
"Kau kenapa Clau?" Tanya Egnor pada Claudia yang terbatuk ketika dia membahas Richard.
"Tidak apa apa kak, aku seperti ingin terserang flu." Jawab Claudia memberitahu kondisinya bermaksud Egnor memperhatikan dirinya ketimbang suara suara di radio.
"Ah iya, kondisimu memang agak melemah akhir akhir ini. Sesampai di apartemen kau harus berendam air hangat di bath tub dan berikan wangi wangian aroma therapi. Aku sering melakukannya.
"Apakah kau mau berendam denganku?" Claudia menaik turunkan alisnya mengalihkan pemikirannya dengan pembahasan Richard.
"Uhuk! Uhuk! Kau tidak takut apa yang akan terjadi nanti?" Kini Egnor yang terbatuk mendengar penuturan Claudia dan menantangnya.
"Aku sudah pasrah!" Bisik Claudia mendekati Egnor.
"Heng! Paling kau saja yang takut!" Decak Egnor.
"Tidak, aku akan mengikutimu!" Bisik Claudia lagi membuat Egnor semakin bergidik.
"Kita lihat saja nanti!" Pekik Egnor dengan wajah datar. Sementara Claudia menyeringai bercampur lega karna tidak membahas Richard lagi. Entah kapan Claudia akan membicarakannya. Dia hanya takut menjadi penambah rusaknya hubungan senior dan junior itu.
Sementara Claudia juga masih dipusingkan dengan kedua pria yang hendak menculiknya itu. Dia sangat takut utusan Nicolas. Claudia tidak tahu kalau Egnor juga mengejarnya. Sepertinya Nicolas masih akan mengincarnya.
"Turunlah Clau, hari ini aku harus pulang. Aku harus membicarakan pernikahan Viena pada dad ku." Perintah Egnor pelan. Dia merasa hari ini dia agak mendiami Claudia.
"Kak, kau benar akan membuatku sendiri lagi?" Claudia memastikan dengan wajah memelas.
"Hanya satu hari ini!" Egnor meyakinkan.
"Kau jahat sekali! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, hem!" Claudia sudah kehilangan akal membuatnya mengerti hatinya. Mengerti keinginannya yang selalu ingin dengan Egnor. Claudia sudah agak lelah. Dia akhirnya menuruni mobil Egnor dan membanting keras pintu mobilnya.
"Hem, Clau Clau, sebentar saja!" Gumam Egnor menyabarkan dirinya. Dia memang harus pulang. Ayahnya yang memanggilnya. Dia mencoba tenang dan melajukan mobilnya.
Claudia memasuki apartemen. Dia menekuk wajahnya. Dia menyalakan semua lampu yang ada di sana. Dia melempar asal tas jinjingnya.
"Tau begitu aku berdiam di apartemen lamaku dan tidak usah berlarian seperti tadi, sangat sangat melelahkan!" Claudia merutuki dirinya menuju ke kulkas mengambil minuman dingin. Sejenak dia memikirkan Richard.
"Entahlah, bagaimana kalau akhirnya kami bertiga bertemu? Apa yang akan kak Egnor lakukan padaku? Apakah dia akan meninggalkanku? Sifatnya yang sekarang sulit ditebak. Sebentar perhatian, sebentar marah, sebentar over, argh mengapa aku malah semakin mencintainya?" Guman Claudia sambil menikmati minuman dinginnya.
Rasa rasanya dia harus mengerjakan sesuatu. Kepalanya agak berat dan banyak suara suara megitarinya. Sesaat dia memikirkan bibinya. Sudah sejak kemarin pamannya tidak menghubunginya lagi setelah ia memberikan 15 juta yang Grace sudah berikan. Ketika pergi dari kedutaan Legacy dia menyempatkan diri ke bank.
Claudia lalu mengerjakan sesuatu. Dia membersihkan lantai, mengelap segala furniture dan memasak untuk makannya. Begitulah dia jika semua pikirannya berkecamuk. Dia harus melakukan sesuatu agar menjadi lupa. Beberapa jam dia bergelut dengan semua yang ada di apartemen itu. Dia benar benar berpikir dia bekerja di apartemen yang penghuninya pulang ke rumah asalnya. Biar bagaimanapun rumah sendiri dan keluarga adalah yang paling nyaman meskipun kecil dan sederhana. Sesaat Claudia merindukan bibinya dan rumah kecilnya di Oriental.
Setelah semuanya itu, Claudia beristirahat sejenak. Dia menyalakan televisi dan benar saja kata Egnor tadi di mobil, Richard kembali muncul. Seketika Claudia langsung mematikan televisi tersebut. Jantungnya berdetak tak menentu. Richard memang tampan. Apalagi kebaikan hatinya. Sungguh kasihan menolak pria seperti dia. Claudia menyayangkan, Namun dirinya tidak bisa lagi berpaling dari tajamnya setiap sudut rahang rahang wajah Egnor. Membayangkannya saja Claudia bisa ingin menyerahkan semua pada pria itu. Entah kapan itu terjadi, semakin kesini mengapa Tuan pengacara itu semakin menegangkan, pikirnya dan akhirnya memutuskan untuk membersihkan dirinya.
Claudia hendak membenamkan dirinya di bath tub setelah mengisi penuh air hangatnya dan memberikan wewangian yang menenangkan seperti saran Egnor. Dia lalu membersihkan dirinya terlebih dahulu. Ada beberapa luka pada telapak kakinya. Setelah semua kotoran di tubuhnya runtuh, ia merendam tubuhnya di kolam aroma therapi itu.
"Haizz, rasanya nyaman sekali. Ya bagus juga aku pindah ke apartemen ini. Tak apalah beberapa kali sendirian, kupastikan pria itu pasti pulang!" Gumam Claudia dan memejamkan matanya. Dia menyandarkan kepalanya di sisi bath tub. Karna banyaknya pikiran dan rasa lelahnya hari ini, tanpa sadar Claudia tertidur. Claudia tertidur cukup lama sampai air dalam bath tub pun agak mendingin.
Satu jam kemudian..
__ADS_1
"Claudia!" Panggil Egnor menyeruak masuk ke dalam kamar mandi. Claudia di sana masih tertidur dalam bath tub. Tanpa pikir panjang Egnor manggendong Claudia yang tanpa berbusana itu. Egnor panik bukan main. Dia lalu membaringkan Claudia di tempat tidur.
"Kak Egnor? Kau kembali?" Claudia tersadar dan melihat kepanikan Egnor.
"Kau masih sadar?" Egnor memastikan dan menatap wajah Claudia lekat lekat.
"Memang aku kenapa? Aku sedang berendam dan? Aaaaargggghhh!!!! Kenapa, kenapa kau menelanjangiku kak!" Claudia segera meraih selimut dan menyelimuti tubuhnya, namun.
"Argh, sakit sekali kepalaku! Ada apalagi kak?" Tanya Claudia lagi merintih.
"Mengapa kau tidur di bath tub hah?!" Egnor lebih lebih kesal dan dia membuka jasnya.
"Iya kah? Aku sangat lelah, kepala ku sakit kak!" Claudia memijat mijat keningnya.
"Kau yang meminta semua ini Clau!" Egnor dengan cepat membuka lagi dasinya dan kemejanya lalu menyerang Claudia.
Dia mencium Claudia dengan agak kasar. Claudia memegang dada Egnor dan menanggapi ciuman Egnor. Mereka bergelut dalam kecupan mereka. Egnor pindah mengecupi leher Claudia sementara tangan Claudia sudah mencengkram rambut tebal Egnor.
"Claudia kita melakukannya sekarang?" Tanya Egnor di tengah tengah ciuman mereka.
"Kepalaku pusing kak!" Gumam Claudia pelan.
"Hem, alasan!" Decak Egnor sedikit membangunkan tubuh Claudia namun nampaknya tersirat wajah Claudia memucat seperti kemarin. Sepertinya Claudia benar sembuh benar.
Egnor lalu hanya mengecup leher Claudia sekali.
"Terimakasih kak." Claudia merengkuh wajah Egnor. Egnor tersenyum dan mengecup bibir Claudia. Dia lalu beranjak membersihkan dirinya.
"Argh, mengapa kepalaku pusing? Oh tidak sekarang tubuhku bergidik melihat matanya itu!!! Sepertinya aku akan kembali demam!" Decak Claudia dan dia segera mengenakan pakaiannya. Claudia mengenakan piyamanya karna sepertinya memang tubuhnya kembali menghangat. Dia lalu kembali ke tempat tidur dan langsung tertidur pulang.
Egnor yang telah selesai membersihkan dirinya tersenyum melihat Claudia. Yah, sepertinya dia memang akan selalu kembali ke apartemennya ini. Dia tidak mungkin meninggalkan Claudia sendiri. Ketika sampai di rumah ayahnya, dia langsung membicarakan pernikahan Viena sambil makan malam. Setelah semua pembicaraan selesai dengan ayahnya, dia ijin segera kembali ke apartemen karna urusan kantor.
Johanes sempat menyinggung tentang masa lajangnya dan Egnor mengatakan akan segera mengurusnya. Sebelumnya memang Egnor berniat mempersunting Claudia sebagai istrinya, namun rasa rasanya Egnor masih berpikir Claudia menyembunyikan banyak rahasia dan Egnor ingin mengetahuinya terlebih dahulu. Egnor ingin sebuah keterbukaan meskipun agak sulit dan pada akhirnya Egnor yang mengetahuinya sendiri. Dia hanya takut tidak dapat menerimanya sehingga dia dapat memposisikan dirinya. Dia tidak mau kehilangan Claudia lagi. Dia hanya ingin belajar tidak dengan emosinya mencintai Claudia.
Egnor pun bergabung memeluk Claudia dari belakang dan tidur bersama. Betapa dirinya akan sangat nyaman merasakan memeluk wanita tercintanya setiap malam.
...
Dua hari kemudian, berangkatlah Egnor dan Claudia bersama Johanes dan Anne ke Legacy. Johanes senang karna Claudia bisa ikut. Claudia pun merasa diterima kembali oleh ayah dan aunty Egnor. Meskipun entah mengapa pagi ini Egnor terus menekuk wajahnya. Claudia menjadi sasarannya untuk mendapat wajah dinginnya. Claudia mengingat kembali pekerjaan kemarin dan sepertinya dia tidak melakukan kesalah. Tadi malam saja mereka masih tidur berpelukan dan sesekali saling mencumbu.
Namun, memang sejak menerima telepon dari Frank disitulah awal Egnor kembali mendingin khususnya pada Claudia. Claudia jadi enggan untuk berdekatan dengannya. Ketika sampai di bandara pun Egnor masih diam saja. Anne mencemaskan Egnor sakit namun nampaknya seluruh tubuhnya baik dan tidak hangat sedikitpun.
Mereka ber-empat memasuki bandara. Mereka melakukan check in dan hendak menuju ke ruang tunggu pesawat. Namun, Egnor ijin ke toilet lebih dahulu. Sementara Johanes, Anne terus menuju ke ruang tunggu. Mereka menyusuri lobby bandara yang luas itu bersamaan dengan pergantian penumpang yang baru saja mendarat. Claudia berjalan santai di belakang Anne dan Johanes sambil melihat lihat suasana Bandara menjelang hari natal. Sungguh membuat hati gembira pikir Claudia.
Namun, kegembiraan hati Claudia yang melihat sekitar nampaknya harus berakhir menjadi kepanikan ketika seorang pria paruh baya memanggilnya.
"Claudia!"
__ADS_1
Claudia lalu ke asal suara dan dia mengenali pria itu.
"Oh God! Paman? Kenapa dia kesini? Bibi?" Claudia memalingkan wajahnya dan sedikit menunduk.
"Claudia!" Pamannya memanggil lagi dan berusaha mendekati Claudia. Claudia agak panik karna ada Anne dan Johanes. Dia tidak mau pamannya berbicara macam macam dulu.
"Claudia, sepertinya aku mendengar ada yang memanggilmu?" Tanya Anne melihat ke Claudia.
"Benarkah aunty? Aku tidak mendengarnya hem dan sepertinya aku harus ke toilet dulu aunty, Tuan Jovanca, aku ijin ke kamar kecil sebentar." Kata Claudia kemudian dan Anne menyetujuinya meskipun agak sedikit aneh. Claudia segera ke arah toilet untuk menghindari pamannya dulu. Dia berjalan dengan cepat sambil membawa kopernya.
"Claudia!" Panggil pamannya lagi.
Claudia terus berjalan ke arah kerumunan beberapa kelompok orang yang hendak melakukan penerbangan agar pamannya menjadi samar samar terlihat. Akhirnya dia memasuki toilet umum wanita. Dia menghela napas nya.
"Untung saja! Sebentar saja aku disini setelah itu aku akan bergabung dengan aunty Anne dan Tuan Jovanca." Gumam Claudia di depan kaca wastafel toilet. Dia lalu mengambil sebuah syal tipis dan menutup kepalanya. Tak lupa dia mengenakan kaca mata hitam yang selalu ia bawa pada tas jinjingnya.
"Baiklah, saatnya keluar!" Kata Claudia dan dia mulai keluar dengan melirik lirik terlebih dahulu. Namun sebuah tangan menariknya menuju ke sudut ruangan antara toilet wanita dan pria.
"Claudia! Katakan padaku sekarang juga, apa saja yang kau sembunyikan dari ku dan mengapa kau berlari dari pria paruh baya itu?! Dia siapamu!!" Tanya Egnor yang menghimpit tubuhnya di sudut dinding sampai Claudia tidak dapat berkutik lagi.
...
...
...
...
...
Ayolo clau .. 😝😝
.
Next part 27
bersiap dengan berbagai ketegangan di mulai 😁😁
.
jangan lupa LIKE dan KOMEN yang banyak biar aku smangat 45 haha 😁😁
kasih RATE dan VOTE juga di depan profil novel yaa
.
oke selamat pagi jam lupa sarapan
__ADS_1
thanks for read and i loph yoouu 💕💕