sadar?" Tanya suaminya.


"Siapa itu kak? Apa itu Willy?" kata Claudia dengan nada suara yang sedikit melemah.


"Mengapa kau bisa tahu?" Egnor sedikit terheran.


"Willy akan lebih pemberani ketimbang Wilson, berikan dia padaku?" Pinta Claudia mengulurkan tangannya yang masih gemetar ke arah Egnor.


"Kau yakin?"


"Suster, tolong gendong Wilson, biarkan aku memeriksa Claudia," kata Lisa dengan sigap. Sang suster langsung meraih Wilson yang terus menangis.


"Frank, harap keluar sebentar, aku harus memeriksa seluruh kondisi Claudia," perintah Lisa pada Frank.


"Oh, oke nona!" Frank pun keluar dari ruangan.


Lisa memeriksa Claudia sampai ke buah dadanya. Lisa harus memastikan apakah Claudia sudah memproduksi ASI nya. Dia mengarahkan stetoskop nya ke arah dada, perut dan akhirnya menekan nekan sisi buah dada Claudia. Claudia mengernyitkan dahinya. Claudia masih memandangi Willy dan sesekali melihat suaminya. Dia agak bingung kenapa Egnor membuka kancing kemejanya. Claudia masih belum begitu sanggup banyak bicara.


"Claudia, sepertinya produksi ASI mu masih belum banyak tetapi tidak ada salahnya mencoba. Mana tahu rangsangan dari mulut kedua bayimu dapat meningkatkan jumlah produksi ASI nya. Sekarang siapa dulu yang ingin kau susui biar aku membantumu?" Kata Lisa memberi tahu kondisi dan apa yang harus Claudia lakukan.


"Aku mau keduanya. Aku mau melihat mereka, aku sudah melewatkan banyak hal indah kan?" pinta Claudia.


"Tentu Clau, Egnor bisa membantumu," balas Lisa.


Lisa pun memanggil sang suster juga Egnor agar mendekat. Lisa sudah memberikan Wilson pada Claudia. Claudia meraihnya dengan sangat pelan dan cukup ringkih. Sementara Egnor mendekatkan dirinya lebih dekat lagi dan duduk di sisi tempat tidur Claudia. Egnor juga mendekatkan kepala Willy pada lengan Claudia.


Claudia meneteskan air matanya. Semua ini di luar kuasa dirinya. Setelah perjalanan cinta yang panjang untuk bertemu kembali dengan seoang Egnor. Merajut kasih dan bersatu, kini dia sudah menjadi seorang ibu. Claudia memandangi setiap sisi anak anaknya. Wajahnya sangat memerah tetapi terlihat garisan tajam di setiap matanya. Mereka berdua sangat mirip. Tetapi ada satu bulatan hitam kecil yang membedakan. Willy memiliki bulatan kecil pekat di samping salah satu matanya sedangkan Wilson tidak. Claudia yang menyadarinya dan memegang tanda kecil itu (t*hi lalat).


"Ini Wilson, dan ini Willy, kau bisa membedakannya kan kak?" Tanya Claudia pada Egnor yang matanya telah berkaca kaca.


Lisa merasa hal ini baik. Dia pun meraih ponselnya dan mengambil gambar keluarga kecil itu. Lisa tersenyum dan menunggui mereka. Seorang suster di sampingnya juga sudah menautkan tangannya merasa terharu.


"Clau, walau mereka terdiam bersama kalian, mereka sudah harus mendapatkan air susu ibu dari tubuhmu, kau siap?" selidik Lisa perlahan. Meski Lisa hanya dokter umum tetapi dia juga sedikit banyak mempelajari mengenai kandungan juga ibu paska melahirkan.


Claudia mendongakan kepalanya menatap Lisa dan mengangguk. Egnor pun beranjak dari sana. Dia meneguk salivanya sedikit membayangkan besar buah dada Claudia yang pasti lebih membusung. Lisa sudah menanggalkan setengah baju pasien yang Claudia gunakan agar lebih mudah dan suster juga sudah menutup kaca bening itu dengan tirai agar hanya mereka yang ada di sana.


Lisa membantu Claudia menaruh Wilson pada posisi yang benar dan mendekatkan Wilson pada buah dada ibunya.


"Clau, apa kau mau mencoba menaruh Willy di samping kakaknya?" tanya Lisa lagi.


"Ya boleh," kata Claudia. Lisa meraih Willy dari Egnor dan nampaknya Egnor harus pergi dari sana. Dia tidak telalu mampu melihat tubuh istrinya mengingat permainan terakhir dua hari yang lalu. Namun, Lisa menahannya.


"Kau harus melihatnya dan aku ingin memberitahukanmu sesuatu," kata Lisa dan Egnor tetap berada di sana.

__ADS_1


Claudia telah menggendong Wilson dan Willy dengan bantuan bantal bantal di sisi sisi lengannya. Sang suster dan Lisa yang membantunya. Egnor melihat kedua anaknya menikmati ASI itu dengan sangat lahap. Claudia sampai memejamkan matanya karena Wilson dan Willy menghisapp terlalu kuat. Lisa jadi mengingat sesuatu.


Karena cukup gugup Egnor telah menjadi seorang ayah, dia mengancingkan kemejanya.


"Egnor!" Panggil Lisa. Egnor menoleh.


"Aku tidak yakin kalau ASI istrimu bisa melimpah karena dia baru saja mendapat tranfusi darah. Dan, darah yang ia tampung adalah darah pria. Tidak masalah tapi aku hanya ingin memberitahumu mengenai erotic lactating jika kau ingin anak anakmu meminum ASI setiap hari," bisik Lisa.


Egnor mengernyitkan dahinya. Dia tidak tahu istilah istilah ini karena dia belum sempat lagi mempelajari mengenai kehamilan, ibu menyusui. Kalau ditanya 'praduga tak bersalah' dia mengerti. Tidak usah mencari di situs pencarian.


"Kau harus mencarinya di situs pencarian, aku tidak bisa menjelaskannya padamu atau kau bisa tanya pada adik iparmu. Mungkin dia pernah melakukannya pada istrinya," tambah Lisa lagi.


"Ya baiklah, sepertinya dilakukan berpasangan ya?" selidik Egnor menerka.


"Iya, tapi kau jangan kecanduan!" Lisa memperingatkan.


"Aku tidak yakin, haha! Baiklah aku keluar dulu, aku mau makan, aku sudah lega melihat istri dan anak anakku. Nanti aku ke sini lagi. Sekalian aku ingin mengurus Kate," kata Egnor kemudian. Lisa sedikit berpikir mengenai Kate yang juga pernah menyukai Egnor. ini akan menjadi sangat mudah pikirnya, tapi jika Egnor juga menginginkannya.


"Hem masalah Kate, masalah mudah," gumam Lisa.


"Apa maksudmu?"


"Aku mempunyai cara, nanti kuberitahu pada Richard," kata Lisa.


"Ya ya sepertinya pria mu itu sudah memutuskan ya jadi kau tampak sangat sumringah dan memiliki banyak gagasan," ujar Egnor meledek.


Lisa hanya berdecih. Egnor lalu menghampiri istrinya untuk meminta ijin.


"Anak kita puas sekali, honey," kata Egnor pada istrinya. Claudia jadi mengingat sesuatu.


"Kau jangan menyamakan ku, tentu aku lebih haus, Wilson, Willy, sisakan untukku!" balas Egnor malah menanggapi istrinya.


"Pengacara mesum!"


Egnor tersenyum dan mengecup kening Claudia.


"Baiklah, aku ingin makan sebentar nanti aku akan kembali lagi," ijin Egnor.


Claudia mengangguk tersenyum. Egnor pun keluar ruang ICU dan menemui semua kerabatnya. Dia memeluk Viena dan Dion yang mengucapkan selamat padanya.


"Lagi lagi Lexa dan Leon tidak datang?" selidik Egnor mengernyitkan keningnya.


"Nanti gantian denganku kak," jawab adiknya -- Viena.


"Hem, selalu saja ada alasan. Bilang saja mereka sedang berusaha membuat terus dan terus membuat kan?" gumam Egnor.


"Seperti ajaran adik iparmu kak," balas Viena menatap suaminya.


"Hemm, Dion aku jadi mengingat kata kata Lisa. Kata Lisa erotic lactating, apa itu?" tanya Egnor polos.


"Ppsssttt!!" Dion terkekeh dan Viena memukul lengan kakaknya. Grace juga menganga. Begitu juga dengan Anne yang tersenyum lebar. Sedangkan Frank, Richard dan Johanes pun tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan Egnor pada Dion yang malah sepertinya paham.


"Kau kenapa Viena?" selidik Egnor mengusap lengan yang adiknya pukul.


"Sini kak, biar aku yang menjelaskan, ini tidak untuk di publikasikan," saut Dion menarik Egnor dan merangkulnya menuju ke cafe restoran.

__ADS_1


"Grace, memang erotic lactating apa?" bisik Frank juga tidak tahu apa apa.


"Kau tidak usah tahu, nanti kau juga ingin! Cari tahu saja sendiri!" pekik Grace menatap tajam suaminya. Bukan Frank yang langsung terdiam.


"Tuan Richard, kau tahu?" bisik Frank tapi Grace mendengar.


"Nanti biar kutanya Lisa, nanti aku akan beritahu padamu!" kata Richard lagi yang membuat Grace jadi kesal.


"Tuan Richard! NO! KAU TIDAK BOLEH TAHU! BELUM CUKUP UMUR!" decak Grace menatap tajam Richard.


"Ehh, usia ku saja lebih tua darimu," gumam Richard.


"Maka itu cepat nikahi dokter itu!"


Richard merasa sejak tadi pagi Grace selalu menyinggung perasaan yang memang harus ia lakukan. Richard lalu menatap Frank.


"Frank, di mana Gabe? Bukankah dia bersamamu?" tanya Richard.


"Dia langsung ke ruangan Mytha, katanya nanti saja menemui Claudia," jawab Frank sesuai arahan Gabriel.


"Lebih baik kau mengantarku menemuinya sekarang agar cepat selesai," ajak Richard menarik lengan Frank.


"Baiklah," kata Frank menyetujui. Frank dan Richard pun menuju ke ruangan Mytha. Namun lagi lagi mereka berdua menemukan pintu kamar terkunci. Richard bertanya pada meja perawat yang mengurus kamar tersebut.


"Pintu kamar memang selalu dikunci sejak kemarin Tuan. Tuan Gabriel tidak mengijinkan tuan untuk masuk," kata sang perawat.


"Aku? Kau yakin dia tidak memperbolehkan aku masuk?" Richard memastikan.


"Benar tuan, maafkan saya," ucap sang suster.


Richard menunduk lemah. Dia masih tidak tahu, kesalahan apa yang telah ia buat. Sepertinya dia sudah menyakiti Mytha dan membuat Gabriel sekali lagi kecewa. Frank menepuk bahu Richard untuk lebih sabar dan mengajak Richard untuk ke cafe restoran. Di sanalah Frank menceritakan mengapa Gabriel acuh padanya. Dan, Richard tetap harus mencari cara untuk bertemu dan berbicara pada Gabriel.


...


...


...


...


...


sabar mas 😭


.


next part 117


dibawah yuk 😝😝


tapi tetep minta LIKE dan KOMENNYA yaa 😍😍


.


thanks for read ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2